Maudy!
Maudy!
Ya, ma.
Cepat sayang! Sudah jam berapa ini? Kita sudah mau berangkat, nanti kita ketinggalan pesawat.
Iya, iya, iya ma.
Ya itu lah mama ku, ya bisa di bilang suka panik sendiri, padahal jam checking aja masih lama. Dan Maudy itu, adalah nama panggilanku. Aku adalah seorang anak tunggal dikeluarga ku, yang bisa dibilang penuh kemewahan. Dengan papaku berkerja sebagai arsitektur ternama sambil menjalankan perusahaan kebun teh kakek dan mamaku mempunyai banyak butik di beberapa daerah di Bandung dan Bogor. Karena aku anak perempuan satu-satunya, aku sangat dimanja dan disayang oleh orang tua aku dan kakek ku di Yogyakarta.
Tak terasa kini usia ku sudah berkepala dua, tepatnya 22 tahun, kakek berencana akan memecah perusahaannya dan memberikannya sebagian kepada papaku dan kepada adik mama. Papaku akhir-akhir ini selalu sibuk bolak-balik luar kota untuk menyelesaikan yang katanya sih desain rumah seorang pelangganya. Jadi untuk sementara, aku yang mengantikan posisi papa, menjadi assisten direktur. Ya sambil belajarlah, kalau kakek jadi memberikan perusahaan ini kepada papa dan papa memberikan kepadaku, aku sudah tau apa yang harus aku lakukan. Hampir setiap hari aku ke kantor. Sebenernya aku sih malas, capek, dan ini sangat membosankan. Aku ingin tidak melakukan apa-apa. Aku ingin duduk diam, lalu jalan-jalan bersama teman-teman ku. Apalagi setiap hari aku bertemu dengan pacarku, Sam, yang sungguh menjengkelkan. Karena perusahaan papanya berkerjasama dengan perusahaan kakekku, hampir tiap hari aku melihat wajahnya dan tiap hari aku mendengar ceramahnya, memarahiku ketika aku hanya duduk santai dikantor, datang telat, kantor-kantor aku! Kok dia yang sibuk. Mengatur-ngaturku. Menyalahkan aku ketika klien tidak jadi menanamkan usahanya di perusahaanku. Dan tidak mendengar apa yang sedang dibicarakan tentang perusahaan kami. Pokoknya sok sibuk deh! Sampai kemarin dia ceramahin aku karena aku gak bisa datang on time dan acara seminarnya tidak dimulai-mulai. Mereka menunggu aku untuk membuka acara. Tapi akhirnya Sam mengambil alih.
Oia, hari ini aku mau ke Yogya, ke tempat kakek ku. Ya berlibur, sambil menjenguk kakek yang sedang sakit, dan membicarakan tentang perusahaan. Karena itulah tadi mama sibuk sekali menyuruhku cepat-cepat, ketakutan ketinggalan pesawat, padahal ini baru jam 10 checking jam 3. Haduh. Diperjalanan menuju bandara, Sam menelepon ku. Tapi karena rasa kesal kemarin maasih ada, aku tak mengangkatnya. Aku tidak memberitahukan bahwa aku hari ini akan ke Yogya. Lalu dia kembali, menelepon. Tetap saja ku abaikan. Sampai tiba nya dipesawat aku mematikan i-phone ku, dan mendengarkan music.
Dilain tempat, rupanya Sam menelepon ingin mengajakku makan malam. Karena hari ini adalah hari jadi kami yang ke 24 bulan. Dia terus menelepon tapi nomor ku tidak aktif. Dia menyusul kerumah, dan bertemu dengan bibi Yan, pembantuku. Bibi Yan memberitahukan kepadanya bahwa aku hari ini pergi ke Yogya bersama mama dan papa. Dengan tertunduk Sam pulang, dan tanpa sengaja dia menabrak anak perempuan bibi Yan, Shinta yang baru saja datang dari kampung untuk menemani bibi Yan selama kami pergi. Sam melihat Shinta dan meminta maaf lalu pergi. Begitulah cerita bibi Yan yang seperti ibuku sendiri, di telepon ketika aku tiba di Yogya. Mendengar itu aku merasa bersalah, karena aku pun lupa bahwa hari ini hari jadi kami yang ke-2 tahun. Tapi tetap saja aku jengkel, dan aku tidak membalas semua pesannya di bbm, sms, dan line.
