Kepalaku sangat sakit terlebih saat aku harus memaksa tubuhku berjalan menuju kantor. Aku merutuki diriku sendiri yang minum banyak kemarin, karena terlalu senang aku lupa kalau harus bekerja keesokan harinya.
"Aku sudah menebak akan melihatmu berwujud Zombie mu hari ini, Nat" ucap Jian yang entah dari mana muncul disampingku.
"Aku pasti sangat gila kemarin" Aku memeluknya karena tidak kuat dengan sakit kepalaku. Aku penasaran berapa botol yang aku minum kemarin...
"Sangat... Aku tak habis pikir dengan kelakuanmu kemarin. Ah... Lepaskan. Kau sangat berat. Orang yang tidak bisa minum bisa-bisa nya menenggak minuman seperti orang gila" Aku mengangguk setuju. Kemarin malam hari yang buruk untukku.
"Apa kau ingat kelakuanmu pada Pak David?" Aku menghentikan langkahku saat mendengar nama itu disebutkan oleh Jian.
"Mati aku. Tamat riwayatku Jian" Aku menarik rambutku frustasi. Aku sangat ingat betul apa yang aku lakukan pada pria yang jadi bosku.
"Aku tidak kaget kalau nanti kau mengemasi barang-barang mu. Aku turut berduka untuk itu" Aku menatap Jian tidak percaya. Lebih tidak percaya lagi kini kami sudah berada didalam lift.
"Aku harus keluar dari sini. Aku tidak bisa menemuinya Jian... Aku harusnya tidak berangkat hari ini" Jian kencang memegangi kerahku agar aku tidak melangkahkan kaki menjauh darinya.
"Sudah terlambat. Terima saja nasibmu Nat... Kau pasti sudah cukup kaya hingga berani mengatakan itu semua uneg-uneg mu pada pak David" Aku menggeleng keras. Aku masih belum cukup menimbun tabunganku. Aku sungguh gila...
Kejadian kemarin di acara makan malam perayaan selesainya proyek yang aku tangani, setelah menenggak beberapa minuman aku berani mengatakan uneg-uneg ku tentang Pak David Mario. CEO di perusahaan tempatku bekerja yang sangat keras, sangat ketat, sangat menakutkan. Didepannya aku mengatakan ketidak sukaanku padanya.
"Ayo keluar Nat... Hadapi ini dengan keberanian seperti kemarin. Nanti akan aku bantu kau berkemas" Jian dengan baik hatinya mendorong tubuhku keluar dari lift.
"Natalie Anastasya" bulu kudukku langsung berdiri mendengar suara pria yang aku takuti.
Aku menengguk air liurku saat pria itu berdiri di depanku dengan tatapan tajam biasa.
"Temui saya di ruangan" ucapan Pak David terdengar seperti surat kematian. Aku berdiri kaku hanya bisa menatap punggung pria itu yang semakin menjauh. Tamat riwayatmu Nat....
.
Author POV
.
"Heh jangan diam saja! Sana ikuti-" Jian mendorong tubuh Natalie dengan tangan bergetar.
"Cepat ikuti aku Nat!" Jian semakin kuat mendorong tubuh Natalie dan segera kabur keruangan kerjanya.
"Baik pak" Natalie mendapatkan kendali tubuhnya segera berlari mengikuti langkah David.
.
Nathalie menutup pintunya sengaja tidak rapat, ia berharap seseorang akan datang membantu jika terjadi sesuatu pada dirinya.
"Kau tahu apa kesalahanmu Natalie Anastasya?" Tubuh Natalie menenggang saat suara pak David tiba-tiba terdengar terlebih saat pria itu berjalan kearahnya.
"Ma-ma-ma-maafkan-" Natalie menutup matanya saat David terus berjalan memotong jarak diantara mereka.
.
Blam
.
Natalie refleks menyentuh dadanya saat David menutup pintu dibelakangnya dengan rapat. Bahkan menguncinya dengan postur tubuh yang lebih dekat, bahkan bersentuhan.
"Buka matamu!" Natalie langsung membuka matanya menuruti perintah David tapi langsung menutupnya lagi setelah melihat wajah David didepan wajahnya.
