Akhirnya usia hubungan kami akan menginjak setahun, masih terasa basah tangan ku yang menggenggam seikat bunga, masih terasa kelu lidah ku yang hendak berkata 'Mila maukah kamu menjadi kekasihku?' saat itu, saat bibir merahnya berkata 'ya' betapa dunia menjadi lebih berwarna di mata ku.
Sayang, menjalin satu hubungan dengan beda kasta tidaklah mudah. Ayahnya yang seorang direktur di sebuah perusahaan sudah berkali-kali mengusir ku saat aku bertamu ke rumahnya, meski begitu tak urung jua niat ku untuk mempersunting Mila dalam waktu dekat.
Meski status ku hanya seorang mahasiswa dari kalangan biasa sudah mantap hati ini untuk menjadikannya pendamping hidup.
Telah ku utarakan niat baik ku padanya dan ia senang begitu mendengarnya meski nampak di raut wajah cantiknya ada kekhawatiran yang sudah ku pahami, tentu orangtuanya tak akan dengan mudah merestui kami.
Dalam balut perencanaan sebuah suara yang akrab di telingaku memanggil dari seberang jalan, ku tengok ia kekasih ku Mila melambaikan tangan dan tersenyum pada ku. Ku balas senyum itu hingga ia menyebrang jalan dan datang pada ku.
"Sudah lama menunggu?" tanya nya dengan nada manis.
"Tidak juga, alasan apalagi yang kamu pakai kali ini?" tanya ku penasaran karena semenjak ayah Mila tahu hubungan kami ia semakin ketat terhadap Mila dan tidak memperbolehkannya menemui ku.
"Aku minta bantuan Agnes, kami bilang pada ayah kami akan merayakan malam tahun baru di rumahnya"
"Agnes setuju membantu mu?"
"Dengan susah payah membujuk akhirnya dia mau" jawabnya.
Kami berjalan menyusuri jalan yang mulai di padati orang-orang dengan satu tujuan yang sama yaitu melihat kembang api di alun-alun.
Kami begitu menikmati setiap detiknya kebersamaan kami hingga akhirnya Mila mengatakan hal yang mencambuk hati ku dengan keras.
"Ibu yang memberitahu ku kemarin, katanya ayah menjodohkan ku dengan anak temannya, dia baru selesai kuliah di Amerika dan sudah pulang ke Indonesia, rencananya kami akan di pertemukan minggu nanti" jelasnya yang masih tak dapat ku percaya.
"Apa kau menyetujui perjodohan ini?" tanya ku dengan penuh kekalutan.
"Jangan bodoh Andra, aku hanya cinta kau. Tapi sampai kapan kita bersembunyi seperti ini? bukankah kamu bilang kalau kamu akan menikahi ku?"
"Tentu Mila, tentu. Tapi menikah tidaklah mudah, butuh biaya besar dan aku juga butuh waktu untuk mengambil hati ayah mu, jika aku datang melamar mu saat ini sudah pasti dia akan mengusir ku kembali"
"Tapi kalau kamu tidak cepat bertindak ayah pasti akan menikahkan ku dengan pria itu, aku tidak minta pernikahan mewah cukup akad saja bahkan kita bisa menikah di KUA dengan mahar seadanya pun aku pasti Terima" ujarnya mendesak ku.
"Ya Mila, kita bisa lakukan itu tapi setelahnya bagaimana? berumah tangga tidaklah cukup dengan cinta saja, aku ingin kau bahagia jika setelah kita menikah aku masih belum bisa membahagiakan mu tetap saja ayah mu akan merebut mu lagi dari ku"
"Andra aku mencintai mu apa adanya, setelah menikah aku bisa bantu perekonomian kita, aku bisa kerja juga kenapa kamu harus pusing dengan hal itu"
"Tidak bisa, aku tidak akan mengijinkan mu bekerja aku ingin kau bahagia karena kau tanggung jawab ku" jawab ku tetap pada pendirian.
"Sungguh Andra kamu sudah buat aku muak, selama ini kau terus mencari alasan sudah ku permudah jalan kita menuju pernikahan tapi kau terus saja beralasan, sebenarnya apa niat mu apa kau hanya akan mempermainkan ku saja?"
"Apa maksud mu?" tanya ku tersinggung.
"Kau benar-benar telah menghabiskan kesabaran ku" ujarnya marah dan lantas berjalan menjauhiku.
Tak sempat aku berkata apa pun Mila berjalan dengan cepat menyebarang jalan, ku lihat punggung nya yang tak menoleh lagi pada ku sampai ttiiiiiiiiiiiiiiiittt tiiiiitttt aaaaarrrrrrthhhhhhhhh..
