Ini mungkin hari terakhirku berada dibumi.
.
.
.
.
.
Aku adalah sebuah Humanoid, A-K13 adalah namaku. "Ai, apakah nanti malam kamu ada waktu luang?" Tanya Riksa. Dia adalah pacarku, satu-satunya orang yang menerima diriku dibumi ini. Meski orang-orang mengenalnya sebagai preman, anak yang tak kenal aturan. Yah... Menurutku dia baik, lebih baik dari yang orang orang pikirkan.
"Wahh... Mau dong, aku belum pernah liat kembang api nih" Ujar diriku dengan tergirang-girang. Pasalnya, aku hanya pernah mendengar desas desusnya saja. Orang lain bilang, festival kembang api paling indah jika dilihat bersama pasangan.
"Nanti aku jemput" Jawabnya. Ia menyalakan stater motornya, "Okelah, aku pergi dulu"
Ku lambaikan tanganku kearahnya yang semakin menjauh. Aku pun masuk kedalam rumah saat jejak dirinya sudah tak terlihat.
Drrrttt... Jam tanganku bergetar. Bukan jam biasa, bisa dibilang jam itu alat notifikasi. Jika jamnya bergetar, maka papa menelponku. Ku ambil buku yang tergeletak didalam laci meja belajar. Ya... Alat untuk berkomunikasi yang sebenarnya adalah buku itu.
"13(Thirteen) bagaimana dengan misimu?" Tanya papa. Bukan panggilan seperti telepon, lebih tepatnya panggilan hologram.
Kami para Humanoid bertugas menjaga kelestarian bumi dari tangan tangan manusia yang tamak. Kedatangan kami awalnya di sambut baik. Namun, sifat manusia yang serakah, haus akan kekuasaan, tamak membuat kami bangsa Humanoid terancam punah.
"I-itu... Nanti malam akan kuselesaikan" Aku tersadar, bahwa dirimu semakin larut dalam perasaan dan melupakan misi penting.
"Baiklah, papa tak mau tau" Jawabnya yang langsung menutup panggilannya.
Secara diam-diam, kami para Tentara Elite yang terpilih diperintahkan untuk hidup dibumi, dan berbaur dengan para manusia. Secara fisik maupun kecerdasan, kami lebih unggul dari manusia. Namun, kami tak memiliki perasaan.
Dan aku, sebagai Tentara Elite yang terpilih terpaksa harus hidup dibumi. Sungguh menjijikan. Merekalah yang telah membunuh orang tuaku. Dendam yang terpendam ini akhirnya bisa kubalaskan.
Entah mengapa, setelah mendengar telepon dari papa tubuhku langsung lemas dan duduk terjatuh di lantai.
Mesti tujuan kami untuk melindungi bumi dari kerusakan. Namun, 20% dari 100% harus kami bunuh. Merekalah yang kami sebut sebagai 'Sang Inti'. Jika keberadaan mereka masih ada, maka bumi akan hancur. Walau pada sebenarnya aku tak tau alasan Riksa harus dibunuh.
Sore harinya...
Tinn!! Tinn!! Bunyi klakson mobilnya terdengar tak asing bagiku. "Aika, ayo!" Panggilnya yang berdiri di depan pintu rumahku.
"Sebentar, belom pake lipstin ini" Teriak aku dari dalam kamar.
"Pi-pisau Swift armyku dimana" Aku mengobrak-abrik kotak persenjataanku untuk mencari pisau itu. Tetap saja, tak dapat kutemukan.
"Hey, sudah belum? Bisa bisa pantatku bisulan" Keluhnya.
"Kamu ini, kayak gak tau cewek itu seperti apa"
Brakkk... Brakkk... Brakk...
Kemana pisau itu? Percuma saja jika aku membunuhnya tanpa pisau itu. Papa tak akan mempercayaiku.
Ketemu!
Setibanya di festival...
