Tak ku sangka pernikahan yang menjadi impian terbesarku, bisa hidup bersama sampai akhir hayat dengan orang yang aku cinta ternyata tidak bertahan cukup lama. Belum setahun menikah dan aku sedang hamil 7 bulan aku mengizinkan suamiku untuk pergi merantau sekaligus mencari uang untuk proses persalinanku nanti. Ternyata sebulan kemudian datang kabar bahwa aku sudah digugat cerai olehnya. Jantung ini rasanya mau copot kala ku dengar dia tidak ingin melanjutkan hubungan kami. Betapa rapuhnya aku waktu itu, sampai aku merasa Tuhan sedang tidak adil kepadaku. Salah apa aku selama ini pada Bang Hairul? dosa apa yang telahku lakukan sehingga membuatnya sakit serta kecewa? Ku pikir selama ini rumah tangga kami baik-baik saja karna tidak pernah ku melihat dia mengeluh sedikit pun, juga masih memperlakukanku dengan mesra. Nyatanya tega sekali dia menggugat cerai di kala aku tengah hamil besar hanya demi seorang wanita yang sedang menemaninya di sana. Semua istri pasti memerlukan kehadiran serta dorongan suami di sisinya saat seorang istri bertarung mempertaruhkan nyawa demi terlahirnya sang buah hati yang akan menjadi penerus ayahnya. Tetapi aku berjuang sendirian melahirkan anak kami, aku bagai sebuah benda yang kala dia suka dia mainkan tetapi saat dia bosan dia tinggalkan begitu saja. Hampir setiap hari ku melihat foto-foto mesranya bersama perempuan itu bertebaran di facebook, air mataku menetes begitu saja sudah setiap kali melihat foto mereka berpelukkan, bercumbu, sudah seperti suami istri. Dan kini aku tahu, ternyata seperti itu bejatnya Bang Hairul selama jauh dariku. Begitu ku melihat anakku sudah lahir dengan selamat dan sehat, aku rasa sudah cukup kesedihan yang dia tanamkan di hatiku. Aku bertekad untuk bangkit demi putraku, mulai detik itu akulah ibu sekaligus ayah yang tangguh untuknya. Tidak ingin ku membuka lembar lama lalu mengenangnya bersama putraku, biarlah itu menjadi kisahku sendiri, putraku tidak perlu tahu apa-apa kelak. Aku hanya ingin dia mengakui bahwa aku adalah ibu terhebat di matanya. Ketika seorang istri sudah menjadi seorang ibu, maka anak merekalah yang menjadikan mereka untuk tetap kuat dan tegar dalam menjalani hidup yang fana ini.
Dari tadi kita belum berkenalan ya? Perkenalkan namaku Zara dan ini adalah kisahku dan anakku yang berharga. Tak terasa sudah 4 tahun aku menjanda, merawat serta membesarkan buah hatiku seorang diri, tapi di belakangku masih ada ayah dan ibu yang menyokongku. Aku sudah bahagia meski menjadi seorang janda, karna aku masih memiliki anakku, kedua orangtuaku serta adik-adikku yang senantiasa berada di sisiku tanpa mau meninggalkanku seperti pria tak bertanggungjawab itu.
Anakku Farel sama sekali tidak rewel ketika aku pergi bekerja pagi dan pulang malam hari, selama ini ibu yang membantuku mengurus Farel saat waktuku di sita oleh pekerjaan. Ya, kini aku sudah bekerja sebagai pelayan cafe di sebuah cafe besar yang baru beberapa tahun berdiri tapi sudah sangat terkenal itu.
Ku ciumi kening Farel saat dia sedang tidur. Melihat wajah tak berdosanya itu, kadang membuat aku merasa gagal menjadi seorang ibu karna jarang sekali aku bersama dengannya, bahkan untuk sekedar menemani bermain saja waktuku tidak cukup. Saat pulang kerja juga anakku sudah tidur, tapi tetap ku bersyukur meski aku sibuk dia tetap sayang padaku, karna dia mulai mengerti kalau ibunya ini pergi keluar demi mencari sekotak susu untuk menghidupi hidupnya.