Aksi tutup mata diikuti dengan tahan napas, ia takut David akan bertambah marah saat napasnya mengenai wajah pria itu.
"Buka matamu dan lihat wajahku baik-baik" Natalie membuka matanya dan menatap wajah David dengan ketakutan.
"Bernapas Nat" Natalie lupa melakukan itu saking takutnya membuat pria itu semakin marah padanya.
David menarik wajahnya menjauh dari Natalie tapi tidak melepaskan tatapannya dari wanita itu.
"Apa yang dilakukan-"
"Maafkan aku pak.. Sungguh maafkan aku. Aku pasti gila kemarin. Aku sungguh tidak bermaksud mengkritik mu,tentu saja sikapmu itu baik untuk perusaahan. Aku sangat bersalah mengatakannya. Tentang menjambak rambut itu... Aku sangat berdosa!! Kau bisa membalas menarik rambutku asal kau memaafkan ku" Natalie menekuk lututnya, menangkupkan dua tangannya dan mengakui kesalahannya.
"Benar... Kau sangat berani di acara makan malam" Natalie mengangguk setuju dengan ucapan David dan semakin kencang merapatkan dua tangannya. Berharap David memaafkannya.
"Kau yang mengantarku ke apartemen?" Natalie menghentikan aksi menatap sepatu pria itu beralih mendongakkan kepalanya untuk menatap David. Aksi itu hanya sesaat, sangat pegal terlalu menatap keatas.
"Benar. Aku mengantar bapak ke apartemen. Aku tidak melakukan hal yang aneh. Aku hanya mengantarmu saja" Natalie menundukkan kepalanya saat David berkokok menatap matanya lekat.
"Sungguh pak... Ampuni aku... Jangan pecat aku. Aku masih punya adik yang harus sekolah dan tabunganku belum cukup untuk menghidupi keluarga saat aku nganggur nanti. Maafkan aku" Natalie mengangkat dua tangannya yang menangkup keatas kepala.
"Berdirilah Nat. Berjongkok sangat tidak nyaman" Natalie langsung berdiri dengan cepat saat mendengar perintah bosnya.
Sayangnya Natalie melupakan sakit kepalanya, berdiri dengan cepat semakin membuat kepalanya berdenyut dan membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Kau baik-baik saja?" Tanya David setelah ia menarik Natalie kepelukannya. Ah... Lebih tepatnya menolong wanita itu.
"Ma-maafkan aku-" Natalie segera menarik tubuhnya menjauh dari David malah ia kembali kehilangan keseimbangannya.
.
Grep
.
Natalie menahan napasnya saat David menolongnya lagi. Kali ini pria itu menggendongnya dan meletakkan Natalie di kursi.
"Katakan padaku... Apa yang kita lakukan di apartemen" David membuka suaranya setelah duduk di kursi depan Natalie.
"Kita? Saya tidak melakukan apapun pak. Saya hanya mengantar anda karena saya merasa bersalah telah melakukan kekonyolan. Saya mengantar anda dengan selamat ke apartemen. Sungguh" David memijat kepalanya sakit. Selain efek mabuknya belum sepenuhnya hilang, ia sakit kepala dengan ucapan Natalie yang tidak menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Apa kepala anda sakit? Saya akan belikan anda obat pereda mabuk. Tunggu-" Natalie sungguh merutuki kepalanya yang bertambah sakit disaat situasi penentu masa depannya kelak.
"Diamlah. Kau yang lebih membutuhkan obat daripada aku" Natalie menangkupkan mulutnya dan kembali duduk dengan tenang, kepalanya menunduk tidak berani melihat kearah David yang sudah berjalan keluar dari kursinya.
"Minumlah. Kau sudah sarapan kan?" David meletakkan obat pereda mabuk dimeja depan mereka.
Perlakuan manis itu membuat Natalie mengangkat kepalanya. Bukannya merasa senang ia merasa ketakutan melihat David yang memberikannya perhatian.
