Langit malam ini terlihat begitu indah dengan bintang-bintang. ku berdiri di balkon kamarku memandangi bulan berbentuk sabit yang begitu memukau. kubayangkangkan wajahnya terukir diantara bintang-bintang itu. Ya, dia yang kusukai namun ku tak pernah mempunyai cukup nyali untuk mengungkapkan.
Tok...tok...tok...
"Bintang!" Suara mama memanggilku dari balik pintu kamarku
"Iya ma?"
"Bulan udah datang tu, cepetan katanya!"
"Iya, suruh tunggu bentar lagi ma!"
"Yaudah, jangan lama ya! Mama mau nemenin Bulan di bawah"
"Ok ma"
Ya, hari ini aku akan pergi bersama Bulan untuk melepas lampion bersama. Hal ini biasa di lakukan penduduk di kota ini saat menyambut tahun baru.
Aku dan Bulan pun selalu ikut serta merayakannya.
Bulan, dia sahabatku dari kecil hingga sekarang kami memasuki masa SMA. Dia wanita yang sejak dulu kusukai.
Kupandangi diriku di depan cermin "Bintang, semangat! Kamu pasti bisa" Ujarku menguatkan diri sendiri
Segera aku keluar kamar, berlari kecil menuruni anak tangga menuju lantai satu dimana kudapati mama dan Bulan yang sedang asik berbincang.
"Ayo!" Ajakku pada Bulan yang langsung berdiri kala melihatku "Ma kita berangkat ya!"
"Tante kita pamit ya" kata Bulan seraya tersenyum manis
"Iya, kalian hati-hati ya!" Ujar mama " Bin, jagain Bulan ya, jangan sampai lecet"
"Siap komandan" Kataku sambil memberi hormat seperti pemimpin upacara membuat mama dan Bulan tertawa. Senang rasanya melihat Bulan tertawa lepas seperti ini. Tawa yang jarang ditunjukkannya semenjak kepergian kedua orangtuanya dua bulan lalu karena kecelakaan.
***
kunikmati angin malam, menyusuri jalan yang dipenuhi lampu hias di setiap pohon yang berjejer di pinggiran jalan. Sesekali kucuri pandang kearah Bulan melalui kaca spion. Wajahnya terlihat begitu cantik diterpa angin.
Tak ada obrolan diantara kami sampai vespa yang kami tumpangi berhenti di sebuah taman yang begitu ramai dengan orang-orang yang sudah siap akan melepas lampionnya. Segera kusiapkan lampion yang kubawa dari rumah.
"Ya sebentar lagi pelepasan lampion, semua siap?" Tanya seorang MC wanita dengan semangat.
"Siap!!!" Sorak ramai seluruh orang di tempat itu
Aku dan Bulan kini memegangi satu lampion yang sudah siap untuk kami lepas.
"Sebelumnya mari membuat harapan masing-masing"
kupejamkan mataku "Semoga, dimalam pergantian tahun ini aku bisa mengungkapkan perasaanku padanya. Apapun jawaban nya aku akan ikhlas" Harapku dalam hati
kupandangi wajah Bulan yang masih memejamkan matanya, entah apa yang dia harapkan. Aku tetap memandanginya hingga ia kembali membuka matanya.
"Mari berhitung sama-sama dari satu sampai tiga" Kata MC itu lagi
1...
2...
3...
Kami melepas lampion bersamaan, beberapa saat kami memandangi langit yang dipenuhi dengan lampion. Lalu kami saling bertatapan dan tersenyum.
Kuraih kedua tangan Bulan, dan menatapnya lekat-lekat. Ia menatap ku dengan tatapan bingung.
"Kenapa?" Tanyanya
"Aku, mau bilang sesuatu sama kamu"
"Apa?" tanyanya lagi, menatapku penasaran
"Aku mau bilang kalau aku_"
"Bintang!!!" Teriak seseorang, memotong pembicaraanku
Aku menoleh kesumber suara dengan perasaan kesal. Kulihat Arya (teman sekelasku) berjalan kearahku.
"Apa?" Tanyaku kesal
"Kamu datang juga ternyata" katanya sok asik.
"Hai Bulan" Sapanya pada Bulan
"Juga" Bulan tersenyum
"Owh ya, aku mau kesana! Kalian mau ikut?" Tanya Arya menunjuk kearah sebuah gerobak bakso.
"Gak!" Jawabku, cepat
"Yasudah aku duluan" pamitnya
"Sana!" ketusku
Aku kembali melihat kearah Bulan "Bulan?" Aku berharap masih bisa melanjutkan omonganku yang terputus tadi.
"Pulang yuk Bin! Aku capek" Kata Bulan yang terlihat lemas
"Yaudah!" Sejujurnya aku kecewa, malam ini aku tak bisa mengatakan apa yang kurasakan.
***
Malam ini aku tak bisa tidur, kuingat tadi wajah Bulan yang begitu pucat. Saat kutanya apa dia merasa sakit, dia tak menjawab dan langsung masuk kerumahnya.
Cling...(Notifikasi masuk)
Kuraih handphoneku dari atas nakas dan membuka sebuah pesan Whatsap yang baru saja masuk dari Bulan.
|Bin? Udah tidur
*Belum, kenapa?
|Aku cuman mau bilang, malam ini adalah malam penuh arti buat aku
*Sama, malam ini juga penuh arti buat aku
|Happy New year ya Bin:)
*Happy New year balik:v
|Bin, aku ngantuk! Aku tidur ya. Kamu juga tidur sana!
