"Semua orang jahat harus dihukum dengan setimpal"
"Semua penghianat harus dibasmi dengan sadis"
Tapi, Bagaimana jika kamu yang seorang penjahat dihianati oleh Bosmu sendiri?.
Aku adalah seorang penjahat yang saat ini sudah menjadi pecundang. Namaku Rama, dan saat ini aku akan menceritakan awal mula semua kesialan yang terjadi pada semua teman kelompokku
___________________________________________________
'Slaughter Advocate’ atau biasa dikenal dengan sebutan SA, saat ini sudah sangat meresahkan warga. Mereka adalah sekolompok anak-anak yang tak terurus orang tua, broken home sampai imigran gelap juga tergabung dalam kelompok ini. Awalnya mereka tidak terlalu meresahkan masyarakat. Kecuali sampai ketua mereka menghilang. Hal ini menyebabkan empat orang anggota terkuat mereka memperebutkan posisi untuk menjadi ketua SA yang baru.
“Ini tempat bocah tengik itu tinggal ?.”
Saat ini sudah tengah malam membuat gang sempit di dekat pom bensin berwarna merah itu menutupi sosok kedua gadis bersaudara tersebut. Si Rambut Hijau Toska menjawab
“ya, gua rasa mereka tinggalin jejak petunjuk ke arah ini.”
“ Mau salah atau benar, gak usah peduli kita serang aja” balas si Rambut Biru.
Gadis berambut biru itu bernama Diana, dia mempunyai keahlian yang mumpuni pada senjata sejenis belati yang saat ini sedang ia lempar ke arah salah satu jendela. Markas yang mereka serang tidak terlalu besar dan hanya terdiri dari dua tingkat.
“ Prangg!!”
Belati Diana berhasil memecahkan kaca jendela markas kecil itu, lalu disusul dengan suara tembak sebagai balasannya. Pistol itu baru dan mencurigakan. Pasalnya, markas pisau Slaughter Advocate sudah disegel dan tidak mungkin para anggotanya mempunyai cadangan senjata api saat ini.
“ Wah, lucky banget punya senjata api, kayaknya dia ketemu pasar terlarang ”
celetuk Diana menyindir dengan senyuman sinis.
“ Diana, Riana, keluar lo berdua!”
teriak seorang laki-laki membawa pistol laras panjang. Sudah dipastikan dia adalah orang yang menembak tadi. Dari wajahnya, terlihat dia bukan orang asli Indonesia seperti campuran China dan Jepang. Pastinya dia adala;h imigran gelap. Tak lama, orang lain juga muncul baru saja turun dari atap markas.
“ Keluar juga akhirnya Rama sang penembak jitu.” Balas orang lain, ternyata bukan hanya Diana dan Riana saja yang mengawasi markas itu, tetapi seorang laki-laki lainnya. Dia berambut perak dan berwajah Amerika.
“ oohh… jadi yang mata-matain gua seminggu itu lo.”
“ Ups..! ketahuan ternyata.
“ ya elah Siena, lekong sok preman kayak lo itu gampang!.”
“ Enak aja, emang gua orang gampangan?!.” Setelah itu Siena lansung meninju wajah Rama. Siena memang ahli dalam beberapa macam beladiri. Mereka berdua jadi berkelahi dengan tangan kosong.
Tak lama, dua gadis yang bersembunyi itu bergabung untuk berkelahi dengan mereka berdua. Tentu saja kembaran itu bekerjasama dengan kompak untuk mengalahkan kubu laki-laki.
“ Duaar!!”
Tiba-tiba suara tembakan terdengar. “ Polisi!!” entah siapa yang berteriak, membuat keempatnya memilih untuk lari. “ Sial!” ucap Si Kembar bersamaan. Ternyata polisi telah mengepung dari berbagai arah pelarian dan keempatnya tetap ditangkap.
“ Kalian masih di bawah umur ternyata, gak bisa dipenjara” ucap seorang polisi wanita. Walaupun Polwan itu wanita, tetapi taka ada yang berani meremehkannya.
Akhirnya mereka semua tertangkap dan dibawa dengan mobil polisi. Di dalam mobil Si Kembar bertengkar dan saling menyalahkan.
“Baiklah, kalian cukup meresahkan sehingga pantas memperoleh perawatan khusus untuk proyek baru”
Polwan itu berkata lagi, jujur saja suaranya diakhir terdengar manis. Rama merasa ada kejanggalan dari kata-katnaya. Dia memang orang yang peka akan sekitarnya.
“ Jangan bilang kita akan dijadikan kelinci percobaan?” Rama bertanya, hatinya gatal entah kenapa.