"Saya akan meminumnya pak" Natalie menenggak habis obat itu tidak peduli fakta kalau ia belum sarapan. Terserah apa yang akan terjadi pada perutnya nanti, yang penting jangan buat pria dihadapannya itu marah.
"Tidak pahit?" Tanya David, entah mengapa mulutnya menjadi pahit melihat cara minum Natalie.
"Ini manis" Natalie tersenyum konyol menahan pahit di lidahnya.
"Apa aku melakukan hal yang aneh saat kau mengantarku di apartemen?"
"Hal aneh? An-anda ti-tidak melakukan apapun pak. Anda tidur begitu saja" suara Natalie semakin hilang dan kepalanya terus kebawah karena tatapan tajam David.
"Maafkan aku pak" David berdecih mendengar kalimat itu lagi.
"Aku tidak mendapatkan apapun. Kau pergilah" ucap David yang terlihat lelah.
"Pak maafkan aku... Jangan pecat aku.. Aku akan bekerja sangat giat dan ambil lembur" Natalie pikir David memecatnya.
"Diamlah Nat! Pergi keruangan mu dan tebus kesalahanmu dengan pekerja keras" ucap David sembari memegang kepalanya yang kembali pusing.
"Baik pak. Terimakasih pak! Saya akan bekerja keras. Terimakasih pak" Natalie tersenyum cerah dan bergegas meninggalkan ruangan David sebelum pria itu berubah pikiran.
.
David tercengang melihat Natalie yang langsung pergi begitu saja, perasaanya berubah menjadi buruk dan sangat buruk sampai pria itu melemparkan vas bunga yang ada dimeja sampai pecah berkeping-keping.
"Aku pasti sangat menakutinya sampai dia tidak mengatakan apapun" David merutuki dirinya sendiri yang telah membangun kesan menakutkan pada pegawainya.
.
.
Mendengar suara pecah membuat bulu kuduk Natalie bergidik, ia bahkan berlari agar menjauh dari ruangan pak bosnya itu.
Natalie sangat bersyukur ia bisa keluar hidup-hidup dari ruangan bosnya terlebih masih bisa disana.
"Oh Nat.... Kemarilah. Apa kau dipecat?" Tanya Jian dengan suara pelan agar tidak mengganggu pekerjaan orang lain.
"Sialan kau! Kau selalu mengatakan pecat-pecat. Pak David tidak memecatku tuh" ucapan Natalie sukses membuat semua orang menatapnya. Mereka semua penasaran dengan cerita Natalie.
"Meski beliau marah, beliau tidak memecatku. Mungkin karena pekerjaanku bagus, jadi meskipun dia sangat marah dia tidak bisa memecatku. Kau tahu... Setelah aku pergi beliau melampiaskan kemarahannya dengan melempar sesuatu. Beliau pasti sangat marah tidak bisa memecatku" Natalie tidak lupa juga menceritakan ketakutannya disana, minus cerita adegan gendong ya...
"Itu artinya kau harus terus bekerja dengan baik. Kau jadi budaknya selama bekerja disini. Tamat sudah riwayatmu Nat" ucap Jian disetujui semua orang disana. Sungguh membuat pandangan positif Natalie musnah.
"Benar... Itu artinya aku harus memeras tulang untuk menghasilkan keuntungan untuk perusahaan ini. Aku tamat" Natalie berjalan lemas menuju kursinya. Tapi ya sudahlah... Untuk sekarang lebih baik ketimbang dipecat.
.
.
"Nat... Dipanggil pak bos" ucap Eli membuat Natalie menatapnya takut.
"Selamat bekerja Nat" Ucap Eli sembari tersenyum senang.
Ini waktunya istirahat malah Natalie harus menemui David. Natalie menyesali dirinya melupakan sarapan. Ia menahan laparnya lebih lama. Selamat tinggal makan siang ku.
.
"Permisi pak. Anda memanggil saya?" Ucap Natalie sembari tatapannya fokus pada makanan yang tergeletak di meja tamu ruangan bosnya itu. Makanan yang membuat cacing diperutnya semakin berdemo.
"Duduklah disana" ucap David tanpa mengalihkan pandangannya dari kertas di mejanya.