"Nih" Ia memberikan sebuah permen kapas berbentuk hati kepadaku. Tak kusangka, ia bisa se-romantis ini. "Gausah baper deh. Biasanya kan anak cewek suka makan nih permen" Ia mengalihkan pandangan dariku sembari mengacak-ngacak rambutnya, hihihi.
"Tapi aku gak bisa makan permen ini, nanti radang aku kambuh" Gapapalah, sekali-kali aku kerjain dia.
"Ee-ee-ehh... Yang bener? Yaudah sini, aku belikan yang lain"
"Tapi boong" Kataku sembari menjulurkan lidahku.
"Haduh...kamu ini"
Kami berjalan-jalan mengelilingi festival itu. Benar kata orang-orang, teryata festival ini dipenuhi oleh sepasang kekasih. Padahal sih... Kalau menurut cerita masyarakat jaman dahulu, festival ini dirujuk untuk mereka yang jomblo. Kenapa jadi kebalik ya, aduhh.
Tengah malam...
Suasana semakin ramai. Langit-langit malam dihiasi oleh indahnya kembang api. Lebih spesialnya, ini adalah malam tahun baru. Semua orang menantikan malam ini. Mereka akan berdoa, dan memohon untuk awal yang baru.
Tapi maaf, mungkin ini malam terakhir bagimu. Entah mengapa dadaku begitu sesak ketika mengatakan hal itu. Ahh... Lupakan, tak seharusnya aku kasihan padanya. Bagaimanapun juga, aku tak memiliki perasaan.
Kugelengkan kepalaku dan mencoba melupakan hal hal itu. "Rik, kesana yuk!" Ajakku sembari menyeretnya kesebuah danau yang jarang dengan pengunjung. Bukan jarang lagi, tapi memang sepi, tak ada seorang pun yang kesana. Pasti itu tempat yang telah mereka siapkan.
"Tapi... Sepi tau" Ujarnya.
"Eleh, bilang aja penakut, takut ada hantu" Ledekku.
"Ee-ee-enggak, kata siapa, ayoo!" Ia langsung membawaku kedanau itu.
Heh, akhirnya dia termakan umpanku.
"Mau ngapain di sini?" Tanyanya sembari menenggok kesana kemari.
Dari kejauhan, aku telah menyiapkan pisau Swift army itu. Ku sembunyikan dibelakang tubuhku. A-aku telah menyiapkan semua ini, tak boleh mundur.
Tapi mengapa, dadaku begitu sesak. Air apa ini yang mengalir keluar dari mataku? Mengapa tanganku serasa enggak untuk menodongkan pisau ini?
"Ai? Aika?"
Jlebbb!!!
"A-aika?"
Kutusukan pisau itu tepat di dadanya. Air ini semakin mengalir deras membasahi pipiku. "HUAAA" mengapa aku berteriak? Papa tak pernah mengajarkan akan hal ini.
Tubuhnya terjatuh, kuletakkan kepalanya di pangkuanku.
"A-akhirnya... Kamu menyelesaikan misimu" Ia mengelus rambutku sembari tersenyum.
"HUAAA! Apa ini? Mengapa aku seperti ini?" Padahal telah berkali kali aku mengusapnya, mengapa masih mengalir dan semakin deras.
"Itu namanya air mata. Biasanya manusia normal akan menangis jika orang yang mereka sayangi dalam bahaya"
"Ta-tapi... Sedari dulu aku mendekatimu hanya untuk menjalankan misi. Dan apa maksud perkataanmu"
"Kau pikir aku tak tau? Kamu ini Humanoid yang ditugaskan untuk membunuhku bukan?" Ujar dirinya tanpa sedih sedikitmu. Padahal darahnya mengucur deras.
"A-aku enggakk... Pokoknya aku gak mau! Ka-kamu ikut aku kerumah sakit, nanti setelah itu kita kabur yang jauh supaya papa tak menemukan kita" Ujarku dengan terbanta-banta. Nafasku mulai sesak akibat terlalu banyak menangis.
