Gloryork. Kota besar yang selama ini dikenal sebagai pusat kemajuan dunia. Tak heran jika banyak sekali penemuan penemuan canggih berasal dari kota Gloryork. Penemuan penemuan ini juga didasari oleh banyaknya ilmuwan terkenal di Gloryork. Tak terkecuali Professor Luck Ned, salah satu dosen di Universitas GloryLegge.
Laboratorium Professor Ned
02:00 p.m.
" Luar biasa. Ini bisa menjadi sebuah penemuan. Vaksin Leishmania ! Ini akan menjadi penemuan terbesar ku, Luck Ned ! " Tiba tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu.
Tok... !
" Profesor ! " Suara laki laki terdengar dari luar pintu.
" Masuklah. " Pintu terbuka. Muncul seorang pemuda tinggi dengan rambut berantakan membawa tasnya di punggung.
" Raffa ! Kemari ! " Pemuda itu segera menghampiri Profesor Ned. Profesor segera menunjukkan sebuah tabung kaca berisi lalat pada Raffa.
" Wow ! Apa ini profesor ? " Raffa terlihat bingung dengan apa yang ia lihat.
" Aku telah menemukan vaksin Leishmania. Aku pasti akan segera menerima hadiah nobel pertamaku. " Profesor Ned tersenyum kegirangan.
" Mungkin saja. Tapi, apakah itu bisa efektif ? Mungkin saja akan apa yang kau temukan bisa membahayakan. "
" Apa kau meragukan penemuan ku, Raffa ? " Profesor menatap Raffa dengan tatapan tajam. " Seharusnya kau mendukungku. "
" Bukan seperti itu. Aku hanya bilang jika setiap vaksin itu pasti ada penguji nya. Maka dari itu, kau harus punya seorang relawan. "
" Bagaimana dengan mu, Raffa ? Apa kau bisa menjadi relawan ku ? " Raffa langsung menggelengkan kepalanya.
" Aku tak bisa. Coba kau cari yang lain. Aku bahkan belum siap mendonorkan darahku. "
" Yah, baiklah kalo begitu. " Profesor Ned terlihat kecewa dengan respon Raffa. " Tapi, bisakah kau mencari seorang relawan ? Untuk menguji vaksin ku ini. "
" Eeh... baiklah. Aku akan berusaha. Sabar dan tunggu saja, Profesor. Aku akan mencarinya. Aku pergi dulu. Ibu sudah menungguku. " Raffa langsung bergegas meninggalkan laboratorium Profesor Ned. Sementara Profesor Ned masih memegang tabung isi lalat itu. Ia tersenyum memandangi tabung itu.
" Kau akan menjadi pembuktian ku untuk Nobel yang sudah kutunggu selama 30 tahun. "
***
Raffa tiba di parkiran universitas. Ia segera menuju motornya untuk segera pergi meninggalkan universitas dan menjauh dari Professor Ned.
" Dia bisa membuat ku gila. Jika bukan karena dia yang membayar uang kuliah ku, aku tak akan bekerja untuknya. "
Raffa memakai helmnya. Ia bersiap untuk segera meninggalkan Universitas GloryLegge. Tiba tiba dari belakang, pundaknya ditepuk oleh seseorang.
" Rafa ! Kenapa kau buru buru ? " Rafa langsung menoleh kebelakang kepada orang yang memanggilnya.
" Roger ! Buru buru ? Tidak. Aku hanya mau pergi saja. " Raffa berkeringat.
" Seharusnya kita ada di lab professor. Kenapa kau pergi sekarang ? Apa ada masalah di lab ? "
" Tidak ada masalah. Hanya sebuah penemuan gila lainnya telah lahir. Dia memintaku untuk menjadi relawannya. Aku jelas tak mau untuk membuat hidupku dalam bahaya. "
" Hmm.. Penemuan, ya ? Menarik ! Aku akan ke sana. Kau mau ikut ? " Roger antusias dengan berita penemuan Profesor Ned.
" Ha ? Kau mau ke sana ? Apa kau tak takut ? Maksudku itu belum diuji dan bisa menimbulkan bahaya. "
" Maka dari itu, aku akan mengujinya. Kalo bukan kita siapa lagi ? Di masa depan nanti, kita pasti akan menjadi ilmuwan juga. Kita harus siap untuk menguji penemuan penemuan seperti ini. " Roger langsung berjalan masuk kedalam universitas.
" Roger ! Tunggu ! " Raffa mengejar Roger yang sudah berjalan masuk ke dalam universitas.
***
Laboratorium Professor Ned
02:45 p.m.
Tok.. !
" Professor ! Ini kami murid mu, Roger dan Raffa. "
" Masuklah ! " Pintu terbuka. Roger dan Raffa melihat Profesor yang sedang berdiri memegang sebuah kertas. Roger segera menghampiri Profesor Ned.
" Profesor, apa yang kau lakukan ? "
" Aku hanya mempersiapkan pidato ku untuk penerimaan Nobel nanti. Kalian tenang saja. Kalian pasti diundang untuk acara itu. " Profesor tersenyum melihat kertas yang ia pegang.
" Yah, Profesor lanjutkan saja pidato mu. Kami akan pergi dari sini. Kau terlihat sibuk. " Raffa berniat untuk segera meninggalkan laboratorium. Ia sudah menarik tangan Roger untuk mengajaknya pergi. Tapi, Roger malah melepas tangan Raffa darinya.
" Tunggu, dulu. Profesor, bagaimana penemuan yang kau maksud ? Apa itu sudah jadi ? "
" Oh itu ! Ya aku sudah berhasil ! Aku tinggal mengujinya. Raffa saat aku minta, ia menolak. Sekarang, aku membutuhkan tenaga penguji untuk vaksin ini. "
" Aku bisa, Profesor. Aku bisa menjadi relawan vaksin mu. " Roger sangat antusias dengan vaksin buatan Profesor Ned.
" Wow ! Kau sungguh mau ? Aku tak menyangka kau akhirnya mau. Lihat ini Raffa, Roger adalah murid yang baik. Tidak seperti kau yang malah menolak permintaan gurunya. " Roger tertawa mendengar ucapan profesor. Sementara Raffa hanya melengos ketika disindir oleh profesor.