Mila.. Mila ku terpental jauh ke depan, tepat di hadapanku sebuah mobil yang bersusah payah menginjak rem berhenti. Sedetik itu sangat terasa lambat, tubuh semampai yang sering ku peluk terbaring di atas aspal dengan darah mengucur dari kepalanya.
Apa yang terjadi setelahnya, yang ku ingat kerumunan orang mengelilingi tubuh Mila yang terkapar hingga seseorang membawanya ke rumah sakit, tentu aku ikut dan menunggu di luar saat Mila di bawa masuk ke sebuah ruangan, tak lama dokter yang memeriksanya membawa kabar duka pada ku.
Mila mengalami kecelakaan yang membuat tempurung kepalanya retak, ia kini tengah berjuang melawan kematian. Pilu telinga ku mendengarnya, bergetar hebat tubuh ku tak kuasa menerima kenyataan.
Dalam kalut itu kaki ku tanpa sadar berjalan membawa ku kepada seorang wanita tua di pinggir jalan, tak banyak ku perhatikan ia yang ku tahu ia hanya cukup tua karena bungkuk.
"Penyesalan memang selalu datang terakhir, tapi tak mesti jua kau meratapi nya hingga kosong jiwa mu" ucap nya pada ku.
"Andai ku iya kan saja semua permintaanya tak kan ia pergi meninggalkan ku dan kecelakaan itu juga tak akan menimpanya"
"Lantas, apa yang kau inginkan?" tanyanya.
"Aku ingin memutar waktu mengembalikan nya pada keadaan semula dimana ia baru saja tiba dan tersenyum pada ku"
Wanita tua itu tertawa terkekeh-kekeh dan memberiku sebuah arloji kuno, tak paham mengapa ia memberikan benda itu tapi ku terima juga.
"Putarlah waktu nya tepat di jam berapa ia menemui mu" ujarnya dan berjalan pergi hingga hilang di tengah kerumunan.
Ku amati jam arloji itu dengan seksama hingga teringat saat aku masih menunggu kedatangan Mila, waktu itu sempat aku melihat jam besar di sebuah toko yang menunjukkan pukul 10.11 dan terdengar lah suara Mila memanggil ku.
Perlahan ku putar arloji itu hingga tepat pukul 10.11 tiba-tiba kepala ku pening hingga tak sanggup ku buka mata.
"Andra.... Andra... " sayup terdengar panggilan seseorang kepada ku, suara yang begitu akrab di telinga ku. Ku menoleh ke kiri dan ku lihat Mila melambaikan tangannya pada ku.
Ia tersenyum pada ku dari menyebrang jalan hingga sampai kepada ku, dengan rasa tak percaya kun pandang wajah cantiknya.
"Ada apa sih? ko kamu ngelihat aku kayak begitu?" tanya nya.
Aku hanya bisa menggeleng dan mencoba mencerna apa yang tengah terjadi pada ku, mungkinkah aku tadi bermimpi? tapi bagaimana bisa karena aku tidak tidur.
"Sudah nunggu lama ya" ujarnya membuyarkan lamunan ku.
"Ti... dak" jawab ku pelan.
"Ya udah yu jalan, tadi aku minta bantuan Agnes supaya bisa ketemu kamu, dengan susah payah membujuk akhirnya dia mau juga bantu aku" ujar Mila bercerita sambil mengajak ku berjalan.
Tanpa henti ku tatap ia hingga dirinya merasa risih dan bertanya.
"Kamu kenapa sih Dra, dari tadi aneh tahu. emang ada apa sih di muka aku sampai kamu terus ngeliatin aku kayak gitu?"
"Tidak ada.. " jawab ku pelan seraya menggelengkan kepala.
"Kamu lagi mikirin apa sih, bilang dong sama aku"
"Gak ada Mil, aku gak lagi mikirin apa-apa" jawab ku masih tak mampu konsentrasi.
"jawab jujur Dra"
"Iya Mila aku udah jawab jujur"
"Bohong, kalau kamu kayak gini terus gimana kita bisa lanjutin hubungan kita, apalagi kamu bilang kamu mau nikahin aku, Andra menjalin hubungan itu harus saling terbuka dan berkata jujur kalau hal sepele aja kamu tutupin dari aku bagaimana bisa kita satu pemahaman"
"Astaga Mila kenapa kamu jadi marah gitu sih?" tanya ku yang tak mengerti padanya.
"Aku gak marah, aku kesel aja kamu gak mau jawab jujur"
"Aku udah jawab jujur lagian kenapa kamu harus kepikiran gitu sih, kan gak ada apa-apa" jawab ku berbohong.
