Benci
By. Elvi Husna
____
Tawamu menengahi riuhnya suasana di kantin, saking kerasnya kau tertawa hingga membuatku nyaris tanpa kata. Bukan! Bukan karena aku malu kau menjadi pusat perhatian orang-orang di tempat ini, tapi karena aku menyadari betapa canggungnya tawa itu.
“Kau menyukainya, kan, El?” Aku mengulang pertanyaan yang membuatmu kembali tergelak.
Pertanyaan yang sama seperti saat tadi engkau memulai tawa.
Kau terdiam, dengan sisa tawa yang masih berdendang. Namun, perlahan benar-benar sunyi diantara kita saat kau melihat binarku menatap. Menuntut jawaban atas rasa yang kuanggap kau sedang bermain-main untuk menjawab.
“Enggaklah. Paan sih, tuh cowok sok cool banget, songong pula!”
Masih sama jawaban yang kau utarakan. Pengakuan yang jika didengar oleh siapapun, akan disimpulkan seperti apa yang didengarkan.
“Liat tuh, Andre, ih benci banget aku sama cowok itu.”
Sering kali kalimat itu kau utarakan padaku saat melihat lelaki jangkung bertingkah tak acuh pada sesama. Bahkan sering lelaki yang kau benci itu tak menyahut saat ada yang memanggil. Memang cuek. Memang dingin. Dan, penilaianmu sama sekali berbeda denganku.
Aku menganggap lelaki itu sedang menjaga diri dari godaan perempuan yang mendewakan rupa bernilai 'sembilan.’
“Eh, udah minta maaf malah ditinggal gitu aja. Bilang iya, kek. Sombong banget, nyebelin memang!”
Begitu kalimat yang keluar dari mulutmu saat melihat Andre tak sengaja ditubruk seorang perempuan, dan beberapa buku yang ia pegang berhamburan di lantai koridor di depan kelas. Lalu, perempuan cantik di depan Andre terlihat bersungguh-sungguh meminta maaf sambil membantu mengumpulkan buku dan kertas yang tercecer. Namun, sikap lelaki itu tetap tak acuh, bahkan tak peduli dan memilih pergi tanpa kata, tanpa anggukan sebagai penerimaan saat perempuan di depannya berulang kali mengatakan maaf.
Aku tersenyum kecut, lalu kembali menatap bola hitammu. Ya, aku mengerti.
Kau mengangkat keningmu seolah mempertanyakan apa maksud senyum yang barusan kuberikan padamu.
Lalu, kau bersiap mendengarkan saat kukatakan akan menceritakan sesuatu padamu. Ini tentang Andre dan seorang gadis.
Ada kilat marah di matamu yang berusaha kau sembunyikan saat kukatakan itu, mungkin kau sedang marah karena kebencianmu untuk lelaki itu. Atau kau sedang berusaha menyembunyikan rasa cemburu. Entahlah, kurasa kau lupa bahwa membenci berarti tak peduli. Dan, yang selalu kau lakukan adalah menceritakan tentang kebencianmu padaku, tanpa alasan dan sebab. Tanpa kutanya, kau selalu bercerita bahwa kau benci. Namun, kurasa kau sedang berbagi kekaguman dibalut cerita benci agar perasaanmu tak ketahuan candu. Lucu sekali.
***
Perpustakaan kampus tak terlalu ramai saat itu, seorang gadis melangkah menuju meja di sudut dekat jendela. Bukan karena menyukai pemandangan di bawah sana, tapi untuk memandang ciptaan Tuhan yang tengah fokus membaca buku di meja itu. Andre.
Lelaki itu mengalihkan pandangan dari deretan kalimat yang sedang ia baca, mata itu menatap seseorang yang baru saja duduk di sampingnya. Lalu, pandangannya menyapu seisi perpustakaan, kemudian tanpa kata, ia bangkit ingin menuju meja lain. Namun, langkahnya tertahan karena lengannya dicekal gadis itu. Lelaki itu paham, bahwa gadis di depannya ingin ia kembali duduk. Ditatapnya gadis itu tajam agar ia tak menghalanginya jalannya, sementara gadis cantik di depannya menatap dengan binar memelas.