Polwan itu membalas dengan senyum. Tiba-tiba ia melambaikan tangannya dan menyebar bubuk putih yang membuat keempatnya tertidur.
“ Selamat bersenang-senang anak-anak nakal!” Polwan itu berseru dan menarik bibir merah ranumnya menjadi senyum yang sangat menawan.
Lalu semuanya menjadi gelap....
___________________________________________________
Matahari bersinar terik sekali dan membuat seorang mata tertutup blonde dari seorang pemuda tampan itu bergerak karena merasa terganggu. Rama terbangun dengan berusaha duduk perlahan. Dia melihat sekitar sejauh mata memandang yang hanya diwarnai dengan padang rumput hijau. Seluruhnya hijau, kecuali salah satu rumah kayu sederhana bertingkat dua di tengah-tengah padang rumput. Tiba-tiba, beberapa informasi membajiri kepalanya. Entah dari mana ingatan itu berasal, tetapi Rama mendapat kesimpulan bahwa mereka berempat saat ini berada dalam game.
Aturan game itu sederhana, cukup pecahkan misteri dari cerita tersembunyi dari tempat terpencil ini. Mereka diberi waktu selama 48 jam. “ kayaknya kita harus masuk ke rumah itu.
” Diana berkata dari arah belakang Rama.sepertinya semua orang mendapatkan ingatan yang sama.
“ Iya, gua percaya sama Diana” Siena menyusul juga, sambil memperbaiki kacamata biru langitnya. Dia sebenarnya cukup tampan dengan wajah yang terpahat sempurna bak pangeran Yunani tapi dengan... sedikit sifat feminimnya (itu saja kekurangannya).
Mereka sampai di depan rumah itu dengan Rama yang memimpin. Seketika itu juga mereka bertiga merasakan hal yang asing.
“ Kenapa kalo gua sentuh pintu ini, gua jadi bisa bayangin beberapa perempuan yang berteriak?” tiba-tiba Siena berujar dengan tertegun.
“ Gua… juga bisa mendengar teriakan itu dan mengerti ucapan mereka” balas Riana. Ternyata rumah ini cukup berhantu.
“ Kalo gua… punya firasat, kita bakal menemukan sesuatu yang penting di lantai dua” Diana ikut bicara. Hanya Rama yang tidak berbicara dan hanya diam-diam mengukur mereka bertiga.
“Gua rasa, kita punya kemampuan unik tambahan selain senjata dan berkelahi” Rama akhirnya bersuara. Dia memang orang yang pendiam dan cukup dingin.
“ Siena, lo punya kemampuan merekam ulang kejadian” lanjut Rama.
“ Ria, lo indigo sementara Ana(Diana), lo bisa dibilang punya sensitifitas firasat yang kuat untuk menemukan sebuah petunjuk” Rama hanya menganalisis secara lanjut tanpa peduli sebenarnya.
“ Apa?! Gua gak mau jadi indigo!” Ria merasa tak terima. Dia sebenarnya takut hantu. Rama tak menggubris keluhan dari siapapun, sekali lagi dia hanya tak peduli.
Rama dengan tanpa basi basi lansung membuka pintu rumah itu. “Awas!!” Ana berteriak bersamaan dengan sebuah belati yang mengarah lansung pada Rama.
Untungnya Rama tak tinggal diam, dan dengan reflek yang bagus dia nyaris menghindari belati itu. Hanya saja serangan tak berhenti disitu, sebuah besi tajam persegi empat sepanjang pintu itu jatuh dari atas sebelum dia dapat menghindari itu sepenuhnya. Yang tertinggal hanyalah ujung kaki kirinya dan... Sreet!
"Arggh!"
Ujung jari kakinya terpisah berikut sepatunya. Kemudian pintu itu tertutup sepenuhnya dengan besi tajam tersebut. Bagi Rama itu memang hanya sebuah luka ringan (karena mereka memang biasa terluka), tapi entah mengapa syaraf rasa sakitnya lebih pedas dari yang biasanya dia alami.
"Udah gua bilang..."
"Diam!" Rama memotong ucapan Diana.
"Kalo Lo emang pengen gua selamet, Lo udah bilang dari tadi firasat Lo sendiri!." Semua terdiam, sifat Rama memang seperti itu selalu dingin. Rama membalut lukanya, sementara yang lain mencari cara lain untuk membuka pintu besi itu.
Terutama Diana yang mempunyai intuisi paling kuat di antara mereka.