Natalie mematuhi ucapan David untuk duduk di kursi tamu sembari menunggu pria itu selesai bekerja.
Sebenarnya Natalie sangat suka pemandangan dihadapannya, seorang pria tampan terlihat seksi saat sedang mengerjakan sesuatu terlebih saat memakai kacamata.
Sayangnya kesenangan matanya itu harus terganggu karena bau makanan yang sangat menggoda perutnya. Sudah lupa sarapan, ditambah ketakutan plus di berpikir keras untuk pekerjaannya... Perutku sangat lapar!!!!
"Ayo makan" Natalie langsung mengalihkan pandangannya kearah David yang melepas kacamatanya.
"Maaf pak?" Tanya Natalie yang tidak percaya dengan ucapan David. Maksudnya untuk apa Pak bos mengajak pegawai durhakanya untuk makan bersama? Apa dia-
"Ayo makan. Buka tutup makanannya" ucap David sembari duduk didepan Natalie.
Meski Natalie belum percaya sepenuhnya dengan ucapan David, tangannya dengan cekatan membuka tutup semua makanan. Ia juga menyodorkan satu bento ke arah David agar pria itu mudah mengambilnya.
David menghentikan suapannya saat memergoki Natalie sedang menatap makanannya tanpa menyentuh jatah milik gadis itu. Apa secepat ini?
"Mau makan ini?" Tanya David ragu. Ia tidak yakin dengan pikirannya.
"Apa? Ah... Tidak. Silahkan lanjutkan makannya pak. Saya akan menunggu" Natalie meringis karena ketahuan sedang ngeliatin bos nya makan. Salah bos nya sih ngajak ketemuan malah dianya makan, mana di jam makan siang lagi.
"Kenapa bento mu tidak dimakan? Tidak selera?" Natalie berbinar saat mendengar ucapan David.
"Benarkah saya boleh makan pak? Terimakasih pak" Natalie dengan cepat mengambil jatah makanannya dan memakannya dengan semangat.
"Pelan-pelan... Tidak akan aku minta" ucap David melihat data makan Natalie seperti kelaparan 1 tahun.
"Ah... Benar... Maaf pak" Natalie nyengir kemudian menyuapkan nasinya dengan wajar.
David melihat wanita itu makan dengan tatapan teduh. Ternyata dia ketakutan ya bukan karena itu?
"Kenapa tanganmu?" Tanya David melihat dua plester menempel di lengan kanan Natalie.
"Ah ini.... Aku sudah punya luka ini dari beberapa hari yang lalu. Hanya goresan saja pak" ucap Natalie sembari memberikan senyum kakunya. Ia sangat bersyukur otaknya bisa cepat bekerja... Efek makan sangat luar biasa.
"Benarkah? Aku tidak melihat itu kemarin" David menatap tajam Natalie mencari tahu sesuatu yang ditutupi wanita itu.
"Karena blazer yang aku pakai pak... Jadi tertutup" Natalie menatap kemanapun kecuali mata David. Sungguh tatapan pria itu selain membuat takut juga membuat kerja jantung sangat keras.
.
.
Natalie keluar dari ruang David dengan bingung. Pria itu tidak mintanya melakukan apapun, bahkan membuang sampah tempat makan juga membersihkan meja. Ia sangat tidak percaya tadi yang dilakukannya hanya makan.
"Apa ini jenis menyiksa orang yang baru?" Tanya Natalie yang sangat tidak percaya dengan sikap baik David.
"Apa maksudmu? Apa Pak David memintamu melakukan hal yang konyol untuk menebus kesalahanmu?" Tanya Marry si sekretaris yang membuat Natalie terkejut.
"Oh jantungku!! Kenapa kau disini Marry. Tidak makan siang?" Tanya Natalie yang melihat jam makan siang masih sisa 5 menit.
"Aku sengaja kembali lebih cepat karena Pak David masih di ruangan. Katakan apa yang beliau lakukan padamu? Siksaan apa yang dia berikan?" Tanya Marry dengan semangat membara membuat Natalie membalasnya dengan tatapan datar. Ternyata kelakuannya tadi malam sudah beredar ke seluruh kantor.