Pernah ku dengar ibuku menanyakan tentang kesiapanku untuk menikah lagi mencari pengganti Bang Hairul. Dengan menikah juga ibu mengharapkan ada yang menafkahi aku juga anakku dan aku bisa punya banyak waktu bersama-sama Farel. Tetapi, bukannya aku tidak mau menikah dengan alasan belum bisa melupakan masalaluku saat masih bersamanya. Tidak begitu, alasanku sebenarnya karna aku masih ingin menghidupi Farel sendiri, selain itu aku takut salah memilih calon ayah untuk Farel. Ku rasa dari sekian banyak teman-teman priaku, satu pun tak ada dari mereka yang aku rasa cocok untuk menjadi ayahnya Farel. Mereka semua tidak mampu membuatku percaya bahwa mereka orang yang setia dan bertanggungjawab, sementara aku menginginkan sosok pria setia padaku dan tulus menyayangiku anakku serta tidak akan lari dari tanggungjawab dalam kondisi apapun nanti.
Sampai suatu hari Tuhan mempertemukan aku kembali dengan seorang pria yang dahulu adalah teman masa SMA, yang dahulu pernah memberiku cinta tulus, pernah memperlakukan dengan rasa hormat, namun sayang dahulu aku lebih memilih Bang Hairul karna aku teramat mencintai Bang Hairul dibanding dirinya.
Sekarang aku hanya bisa bangga melihat perubahan besar pria yang ku kenal dengan nama Devan itu. Pantas saja sejak tamat sekolah aku tidak pernah mendengar kabar beritanya lagi, ternyata selama ini dia bersungguh-sungguh menempuh pendidikkan hingga menjadi orang yang sangat sukses di masa sekarang. Dia lah yang menjadi pemilik alih dari cafe tempat ku bekerja, karna di kota ini hanya dia satu-satunya orang yang mampu untuk membeli serta memajukan cafe ini.
Aku malu pada diri sendiri serta malu untuk menampakkan diri di depannya, mengingat aku pernah membuat hatinya terluka. Meski pun ku tahu mungkin dia sudah melupakan semua kenangan pahit yang ku torehkan di benaknya saat itu.
Apakah dia masih mengenaliku? Aku harap lupa semua tentang diriku. Aku bahkan tidak pantas untuk dia ingat. Lantas kenapa aku ini? Mengapa dengan tidak tahu malunya aku berharap dia masih mempunyai rasa yang sama seperti dulu terhadapku. Astaga sepertinya aku harus segera menyingkir dari hadapannya, aku tidak bisa terus begini masih berdiri di tempat yang sama menatap ke indahan makhluk Tuhan dari sudut kejauhan. Baiklah aku putuskan untuk keluar dari tempat ini, lalu menemukan tempat kerja yang baru sebelum dia menyadari siapa aku.
ARAAA
Kemudian suara itu terdengar menggelar di kupingku, membuat jantung dan pikiranku bekerja memompa secara bersamaan. Masih ku dengar panggilan yang sama seperti 7 tahun silam. Suara lembut yang khas masih mampu mendebarkan asmara yang sempat goyah. Aku masih terpaku, terdiam bisu kala ku memandang dia benar-benar datang di hadapanku, menyapaku seakrab dulu lagi.
"De-Devaan" betapa gemetar bibir ini saat ku memanggil namanya untuk yang pertama kali detik ini. Dia tersenyum memandangiku yang sedang salah tingkah. Tuhan, dia sangat tampan serta mempesona bak seorang boss perusahaan yang pernah ku baca di dalam novel-novel roman modern. Jass biru malam yang dia pakai sangat pas dengan body tinggi dan kulit putih yang dia miliki.
"Silakan duduk" ujarnya sembari menarik kursi di depan meja kerjanya. Aku hanya tertunduk malu sembari duduk.
"Lama ya kita tidak bertemu, sekarang apa kabar kamu?" tanyanya
Astaga dia benar-benar masih ramah padaku, padahal aku sendiri belum bisa melupakan kesalahan yang pernah ku lakukan padanya. Aku sudah tahu dia terlalu baik dan sempurna, karna itu aku selalu merasa tidak pantas.
"Alhamdulillah baik" jawabku seadanya aku, kemudian keheningan menyelimuti kami berdua seolah sudah kehabisan kata-kata karna terlalu canggung satu sama lain.
"Pak, saya kemari untuk memberikan ini" kataku setelah beberapa menit aku mengumpulkan keberanian untuk menyerahkan surat yang ku bawa.
"Ini surat apa?" tanyanya sekilas tanpa melihat tulisan di muka surat
"Saya mau mengundurkan diri, Pak"
"Gaji kamu kurang besar? Atau pelayanan di sini membuatmu kurang nyaman?"
"Aku sudah lihat laporan karyawan di sini, kamu salah satu karyawan yang rajin dan di siplin, sayang kalau kamu berhenti lagi pula kamu juga udah lama kerja di sini."