'Click' Diana berhasil menemukannya. Lalu ia langsung masuk begitu saja. Yang lain juga tidak tahu bagaimana caranya sehingga hanya mengikuti dan masuk ke rumah itu.
Di dalam rumah Itu adalah sebuah ruangan yang bersih dengan suasana kayu asri berwarna coklat disertai gurat-gurat halus indentik batang kayu. Ruang tamu langsung disambut dengan beberapa kursi panjang tertutup kain putih tebal yang bersih. Kursi itu ada empat disertai dengan meja kayu persegi ditengahnya cocok untuk sebuah ruang tamu. Rama langsung duduk pada salah satu kursi dan sedikit merobek kain putih di atasnya sedikit dengan belati terbang yang tadi menyerangnya. Tentu saja hal itu di lakukan untuk menutupi luka. Yang lain tidak membuka kain putih itu dan hanya langsung duduk di atasnya.
"Bisikannya semakin kuat" tiba-tiba Riana berucap di tengah keheningan. Hatinya mulai goyah.
"Lo bisa dapat informasi apa dari bisikan itu?" Balas Rama. Dia itu sebenarnya paling pintar membaca situasi dan membuat strategi.
"Mereka... semua... Anak perempuan kecil yang memanggil ibu."
"Terus dengarkan 'mereka', tapi jangan rasakan emosinya" balas Rama lagi.
" Hey, gua nemu kulkas di dapur yang isinya makanan." Itu suara Diana.
Kulkas itu memang berisi makanan matang seperti rendang, tumis daging dan sayur juga beberapa minuman berenergi. Siena segera menyusul, karena memang merasa sangat lapar.
"Ini... Cukup segar dan tinggal dipanaskan" ujar Siena, dia itu berbakat dalam masak-memasak. Alat masak itu sangat lengkap dan bersih semakin membuat heran saja, bagaimana mungkin rumah yang dirawat ini tak ada seorangpun didalamnya.
Sembari menunggu Siena yang memasak, Riana mengambil minuman berenergi di kulkas untuk dirinya sendiri.
" Diana, Lo beneran gak ngerasa ada siapapun gitu di sini?" Tanya Siena pada Diana yang saat ini sedang membantunya memasak
"Gak ada siapapun, kecuali hal mencurigakan yang ada di lantai atas."
Mereka melanjutkan memasak dan setelah itu membawa makanan ke ruang tamu tempat Rama lagi tidur di salah satu bangku panjang. Rama tidak tahu mengapa dirinya merasa mengantuk dan tertidur kemudian.
Mereka tidak terlalu peduli karena memang Rama tidak ingin terlalu dipedulikan.
Tiba-tiba Riana, merasa wajahnya memanas dengan tingkat kepanasan yang tidak wajar.
"Ana, kenapa rasanya di sini panas banget ya?".
"Ria, wajah Lo...melepuh!" Diana berseru dengan kencang, sehingga turut membangunkan Rama dari tidurnya.
"Panas, panas banget!"
Riana panik, satu persatu kulit wajahnya mengelupas seperti terpanggang di mulai dari kulit dagunya, mulut lalu... kehidung.
Byur! Diana menyiramkan air di wajahnya hingga seluruh badan Riana basah kuyup. Walaupun hal tersebut ternyata menghentikan proses melepuhnya kulit wajah Riana.
"Ha Ha... sudah ada korban ternyata di sini"
Tiba-tiba suara serak dan berat mengelilingi seluruh ruangan terdengar. Suara itu nampaknya terdengar dari berbagai penjuru rumah.
"Kalian pasti akan menjebak satu sama lain dalam permainan ini, baguslah karena tidak seru jika kalian saling membantu"
"Di tempat ini kalian akan mendapatkan keadilan dari semua perbuatan kalian sampai kalian bisa memecahkan sebuah misteri, kalau begitu sampai jumpa lagi"
Suara itu menghilang. Namun, meninggalkan kesan mencekam di antara mereka semua.
"Dia bilang, kita akan dapat balesan atas semua perbuatan kita?"
Riana yang setengah wajahnya tinggal daging, memulai pembicaraan.
"Iya yang gua denger gitu" Diana membalas.
"Kayaknya gua tau kenapa, ternyata gua pernah nyiram seorang penyanyi terkenal dengan cairan asam"
Riana mulai mengingat-ingat setiap perbuatan buruk yang dilakukannya.
"Gua kayaknya pernah matahin jari kaki seorang pengemis yang menyebalkan" Rama melanjutkan.
Sepertinya semuanya mulai waspada dengan apa yang pernah mereka lakukan.
"Tapi, ini masuk akal gak sih?" Siena berujar.