Sampailah kami dirumah kakek yang setelah sejam perjalanan mobil dari bandara. Aku keluar dan aku tercengang karena rumah kakek kini telah berubah. Kakek sudah menunggu diluar sejak lama, dia yang sedang duduk, lalu berdiri dengan senyum gembira menyambut kedatangan kami. Aku menyalami dan mencium tangannya, dia langsung merangkulku erat. Aku pun sedikit khawatir dengan kakek, aku menanyakan keadaan kakek, aku lihat wajahnya, tidak ada tanda-tanda kalau kakek sakit. Tiba-tiba kakek tertawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan mama dan papa. Ternyata, ini hanya akal-akalan papa agar ada alasan untuk mengajaku kerumah kakek dengan tiba-tiba. Kami pun tertawa bersama. Kakek bercerita bahwa ini adalah desain papaku. Ia mendesainnya dan sekitar beberapa bulan merenovasi rumah kakek menjadi seperti ini. Pantas saja, tahun lalu papa tidak mengajak aku kerumah kakek. Ia selalu pergi luar kota dengan alasan mau mendesign rumah pelanggannya. Rupanya ini yang dirahasiakan. Rumah dengan kombinasi modren dan tradisional ini membuat aku kagum dengan papaku. Sungguh benar bahwa papaku adalah seorang arsitektur profesional.
Kami masuk dan seperti biasa kakek yang adat istiadatnya masih kental, menyambut kami dengan tarian dan acara makan-makan. Malam semakin larut, aku pun mengantuk karena lelah perjalanan hari ini. Aku masuk ke kamarku, yang dari sejak kecil ada dan tak pernah terusik. Itu hanya untuk aku, yang spesial disediakan kakek. Dulu ibu ku tinggal disini, sampai ia menikah dan mempunyai aku. Aku tinggal disini sejak aku lahir, sampai umurku 6 tahun. Dikarenakan papa mengambil S2 di Jakarta, maka aku dan mama juga ikut kesana. Kakek tinggal bersama adik mama yang memiliki anak laki-laki kembar. Dan adik mamalah yang mengurus kakek disini, sampai ia juga merantau ke luar Jawa di Lampung dikarenakan tuntutan suaminya harus berkerja di sana. Kakek kini tinggal bersama bibi Yem, pembantu setia kami yang sudah lama berkerja di sini dan dianggap seperti saudara sendiri. Tapi karena kami sedang berlibur kesini, kakek tidak kesepian, ada aku, papa dan mama yang menemaninya.
Keesokan harinya, kakek membangunkanku. Aku terkejut karena ini baru saja pukul 6 pagi, kakek berkata bahwa anak gadis tidak boleh bangun siang-siang, harus pagi. Biasanya aku bangun sekitar jam 8 dirumah, tapi sekarang aku bangun sepagi ini. Aku beranjak dari tempat tidur, kakek membuka jendela, dari luar sudah terpancar sinar matahari yang cerah. Aku menuju jendela, dan melihat pemandangan sekitar. Sekilas dibenakku, dulu ketika aku melihat keluar jendela, aku melihat sebuah rumah dengan seorang anak laki-laki yang adalah teman baikku waktu kecil. Karena usianya lebih tua, seusia dengan sepupu kembarku, aku memanggil dia dengan sebutan Mas. Tapi aku sekarang lupa dengan namanya. Mungkin karena sudah lama tidak bertemu. Walau beberapa tahun yang lalu aku tidak bertemu dengannya lagi, rumah itu masih ada. Aku bertanya pada kakek. Kakek menceritakan kepadaku, namanya Han, setelah aku dan keluargaku pindah ke Jakarta, beberapa tahun kemudian dia dan keluarganya juga pindah keluar kota. Namun aku tidak tau dimana, karena pergi secara mendadak semenjak Han, kecelakaan dan mengalami lupa ingatan yang parah. Aku terkejut dan aku pun sedih padahal dulu ia adalah teman baikku yang selalu menolongku ketika sepupu kembarku mengangguku hingga menangis. Tapi, setahun lalu mereka pulang dan bertemu dengan kakek. Han, tetap saja lupa ingatan dia tidak mengingat kakek. Rupanya ingatannya sudah hilang. Setelah operasi waktu itu. Oleh karena orang tua nya tidak mau mengenang masa lalu, ayahnya menjual ke kakek ku tanah berserta rumahnya. Kakek membelinya, dan setelah itu pulang ke Jakarta, tidak kembali lagi. Kakek pun memanggil papa untuk mendesain rumahnya dan rumah tanah yang baru saja dibelinya.