" Baiklah. Proses uji coba vaksin akan segera dilakukan. " Professor Ned segera mempersiapkan peralatan untuk uji coba vaksin.
" Raffa ! Bantu aku mempersiapkan ini semua ! " Raffa langsung menghampiri profesor untuk membantunya. Mulai dari jarum suntik, vaksin, kapas, dan segala peralatan medis yang akan di gunakan sebagai peralatan uji coba vaksin.
Setelah semuanya beres, profesor siap untuk melakukan uji coba vaksin pada Roger. Sebelum melakukan uji coba, Raffa berusaha menyemangati Roger yang tersenyum akan divaksin.
" Berjuanglah, Roger ! Kau orang paling berani di dunia. Bahkan kau tersenyum saat akan menghadapi kematian. "
" Apa yang kau maksud, Raffa ? Apa kau mau bilang vaksin ku adalah vaksin kematian ? Iya ? " Raffa langsung menggelengkan kepalanya.
" Tidak, Profesor. Aku tidak berkata seperti itu. Hanya saja, seorang ibu yang sudah dibantu peralatan canggih juga bisa meninggal saat melahirkan. Apalagi Roger yang sekarang divaksin dengan peralatan mu. "
" Apa ? Kau mau bilang peralatan ku tidak canggih ? " Profesor Ned kali ini sudah benar benar marah pada Raffa. Raffa terus saja berkeringat tak tahu harus menjawab apa pada profesor.
" Maaf, Profesor. Tapi, hadiah nobel mu terus menunggu. " Seketika raut wajah Profesor Ned berubah. Ia teringat kembali akan hadiah nobel yang menunggunya.
" Betul juga. Aku harus segera menguji nya. " Profesor mulai memasukkan cairan vaksin kedalam jarum suntik. Dengan perlahan, ia menyuntikkan cairan itu ke dalam lengan Roger.
" Akkh ! " Roger berteriak kesakitan. Lengannya terasa nyeri dan sakit setelah disuntik. Profesor segera menutupi bekas suntikan dengan kapas yang berguna untuk mengelap darah yang menetes dari bekas suntikan itu.
" Astaga ! Kau berhasil lolos dari maut, Roger ! Ku kira kau akan mati. " Raffa terperangah melihat Roger yang masih kesakitan memegangi lengan kanannya.
" Diam lah, Raffa ! Temanmu sedang sakit dan kau malah mengejeknya. Auh, auh, auh... "
" Tak apa apa, Roger. Rasa sakitnya tidak akan lama. Paling dua jam sudah hilang. " Kata profesor menenangkan Roger yang masih meringis kesakitan.
" Ha ? Dua jam ? Aku harus seperti ini dua jam. " Profesor menganggukan kepalanya.
" Tapi, kau akan tercatat sebagai relawan pertama dari vaksin ilmuwan jenius di dunia, Profesor Luck Ned. Relawan itu adalah Roger Redefer ! " Profesor Ned tersenyum dengan bangganya membayangkan itu semua.
***
Karena Roger masih merasa sakit, Raffa harus mengantarnya pulang. Raffa sendiri tak habis pikir apa yang membuat Roger mau menjadi relawan dari Profesor Ned yang ia anggap adalah ilmuwan gila.
" Kenapa kau mau jadi relawannya ? Itu sangat membahayakan. Kau bisa ada dalam bahaya jika vaksin ini gagal. "
" Jangan mengada ada. Professor adalah ilmuwan jenius. Kita bekerja untuknya karena faktor itu. Dia sudah disana sejak tiga puluh tahun yang lalu. "
" Betul. Tapi, aku masih ragu untuk itu. Aku tetap tak mau menjadi relawan walau oleh ilmuwan sepintar apapun. " Begitulah pendapat Raffa dan Roger yang berbeda. Mereka masing masing memiliki pandangan yang berbeda. Raffa memilih untuk aman sementara Roger memilih untuk berani. Mereka ada di jalan masing masing.
***
" Aah... Banyak sekali lalat di sini. " Roger berusaha mengusir lalat yang menganggu belajarnya. Tiba tiba ada seekor lalat yang hinggap di telapak tangannya. Roger langsung menepuk lalat itu hingga mati.
" Aneh. Kenapa lalat itu berhenti ? Tak biasanya lalat mau diam saja. " Roger pun bingung melihat peristiwa ini.
Tapi peristiwa ini tak mengubah keadaan dimana Roger terus saja di ganggu oleh lalat. Bahkan sepanjang malam, Roger dihinggapi lalat di kamarnya.
Keesokan paginya, di kampus Roger menceritakan hal itu pada Raffa.
" Eh, kemarin malam di kamarku banyak sekali lalat. Bukan itu saja. Tapi, lalat yang di kamarku bisa aku tepuk bahkan mereka hanya diam saat aku mau menepuk mereka. "
" Ah, itu biasa. Aku juga bisa tepuk lalat. Lihat ini. " Raffa mencari seekor lalat. Tiba tiba ada lalat yang hinggap di baju Roger. Raffa sudah bersiap untuk menepuk lalat itu.
" Shutt.. ! Jangan bergerak. " Raffa melihat lalat itu hanya diam saja dan sudah siap untuk menepuk lalat itu.
" Dapat ! " Raffa menepuk tempat lalat itu berada. Tapi, ia malah kehilangan keseimbangan dan akhirnya...
Gubrak ... ! Seketika Raffa terjatuh. Bukannya lalat yang ia dapat tapi malah rasa malu yang didapatkannya.
" Makanya jangan sombong. Jika tidak bisa, jangan di lakukan. Namanya tidak tahu diri. " Roger pergi meninggalkan Raffa yang masih tengkurap karena jatuh tadi.
" Kok bisa lalat menjauh dariku ? Padahal aku mandi dua hari sekali. " Raffa masih bertanya tanya pada dirinya sendiri.
***
Laboratorium Professor Ned
02:30 p.m.
" Profesor ! Profesor Ned ! " Roger berteriak teriak berjalan memasuki laboratorium Professor Ned.
" Profesor ! Ada sebuah keajaiban. "
" Keajaiban apa itu, Roger ? " Profesor Ned tampak antusias dan penasaran dengan keajaiban yang dimaksud oleh Roger.