"Percuma, mereka ada di sini"
Drapp drapp drapp!!!
Sekelompok orang berbaju hitam dengan mata merah bercahaya terlihat berdiri di atas pohon yang berada disekitar danau. Teryata mereka telah mengawasi kami.
"Agen A-K13, jangan kau lupakan misinya" Kata seorang pria. Ia adalah seniorku.
"Pergi kalian!" Ku lempar beberapa pisau bedah kearah mereka semua.
"Percuma, kamu tak bisa melarang"
"Memangnya sampai kapan kita bermusuhan?"
Sampai kapan? Tak hanya manusia yang salah, kamu para Humanoid pun salah. Jika tidak, kami tak akan bermusuhan. Kesalahan tak hanya dilimpahkan kesatu orang saja, bukan?
"Lihatlah, cukup kamu amqbil jantungku. Maka misimu akan selesai sepenuhnya" Ujar Riksa mesti keadaannya memburuk. Aku tak tahan, tak tega.
"Cepat" Ia memegang tanganku dan mengarahkan pada dadanya, tepat di jantungnya. "Ambil dan koreklah"
Mengapa ia masih bisa tersenyum dengan keadaannya yang sudah seperti ini? Mengapa ia harus berpura pura tegar?
Pipi dibasahi oleh air mata. Srettt!!! Ku belah dadanya, dan kuambil jantungnya. Aku tak tega, tapi ia memintaku. Aku berada dalam dua situasi yang buruk. Pilihan apapun yang kupilih akan berakhir sama. Setidaknya aku menuruti permintaan terakhirnya itu.
"Riksa cinta Aika. Kalau bahasa Jepang, AI itu artinya cinta. Jadilah agen yang baik, dan turuti kata papamu" Pesan terakhirnya, sekaligus kata kata terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
"Riksa!!!"
"Berikan jantungnya padaku" Orang itu memintaku untuk menyerahkan jantungnya padanya. Tidak, ini semua karena mereka, karena papa.
"Gak! Kalau kalian mau, kalian harus mati denganku. Hahahaha!" Ku ambil sebuah bom yang ku sembunyikan. Bom khusus yang hanya bisa kuaktifkan.
"Kalian yang memulainya, kalian yang mengakhirinya" Ku telan bom itu, sebelum itu ku aktif dulu. Dalam waktu 10 detik, bom itu akan meledak.
Satu, dua, tiga, empat, lima.
"Berhenti!"
Enam, tujuh,delapan...
"Dorrr"
Pipp...
Siapa yang menembakkan peluru kearahku? Papa?!
"Thirteen, kamu sungguh mengecewakan papamu."
"Papa, apa yang harus kita lakukan dengannya? Apakah harus membuangnya?"
"Dia ini aset berhargaku, sebagian DNA-ku ditubuhnya. Simpan saja dia didalam BedPad"
"Baik"
"Papa, selama ini papalah yang jahat"
"Jahat? Jika mereka tak membunuh Permaisuriku dulu, aku tak akan seperti ini!"
Hufttt...
Apakah aku harus berakhir begini saja? Dan membiarkan papa mereset ulang diriku?
Aku...AI, tak pedulu berapa tahun yang dibutuhkan, selamanya akan hidup demi Riksa. Tak peduli dimanapun, aku dengannya tak akan dipisahkan. Kami janji akan membuat perubahan.
***
1 Abad berlalu...
Tahun 2125, tahun yang paling bersejarah. Baik kami para Humanoid maupun manusia.
"Saya, kode A-K31 dengan tuan Jay, perwakilan umat manusia. Menyatakan bahwa mulai sekarang, umat manusia dan Humanoid hidup berdampingan. Mari kita lupakan dendam, dan masa lalu. Mari kita buat awal yang baru"
[End]