"Tidak ada seperti itu. Pak David hanya makan-"
"Ah... Dia sangat kejam. Pantas saja dia memintaku membelikan makanan. Dia pasti menyiksamu dengan makan di depanmu kan? Dia sangat pintar mencari siksaan... Apalagi selain melihat orang makan disaat kita sedang lapar, terlebih di jam makan siang. Kau pasti sangat menderita Nat" Marry menyampaikan imajinasi liarnya.
"Ya... Ya begitulah... Aku pergi dulu" Natalie membiarkan Marry berpikiran seperti itu, toh tidak mungkin mengatakan makan siang berdua dengan bosnya kan? Malah akan jadi gosip aneh nanti.
"Makan malam nanti kau harus makan banyak Nat!" Teriak Marry yang diangguki setuju oleh Natalie.
.
David keluar dari ruangan dikejutkan oleh suara keras Marry. Teriakan yang ditujukan untuk orang yang keluar dari ruangannya.
"Kau pikir ini hutan?!" Ucap David membuat Marry membungkuk membentuk postur maaf berkali-kali.
"Temui aku didalam" Marry menelan ludahnya kasar dan melangkah mengikuti David. Dalam hatinya ia merutuki Natalie.
"Berapa bulan setelah melakukan itu untuk sampai tau seseorang hamil?" Pertanyaan David membuat mata Marry melebar.
Otak Marry bekerja keras mencari tahu tentang pertanyaan David. Sebagai info... Marry masih single dan jomblo.
"Tidak mau menjawab?" Tanya David lagi karena Marry belum kunjung menjawab pertanyaannya.
"Sekitar 2 sampai 3 bulan. Biasanya si ibu akan merasakan hal aneh pada tubuhnya" Marry menjawab dengan percaya diri. Tinggal nomaden dirumah kakak-kakaknya sangat berguna untuk menjawab pertanyaan ini.
"Hal aneh seperti apa?" Marry menatap sekilas setelah mendengar pertanyaan David.
"Lemas dan muntah. Tidak enak badan... Tapi itu relatif daya tahan tubuh si ibu pak" David mengangguk paham dengan ucapan Marry.
"Apa bayi bisa langsung terbentuk hanya dengan sekali melakukan?" David menahan malu menanyakan itu.
Sedangkan Marry menahan keterkejutannya dengan sangat keras. Mana aku tahu?? Bahkan aku belum pernah melakukannya!!!!
"Aku rasa bisa pak" Marry tidak bisa menjawabnya lebih panjang. Meski tinggal dengan kakaknya informasi seperti itu tidak ia dapatkan. Tolong hentikan pak... Jangan siksa aku seperti ini!.
"Pergilah. Aku sudah selesai bertanya" Marry menghembuskan napas leganya dan pamit undur diri.
.
.
Natalie tidak sepenuhnya konsentrasi dengan pekerjaannya karena pembicaraan tentang luka dilengannya. Apa yang aku pikirkan... Harusnya bersyukur Pak David lupa, kalau ingat... Aku pasti sudah di emperan sekarang. Jangan dipikirkan Natalie.... Jangan berpikir hal yang gak penting.
"Nat... Jangan gila. Kau masih terlalu muda untuk itu. Setidaknya menikahlah dulu" ucap Heru yang melihat Natalie menggeleng sembari mengacak rambutnya.
"Apa Pak David menyiksamu?" Tanya Rani yang duduk disebelah Natalie.
"Dilihat dari bentukannya... Aku rasa beliau menyerang psikis mu Nat... Dia kan pinter banget kalau disuruh ngomong kejelekan orang" ucap Jian ikut mengobrol.
"Begitu? Apa serangannya membuatku terus memikirkan orang itu?" Tanya Natalie yang diangguki setuju oleh rekan kerjanya.
"Seperti itu. Dia akan terus menganggu mu bahkan sampai ke pikiranmu. Jadi kau tidak bisa tenang meski kau tidak didekatnya. Oh... Cara itu sangat kejam dan membuat stress" Jian memeluk tubuhnya sendiri karena merinding dengan apa yang ia ucapkan.