" Aku bisa menepuk lalat. Bahkan aku bisa membuatnya di dekatku menjadi diam tak bergerak. " Profesor Ned tampak senang mendengar kata kata Roger.
" Itu bagus. Aku sudah bilang aku akan jadi pemenang Nobel tahun ini. Aku akan segera mematenkan penemuan ku ini. " Profesor Ned segera menyiapkan penemuan vaksinnya agar segera mendapat hak paten. Tiba tiba datanglah Raffa yang datang dengan nafas terengah-engah.
" Profesor ! Kau harus dengar ini. Roger telah mendapatkan hal aneh. Dia bisa menepuk... "
" Aku sudah tahu. Roger telah memberi tahu ku. " Roger tersenyum pada Raffa yang masih mengatur nafasnya.
" Aku sudah bilang. Tak akan ada apa apa padaku. Sekarang lalat takluk padaku. Aku bisa menepuk semuanya. " Roger tersenyum bangga pada dirinya.
" Berarti kau bisa membantu ku mengusir lalat di rumahku. Kau kan penakluk lalat. " Roger menggeleng menolak permintaan Raffa.
" Tidak. Aku tidak akan. Suntikkan diri mu sendiri saja. "
" Tapi, Roger. Kau kan tahu aku takut akan hal itu. " Melihat Roger dan Raffa yang bergaduh, Profesor Ned segera menghentikan mereka.
" Sudah, Raffa. Kau pakai saja raket listrik punyaku. Di sana. " Profesor menunjuk pada lemari tua di sudut laboratorium. Di sana ada dua raket listrik. Yang satu berwarna merah dan yang satu lain berwarna biru.
" Yang mana Profesor ? Yang merah atau yang biru ? "
" Yang.... Biru ! Iya, yang merah itu adalah raket tenaga listrik raksasa. " Raffa segera mengambil raket listrik yang berwarna biru.
" Baiklah, Profesor. Aku pulang dulu. Buru buru mau mengusir lalat agar nanti malam bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan lalat. " Raffa segera bergegas keluar dari laboratorium meninggalkan Roger dan Profesor Ned yang masih sibuk membereskan peralatan dan vaksinnya.
" Profesor, apa ada yang perlu aku bantu lagi ? "
" Tak ada lagi, Roger. Semua sudah beres. Mungkin besok pagi kau tak perlu datang ke ruangan ini. Lusa aku akan mendaftarkan penemuan ku ke kantor pencatatan hak paten. "
" Baiklah, Profesor. Aku kembali dulu. Semoga sukses, Profesor. " Roger berjalan keluar dari laboratorium sementara Profesor Ned masih tersenyum membayangkan segala keberhasilannya dalam penemuan vaksin.
" Luar biasa. Nobel Fisika tahun ini diberikan pada Luck Ned dari Gloryork. Aku memang ilmuwan yang jenius. "
***
Raffa Room
06:00 p.m.
" Oke, lalat ! Malam tadi mungkin kau bisa berkuasa tapi, sekarang tidak akan ku biarkan ! Dengan raket listrik Profesor Ned, aku akan membasmi mu. Hiyaakh.... ! " Raffa melayangkan raket listrik itu kepada nyamuk dan lalat yang beterbangan.
Dzzztztz...... ! Listrik bertenaga maksimum menggetarkan seisi rumah Raffa. Lampu lampu segera pecah, peralatan elektronik mati seketika dan terjadi getaran listrik yang mengguncang Raffa dan sekitarnya.
Raffa terpental melepaskan raket listrik itu. Ia segera melihat pada tangan kanannya yang baru saja memegang gagang raket listrik itu.
" Huh... Untung saja tidak apa apa. Raket itu berbahaya. Lampu lampu, komputer, kipas angin saja sampai padam seperti itu. "
Tiba tiba dari luar, pintu kamar Raffa terbuka. Ibu Raffa lah yang membuka pintu itu.
" Raffael ! Apa yang kau lakukan ? Kenapa semua alat alat elektronik kita rusak ? Dan apa getaran listrik yang menyetrum tadi ? " Raffa hanya bisa menunjuk raket listrik yang tadi ia pegang yang sekarang ada dibawah lantai.
" Ooh... Ini pasti alat alat Luck Ned, profesor gila di universitas mu itu, kan ? Cepat kau kembalikan alat itu sebelum rumah ini benar benar hancur ! " Raffa langsung mengambil kain sebagai isolator untuk memegang raket listrik itu.
" Baik, Ibu ! Aku akan segera ke sana. "
" Cepat ! " Bentak ibu Raffa yang membuat Raffa segera bergegas keluar dari kamar membawa raket listrik itu.
***
Roger Room
06:00 p.m.
Sementara itu, Roger sedang sendirian di rumahnya kembali didatangi oleh sekawanan lalat dan nyamuk yang kali ini datang juga bersama capung dan laron. Roger terkejut melihat banyak nya serangga yang datang di kamar nya.
" Woah... ! Kalian kenapa banyak sekali ? Aku tak bisa mengusir kalian. "
" Ngngng.... " Tiba tiba pancaran gelombang suara dari lalat yang bisa didengar dan dimengerti oleh Roger.
" Apa ? Raja ? " Roger menangkap gelombang suara itu demikian.
" Kalian ingin aku menjadi raja ? Raja serangga ? " Semua serangga itu mengangguk. Tiba tiba seekor lalat hijau hinggap di leher Roger. Lalat itu menggigit Roger yang membuatnya kesakitan.
" Auh.. Auh... Apa yang kau lakukan ? "
Setelah mendapat gigitan itu, matanya berubah menjadi mata lalat yang berbentuk segi enam namun tidak terlalu besar.
" Argh.... ! " Roger berteriak kesakitan dan tiba tiba muncul sayap dari dalam punggungnya. Ternyata tulang dari punggung Roger telah membentuk kerangka sayap itu. Tak hanya itu saja, dari kepala Roger muncul dua batang antena seperti lalat. Kali ini Roger terlihat seperti manusia lalat.
" Hahahaha..... ! " Roger tertawa keras. Ia melihat perubahan fisiknya yang berubah total menjadi monster lalat.