"Aku bisa naikkan gajimu asal kamu tidak berhenti, pihak kami tidak mau kehilangan karyawan seperti kamu."
"Saya berterimakasih sebelumnya Pak, tapi bukan itu masalahnya."
"Katakan saja keluhan yang kamu rasakan, pihak kami akan memperbaikinya."
"Saya ingin meluangkan banyak waktu untuk anak saya itu saja Pak, karna selama saya bekerja saya jadi kurang kebersamaan dengannya."
"Saya bisa cari pekerjaan yang lebih ringan saja Pak agar punya banyak waktu untuk mengurus anak."
"Jadi itu alasan kamu, baiklah saya terima."
"Terimakasih Pak. Kalau gitu saya pamit pulang."
Sebenarnya berat bagiku kehilangan pekerjaan yang selama ini sudah membantuku menghidupi keluarga, tapi mau bagaimana lagi aku terlalu pecundang hanya karna perasaan aku rela mengorbankan nasib keluargaku. Aku segera meninggalkan ruangan Devan yang berada di lantai 2, aku langsung berpamitan dengan rekan-rekan kerjaku. Mereka semua sedih menerima keputusanku bagaimana pun kami di sini semua sudah seperti saudara.
Aku menuju halaman parkir lalu mengeluarkan motorku dari sana. Akhirnya motorku nyala juga setelah sempat macet tadi. Lusi rekan kerjaku tiba-tiba mengejar untung saja aku belum keluar dari halaman cafe.
"Aku mau menyampaikan sesuatu dari Pak Devan."
"Apa itu, Lus?" dengan tingkahnya yang sembrono, dia memaksaku turun dari motor kemudian mencopoti helm di kepalaku buru-buru.
"Kenapa sih Lus?"
"Pokoknya kamu gak jadi berhenti kerja." ucap Lusi yang sudah jelas membuatku terkejut, aku kan sudah beritahu pemilik cafe untuk berhenti kerja tapi kenapa tiba-tiba mereka ingin aku tetap kerja?
"Pak Devan sudah mengizinkan aku, Lus. Jadi aku sudah berhenti gak kerja lagi."
"Zara, boss kita itu sangat baik lho."
"Hmm aku tahu Lus."
"Nah itu atas izin dia juga kamu bisa tetap kerja"
"Kamu tahu Zar, dia kasih kamu keringanan kamu boleh kerja dari jam sore aja gak perlu seharian full."
"Sumpah kamu serius Lus?"
"Sumpah gak bohong Zar, dengan begitu kamu bisa ngurus Farel pagi sampai siang terus sorenya kamu bisa kerja, gimana baguskan?"
"Astaga aku senang banget Lus, aku harus berterimakasih sama Pak Devan, makasih juga ya udah ngejar aku Lus."
"Santai Zara, kita semua juga senang kamu kembali gak jadi berhenti kerja."
Aku mulai profesional dengan pekerjaan serta belajar mengondisikan perasaanku pada kondisi yang tepat, bagaimana pun Devan sudah membawa perubahan besar dalam hidupku beberapa bulan ini. Sejak dia menjadi boss akhirnya aku bisa menyisihkan banyak waktu untuk bermain serta mengurus Farel putraku.
Selain itu aku mulai dekat dengan Devan lagi sampai membuatku lupa batasan kami. Seharusnya aku berpikir dulu sebelum menerima pertemanannya, siapa tahu dia sudah mempunyai anak dan istri. Bisa sajakan dia menipuku? Setelah aku masuk dalam jeratannya dia meninggalkanku kemudian aku dicap sebagai pelakor. Aku takut! Aku tidak mau seperti itu.
Pulang dari bekerja kebetulan aku mampir ke minimarket sekedar buat mencari susu formula dan popok untuk Farel. Tanpa sengaja aku bertemu dengan Devan yang juga membeli barang sama sepertiku. Dia membuatku yakin bahwa di rumah sana ada keluarga kecil yang sedang menunggu ke datangannya, serta membuatku memaksa diri supaya berhenti mengharapkan dia.
"Habis dari sini mampir ke alun-alun sebentar mau gak?"
"Jangan mikir macam-macam ya, aku cuma mau traktir kamu makan malam karna semalam kamu gak datang waktu aku ngadain perayaan di rumah."
"Ok nanti aku nyusul." Aku menerima tawarannya karna niatnya memang baik.
Usai makan malam aku berdiri di pinggir air pancuran naga, kucari keheningan malam sekaligus mencari ketenangan sendiri. Devan datang mendekatiku dengan membawa coffie cup yang dia bagi denganku dan aku menerimanya.