"Kenapa?" Tanya Diana
"Ria, Lo bisa tiba-tiba bisa begini keadaannya gak ada pemicunya. Sementara Rama kehilangan Jari kaki karena ada besi tajam yang jadi jebakan di rumah ini"
Ucapan Siena benar, tapi mereka tidak akan menemukan jawabannya sekarang karena tidak sempat...
"Brak!!"
Terdengar suara benda berat yang terjatuh dari lantai dua. Hal ini membuat mereka teralihkan.
"Setelah makan membuat gua terasa mengantuk" Riana berujar sambil menggeliat kantuk. Bisikan itu bagi Riana semakin kuat ketika kantuknya menyerang. Suara itu seakan mengetuk hatinya.
“ kita cuma punya waktu 48 jam dan belum dapat petunjuk yang pasti” Riana tiba-tiba berucap dan bergegas ke lantai dua.
Diana tentu mendukung saudara kembarnya dan Siena, “gua rasa, Rama gak punya kemampuan khusus.” Siena berkomentar. Reaksi Riana tetap tak peduli, toh Rama juga tak peduli dengan sekitarnya. Mereka semua akhirnya memilih untuk memeriksa lantai dua.
Diana sebenarnya sudah memperhatikan gerak gerik Riana, terutama saat matanya berkabut dan pandangannya berubah semakin dalam. Diana merasakan firasat buruk terutama saat langkah kaki Riana yang sangat mantap berhenti di depan pintu sebuah kamar.
“ Jangan ada yang pernah buka pintu itu!” tiba-tiba Rama berteriak dari belakang sambil menembak bahu kanan Riana dengan pistol yang telah ia sembunyikan sejak awal. Sakit! Rasa sakit itu membuat Riana berhasil pulih.
“ Gua udah bilang jangan kebawa emosi dari bisikan yang gak jelas itu” tegur Rama tegas, dia seakan berubah menjadi orang lain.
“Jadi tadi gua…” Riana masih tidak mengerti apa yang terjadi.
“Lo baru aja kerasukan roh dari seorang anak!” Rama terpaksa memberi tahu, hatinya gatal. Rama juga merasa tidak nyaman untuk memberitahukan hal ini, namun entah yang Riana terlalu bodoh atau karena kemampuannya yang menjadi indigo lah penyebab kerasukan itu terjadi.
Di sisi lain, Siena ternyata menemukan petunjuk baru dan mengatakan hal yang membuat mereka terkejut.
“gua rasa, cerita sebenarnya itu tentang seorang anak perempuan bersama ibunya yang disiksa oleh seorang ayah psikopat.” Siena menyimpulkan sambil mengelus meja kayu yang ada didekatnya. Kemampuan khususnya aktif ketika menyentuh meja itu.
Sekelebat bayangan seorang ibu yang terbaring dengan dirantai leher, kedua tangan dan kakinya dapat ia lihat. Lalu seorang laki-laki paruh baya yang mempunyai wajah lembut nan rupawan datang menghampirinya. Dia tersenyum lembut bak malaikat tetapi...
"Kau cantik jika terbaring seperti ini Riana" Ucap laki-laki itu sambil menyingkirkan rambut halus yang menutupi wajah si ibu itu.
"Kenapa kamu... seperti ini?" Tanya sang ibu dari bayangan Siena.
"Agar kau tak kemana-mana dan selalu bersamaku, ahh... hatimu sudah ternoda ya?" tanya si laki-laki yang dapat kita simpulkan bahwa dia adalah seorang ayah.
"Aku ambil ya, biar kubersihkan"
"Tidak, Tidak! Tolooonggg!"
"Siena...Siena!" Teriak Diana di telinganya.
Hal tersebut membuat Siena tersadar dan melepas sentuhannya pada meja kayu tadi.
"Udah, Lo gak usah menarawang lagi" Lanjut Diana.
“ Kalian mau jadiin gua leader buat pencarian misteri ini dan percaya sama gua gak?”
Tiba-tiba saja Rama mengeluarkan pernyataan yang aneh. Iya aneh saja jika Rama yang sifatnya dingin dan kaku berubah jadi seakan-akan paling peduli dengan mereka.
“ Kasih kita alasan” Diana menyahut setelah mereka beberapa lama terdiam.
“ Gua juga punya kemampuan, bisa melihat masa depan lewat mimpi” jawab Rama, nadanya terdengar yakin.
“ buktinya?” Diana kembali bertanya.
“ Riana, dia gak akan bisa bertahan dari bisikan itu lima menit lagi dan sekarang dia menjadi seorang anak perempuan.”