" Aku bukan lagi Roger Redefer. Aku adalah King Insecto ! Raja dari kaum serangga. Semua serangga yang ada di dunia, aku memanggil kalian semua ! " Gelombang dari antena Roger memancar keluar. Gelombang itu memancar ke seluruh dunia memanggil para pasukan serangga.
Pasukan serangga mulai dari capung, lalat, lebah, tawon, bahkan semut juga datang memenuhi panggilan Roger yang telah berubah menjadi King Insecto. Roger melihat para pasukan itu dengan senang.
" Kali ini, aku akan menguasai dunia. Menuju laboratorium Profesor Ned. " Para pasukan serangga yang begitu banyak menghancurkan rumah Roger tanpa bekas saat bergerak menuju ke laboratorium Profesor Ned.
***
07:00 p.m.
Seluruh warga Gloryork menyaksikan pemandangan mengerikan kawanan serangga yang tengah bergerak ke Universitas GloryLegge dimana lab Profesor Ned berada. Para polisi dan pemadam kebakaran segera bergerak untuk bisa mengusir para kawanan serangga itu. Polisi menembakkan peluru kepada kawanan serangga yang beterbangan itu.
Duar... ! Duar... ! Duar... !
Mobil pemadam kebakaran segera menembakkan air dan gas untuk menghalau kawanan serangga itu. Mobil mobil ambulance juga tiba untuk mengevakuasi warga kota yang terluka di lokasi kejadian. Kota menjadi sibuk saat itu. Mereka berada ditengah posisi menyerang serangga dan mengevakuasi warga kota.
Serangga semakin banyak menyerang warga kota. Para polisi dan pemadam kebakaran kewalahan menghadapi kawanan serangga yang semakin banyak dan kota Gloryork saat ini berada di dalam bahaya.
***
Laboratorium Professor Ned
07:15
Sebagian kawanan serangga yang di pimpin oleh Roger berhasil memasuki Universitas GloryLegge secara paksa. Bangunan universitas seketika rusak di serbu oleh kawanan serangga. Mereka segera bergerak menuju laboratorium Profesor Ned.
Profesor Ned tengah bersantai saat itu di laboratoriumnya. Ia sedang membaca koran sambil meminum kopi.
" Aku baru bisa membaca koran hari ini setelah pekerjaan melelahkan ini. Ah, nikmatnya kopi ini. " Profesor sangat menikmati kopi yang ia minum. Tiba tiba dari luar, dinding laboratoriumnya di jebol paksa oleh kawanan serangga pimpinan Roger, King Insecto.
" Ha ! " Profesor terkejut melihat kawanan serangga yang mendatangi nya. King Insecto terbang mendekati Profesor Ned.
" Profesor, apa kabar ? "
" Roger ? " Professor Ned masih bisa mengenali Roger walaupun Roger berada di mode King Insecto. " Kau... Kenapa bisa begini ? "
" Kenapa bisa begini ? Hahaha.... ! " Roger tertawa keras mendengar pertanyaan Profesor Ned.
" Kau lah yang menyebabkan aku seperti ini, Profesor Ned. Sekarang seluruh dunia akan mengenal mu sebagai ilmuwan gagal yang menciptakan monster seperti ku. Hahahaha... ! "
" Tidak, Roger. Kau tidak boleh seperti ini. " Profesor menggeleng gelengkan kepalanya. Ia segera bergerak mundur menuju lemari tua di sudut lab.
" Mundur, Roger ! Atau kau akan menerima listrik yang akan menyakiti mu. " Profesor mengeluarkan sarung tangan dari sakunya. Ia segera memakai sarung tangan itu dengan tergesa-gesa. Roger tak mengindahkan peringatan dari Profesor Ned. Roger terus bergerak mendekati Profesor Ned.
Profesor Ned yang terdesak segera mengambil raket listrik berwarna merah yang ada didalam lemari tua itu.
" Profesor, dimana serum human mu ? Dimana ? " Roger membentak profesor Ned yang semakin ketakutan. Profesor Ned yang sudah gemetaran menekan tombol raket listrik itu.
" Mundur Kau ! " Profesor Ned mengacungkan raket listrik itu pada Roger. " Aku punya raket listrik yang bisa menghancurkan kalian semua. Hiaa. ! " Profesor Ned segera menepuk tubuh Roger dengan raket listrik itu. Tapi tak berdampak apapun.
" Ha ? Tak ada listrik yang keluar ? " Profesor Ned terus menekan tombol power dan mencoba memukul pukul raket itu pada Roger. Tapi semua usaha profesor tetap tak berhasil.
Roger yang sudah muak segera menggenggam tubuh profesor Ned. Ia menatap profesor dengan mata lalat yang ia punya.
" Aku akan menelan mu hidup hidup jika kau tidak menyerahkan serum itu. "
Profesor Ned ketakutan melihat Roger yang semakin ganas mengancamnya.
Tiba tiba dari belakang, muncul seekor lalat yang membisikkan sesuatu pada Roger.
" Ng..ng.. " Roger tertawa mendengar bisikan dari lalat itu.
" Bagus. Ternyata serum itu ada di kulkas. Hahahaha.... ! "
" Jangan, Roger. Kau tak boleh menyentuh itu. Itu benda terlarang. " Roger menatap Profesor Ned dengan tajam.
" Diam ! Aku bukan Roger. Aku adalah King Insecto. Jika sekali lagi kau berbicara, aku benar benar akan memakan mu hidup hidup ! " Roger melemparkan profesor hingga membentur lemari tua itu. Profesor Ned pingsan tak sadarkan diri akibat benturan keras pada lemari tua itu.
" Pasukan lalat ! Minum serum itu semua ! Kalian akan menjadi sekuat manusia. "
***
" Huh, jika saja aku tidak membawa alat ini, aku tak harus berjalan kaki ke universitas malam malam seperti ini. " kata Raffa dalam hatinya. Ia terus berjalan membawa raket listrik biru hingga tiba di Universitas GloryLegge yang telah rusak.
" Ha ? Universitas ? Tak mungkin jadi seperti ini ! " Raffa segera bergegas memasuki universitas. Ia berlari menuju laboratorium Profesor Ned dan menemukan kehancuran besar besaran didalam laboratorium itu. Tak hanya kehancuran, Profesor Ned juga dalam keadaan tak sadarkan diri.
