Nara Maheswari selalu percaya bahwa masa lalu adalah sesuatu yang sudah mati. Ia bisa dipelajari, dianalisis, diperdebatkan—tetapi tidak pernah disentuh. Sejarah hanyalah rangkaian peristiwa yang selesai, tak peduli seberapa banyak manusia menangis atau berharap di dalamnya.
Itulah yang selalu ia yakini.
Sampai sore itu, di sebuah ruang sunyi Museum Majapahit, keyakinannya runtuh tanpa aba-aba.
Museum hampir tutup. Cahaya matahari menembus kaca jendela tinggi, jatuh miring ke lantai batu. Pengunjung tinggal sedikit. Nara melangkah pelan di antara vitrin-vitrin kaca, membaca keterangan artefak dengan kebiasaan akademis—dingin, teratur, tanpa emosi.
Hingga matanya berhenti pada sebuah keris tua.
Bilahnya tidak mengilap. Pamornya nyaris pudar. Namun gagangnya memiliki retakan panjang, seolah pernah patah lalu disatukan kembali dengan paksa.
“Artefak tidak dikenal,” tertulis di bawahnya.
Diperkirakan berasal dari akhir abad ke-14.
Nara mengerutkan kening. Artefak “tidak dikenal” jarang dipamerkan. Biasanya, benda seperti itu disimpan di ruang arsip, bukan dipajang.
“Yang ini jarang diperhatikan,” suara tua muncul dari belakangnya.
Nara menoleh. Seorang penjaga museum berdiri beberapa langkah darinya.
“Kenapa?” tanya Nara.
Penjaga itu tersenyum samar. “Karena tidak tercatat dalam sejarah.”
“Itu aneh,” gumam Nara. “Benda tanpa asal-usul?”
“Justru karena asal-usulnya tidak ingin dikenang,” jawab sang penjaga pelan.
“Konon, keris ini milik seorang panglima Majapahit yang menghilang setelah bersumpah pada seorang perempuan.”
Nara terkekeh kecil. “Legenda.”
Penjaga itu menatapnya lama. “Kadang legenda hanya sejarah yang kehilangan saksi.”
Nara hendak membalas, tapi entah mengapa tangannya sudah terangkat. Jarinya menyentuh kaca vitrin—lalu, tanpa ia sadari, kaca itu terbuka.
Dan saat jemarinya menyentuh gagang keris itu—
Dunia terpecah.
Nara terbangun dengan napas tersengal. Tanah terasa hangat di bawah telapak tangannya. Bau tanah basah bercampur dupa memenuhi udara.
Ia bangkit perlahan.
Tidak ada gedung museum. Tidak ada kaca. Tidak ada lampu. Yang ada hanyalah bangunan bata merah menjulang, gapura tinggi dengan ukiran khas Majapahit, dan manusia-manusia yang berlalu dengan pakaian asing.
Kain panjang. Ikat kepala. Kebaya sederhana.
“Nggak mungkin…” bisik Nara.
Ia menunduk. Pakaiannya berubah. Kaus dan celana jinsnya lenyap, tergantikan kain panjang berwarna cokelat tua dan kebaya polos.
Detak jantungnya memekakkan telinga.
“Siapa kau?”
Suara itu datang dari depan.
Seorang pria berdiri tegap, mengenakan busana prajurit. Pedang tergantung di pinggangnya. Wajahnya keras, namun sorot matanya tajam dan penuh wibawa.
Nara menelan ludah. “Aku… aku tersesat.”
“Tidak ada yang tersesat di dalam wilayah Majapahit,” katanya datar. “Kau datang dari mana?”
Majapahit.
Kaki Nara nyaris goyah.
“Namamu,” ulang pria itu.
“Nara,” jawabnya lirih.
Pria itu mengamati wajahnya, pakaiannya, caranya berdiri—seolah menimbang ancaman yang tidak terlihat.
“Aku Raden Mahisa Wirajaya,” katanya akhirnya. “Panglima kerajaan.”
Nama itu bergaung di kepala Nara.
Ia mengenalnya.