“Maudy! Sarapan dulu. Udah siap ini. Nanti kesiangan. Kakek disana?” Kata mama memotong pembicaraan kakek dengan ku.
“Iya ma, bentar. Iya kakek disini.” Jawabku.
“Ayo sarapan dulu, cepat sana bereskan tempat tidur, mandi nanti kita bercerita lagi.” Kata kakek kepadaku.
“Oke kek, kakek duluan aja sarapannya nanti Maudy nyusul.”
Kakek pun pergi dan aku segera membereskan tempat tidur, membuka koper dan mandi. Setelah mandi, aku melihat i-phone ku yang masih menyala dari kemarin. Baterainya hampir habis. Aku bongkar tas ku, mencari charger. Ketika aku buka, ternyata ada 20 sms, 10 panggilan tak terjawab, 5 line dan bbm, dari Sam. Aku langsung meletakan i-phone ku di meja lalu berdandan dan pergi menyusul kakek sarapan pagi. Sambil sarapan, kami berbincang-bincang. Dan tiba-tiba mama melontarkan pertanyaan yang mengusiku.
“Maudy, kamu udah kasih tau Sam, kamu disini?” kata mama.
“Belum ma, ah biarin aja deh.” Jawabku.
“Lho, kok gitu? Nanti dy kerumah jemput kamu kekantor gimana? Kan kasihan, taunya kamu gak ada dy. Gak baik kamunya gitu.”
“Iya sayang, jangan gitu donk, anak papa. Sam kan pacar kamu sekaligus partner perusahaan kita. Nanti dia gak kerjasama dengan kita lagi gimana?” lanjut papa.
“Bibi kemarin telepon, bibi bilang kalau dia kemarin kerumah tapi akunya udah pergi pa. Ya udahlah dia udah tau kita pergi kesini kan?”
“Ya udah kalau begitu.” kata mama sambil mengelengkan kepalanya.
Sarapanku pun selesai, aku kembali ke kamar dan melihat kembali i-phone ku. Ternyata Sam menelepon 2x dan ada 3 pesan darinya. Aku menghela nafas dan meletakan kembali kemeja. Aku buka pintu kamar yang berhubungan dengan balkon, aku keluar dan melihat ke arah dimana dulu teman baikku tinggal. Aku teringat cerita kakek, kecelakaan tragis itu sungguh menyedihkan sampai ia melupakan semua ingatannya. “Apakah dia melupakanku?” pikirku. Lalu aku bergegas keluar kamar dan menikmati susasana pagi mengitari daerah rumah kakek dengan sepeda. I-phone ku sengaja aku tinggal agar kegembiraan ku tidak musnah karena Sam.
Di Jakarta, Sam kembali kerumah ku. Dan ia bertemu dengan Shinta, anak bibi Yan. Ia menitipkan sebuah kado besar dan menitipkan salam juga memberitahukan bahwa ia akan keluar kota. Ia tidak tau kemana dan kapan pulang. Ia meneleponku, tapi tidak diangkat. Ia sms tapi tidak dibalas. Semua media dihubunngi, tetapi tidak direspon. Ia takut tidak bertemu lagi setelah aku kembali ke Bandung. Dan kado itu pun tidak dapat diberikannya. Jadi ia memberikannya sekarang walau tidak bertemu aku, sebelum ia pergi. Dan ketika pulang, ia bertemu dengan bibi Yun yang baru saja keluar menanyakan siapa tamu yang datang. Setelah lelah berkeliling aku pun di panggil oleh mama untuk duduk di kursi taman dekat aku menaruh sepeda. Mama menceritakan berita tadi, bahwa Sam kerumah lagi. Dan bibi Yun meneleponku tidak diangkat, jadi ia menelepon mama. Mama marah-marah dan menasehati ku tidak bertindak demikian kepada Sam. Namun, omelan mama itu bagai masuk ke kuping kanan mantul lagi. Tiada arti bagiku. Aku masuk kerumah dengan mengerutu. Kakek memanggilku.