" Profesor Ned ! " Raffa langsung berlari menghampiri profesor yang terbaring pingsan di lantai. Ia segera menggoyangkan badan profesor untuk membangunkannya. Tapi, profesor tetap tak bangun. Ia mengecek denyut nadi profesor. Sangat lemah bahkan hampir tidak ada.
" Profesor ! Bangun, profesor ! Apa yang sebenarnya terjadi ? " Raffa langsung panik. Ia mencoba untuk menyetrumkan raket listrik itu pada tubuh profesor.
" Sadarlah, profesor ! "
" Zzztztsttt.... ! " Profesor langsung membuka matanya. Ia segera menghirup oksigen dan detak jantung nya kembali normal. Raffa tersenyum melihat profesor yang kembali sadar.
" Profesor ! Jika saja aku tak ada di sini pasti kau sudah mati. "
" Dan jika kau tidak mengambil raket listrik biru ku, pasti dunia akan selamat. Kau telah membuat dunia ini akan hancur. " Profesor Ned segera bangkit berdiri.
" Apa raket biru ini yang kau maksud, Profesor ? " Raffa menunjukkan raket listrik berwarna biru yang ia bawa.
" Betul sekali, bocah ! Dan gara gara itu kau telah menghancurkan dunia. Aku sudah bilang untuk membawa raket merah. Tetapi, kenapa kau bawa raket biru itu ? Itu adalah raket super listrik yang punya daya listrik milyaran Watt. "
" Apa ? Bukannya kau yang menyuruh ku mengambil yang biru ini ? Aku melaksanakan perintah mu, saja. " Raffa tak terima disalahkan oleh Profesor Ned.
" Jadi, kau mau bilang aku yang salah ? Begitu, ya ? Bagaimana, ya cara kerja telinga mu, Raffa ? "
" Profesor Ned ! " Raffa melotot marah pada profesor.
" Raffael Randall ! " Profesor Ned juga membalas Raffa. " Berikan padaku alat itu ! Sekarang ! " Raffa langsung memberikan raket itu pada profesor.
" Pergi dari sini, bocah ! Kau tidak aku terima lagi sebagai murid. "
" Baiklah. Aku juga tak akan kembali lagi ke sini, ilmuwan gagal. " Raffa bergegas pergi keluar dari ruangan lab Profesor Ned. Sementara itu, profesor mempersiapkan raket listrik dan juga semprotan super serangga untuk bisa menyerang King Insecto dan kawanan serangga.
***
Raffa terkejut melihat rumahnya yang telah hancur dirusak. Ia juga melihat kebakaran dan kerusuhan terjadi di jalan jalan kota. Ribuan mobil dan pohon tumbang menutupi akses jalan.
" Astaga ! Bencana apa ini ? " Raffa berlari ke rumahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi. Tapi, yang ia dapati adalah tubuh ibunya yang telah tertimpa bangunan rumah.
" Ibu ! Ibu ! " Raffa berteriak histeris memanggil ibunya yang terbujur kaku. Air mata mulai membasahi pipinya menangisi ibunya yang telah tiada. Tapi, Raffa segera mengelap air mata yang membasahi pipinya.
" Menangis tak ada gunanya. Aku akan membalas dendam ini ! Ibu, aku akan membunuh orang yang membuat ibu seperti ini ! Ini adalah janji seorang anak ! " Raffa segera bergegas kembali ke laboratorium Profesor Ned. Ia berniat untuk berkerjasama dengan Profesor Ned yang pasti tahu pelaku dari semua kekacauan ini.
Sementara itu, Gloryork telah menjadi lautan api yang penuh dengan teriakan histeris. King Insecto beserta pasukan lalat dan serangga lainnya menyiksa para warga kota.
" Lihat, pasukan serangga ! Itu adalah mobil pemadam kebakaran yang sama dengan mobil yang selalu mengusir kalian dari pohon pohon. Habisi mereka ! " Pasukan serangga segera menyerang mobil pemadam kebakaran yang berada di sana. Para pasukan serangga itu telah berevolusi menjadi besar dan bisa berjalan layaknya manusia.
" Lihat, juga lebah ! Bukankah itu adalah petani yang selalu menyiksa kalian untuk mendapat madu ? Serang para petani itu ! " Pasukan lebah segera menyengat para petani yang langsung lari terbirit-birit menghindari serangan dari sengatan pasukan lebah. Roger tertawa menyaksikan segala kekacauan yang ada.
" Ini belum seberapa, manusia. Para serangga akan membalas segala dendam mereka terhadap kalian manusia yang keji terhadap para serangga. Hahahaha... ! " Otak Roger semakin berevolusi menjadi otak lalat dimana pikirannya mulai mengikuti jalan pikiran lalat. Roger saat ini telah kehilangan dirinya dan digantikan oleh King Insecto yang berhasrat untuk menguasai dunia.
***
Raffa bertemu dengan Profesor Ned yang sudah siap membawa raket listrik dan semprotan super untuk melawan King Insecto dan pasukan serangga.
" Profesor ! Berhenti ! "
" Raffa, sudah ku bilang untuk tidak datang menemui ku lagi. Pergi ! "
" Profesor ! Aku butuh bantuanmu. Tapi, tolong katakan siapa yang berbuat seperti ini ? Siapa ? "
" Memangnya kenapa ? Apa urusan mu ? "
" Karena orang yang menyebabkan ini semua telah membunuh ibuku. Aku akan membalas dendam ! " Profesor Ned terkejut mendengar ucapan Raffa.
" Tak ku sangka jika Mattia akan pergi secepat itu. Semoga dia tak kecewa memiliki anak seperti mu. "
" Profesor ! " Profesor Ned tertawa menenangkan Raffa yang tersinggung.
" Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi, kau harus menurut padaku apapun yang terjadi. "
" Tentu saja. Demi balas dendam ku. Tapi siapa musuh kita, Professor ? "
" King Insecto... Raja para serangga. "
" Raja para serangga ? " Raffa bingung dengan lawan yang akan ia hadapi. Tapi, tekadnya tetap kuat untuk tetap membalas dendam.