"Kamu nih ya masih gak ngerti aja, udahlah cuma bikin bete aja" jawab nya lantas pergi begitu saja meninggalkan ku.
Dengan kesal ia berjalan menyebrang jalan menjauhi ku hingga Tiiiiiiittttty tiiiiitttttt suara klakson mobil yang tak mampu mengerem hingga tragedi itu terulang di mataku.
Nyaring teriakan Mila ku dengar hingga lenyap di udara, darah segar mengalir dari kepalanya yang dengan segera kerumunan orang mulai menutupinya dari pandangan ku.
Apa yang terjadi setelahnya, Mila di bawa di ke rumah sakit dan tak lama ku dengar kabar dokter menyatakan keadaan nya yang kritis.
Gemetar tubuh ku tak kuasa mendengarnya, penig juga kepala ku tatkala mencerna apa yang telah terjadi, galam gengaman ku arloji itu berdetak seolah menjawab tanda tanya.
Aku mengerti, ku putar lagi arloji itu hingga menunjukkan pukul 10.11 kini pening di kepalaku dapat ku tahan dan suara Mila yang memanggil ku dari seberang jalan dengan lambaian tangannya ku nampak ku lihat lagi dengan jelas.
"Kamu sudah nunggu lama?" tanya nya yang kini telah berdiri tepat di hadapan ku.
"Tidak terlalu, ayo pergi" jawab ku yang segera menggandeng tangan nya dan membawanya pergi berlawanan arah menjauhi alun-alun.
"Andra kita mau kemana?" tanya Mila bingung.
"Kemana saja asal jangan ke arah alun-alun itu" jawab ku yang mulai panik.
"Tapi kenapa? kan kita mau lihat kembang api"
"Kita bisa lihat di tempat lain" jawab ku yang semakin mempercepat laju langkah dan tak melepaskan genggaman tangan.
"Tapi Andra... " panggilnya memprotes.
"Andra... Andra" panggilnya lagi yang tak ku hiraukan sedikit pun.
"Andra! " teriaknya sambil menghentikan langkah kami. Ku tatap sepasang bola mata cokelat itu dan bertanya.
"Ada apa? kenapa berhenti?"
"Kamu tuh yang ada apa, tiba-tiba jadi aneh gitu. kamu kenapa sih?" tanya nya kesal.
"Gak ada apa-apa sayang yuk jalan lagi" bujuk ku.
Mila menghempaskan genggaman tangan ku dan mundur beberapa langkah dari ku, raut wajahnya seolah mengatakan bahwa aku nampak mengerikan.
"Kamu kenapa? ko jadi aneh gini sih, kamu juga bikin tangan aku sakit" ujar Mila pelan.
"Maaf Mila aku gak bermaksud, ya udah sini biar aku pijit tangan kamu" jawab ku membujuk.
"Gak Andra, kamu bikin aku takut kamu jadi aneh" jawab nya dan mundur beberapa langkah lagi.
Aku ingin meraih tangan nya dan memeluknya tapi belum sempat pun aku bicara tiba-tiba sebuah mobil menabraknya hingga membuat tubuh itu terlontar dan jatuh dengan keras, darah segar mulai mengalir dari kepalanya dan lagi orang-orang mulai mengerumuninya.
Apa yang selanjutnya terjadi, seperti yang sudah terjadi. Berulang kali ku putar arloji itu dan berulang kali ku lihat Mila kecelakaan di depan mata ku, suara klakson mobil, teriakan nyaringnya dan darah segar yang mengalir dari kepalanya.
Terus berulang di depan mata ku hingga mulai perut ku seperti sesuatu mencoba mendobrak keluar, begitu sakit dan pening. Akhirnya aku hanya mampu duduk di kursi menunggu keajaiban datang.
Berdoa semoga Mila mampu melewati masa kritisnya dan tersenyum lagi pada ku seperti sedia kala. Detik-detik begitu terasa berat, saat orang-orang tak sabar menunggu pergantian tahun aku yang termenung menunggu Mila membuka matanya.
'Happy New Year' sorak sorai dan saling mengucapkan selamat semua orang begitu bahagia saat di detik selanjutnya tahun sudah berganti.
Sayang, hanya aku seorang diri yang di balut kegelapan tatkala dokter menyatakan Mila telah meninggal dunia.
Tangis yang tak mampu ku bendung pecah bersama terompet yang di tiup orang-orang, duka ku teramat dalam, saat berulang kali ku coba menyelamatkan nyawa nya justru berulang kali ku lihat tragedi menimpanya.
Ku genggam erat arloji kuno itu yang telah menyadarkanku bahwa sebesar apa pun usaha ku tapi meski mampu ku putar kembali waktu tapi aku tak mampu mengubah takdir.