"Lanjutkan pekerjaan kalian! Apa kalian ingin dipecat? Cukup Natalie saja yang kehilangan akalnya" ucap Handoko membuat Natalie semakin terpuruk saja.
.
Natalie pulang telat karena menyelesaikan pekerjaannya. Ia keluar dari kantor saat matahari sudah kembali ke peraduannya.
"Apa yang kau lakukan disana sampai baru pulang?" Pertanyaan David membuat Natalie terkejut. Lebih tepatnya ia terkejut karena David masih di area kantor. Padahal salah satu tujuannya lembur agar tidak bertemu pria itu.
"Aku mengerjakan semua pekerjaanku pak. Jadi besok sudah bisa mengerjakan pekerjaan baru" Natalie tersenyum selebar mungkin dan berharap David segera memaafkannya.
"Kau melakukan hal yang tidak perlu. Masuklah... Aku akan mengantarmu pulang" Kalimat yang diucapkan David bukan permintaan melainkan perintah. Pria itu menarik tangan Natalie untuk masuk kedalam mobil.
"Kemana arah rumahmu?" Tanya David setelah mereka masuk dalam mobil.
"Lurus saja pak, nanti ada perempatan belok kanan" David mengangguk dan melajukan mobilnya.
Setelah percakapan itu tidak ada percakapan lain, mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Apa tidak ada yang ingin kau sampaikan padaku?" Tanya David membuat Natali mengalihkan pandangannya dari kuku jarinya.
"Maafkan aku pak" David mendengus mendengar ucapan Natalie itu. Dia bosan mendengarnya.
"Selain itu... Tidak ada yang ingin kau katakan?"
"Jangan pecat aku" jawaban Natalie membuat David menyerah bertanya. Wanita ini sangat takut aku pecat.
"Dimana rumahmu?" Tanya David setelah mobilnya belok di perempatan.
"Turunkan di depan minimarket saja pak" Natalie kembali menunduk karena David memberikan tatapannya.
"Aku harus membeli beberapa makanan" cicit Natalie karena merasa David belum menyudahi tatapannya. Apa dia tidak takut nabrak?!
"Turunlah" ucap David yang sudah menghentikan mobilnya didepan minimarket.
"Terimakasih sudah mengantar pak. Selamat malam" Natalie bergegas masuk kedalam minimarket.
Membuat pria itu mendengus kesal.
"Aku tidak membiarkanmu begitu saja Nat. Aku harus tahu dimana tempat tinggal mu, dengan begitu aku tidak sulit mencarimu saat kau hilang tiba-tiba" ucap David yang enggan meninggalkan minimarket. Ia malah menyamankan posisinya menunggu Natalie belanja.
.
Jantung Natalie hampir berhenti saat melihat mobil David masih terparkir di depan minimarket.
Natalie memejamkan matanya sembari berdoa agar pria itu tidak sadar dia menghindarinya. Ia melangkah perlahan menghindari mobil milik bosnya.
"Mau kemana Nat? Cepat masuk!" Natalie berdiri kaku saat mendengar ucapan David. Ia baru melangkah beberapa langkah menjauh dari mobil dan malah ketahuan.
"Ah... Itu... Aku ingin membelinya pak. Aku lapar... Hehehe" Natalie menunjuk kearah penjual burger didekat minimarket. Maafkan aku membohongi mu pak. Aku tidak bisa terus bersamamu!!
"Masuklah Nat. Jangan membuatku menunggu" Natalie mengangguk lemas. Alasannya tidak membuahkan hasil apapun.
"Jangan lagi makan seperti itu terlebih dipinggir jalan. Kalau lapar banget harusnya beli roti" Natalie tercengang mendengar kalimat panjang David. Entah mengapa Omelan itu sangat hangat di telinga Natalie. Wajah tampan dan perhatian.... Maukah jadi suamiku pak?
Natalie menggeleng heboh mengusir imajinasi liar yang bersarang di otaknya.