“Kenapa dy?” tanya kakek.
“Tidak ada kek.” Jawabku.
“Nanti Ren dan Rey akan kemari dengan pacarnya juga ayah dan ibunya. Kita harus bersiap-siap menyambutnya.”
“Kembar itu kesini kek? Dengan pacarnya?”
“Iya mereka kakek undang kemari, melihat rumah kakek yang baru. Kebetulan mereka mau memperkenalkan pacarnya kepada kakek. Jadi mereka membawa pacarnya.”
“Kenapa kakek mengundangnya?”
“Loh mereka kan cucu kakek juga, dan mama mereka adalah anak kakek. Mereka juga harus diundang.”
“Hmm....” Aku langsung pergi. Dan sepanjang perjalanan menuju kamar aku memikirkan nasibku nanti ketika dua kembar itu kesini. Tidak ada Mas Han. Siapa yang akan menolongku.
Dikamar, aku menuju tempat tidur dan melihat boneka-boneka yang banyak tersusun rapi dibufet. Salah satunya boneka pemberian Han, pada saat ulang tahun ku yang ke 4. Aku sangat gembira dan senang sekali. Tapi tidak bisa aku bawa, karena waktu itu rumahku berukuran kecil tidak sebesar rumah kakek. Jadi kutinggalkan disini. Aku ambil boneka itu, sembari aku melihat, aku mengingat kejadian masa kecil dimana sepupu kembarku membuang topiku ke sebuah danau dan aku menangis kencang. Han, mengambil kayu panjang dan mengambil topiku. Ketika boneka kesayangan dari kakek, disembunyikan, Han mencarikannya. Ketika aku bermain sepeda aku ditabrak sepupu kembarku yang sungguh usil, dan aku pun jatuh. Kaki luka berdarah, aku menangis dan Han mengantarku pulang dengan sepedanya. Sambil sepedaku diikat di belakangnya. Kejadian lain, ketika tukang es lewat, aku membelinya dan Ren merebutnya dari ku, aku teriak. Tapi mereka menjauh. Han membelikannya lagi untukku. Dua kembaran itu kembali mengangguku dengan merusak bagunan tanah bebentuk kue yang ku buat dikebun kakek, Han memarahi mereka dan menyuruh mereka memperbaikinya. Tapi mereka pergi. Ketika aku diejek dengan potongan baru rambutku, aku menangis dan Han menghiburku. Tapi kini dia tidak disini lagi siapa akan membantuku?.
Titt... Titt... Suara klakson mobil mengejutkan ku. Itu dia Ren dan Rey datang bersama pacarnya, ayah dan ibunya. Aku tidak keluar. Karena aku takut. Ketika malam tiba, kakek memanggil kami semua dan kami makan malam bersama. Aku keluar dan melihat Ren dan Rey yang sibuk dengan pacarnya di meja makan. Aku merasa jijik melihat mereka. Mereka melihatku dan menertawakanku.
“Hai cenggeng, apa kabar?” kata Ren.
“Baik, mas.” Jawabku.
“Eh, kenalin donk, ini pacar aku Rina. Rina kenalin ini adik sepupu aku yang cenggeng Maudy. Hahahaha.” Kata Rey.
“Mmmm...”
“Mana pacarmu? Jones yah? Hahaha. Kasihan sepupu aku yang cenggeng ini jones. Jones! Jones! ” Kata dua kembar itu.