***
Serangga serangga terus menyerang warga kota. Polisi terus menembak para serangga itu. Tapi saat serangga akan mati, dari dalam tubuhnya keluar sebuah telur yang akan menetas menjadi serangga baru lagi yang menyerang kembali warga kota. Kali ini Gloryork diluar kendali.
Raffa dan Profesor Ned tiba di pusat kota yang telah kacau balau. Para serangga telah merobohkan semua bangunan di sekeliling kota.
" Raffa, kau akan memegang semprotan ini. Aku akan memegang raket listrik ini. Mulai bekerja ! " Raffa segera menyemprotkan semprotan super serangga ke seluruh kota. Sementara, Profesor Ned mulai menepuk para serangga yang mengganggu kota.
" Matilah kalian busuk ! "
" Plak ! Zztztzttzzztzt.... ! " Sebuah sambaran sekaligus setruman listrik mengenai ratusan serangga yang mendekati Profesor Ned. Para serangga itu segera hangus terkena setruman listrik yang tanpa ampun dari raket listrik super.
" Haha... Rasakan itu, serangga ! " Tiba tiba dari belakang King Insecto terbang mendorong Profesor Ned hingga menghantam gedung. Raket listrik biru itu terlepas dari genggaman profesor.
" Sudah ku bilang, Ned. Tak perlu kau ikut campur. "
" Roger, tak bisakah kau mendengar suara profesor ini ? Aku Profesor Ned. Aku adalah gurumu ! "
" Bodoh ! " Profesor dilemparkan ke jalanan oleh King Insecto. Seketika tulang profesor patah dan tak bisa bergerak lagi.
" Sial ! Tulang ku patah ! Aku harus memanggil, Raffa. Raffa ! Raffa ! " Raffa yang sedang menyemprot segera mendengar suara profesor. Ia langsung bergerak menghampiri profesor yang ternyata sudah dikerubungi oleh para serangga yang siap memakan sang profesor.
" Berhenti disana, serangga busuk ! " Raffa telah siap menyemprotkan semprotan serangga itu. " Kalian tahu, semprotan ini bisa bertahan hingga dua hari dan kalian tak bisa bertahan lebih lama lagi. "
" Bodoh kau Raffa ! Sama seperti yang ku kenal. " Raffa langsung mengenali suara itu. Ia melihat pada monster lalat raksasa yang ada dihadapannya.
" Roger ? Kau kah itu ? "
" Iya. Tapi, aku sekarang adalah King Insecto ! Raja para serangga yang akan menghukum kalian para manusia yang tamak dan keji. " Raffa benar benar terkejut melihat wujud Roger yang sekarang.
" Tapi... Bagaimana bisa ? "
" Bisa ? Pasti bisa untuk seorang raja dunia ! " King Insecto segera terbang mendekati Raffa dan menggenggam tubuhnya. Ia melemparkan Raffa ke bawah hingga menghantam sebuah mobil yang terbalik di jalanan.
" Hahahaha.... ! Ini belum apa apa. Ini baru permulaan. " King Insecto terus tertawa menikmati segala penyiksaan yang ia lakukan. Diri Roger benar benar telah mati dan sepenuhnya dikuasai oleh King Insecto.
" Kau menikmatinya, Raffa ? Haha... ! " Raffa melihat raket listrik biru yang tergeletak di jalanan. Ia diam diam mengambil raket listrik itu dan menggenggamnya erat erat.
" Diam kau, Insecto ! Aku pasti akan menghajarmu dan mengeluarkan Roger dari sana ! " Raffa menekan tombol power pada raket listrik itu.
" Dztztztzt.... ! " Semua yang ada di sekitar Raffa langsung terkena getaran setruman listrik yang hebat dari raket listrik itu. Termasuk profesor, King Insecto maupun Raffa sendiri yang terpental jauh ke belakang menghantam sebuah tiang listrik.
" Aaakh... ! " Telapak tangan Raffa mengeluarkan darah. Raffa meringis kesakitan menahan rasa sakitnya. Tapi anehnya, ia masih bisa menggenggam raket listrik itu padahal ia sudah terpental jauh.
Raffa bangkit berdiri untuk melawan lagi King Insecto dan pasukannya. Ia kali ini lebih berhati-hati dalam menggunakan raket listrik yang ia pegang.
" Permainan yang bagus, Raffa. Tapi, kau malah menyakiti diri mu sendiri juga. Terlalu cerdas untuk seorang manusia. Atau bodoh ? Hahaha.... ! "
" Tutup mulutmu, Insecto ! Aku akan segera mengalahkanmu ! " Raffa segera melempar raket itu pada King Insecto. Tapi, King Insecto bisa terbang lebih cepat menghindar dari serangan raket listrik itu.
" Haha... Kurang cepat. " Tapi di luar dugaan, ternyata kecepatan gabungan listrik dan gerak dari lemparan itu menambah kelajuan dari raket sehingga sanggup mengejar King Insecto. King Insecto terkena setrum dari raket itu.
" Akkh .... ! " King Insecto terjatuh ke jalanan yang langsung di dekati oleh para pasukan serangga. Raffa tersenyum melihat rencananya berhasil. Raket yang ia lemparkan kembali padanya.
" Berhasil ! " Raffa bergegas mendekati Profesor Ned yang tidak lagi dikelilingi oleh serangga. Mereka segera kabur meninggalkan King Insecto dan para pasukannya di tengah malam yang berkabut.
***
Laboratorium Professor Ned
03:00 a.m.
Profesor Ned meracik segala cairan dari vaksin yang ia buat. Ia mengecek segala bahan yang ia gunakan saat membuat vaksin itu.
" Apa yang kau lakukan, Profesor ? Itu adalah vaksin yang sama, kan ? "
" Iya. Tapi, aku membuang satu bahan dari vaksin itu. "
" Apa bahan yang kau buang ? "
" Eehh... Makanan lalat. " Profesor Ned gugup saat menjawab pertanyaan dari Raffa.
" Sampah maksudmu ? " Profesor mengangguk. Raffa terkejut mendengar kebenaran dari profesor mengenai bahan vaksinnya.
" Ha ? Sampah ? Apa maksudmu membuat vaksin dari sampah ? " Raffa masih tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh profesor.