"Kenapa kamu gak ngurus anak kamu aja, ngapain capek-capek kerja, suamimu gak marah setiap hari pulang malam?" tanya Devan
"Sayangnya kita udah lama pisah, jadi aku harus kerja demi bisa membeli susu untuk Farel." jelasku. Tak sengaja aku menangkap sinyal terkejutnya Devan melalui ekspresi wajahnya ketika mendengar pengakuanku. Wajar saja dia terkejut, dia juga tahu betapa eratnya hubunganku dengan Bang Hairul waktu dulu, mungkin dia gak nyangka aja pernikahan ku bisa kandas secepat itu.
"Sudahlah jangan dibahas!" kataku
"Iya aku tahu pasti berat bagimu."
"Semula memang berat, tapi lama-lama biasa juga."
"Hmm kamu sendiri gimana?" tanyaku balik
"Aku?"
"Seperti yang kamu lihat." dia tersenyum bahagia seolah tiada beban hidup
"Beruntung ya kamu punya istri setia dan baik, aku malah jadi takut jika ada orang yang salah paham melihat kedekatan kita terus dia ngadu sama istri kamu."
"Aku rasa lebih baik kita tidak berteman, cukup menjalin hubungan antara atasan dan bawahan aja."
"Kamu salah."
"Apa aku salah berpikir tidak ingin istrimu salah paham?"
"Justru tadinya aku yang takut akan mengganggu hubungan kamu dan suamimu, tapi setelah aku tahu jawabannya ternyata tidak perlu ada larangan diantara kita untuk menjalin sebuah hubungan pertemanan."
"Jadi maksudmu, kamu belum menikah? Lalu yang tadi kamu beli buat siapa?"
"Tentu saja belum, itu pesanan kakak aku."
"Aku juga tidak tahu di mana jodohku sekarang, aku hanya berharap siapa pun nanti yang jadi jodohku dia baik-baik saja, agar aku bisa mempersuntingnya kelak."
"Btw kamu gak pernah gitu nyoba buat pacaran?"
"Pernah sih beberapa kali waktu kuliah, tapi namanya bukan jodoh mau dipertahanin gimana pun tetap gak bisa."
"Iya juga sih jodohkan di tangan Tuhan, kita manusia cuma bisa berusaha."
"Gak kerasa ya udah jam 11, gimana kalau aku antar kamu pulang? Bahaya lho cewek jalan sendirian malam begini."
"Gak usah lagian kamu naik mobil, aku naik motor."
"Kamu sama aku aja, motor tinggalin."
"Gak bisalah besok kerja aku mau naik apa?
"Jalan rumah kita kan searah hanya beda tikungan nanti pas di pertigaan, aku antar kamu sampai situ gimana?"
"Baiklah boleh kok." jawabku sambil tersenyum, dia juga membalas senyuman.
Malam itu Devan mulai mengantarku pulang dan terus berlanjut hingga malam-malam seterusnya. Sampai hari itu tiba, Devan ingin berkunjung ke rumahku bersama rombongan keluarga. Mendadak hatiku tidak siap, aku takut Devan serius padaku lalu mengajakku menikaj. Tidak! Bukan aku mempermainkan dia, tetapi aku masih takut akan kegagalan yang sudah pernah ku alami. Aku ragu Devan hanya baik padaku, sementara tidak sayang sama Farel anakku.
Seburuk itukah aku berpikir tentang dia. Tidak! Devan adalah orang yang sangat baik dan penyayang sama anak-anak. Mengapa aku harus ragu? Ya, itu karna aku sangat menyayangi anakku. Aku tidak mau anakku tersiksa batinnya seperti yang pernah ku rasakan. Devan memaklumi keraguan serta kegugupan yang sedang aku rasakan, dia tidak akan memaksa selama aku belum siap. Dia hanya ingin aku tahu sesuatu, bahwa dia masih mencintaiku sama seperti dulu. Dan kali ini dia tidak mau melepaskan kesempatan yang sudah ada di depan matanya, Devan ingin mempertahankanku serta meyakinkan aku bahwa dia lelaki yang tepat untuk menjadi suamiku sekaligus ayah sambung untuk Farel.