Aku menghentikan makan malam ku dan aku langsung pergi ke kamar. Kakek memanggilku tapi aku mengiraukannya. Ku buka i-phone ku. Ada panggilan tak terjawab dari Sam dan Bibi Yan. Aku buka laptopku dan membuka berbagai sosial media terutama facebook dan twitter. Tiba-tiba kakek datang dan kakek pun menghampriku.
“Cucu kakek jangan gitu dong. Belum selesai makannya. Kan sayang.”
“Habis Ren sama Rey menyebalkan! Gak pernah berubah!”
“Sudah-sudah. Kakek ada kabar gembira untuk kamu. Besok rencananya Han mau datang kesini. Kakek undang dy dan keluarganya.”
“Beneran kek?”
“Iya, bener. Tadi kakek telepon.”
“Besok pagi jam 10 mereka sampai, ayo tidur dan jangan cemberut lagi besok kita sambut kedatangan mereka. Kakek sudah mengirimkan pak Damar untuk menjemput mereka dibandara.”
“Oke kek.” Aku langsung log out twitter dan facebook aku segera tidur agar bisa bangun keesokan harinya pagi-pagi sekali.
Keesokan harinya aku bangun dan langsung bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Han. Semua tampak biasa saja. Hanya mama dan papa saja yang terlihat dari tadi tersenyum-senyum memberikan rasa curiga. Kembar saudara itu kembali mengejeku.
“Hei adik sepupuku yang manis. Sepertinya kamu gembira sekali hari ini.” Kata Ren
“Apa kamu udah punya pacar karena semalam online facebook? Hahaha. Biar gak dibilang jones sama kita Ren.” Sambung Rey.
Tapi perkataan mereka aku abaikan yang aku utamakan adalah kedatangan Han yang sejam lagi sampai di Yogya. I-phone ku berdering, panggilan masuk dari Sam. Aku abaikan. Lalu berdering lagi, itu Line dari Sam, aku tidak membacanya. Pukul sebelas, mungkin sebentar lagi Han sampai. Aku menunggu sambil melihat jam di I-phone ku.
Tiitt... Tiiittt... Suara mobil. Aku segera lari keluar tampak mama dan papa Han masuk kedalam rumah bertemu dengan kakek tapi tidak ada Han. Aku bertanya pada papa Han, rupanya ia masih diluar melihat pemandangan sekitar. Memang ketika baru tiba dirumah kakek, mata tidak akan puas melihat sekitar karena semua tersusun dengan rapi. Aku keluar dan aku melihat Han dari belakang. Sepertinya aku kenal dia dari cara ia berdiri sambil memegang handphone. Dia sepertinya sedang menelepon seseorang. Lalu sibuk mengetik. Karena tak sabar ingin bertemu, aku menuruni tangga, jatungku mulai berdegub kencang, kenapa ini? Kenapa bisa seperti ini? Kata ku dalam hati. Dan dengan perlahan aku memukul pundaknya sambil memanggilnya. Han! Dia berbalik dan....
Ternyata dia, Sam!. Aku sungguh terkejut. Dan aku langsung menunduk malu.
“Maudy? Benarkah ini kamu?” kata Sam.
Aku melihatnya ketakutan dan malu.
“Hei, lihatlah kemari? Kamu Maudy yang aku kenalkan?”
Dia memegang kedua tangan ku sambil berusaha melihat kearah wajahku. Lalu dia melihat kearah teras rumah kakek disana ada papa dan mama ku. Lalu ia memeluku, sambil berkata kita bertemu juga Dy. Aku sungguh merindukanmu. Aku kira kita tidak akan bertemu lagi. Apakah kamu tidak membaca semua pesanku? Aku hanya bisa menunduk, dan meneteskan air mata lalu berlari menuju danau dimana dulu Sam mengambil topi ku yang dibuang oleh saudara kembar itu. Aku menangis, dan melihat i-phone ku ternyata pada saat aku lihat Sam dari belakang sedang menelepon dia sedang menelepon ku dan mengetik pesan kepada ku tapi karena aku silent maka suara pesan dan panggilan itu tidak terdengar. Semua sms, chat, yang sebelumnya dia kirim adalah menanyakan kabar, lalu mengatakan selamat hari jadi yang ke 24 bulan, mengabarkan bahwa dia kerumah, mengajak makan malam, memberikan aku kado, mangabarkan akan pergi luar kota, lalu mengabarkan akan pergi ke Yogya, sedang di Bandara, hampir take off, sampai di Yogya. Dan sms terakhir dia sudah sampai di sebuah perdesaan yang dia tidak tau namanya, tempat ia berdiri tadi.