" Hehe.. daur ulang istilah yang tepat. "
" Tak ada yang lucu. Apa sekarang rencana kita ? "
" Begini, kau tetap pada rencana memegang raket ini. Sementara itu, aku akan memecah belah pasukan serangga dengan menjadi Captain Insecto tapi tidak berotak lalat seperti Roger. "
" Apa maksudmu berotak lalat ? " Raffa masih tidak mengerti dengan kata kata Profesor Ned.
" Roger yang aku vaksin dengan bahan daur ulang yang tak lain adalah makanan lalat akan memiliki otak seperti lalat. Otaknya akan berevolusi lambat laun seperti otak lalat. "
" Apa ? Kau benar-benar orang gila, Profesor ! "
" Aku tahu ! Dan sekarang waktunya aku menebus semua kesalahanku. Ayo berangkat ! " Profesor Ned dan Raffa segera berangkat menghadapi perang dengan King Insecto dan pasukan serangga
***
04:00 a.m.
Gloryork mati total. Para warga kota bersembunyi di setiap sudut kota. Mereka mencoba berlindung dari para serangga yang akan memakan setiap manusia yang ditemui. Sementara itu, otak manusia dari King Insecto sudah mati. King Insecto yang adalah Roger kini menjadi King Insecto yang asli.
" Ng...ng...ng.. ! " King Insecto sudah tak bisa berbicara lagi dengan bahasa manusia. Ia berbicara memerintah para serangga dengan gelombang suara antenanya. Tapi, para serangga yang menghisap serum human juga ikut berevolusi. Dari otak hewan menjadi otak manusia yang mengerti bahasa manusia.
Raffa dan Profesor Ned telah kembali untuk menghadapi para serangga itu. Setelah empat jam kabur, mereka kembali dengan persenjataan yang lengkap untuk menghadapi perang serangga vs manusia.
" King Insecto ! Aku akan menghabisi mu ! " Raffa berteriak menunjuk pada King Insecto.
" Ng...ng... Ng...! " Tapi, King Insecto hanya bisa menjawab dengan bahasa lalat yang tak dimengerti Raffa dan Profesor Ned.
" Apa yang dia katakan, Profesor ? "
" Dia pasti sudah kehilangan otak manusia nya. Akibat evolusi itu. "
" Astaga ! " Raffa benar benar terkejut mengetahui hal itu.
" Tak perlu terkejut. Aku akan menjadi Captain Insecto sekarang. " Profesor menyuntikkan vaksin yang telah ia perbarui. Tiba tiba dirinya berubah. Dari tulang punggungnya, muncul sepasang sayap. Kali ini matanya juga berubah menjadi mata majemuk lalat. Juga muncul sepasang antena dari kepalanya. Profesor Ned telah menjadi Captain Insecto.
" Aku, Captain Insecto ! Pemimpin baru para serangga ! " Profesor yang telah berubah menjadi Captain Insecto mengirim gelombang pemancar pada para serangga untuk mengikutinya.
Para serangga menurut saja, lagipula mereka juga mengerti bahasa Captain Insecto. King Insecto tak tinggal diam. Ia juga mengirim gelombang pemancar suara pada para serangga. Pasukan serangga menjadi bingung mengikuti gelombang yang mana. Raffa melihat ada celah.
Raffa segera mengambil ancang ancang dengan mengarahkan raket listrik ke bawah dan menekan tombol power yang menyebabkan getaran listrik yang sangat besar sekaligus jalanan yang amblas. Raffa terdorong keatas dengan gaya dorong dari arus listrik itu lalu mengayunkan raket listrik itu pada King Insecto.
" Rasakan ini ! "
" Dztztztz... ! " Sebuah getaran besar menyetrum seisi kota. Gelombang arus listrik super dahsyat yang dihasilkan oleh raket listrik itu benar benar amat mengguncang kota dengan gempa dan setrumannya.
Raffa masih memegang raket itu hingga dari telapaknya muncul asap. Itu sangat menyakitkan bagi Raffa dimana telapaknya sudah amat panas dan tak tahan menahan rasa sakit itu. Akhirnya, Raffa terpental tak berdaya menahan raket itu. Tangannya sudah melepuh saat memegang raket itu.
" Akkhh ! " Raffa terjatuh di jalanan dan sempat ditolong oleh Captain Insecto. Captain Insecto tepat waktu untuk menahannya agar tidak membentur jalanan.
Sementara itu, King Insecto masih bisa hidup dan dalam wujudnya muncul untuk menyerang lagi dunia.
" Ng..ng...ng... ! "
" Apa yang dia katakan, Profesor ? "
" Dia berkata bahwa Roger tak akan kembali walau kita membunuhnya. Otak lalat itu sudah merasuki tubuh nya. " Raffa terkejut mendengar penjelasan dari Captain Insecto.
" Artinya ini semua tak ada gunanya. "
" Entahlah. Tangan kananmu sudah melepuh dan tak bisa lagi berfungsi. Maka sisanya biar aku saja. "
" Profesor, ajak aku terbang bersama mu. " Captain Insecto melihat pada tangan kanan Raffa yang sudah berasap dan melepuh panas.
" Tapi.. kau sudah.. "
" Profesor, aku mohon. Untuk yang terakhir kalinya. " Captain Insecto bisa melihat kesungguhan di mata Raffa. Akhirnya ia mengijinkan Raffa untuk berperang. Sambil memegang jarum suntik di tangan kiri nya, Raffa terbang bersama Profesor Ned dalam wujud Captain Insecto.
Captain Insecto bertempur melawan para serangga yang loyal pada King Insecto sementara itu ada sebagian serangga yang menjadi pasukan Captain Insecto. Dengan tameng terbuat dari bangkai mobil, Captain Insecto berperang menghadapi King Insecto.
" Matilah, Kau King Insecto ! " Captain Insecto mengayunkan sebuah mobil pada King Insecto yang langsung di hindari dengan gesit oleh King Insecto.
Captain Insecto terus menyerang King Insecto yang bertahan. " Apa mau mu, Ha ? Bertahan seperti pengecut ! " Captain Insecto mengayunkan kakinya untuk menendang King Insecto. Tapi, King Insecto terkena sinar dahulu menendang Captain Insecto hingga terpelanting ke jalanan.
" Ng..ng..ng.. ! " King Insecto tertawa melihat Captain Insecto yang terjatuh tak berdaya bersama Raffa yang juga terkapar.