*Iya
|Nice dream Bintang
*Too
***
Pagi ini Mentari bersinar begitu terang, kusapa Bulan dari jendela kamarku. Ia tersenyum manis kearahku dan aku pun membalasnya.
Aku lalu melangkah keluar kamar menuju lantai bawah. Kusapa mama yang sedang menyiapkan sarapan di dapur sementara ayah masih sibuk dengan berkas-berkas kantor yang menumpuk.
"Ayah, kerja mulu! Ini kan hari libur yah" Tegurku pada ayah
Ayah hanya tersenyum padaku, aku pun membalasnya dengan senyuman.
ku langkahkan kakiku ke teras depan, hari ini benar-benar cerah. Tekadku masih kuat pada tujuan yang begitu besar menyangkut hubunganku dengan Bulan.
"Malam ini, tidak boleh gagal lagi"
~~~
Malamnya, kuajak Bulan jalan-jalan menaiki Vespaku menikmati angin malam yang bertiup perlahan.
"Kita mau kemana sih Bin?" Tanya Bulan penasaran. Aku hanya terdiam sengaja tak menjawab membuat Bulan mendengus kesal.
"Sampai!" Seruku saat tiba di sebuah jembatan perbatasan kota.
"Kita ngapain disini?" Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Bulan
"Aku nanya Bin, kok kamu malah senyum-senyum?"
Aku menunjuk ke arah langit, Bulan mengikuti kemana arah yang kutunjuk.
"Apa?" tanyanya lagi seraya tetap melihat kearah tujukku.
"Kamu lihat bintang-bintang itu?"
"iya, kenapa?"
"kemarin, di bawah langit yang penuh bintang aku mengharapakan sesuatu"
"Aku juga berharap sesuatu" kini Bulan tersenyum menatap Bintang-bintang "Aku berharap tahun selanjutnya aku masih bisa ngelepas lampion bareng kamu lagi seperti tahun-tahun sebelumnya dan berharap persahabatan kita gak akan pernah rusak walau apa pun yang terjadi, aku gak mau kehilangan sahabat kayak kamu" Lanjut Bulan yang sontak membuat nyali yang sudah kukumpulkan sejak lama untuk mengungkapkan perasaanku kini bagai terhempas angin begitu saja.
"Kalau kamu? Harapan kamu apa Bin?" Tanya Bulan, kini melihat kearahku
"Aku...Emm...Harapan kita sama kok"
"Owh ya?"
Aku mengangguk seraya tersenyum paksa
"Bin, ke taman yuk!" Ajak Bulan, aku hanya mengangguk mengikuti maunya
~Di taman
Kami duduk di bangku taman, menyaksikan hamparan langit maha sempurna.
"Bintang!" Panggilnya
"Iya?"
"Semoga tahun ini bener-bener bukan tahun terakhir kita ngelepas lampion bareng ya" Entah kenapa mendengar ucapan Bulan membuatku merasa sedikit resah, tapi aku tak tau kenapa
"Gak akan kok" kataku, meyakinkan
"Semoga" katanya lagi dengan pandangan sendu kearahku "Aku ngantuk Bin, boleh pinjem bahu kamu sebentar?"
"Kita balik aja kerumah" kataku lalu beranjak, namun Bulan dengan cepat menahan tanganku sampai ku terduduk kembali
"Disini aja Bin, aku pinjem bahu kamu ya. Lima menit aja Bin" Mohonnya
Aku lalu mengangguk mengiyakan "Ok, janji ya? lima menit aja!" Kataku, perasaan takut, jenuh, cemas menjadi satu dalan hati.
"Iya"
Kepalanya tersandar di bahuku, entah kenapa rasanya aku semakin resah. Jantungku berdetak begitu kencang, rasanya sakit. Seperti ada yang akan menghilang dari duniaku.
Ku mencoba menahan getaran pada tubuhku yang membuat dada ini terasa sesak. Setidaknya hingga Bulan terbangun.
Lama kutunggu ia tak kunjung bangun. Ini sudah lebih dari lima menit, kucoba membangunkannya.
"Bulan?" aku memegangi pipi Bulan yang terasa dingin
"Bulan? Bangun!" aku sedikit meronta tubuh nya, namun tak ada respon.
"Bulan? Kamu denger aku kan Bulan?"
"Bulan! Apa? gak...gak mungkin" Kupeluk erat tubuhnya yang melemah dingin. Air mataku seketika terjatuh, semakin erat ku bekap tubuhnya dalam pelukku saat kusadari bahwa jantungnya tak lagi berdetak, denyut nadinya tak lagi terasa.
Dia benar-benar sudah pergi, bahkan aku belum sempat mengutarakan perasaanku.
di atas gundukan tanah yang masih basah, tangisku tak tertahan seraya memegangi batu nisan bertuliskan nama nya di sana (Bulan). Tak kusangka Hari itu memang hari terakhir kita melepas lampion bersama. Tak kusangka awal tahunku menyambutku dengan kepedihan.
Sampai saat ini aku masih berharap seseorang membangunkanku dari mimpi burukku ini. Aku masih berharap saat terbangun nanti aku masih bisa menyapanya dengan senyum lewat jendela kamarku.
Kukira Bintang dan Bulan di takdirkan untuk bersama, tapi kenyataanya Bintang dan Bulan hanya bisa bertemu namun tak bisa bersama.
~Tamat~