Ketika Farel sakit dia senantiasa menjenguk sekaligus menemani Farel di rumah sakit, sementara aku bekerja. Saat Farel ke sepian tanpa seorang teman, dia datang mengajak Farel bermain dan membawanya jalan-jalan. Farel lapar dia menyuapinya. Farel menangis dia menghiburnya, menimang-nimang layaknya seorang anak dan ayah. Aku tahu Farel menyukai sikap Devan yang perhatian, selama ini Farel tidak pernah merasakan sedikit pun kasih sayang seorang ayah namun Devan telah datang dalam hidupnya dan mewujudkan semua mimpi anak balitaku.
Kedua orangtuaku sudah sangat setuju menerima Devan sebagai menantu mereka. Begitu juga dengan keluarga Devan, mereka sama sekali tidak mempermasalahkan statusku serta sudah memperlakukan Farel seperti cucu mereka. Seharusnya aku senang mereka semua punya jiwa yang besar dan hati yang baik. Masalahnya hanya aku, karna ketika semua merestui kami, Bang Hairul kembali mengajakku untuk merajut kasih lagi. Devan tahu akan hal itu, raut wajah kecewa terpancar jelas di wajahnya. Haruskah aku melukai hatinya untuk ke dua kali? Setelah apa yang dia perjuangkan untukku dan Farel.
"Ibu, ibu..."
"Iya sayang, ibu di sini." Farel tiba-tiba menarik-narik ujung bajuku dan minta di gendong.
"Anak ibu kenapa?"
"Farel mau punya ayah seperti ayah Devan, bukan seperti ayah."
"Mengapa Farel mau ayah Devan, bukankah ayah sudah datang?"
"Ayah Devan baik."
Benarkah anak kecil seumuruan Farel sudah bisa membedakan mana yang baik dan buruk? Mungkin saja benar. Selama ini Devan yang bersamanya, memeluk dan merangkul ketika kerewelannya datang.
Setelah ku pikirkan baik-baik, aku menemukan jalan keluar untuk memecahkan ketidak yakinan yang selama ini menghambat kisah asmaraku sekaligus keputusanku kali ini akan menjadi penentu masa depan aku dan Farel. Terakhir kali aku keluar bersama Devan 3 minggu yang lalu. Kali ini aku beranikan diri untuk mengajaknya bertemu di luar. Ya, dia masih sama seperti dulu selalu menjadi orang yang tepat waktu dan janji. Aku memesankan minum dan makan dengan iming-iming aku mau mentraktirnya. Tetapi, tujuanku sebenarnya bukan sekedar untuk bertemu melainkan untuk memberitahu dia sesuatu hal yang penting menyangkut perasaanku sendiri.
"Aku tahu Ara, dia cinta pertamamu dan kalian pernah menikah sehingga aku tidak heran lagi jika kamu masih mencintai dia"
"Aku menghargai perasaanmu, lebih baik aku mundur saja, aku lebih senang melihat kamu bahagia"
"Sekarang aku akan dengarkan apapun jawabanmu, aku siap menerima keputusan itu."
Diam-diam ku pandangi sorot mata Devan tampak berkaca-kaca. Ekspresi kecewa di wajahnya masih sama seperti saat aku menolak cintanya dulu. Sedikit pun dia tidak pernah berubah.
"Sebenarnya aku memutuskan untuk berhenti kerja"
"Aku sudah tahu kamu akan melakukan itu juga."
"Dengarkan aku dulu ini masih belum selesai."
Dia diam tanpa menatapku lagi.
"Karna aku mau menjadi pelengkap hidup kamu." ucapku
"Benarkah yang ku dengar?" Dia mulai bergembira
"Tapi bagaimana dengan Hairul?" lanjutnya mendadak lesu
"Dia hanya masalaluku dan biarlah tetap seperti itu. Sekarang masa depanku hanya bersama kamu."
Aku kaget, dia memelukku tiba-tiba. Tidak pernah ku rasakan sebelumnya pelukkan hangat yang ketulusan terasa mengalir di dalamnya.
"Terimakasih sudah memilihku."
"Hentikan! Tidak perlu berterimakasih, kamu pantas untuk ku pilih dan pertahankan."
"Aku mencintaimu"
"Sangat sangat mencintaimu, Ara."
"Akhirnya aku bisa bersama kamu untuk selamanya."
"Aku juga mencintai kamu, Van."
"Aku wanita paling beruntung hari ini, karna bisa mendapatkan hati orang seperti dirimu."
Kami berpelukkan lagi. Tak ku sangka ternyata ini adalah alasan Tuhan mempertemukan kembali kami berdua, karna Tuhan sudah mengatur skenario cinta kami dengan berbagai ujian pahit hingga akhirnya Tuhan meloloskan kami sebagai pemenang di ujung cerita.
~The End~