Gemuruh petir di hari itu terdengar seperti teriakan aneh. Tidak, itu bukan bunyi gemuruh. Aku bahkan tidak melihat kilat ataupun cahaya yang menyambar langit. Ada sesuatu yang aneh malam itu.
Tanpa kusadari, ada sesuatu yang menetes di dinding kamarku. Merah gelap dan berbau seperti tembaga. Kepalaku pusing dan kakiku akhirnya menuntunku keluar dari kamar gelap itu.
BUKK! DUK!!
“Apa ada....”
BUUKK!! BUUKKK!!!
“…..Yang terluka?..”
Tenaga dan kekuatanku hampir habis. Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan sejak tadi sehingga rasanya ototku lemas semua.
Kakiku masih melangkah pelan. Terkadang aku menginjak beberapa pecahan kaca yang berserak di lantai. Aku juga tidak tahu kenapa rumahku sepi sekali. Tidak ada lampu yang menyala. Aku masih berusaha meneliti apa yang terjadi pada rumah ini.
“Siena? Ibu?....Ayah?”, sekali lagi aku mengeluarkan suara lirih ini. Mulutku bagai tidak mendukungku untuk berbicara lagi. Lelah sekali.
…
Duk!
Eh? Aku berhenti melangkah lalu celingak – celinguk mencari sumber suara itu. Sepertinya ada sesuatu yang menghantam lantai. Tapi aku sangat yakin sumber suaranya terdengar sangat dekat. Bahkan bisa saja dari belakangku.
“Ternyata masih ada yang hidup…”
Aku berbalik secepat mungkin, lalu mataku menangkap kehadiran seorang pria. Pandangannya sinis, terasa sekali kekejaman yang ada padanya.
“..tak akan kubiarkan hidup..”, ia tertawa kecil dengan suara napas tersengal – sengal.
Aku baru saja menyadari sesuatu yang membuat darahku terasa beku.
Pria itu mengenakan jas hujan berwarna hitam, namun mataku tetap bisa melihat bekas percikan cairan gelap dan kental yang tadi kulihat di kamarku. Pusing, mual, dan jijik. Perasaan – perasaan itu sekaligus menenggelamkanku. Bau tembaga yang memuakkan juga tercium samar- samar.
Walau aku ketakutan, hatiku pada akhirnya menyuarakanku untuk lari dan mencari bantuan. Aku gemetar dalam keheningan itu. Sedangkan pria berjas hujan di depanku mulai mendekat.
Ia sengaja melangkah dengan suara keras, berusaha untuk memojokkanku dengan perasaan panik dan takut.
“Menyenangkan sekali…”, ia merogoh kantung jas hujannya, lalu mengeluarkan sesuatu.
Pisau belati.
Darah berbekas dan masih melekat di benda mengkilap itu. Aku menelan ludah, bisa kubayangkan pasti betapa takutnya ibu, Siena dan ayah saat melihat belati tajam itu menembus tubuh mereka. Kurasa aku juga akan berakhir seperti mereka saat ini.
Klang! Aku melempar salah satu serpihan kaca ke arah sosok pria tadi. Kemudian dengan sigap pula, aku berlari keluar menahan sakit akibat luka goresan di kakiku yang semakin perih.
Saat berhasil keluar dari pekarangan rumah kami, rupanya seseorang sudah tiba lebih cepat dariku. Pria pembunuh itu tengah berdiri menarik napas cepat sambil mendekat ke arahku.
Aku masih terpikirkan untuk berlari sejauh mungkin, namun luka goresan kaca di kakiku sobek dan membesar. Aku tersandung oleh rasa sakit dan jatuh. Tubuhku menjerit merasakan perih luar biasa ini sambil merasakan darah yang mengalir tanpa henti.
Grep! Pria itu mencengkram pundakku lalu melayangkan belatinya. Aku menghindar dan mendorongnya dengan sekuat tenaga. Bau tembaga dari darah itu menusuk hidungku dan melemahkanku. Kembali merasakan mual dan pusing, akhirnya aku lengah dan sebuah rasa dingin menembus pundakku.
Pria itu menarik belatinya dari tubuhku lalu melayangkannya lagi. Sepertinya dia akan menancapkannya untuk kedua kalinya. Aku menjerit di kegelapan malam itu. Tapi yang kuduga tidak terjadi. Napasku masih terasa, jantungku juga berdetak tak terkontrol. Dan satu hal lagi, pria pembunuh itu terlempar ke belakang, dan ada darah mengalir dari hidungnya. Kupikir aku akan mati saat itu juga, namun aku baru tersadar bahwa ada seseorang lagi yang bersama kami. Seorang tambahan yang tidak kuduga.
“Lari, larilah dari sini!”, seru pria penyelamatku itu.
Aku tahu dia berniat menyelamatkanku, namun aku sama sekali tidak kuat untuk menggerakkan badanku saat ini. Luka tusukan di pundakku benar – benar melumpuhkanku. Bahkan untuk menggerakkan mataku dan menatapnya sudah sulit kulakukan.
“Ugh…”
Semakin lama, mataku terasa berat dan lelah. Pandanganku buram dan kepalaku tidak bisa berpikir panjang lagi. Akhirnya aku tak sadarkan diri.
…..
Sakit. Mataku terbuka dan merasakan sinar menyilaukan menerpaku. Rasanya damai ketika aku kembali melihat cahaya lagi. Ketakutanku hilang, namun ada rasa sakit yang masih terasa. Yah, tepat di pundak kiriku yang tertusuk.
“Sudah sadar? Syukurlah..”
Seorang polisi berdiri tepat di samping kasurku dan menceritakanku tentang apa yang terjadi kemarin malam.
Dia mengatakan bahwa pembunuh itu sudah ditangkap. Pembunuh itu rupanya adalah pria yang berhutang banyak kepada ayahku. Ia mendendam dan tidak pernah melunaskan utangnya, akhirnya menyusun rencana untuk menghabisi keluarga kami. Sungguh kejam.
Sedangkan keluargaku, mereka sudah tiada. Setelah mendengar tentang mereka dari polisi, aku menangis dan menjerit. Aku yang saat ini belum bisa menerima kenyataan buruk ini.
Setelah sang polisi pergi, aku berusaha untuk bangun dan menyendiri di balkon. Baru kusadari baha sekarang aku tengah di rawat di rumah sakit.
Kesepian, hanya itu yang terasa sekarang. Sedih sekali, hatiku sakit menyadari semua yang berlalu ini. Bolehkah aku kembali ke masa – masa kebersamaan keluargaku dulu? Karena diriku yang sekarang terasa kosong. Hampa.
Ah! Sebuah ingatan terbesit dalam kepalaku. Setahuku, seseorang menyelamatkanku dari pembunuh itu. Lalu kenapa polisi tadi tidak memberitahukan tentang orang itu?
Sepertinya pria yang menyelamatkanku itu pergi setelah memanggil polisi. Aku seharusnya tetap sadar untuk berterima kasih padanya. Tapi sayang sekali…
Terpikir suatu ide di kepalaku. Aku mengambil sebuah kertas dan pena hijau di meja lalu menuliskannya.
……………………….
-Kepada penolongku:
"Aku berharap aku bisa bertemu denganmu suatu saat nanti dan berterima kasih saat itu juga. Anda seperti pahlawan Romawi terhebat yang pernah kutahu, Herkules".
-Sera-