"Tidak ada penolakan Nat. Kau dilarang makan dipinggir jalan mulai sekarang" Natalie hanya bisa mengangguk mendengar ucapan David, tentu saja ia tidak akan mengatakan alasan menggelengkan kepalanya.
"Dilantai berapa tempatmu?" Tanya David saat melihat gedung menjulang tinggi itu. Tempat yang terlihat sedikit kumuh dan ia yakini tempat tinggal Natalie sempit.
"Di lantai 10 pak. Tidak perlu mengantar sampai kesana pak. Silahkan anda pulang"
"Aku memang tidak mau mengantar kesana. Jangan sampai telat berangkat" Natalie meringis mendengar jawaban David. Ia harus menahan malu karena ucapan anehnya.
.
.
Natalie POV
.
Aku letakkan semua belanjaan ku ke tempatnya. Aku juga bergegas masak karena aku sangat kelaparan... Berpikir saja sudah sangat menguras tenaga terlebih memikirkan perlakuan Pak David.
Balas dendam macam apa yang Pak David lakukan padaku? Kenapa dia malah menempel padaku?
Kalau mengingat ucapan Marry yang cerita betapa mengerikan Pak David karena menanyakan hal aneh pada wanita yang bahkan belum pernah melakukannya, aku rasa benar ucapan Jian.... Pria jahat itu pasti mengincar psikis ku. Dia akan membuatku stress dan mengundurkan diri secara sukarela. Pasti itu tujuannya... Dasar pria jahat!
Tapi bagaimana caraku menanggapinya? Jika seperti ini terus aku pasti akan gila dalam jangka waktu dekat. Pak David sungguh membuat jantungku tidak sehat.
Berdiri diam saja sudah membuat jantungku berdetak kencang apalagi melakukan hal seperti tadi... Mengajak makan siang dan memarahiku.... Oh... Aku pasti akan gila jatuh ke pesonanya...
Auh.... Aku malah menyentuh panci panas karena heboh memikirkan Pak David. Kali ini aku memasak sup telur yang sangat mudah... Untung saja aku punya nasi yang tadi pagi tidak bisa aku makan.
Apa Pak David sedang makan malam sekarang? Apa yang dia makan... Karena cuaca sepertinya mau hujan, apa dia makan sesuatu yang sangat juga?
Yak Natalie Anastasya!!!!! Apa yang kau pikirkan!!!!!! Kau sungguh sudah terperangkap ke rencana Pak David! Pria jahat itu pasti tertawa puas jika tau ini.
Sudah selesai.... Ayo mandi dan lupakan kejadian hari ini. Kamu sudah cukup menderita Natasya.... Berhenti memikirkan apapun dan nikmati kehidupanmu.... Jangan pikirkan apapun termasuk David sialan itu!
.
.
Author POV
.
Natalie berangkat awal. Ia juga membawa bekal seperti biasa, dia semakin menipiskan uang pengeluarannya.
"Wah... Sepertinya kau sudah baik-baik saja, padahal aku kira kau semakin terpuruk. Untuk menghiburmu aku sudah mengatur jadwal kencan dengan orang-orang bank. Aku punya teman disana yang bisa aku mintai tolong" ucap Jian bersemangat. Sepertinya acara itu untuk menyenangkan dirinya sendiri bukan Natalie.
"Aku tidak mau. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyentuh alkohol" Natalie tidak ingin kejadian memalukan lain terjadi karena ia mabuk.
"Aku juga tidak ingin kau merusaknya, maka kita akan pergi ke restoran biasa hanya untuk makan malam bukan untuk mabuk. Ayolah ikut saja... Semakin banyak orang semakin rame" Natalie pun mengangguk setuju, itung-itung menghibur diri.
.
Natalie membuka bekalnya setelah semua rekan kerjanya pergi untuk makan siang. Anggap saja ia melakukannya karena pelit, bekalnya sedikit jadi ia enggan bagi-bagi.
"Pergi ke ruangan-"
.
Uhuk
.
Natalie tersedak melihat David tiba-tiba muncul dan memberikan perintah.
"Ah... Maaf" David merasa tidak enak membuat Natalie tersedak, terlihat sangat sakit.