Dalam catatan sejarah yang ia baca, Mahisa Wirajaya adalah panglima muda yang disebut singkat—terlibat dalam konflik politik, lalu menghilang tanpa kejelasan. Tidak ada makam. Tidak ada keluarga. Tidak ada akhir.
Nara menatap pria di hadapannya dengan dada bergetar.
Ia bukan legenda.
Ia nyata.
Hari-hari berikutnya berlalu seperti mimpi yang terlalu tajam untuk disebut khayalan.
Nara ditampung di sebuah rumah sederhana milik seorang janda tua yang iba padanya. Ia belajar cepat—tentang cara berbicara, tentang menunduk saat lewat bangsawan, tentang bagaimana seorang perempuan seharusnya tidak menatap pria terlalu lama.
Dan tentang bagaimana dunia ini tidak memberi ruang bagi kesalahan.
Mahisa sering datang. Awalnya untuk mengawasi. Lalu untuk memastikan Nara tidak membawa masalah. Kemudian—tanpa ia sadari—untuk alasan yang lebih sulit dijelaskan.
“Kau tidak seperti perempuan di sini,” kata Mahisa suatu sore.
Nara tersenyum pahit. “Aku memang bukan dari sini.”
Mahisa menatapnya lama. “Kau berbicara seolah dunia ini bukan milikmu.”
“Karena memang bukan,” jawab Nara jujur.
Ia ingin mengatakan segalanya. Tentang masa depan. Tentang sejarah. Tentang bagaimana nama Mahisa Wirajaya tercatat samar—lalu lenyap.
Namun ia tahu, kata-kata bisa membunuh lebih cepat dari pedang.
Cinta tumbuh seperti kesalahan kecil yang dibiarkan.
Dimulai dari percakapan senja. Dari tatapan yang terlalu lama. Dari rasa aman yang muncul tanpa izin.
Mahisa bukan pria yang banyak bicara. Namun ketika ia bercerita tentang kerajaan, tentang kesetiaan, tentang sumpah pada tanah dan rakyat—Nara mendengarkan dengan hati yang semakin berat.
Karena ia tahu akhir cerita ini.
“Jika suatu hari aku gugur,” kata Mahisa pelan, “aku ingin namaku tidak memalukan kerajaan.”
Nara menahan napas. “Kau tidak akan gugur.”
Mahisa tersenyum samar. “Semua prajurit tahu akhir hidupnya.”
Tidak, batin Nara.
Aku tahu akhir hidupmu—dan aku ingin mengubahnya.
Pernikahan mereka terjadi tanpa kemewahan. Namun adat dijaga. Sumpah diucapkan. Doa dipanjatkan.
Di bawah langit Majapahit yang berwarna jingga, Mahisa menggenggam tangan Nara.
“Jika waktu memisahkan kita,” bisiknya, “aku akan mencarimu di zaman mana pun.”
Air mata Nara jatuh tanpa suara.
Ia tidak tahu bahwa sumpah memiliki kekuatan yang lebih besar dari manusia.
Malam itu, keris tua bergetar di balik kainnya.
Nara terbangun dengan dada sesak. Cahaya aneh menyelimuti ruangan. Mahisa terbangun bersamanya.
“Apa yang terjadi?” tanya Mahisa.
Nara menggenggam tangannya erat. “Maafkan aku.”
Dunia terlipat kembali.
Nara terbangun di lantai museum.
Alarm berbunyi. Petugas berlarian. Keris tua itu tergeletak di vitrin—retaknya kini membelah dua.
Ia menangis tanpa suara.
Hari-hari berlalu. Catatan sejarah berubah. Nama Mahisa Wirajaya tercatat—menghilang.
Tidak gugur. Tidak mati.
Hilang.
Tahun berganti.
Nara kembali ke museum itu, lebih tua, lebih tenang, lebih lelah.
Seorang pria berdiri di depan vitrin Majapahit.
Posturnya tegap. Tatapannya familiar.
“Nara,” katanya pelan.
Dunia runtuh sekali lagi—namun kali ini, ia jatuh ke pelukan yang tidak lagi terikat oleh waktu.
TAMAT