Alias Riana akan dirasuki lagi oleh roh, dan kali ini seorang anak perempuan.
Benar saja, Riana mencoba membuka pintu kamar hitam yang berada diujung lorong lantai dua dengan segenap kekuatannya. Entah dengan menabrakan dirinya ke pintu itu atau dengan melempar benda-benda sekitarnya kearah pintu kamar itu. Dia hanya ingin pintu itu terbuka seakan dia akan mati jika pintu itu tak terbuka.
“Riana, cukup!”
Diana menahan tubuh Riana dan mengikatnya ke salah satu tiang kayu penyanggah rumah.
“ Dia gak akan bisa berhenti sebelum ketemu ibunya” Rama kembali berkomentar.
Rama saat ini terlihat seperti orang yang sok tahu di mata mereka.
“ Jujur aja nih Rama, gua punya firasat makin kuat kalo gua bakal menemukan jawabannya saat masuk ke kamar itu”
Ucap Diana mengutarakan pikirannya. Sepertinya mereka sudah bualat tidak mempercayai Rama sama sekali.
“oke itu terserah kalian, gua cari aja petunjuknya sendiri.” Setelah itu Rama kembali turun ke lantai satu.
Siena dan Diana tetap lanjut ingin membuka pintu kamar itu. Hal itu tentu saja karena bakat tambahan mereka membuat keingin tauan mereka harus terpenuhi. Setelah berbagai macam mekanisme yang dicoba oleh mereka berhasil membuka pintu. Sekali lagi kamar itu adalah ruangan yang bersih seakan dirawat sehari-harinya sama seperti ruangan-ruangan lainnya di rumah ini.
Diluar senja kemerahan- merahan terlihat. Jendela panjang ruangan itu terbuka, mengizinkan cahaya merah memasuki dan menyinari sebuah ranjang panjang ditengah ruangan itu yang tertutup seprai putih. Riana yang masih diikat pada tiang saat ini menjadi semakin gelisah.
Sementara Diana dan Siena hanya mengitari kamar itu tak luput juga memeriksa ranjang kayu. Diana menarik sebuah tangan seperti manekin. Benar saja, tangan itu milik sebuah manekin cantik bermata biru. Dengan wjah terbingkai cantik bersama rambut hitamnya yang tersampir. Manekin itu memakai sebuah gaun merah cerah berkilauan.
Seet..
sebuah pisau tiba-tiba diarahkan kepada manekin itu oleh Siena. Siena hanya penasaran dan waspada kepada manekin itu.
“ Lo ngapain sih?” kata Diana. Pisau itu berhasil menancap di kepala manekin.
“ Aarrrghh!”
Riana tiba-tiba berteriak berusaha melepaskan ikatan itu dan anehnya terlepas. Matanya saat ini berdarah tanpa sebab.
“kau harus mati!”
Suara Siena berubah menjadi jantan, matanya melotot tajam sampai-sampai seperti akan keluar.
“ Siena, Lo harus sadar itu Cuma manekin!” Diana panik.
“ benar! Itu bukan dia” Siena membalas.
Tetapi detik berikutnya dia melempar pisau kearah Riana. Pisau itu mengarah ke kepalanya dan ditangkis oleh Diana dengan lengannya.
“Ibu!” Riana berlari dan memeluk Siena dari belakang.
“Ibu lari dari ayah! Ayah…ayah dia jahat!” Suara Riana juga berubah seperti beberapa anak kecil berbicara kepada Diana.
“ Riana, lo…”
tenggorokan Diana terasa tercekat!. Tiba-tiba manekin itu menghilang dan dia…Diana mengenakan gaun merah berkilauan!.
“Ibu! Cepat lari!.”
Semuanya menjadi kacau, sekarang sejarah kelam rumah itu yang tadi terlihat oleh kekuatan bayangan dari Siena terulang. Akhirnya...sejarah rumah itu akan menjadi skenario penyiksaan mereka saat ini.
Siena menikam tangan Riana yang memeluknya dari belakang berusaha lepas dari kuncian Riana.
Namun,
“Mati kau baji*an!” Diana tiba-tiba mencekik Siena dan...
‘Krek!’ Diana mematahkan tulang lehernya.
“Hore! Ibu menang!” Riana berseru.
“Belum masih ada orang lain” kata Diana tersenyum lembut.
“Ibu! Ayo kita cari ayah jahat lainnya!” Riana berseru dengan semangat.
Mereka berdua, kakak beradik yang kembar itu sedang dikuasai oleh arwah pendendam dari ibu dan anak-anak yang menghantui rumah itu.
Lalu...di mana Rama?