Tiba-tiba sebuah tissu melayang didepanku, ku melihat kearah belakang rupanya Sam dengan si kembar dan pacarnya menyusul ke danau dengan sepeda. Sam duduk disebelahku dan aku mengelap air mata dipipi.
“Sam tidak tau dimana letak danau ini, jadi kami berdua mengantarkannya. Sambil yah jalan-jalan.” Kata Rey.
“Sudahlah bicara saja pada Sam. Selesaikan baik-baik.” Sambung Ren
Rina pacar Rey, memeluku dari belakang. “Sudah Maudy namanya semua manusia pasti ada salah kok. Sam juga tidak marah dengan mu. Iya kan Sam? Bicarakan baik-baik saja. Kami tinggal ya?” Si kembar dan pacarnya pergi.
Sam, memberiku minum. Dan membawakan aku makanan, karena waktu makan siang sudah lewat. Aku masih tersedu-sedu. Sam melihatku.
“Maudy, aku tidak akan pernah marah pada mu. Sejengkelnya kamu dengan diriku sampai kamu tidak mau merespon semua kabarku, tidak apa-apa. Aku cerewet aku begitu, karena aku ingin kamu tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu. Aku tak mau kamu bersedih. Aku tak mau melihat kamu kesusahan. Aku ingin kamu bahagia, dan dewasa bukan menjadi anak yang cengeng, kamu harus kuat sayang. Semangat!”
Kata Sam yang terakhir membuat aku teringat perkataannya pada saat dia menghiburku karena menangis di ejek si kembar itu. Aku harus kuat dan tidak boleh cengeng. Han yang adalah Sam, telah menjadi superhero ku waktu dulu. Aku menangis lagi, Sam memeluku dan aku bersender dipundaknya.
“Sam, maafkan aku. Aku... Aku... Tidak tau semua akan menjadi seperti ini. Maafkan aku yang egois dan ....”
“Sudahlah tidak ada yang perlu di dimaafkan. Kamu tidak ada salah apa-apa Maudy.” Sam memotong.
“Tapi...”
“Aku sayang kamu Maudy”
Aku terdiam dan aku terus menangis. Sampai akhirnya malam hampir tiba, Sam mengajak aku pulang. Sam mengambil sepedanya dan menyuruh aku naik. Sam menggoes sepedanya dan pulanglah kami kerumah kakek.
Setiba dirumah, semua mengkhawatirkan ku. Kami semua berkumpul diruang tamu, untuk bercerita. Dan akhirnya semua rahasia terbongkar. Rupanya papa pernah bertemu Sam dan ayahnya di sebuah resto untuk membuat design rumah Sam di Bandung. Karena papaku design terkenal maka teman papa Sam merekomendasikan untuk membuat design rumah Sam dengan papaku. Karena Sam lupa ingatan dia tidak mengenal papaku. Tapi papa nya Sam mengenal papaku. Selama proyek pembangunan rumah, papa Sam dan papaku diam-diam sering bertemu dan memperbincangkan soal perjodohan aku dan Sam. Karena kami sudah kenal sejak kecil.
Tanpa sengaja, disuatu hari mobil ku mogok disebuah jalan. Dan ternyata ada preman yang hendak mencari kesempatan menodong aku di jalan itu. Aku sibuk melihat mesin yang berasap, i-phone ku hampir saja lenyap, tiba-tiba ada mobil berhenti seorang laki-laki keluar dan memukul preman itu. Lalu mengejarnya. Namun lolos. Laki-laki itulah Sam, pertemuan tanpa sengaja karena kejadian itu. Sam melihat mobilku, dia juga sedang buru-buru ingin mengadakan meeting. Begitu juga aku. Dia menelepon tukang servis mobil langganannya dan meminta alamat rumahku agar nantinya mobilku diantar kerumah ku. Tukang servis datang dan aku menyerahkan kunci kepadanya. Akhirnya Sam menawarkan untuk mengantar aku kekantor, aku tidak mau. Karena takut menganggu jadwal meetingnya. Tapi setelah kami tau, kami satu tujuan akhirnya kami bersama-sama pergi kekantor ku.