" Efek dari Captain Insecto tinggal sedikit lagi. Aku tak bisa mengalahkan King Insecto dengan seperti ini. Ia terlalu kuat. " Captain Insecto berbisik pada Raffa yang berada di bahunya.
" Aku punya rencana terakhir. Ini adalah rencana terakhir. Sebelum matahari terbit, kita pasti berhasil mengalahkannya. Sekarang kau tinggal mendekati nya untuk membuka ruang pada ku mendekati King Insecto. "
" Apa yang sebenarnya kau telah rencanakan, Raffa ? " Captain Insecto masih bingung dengan rencana dari Raffa.
" Tenang saja. Jika ini berhasil, kita akan mendapatkan Roger kembali. " Captain Insecto percaya pada Raffa. Ia segera bertarung kembali melawan King Insecto.
King Insecto, dengan segala kekuatan nya mencoba bertahan dari serangan bertubi-tubi dari Captain Insecto. Tapi, serangan dari Captain Insecto ternyata hanya pengalih dari tujuan sebenarnya yang bertujuan untuk mengirim Raffa menuju tubuh King Insecto.
Ketika pukulan Captain Insecto gagal mengenai tubuh King Insecto, King segera menendang balik Captain Insecto jauh ke belakang. Tapi, Raffa sesuai rencana berhasil mencapai bahu dari King Insecto.
" Terima ini, King Insecto ! " Raffa menyuntikkan suntikan vaksin baru pada tubuh King Insecto. Tiba tiba King Insecto mengerang kesakitan.
" Aaaakkh ! " Perlahan perlahan kulit kulit dari King Insecto lepas. Sayap berguguran, dan antena di kepalanya lepas. Muncul cairan hijau encer dari tubuh King Insecto. Raffa segera jatuh ke bawah tapi di selamatkan lagi oleh Captain Insecto.
Dari atas, muncul Roger yang dalam kondisi tak sadar. Ia jatuh dari tubuh King Insecto yang mulai hancur. Captain Insecto segera menangkap tubuh Roger yang hampir menyentuh jalanan. Captain Insecto meletakkan Roger di jalanan.
Captain Insecto kembali ke wujud aslinya yang adalah Profesor Ned. Roger membuka matanya dan melihat Raffa dan Profesor Ned dihadapannya.
" Kenapa ? Ada apa ? Aku merasa mengalami mimpi buruk. " Roger benar benar kebingungan dengan apa yang terjadi. Ia melihat sekitar dan menemukan banyak sekali serangga raksasa yang ada di dekatnya.
" Ha ! Ada banyak serangga raksasa di kota. Apa yang sebenarnya terjadi ? Katakan Raffa ! Katakan Profesor ! "
Raffa dan Profesor Ned kebingungan untuk menjelaskan semuanya pada Roger yang ternyata tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi.
" Begitu banyak hal yang terjadi. Itu semua seperti mimpi buruk. Tapi, yang terjadi adalah perbuatan mu dan yang melakukan kesalahan adalah aku yang telah memberikan vaksin itu padamu. " Profesor Ned tertunduk menyesal atas apa yang telah terjadi.
" Sudah semua yang telah terjadi, biar menjadi pelajaran untuk ke depannya. Kita semua belajar dari peristiwa ini agar tidak lengah bahkan untuk satu kesalahan lagi. Benar, Profesor ? "
" Kau benar, Raffa. Sangat benar. Aku akan belajar untuk menjadi ilmuwan yang benar benar memperhatikan ciptaan ku untuk dunia. Aku janji. " Profesor Ned memeluk Roger dan Raffa. Mereka berbagi pelukan tepat saat matahari mulai terbit.
" Wah... ! Matahari sudah terbit. Indah sekali. " Roger menunjuk pada matahari yang mulai tampak.
" Betul sekali. Ayo kita pergi ! " ajak profesor.
" Tunggu, Profesor. Sebelum itu, kau harus mengubah kembali serangga itu ke bentuk yang semula. " Mereka melihat pada kawasan serangga yang masih berdiam di atas gedung gedung kota menyaksikan terbitnya matahari.
" Ah, kau benar juga, Raffa. Masih ada serangga itu. " Profesor Ned hanya geleng geleng kepala teringat pada masalah serangga yang belum selesai.
***
Setelah berkomunikasi dengan para kawanan serangga dengan bahasa manusia, para kawanan serangga itu akhirnya setuju untuk kembali ke wujud aslinya. Profesor Ned menyuntikkan serum Insecto pada setiap serangga agar berubah kembali menjadi wujud semula dan kembali ke habitat mereka masing-masing.
Stockholm, Swedia
" Dan... Nobel Perdamaian tahun ini jatuh pada Profesor Luck Ned dari Gloryork. Atas jasa jasanya untuk mencegah kerusakan luar biasa dari serangan para serangga terhadap kota Gloryork. " Tepuk tangan bergemuruh seisi ruangan. Profesor Ned bangkit berdiri berjalan maju menuju panggung penghargaan. Dengan rasa bangga, ia menerima Nobel Perdamaian yang ia raih.
" Selamat siang, Tuan tuan dan nyonya. Saya sangat berterimakasih kepada penyelenggara Nobel kali ini karena telah memilih saya sebagai pemenang dari Nobel Perdamaian. Walaupun sebenarnya sebagai ilmuwan saya lebih suka mendapat Nobel Fisika. "
Hahahaha.... ! Suara tertawa terdengar dari para tamu yang hadir. Profesor kembali melanjutkan pidatonya.
" Mungkin, pesan dari saya... tentunya sebagai ilmuwan, saya berpesan kepada para ilmuwan agar selalu dan tetap berhati-hati terhadap ciptaan anda. Karena bisa saja senjata makan tuan akan terjadi pada anda sekalian. Terimakasih. " Tepuk tangan kembali bergemuruh saat Profesor Ned selesai menutup pidatonya. Mereka telah belajar dari segala yang terjadi. Tidak setiap ciptaan akan berbuat seperti yang diinginkan penciptanya. Ada yang ternyata diluar dugaan penciptanya yang malah merugikan. Maka dari itu berhati-hatilah terhadap segala ciptaan dunia ini.
***