“Ada apa?” hanya dua kata yang diucapkan Andre setelah ia kembali duduk di depan gadis itu.
Gadis itu diam dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Yang ia rasakan kini jantungnya berdegup tak karuan. Gugup melanda, hingga tenggorokan tercekat seolah ada batu yang menyumbat. Otaknya gagal mengeluarkan informasi yang sudah ia rangkum sejak semalam.
Beberapa saat lelaki itu menunggu jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan. Tak ada jawaban, hanya hening menggantung kedua insan. Merasa tidak ada keperluan, Andre menarik napas jengah, kembali menarik kursi, lalu berdiri ingin pergi.
Melihat lelaki di depannya akan pergi seolah hilang harapan untuk gadis itu. Harapan untuk tahu sebuah jawaban yang lama ia cari.
“Andre, I am fall in you.” Spontan kalimat itu terucap dari bibir mungil gadis yang kini menunduk. Orang bilang terkadang keberanian datang disaat mendesak, dan itu yang dirasakan gadis itu.
Langkah Andre terhenti mendengar kalimat gadis yang kini dipunggungi beberapa langkah. Lelaki itu berbalik, kembali duduk di depan sang gadis. Kepala yang semula menunduk, kini terangkat perlahan dengan harapan yang kian menggebu.
Andre menatap lekat bola mata gadis itu, mencari kesungguhan dari pekatnya tatapan itu. Ia begitu familiar dengan kata jatuh cinta, karena sebelum ini sudah banyak sekali para gadis yang tanpa malu mengungkapkan itu. Namun, Andre banyak melihat kebohongan di mata mereka. Berbeda dengan gadis di hadapannya kini.
“Maaf, aku gak bisa.” Hati-hati Andre mengucapkan itu.
Disamping ia tak ingin melukai hati sang gadis, ia juga sedang menjaga hati untuk gadis lain.
Hatinya bagai dihimpit batu besar. Sesak, dan sakit ia rasakan bersamaan. Namun, gadis itu mengerti bahwa hati adalah mutlak tak bisa dipaksa.
“Kau menyukai seseorang?” Gadis itu memberanikan diri bertanya.
Meskipun hatinya teriris, ia harus menuntaskan rasa penasarannya.
“Ya.” Jawaban itu singkat, tapi begitu menyayat gadis yang sedang menaruh hati.
Gadis itu tersenyum sambil memejamkan mata. Tersenyum untuk kesimpulan yang ia simpulan sendiri.
“Kenapa kau tersenyum?” Andre merasa heran atas sikap gadis di depannya. Layaknya gadis yang sedang patah hati, harusnya gadis itu sedang menangis sekarang, bukan malah sebaliknya.
“Bicaralah padanya, siapa tahu ia juga sudah lama menunggumu untuk bicara.”
Ya, gadis itu mengerti sesuatu. Saat diam-diam di dalam kelas ia mencuri pandang pada lelaki rupawan sang pujaan. Namun, sang pujaan malah mengirim tatapan cintanya untuk gadis lain. Perih, tapi kembali ke hati yang tak bisa dipaksa.
Ini bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan, tapi cerita dua anak manusia yang saling mengeja ego hingga hati sama-sama terpatahkan pada rasa yang tertahan.
Andre tersenyum, menyadari arah pembicaraan gadis itu. Sejujurnya dalam hati, ia tak begitu berani mengingat sikap gadis yang ia kagumi selama ini. Namun, kode kata dari gadis di depannya sedikit menambah energi positif untuknya. Sekali lagi Andre menatap mata gadis di depannya. Tak ada kebohongan.
***
Gadis itu adalah aku.
Mata Elvia sedikit terbelalak mendengar ceritaku, sementara kulihat ia meremas jemarinya sendiri dengan wajah yang sedikit memerah.
“Turunkan egomu, siapa tau ia sedang mencarimu.”
Aku meninggalkan kantin saat kulihat Andre berdiri di sudut sana dengan binar yang menatap kami. Ah, ia hanya menatapmu, El.
Kau lupa, El. Sebagai seorang sahabat ada hal yang bisa kau sembunyikan, tapi hal itu tak bisa menjadi rahasia bagiku. Perasaanmu.
__