Setiba disana, aku segera turun dengan Sam. Mobil di parkirkan oleh penerima tamu dikantorku. Kami langsung menuju meja penerima tamu, Sam menanyakan jadwal meeting dengan Direktur. Dan rupanya, klient yang akan aku tangani di meeting hari itu adalah Sam. Karena aku menjadi asissten direktur. Lalu sekretaris papa datang dan menyuruh kami untuk masuk keruang rapat. Semenjak kerja sama itu terjalin, hubungan kami semakin dekat. Sam sering kekantorku dan rupanya kami sama-sama jatuh hati. Dan menjalin hubungan, sekarang sudah 24 bulan.
Setelah papaku tau, bahwa aku berpacaran dengan Sam, perjodohan pun batalkan karena kami sudah menjalin hubungan. Malah papaku dan papa Sam diam-diam menyusun masalah pernikahan kami. Serentak kami tertawa ketika mendengar rahasia itu, ini sebuah keajaiban. Dan ini bertanda bahwa kami memang berjodoh. Aku dan Sam pun saling menatap. Dan karena aku tidak tau namanya dulu, dan sudah lama tidak bertemu maka kami seperti saling tidak kenal. Sam, mengubah nama ketika ia selamat dari komanya. Dulu namanya Handoko. Makanya panggilannya Han. Sekarang ditambah Samuel Handoko. Dan dipanggil Sam.
Papaku pun sengaja memberitahukan kakek permasalahan ini, dan kakek mengundang mereka datang kemari. Mama tahu, pasti aku dan Sam sedang ada masalah. Karena itu mama dan papa menceritakan pada kakek, dan kakek ikut didalam rencana. Mereka merasa ini saatnya aku dan Sam tau rahasia ini. Makan malam pun tiba, para ibu telah menyiapkan makan malam dan kami semua makan bersama.
Keesokan harinya aku dan Sam jalan-jalan bersama juga si kembar dan pacarnya. Dijalan kami berbincang-bincang. Dan si kembar pun meminta maaf kepada ku atas tingkah mereka. Ini sama persis pada waktu dulu, ketika aku dan Sam berjalan – jalan dengan si kembar, mereka juga meminta maaf. Aku menceritakan semua kejadian dulu kepada Sam, dan kami pun tertawa terbahak-bahak.
Setelah 2 minggu, keluargaku dan keluarga Sam pulang ke Bandung. Kami pulang bersama-sama dan aku pamit sambil memeluk kakek. Aku sungguh berterimkasih pada kakek karena pelajarannya selama 2 minggu disini. Kakek mengantarkan kami kebandara. Si kembar dan keluarganyalah yang akan menemani kakek lagi. Aku tidak tahu mereka berapa lama disana, yang pasti aku sudah memberi pesan untuk menjaga kakek dan menghibur kakek.
Di Bandung, kami memulai kembali bisinis kami. Setiap hari Sam menjemputku dengan mobilnya. Papa Sam merencanakan pembangunan rumahnya dengan papaku. Papaku dan papa Sam pun sering bertemu. Sam sebagai anak tunggal sama sepertiku menjalankan perusahaan orang tua. Perusahaan kami makin berkembang, bahkan sudah memiliki cabang. Hubungan aku dan Sam semakin serius. Lagi, lagi Sam menjadi superheroku, dia menyelamatkankan ku ketika hamir jatuh karena kepleset di karpet merah saat pembukaan usaha baru kami atas nama kami berdua. Dan membantuku saat berpidato penyambutan acara pembukaan usaha kami. Hampir saja aku membuat malu diriku sendiri. Tapi ada Sam dibelakangku yang mengajariku menjadi lebih baik. Dia itu Superheroku.