Mendengar ucapan maaf David membuat Natalie terpaku. Permintaan maaf juga wajah panik pria itu sungguh membuat jantung Natalie berdetak kencang.
"Minumlah lagi Nat" Ucapan David berhasil menarik Natalie dari lamunannya.
"Apa yang membuat anda kesini pak?" Tanya Natalie setelah mengusap bibirnya. Takut ada makanan di mulutnya.
"Setelah makan ke ruangan ku"
"Aku bisa kesana sekarang pak" Natalie menutup tempat makannya, ia tidak ingin membuat pria itu menunggu. Bisa-bisa dia nanti malah melakukan hal yang aneh lagi... Aku harus baik-baik padanya.
"Habiskan makananmu Nat. Temui aku setelah kau menghabiskan makanan itu" Natalie mengangguk dan membiarkan David pergi. seperti biasa... Perintah yang terdengar tidak bisa dibantah.
.
"Kenapa kau masih disini Marry?" Tanya Natalie yang melihat Marry berada di mejanya.
"Pak David memintaku membelikan sesuatu. Aku jadi meninggalkan makan siang ku" keluh Marry yang membuat Natalie prihatin.
"Aku harus bergegas menemui bos" Marry mengangguk dan menyuruhku masuk.
.
"Maaf mengganggu pak" Ucap Natalie selembut mungkin agar tidak mengagetkan David yang sedang mengupas apel.
"Kau sudah menghabiskan bekalmu?" Tanya David tanpa melihat kearah Natalie. Ia sedang berkonsentrasi mengupas apel yang jarang ia lakukan.
"Sudah pak. Sini biar saya bantu mengupas apelnya pak" Natalie berinisiatif mengambil alih pekerjaan pria itu karena David terlihat kesusahan.
"Tidak usah. Aku bisa lakukan sendiri. Pergilah ambil tempat makan mu dan cucilah. Bawa tempat makan itu kesini" Natalie hanya bisa mengangguk menuruti perintah aneh David. Untuk apa membawa tempat makannya?
.
"Saya sudah mencucinya. Ini untuk apa pak?" Natalie kembali dengan membawa tempat makannya seperti perintah David. Bahkan ia mencucinya dengan sangat bersih.
"Letakkan disana dan tunggulah aku mengupas- Ah" David refleks membuang pisaunya saat pisau itu mengenai jarinya.
"Oh pak..." Natalie menarik tangan David dan memasukkannya kedalam mulutnya. Ia refleks melakukan itu karena hal biasa ia lakukan.
"Ah... Maafkan aku pak. Harusnya dicuci. Dimana anda meletakan kotak obat?" Natalie mencoba mengabaikan rasa malunya. Padahal ia sangat malu dengan kelakuannya itu.
David tidak mengatakan apapun, ia hanya menunjuk letak kotak obatnya. Jantungnya berdetak cepat karena kelakuan pegawainya itu.
"Sudah selesai. Biar saya yang melanjutkan mengupas apelnya" Natalie mencoba mengambil apel dan pisau setelah memakaikan perban di jari David.
"Tidak usah. Sangat bahaya. Tidak usah makan apel... Makan anggur saja" David mengambil buah anggur dan memberikannya ke Natalie.
"Makan ini saja. Apel sangat bahaya" David meletakkan apel dan pisau jauh dari jangkauan Natalie.
"Eh... Apelnya tidak bahaya. Karena anda tidak terbiasa makanya terluka. Aku sudah biasa mengupas apel jadi akan baik-baik saja" dengan susah payah Natalie meraih apel dan pisau itu.
"Ini tidak akan lama. Silahkan dimakan dulu anggurnya" ucap Natalie sembari tersenyum manis.
David memasukkan satu anggur ke mulutnya, sisanya ia meletakkannya kedalam wadah yang dibawa Natalie satu persatu. Memastikan tangkainya tidak ikut masuk.
"Sudah selesai pak. Silahkan" Natalie menyodorkan apel yang sudah ia kupas dan potong kecil-kecil.
"Ini enak" ucap David setelah menguyah apel itu.
Selanjutnya David menuangkan potongan apel itu ke wadah yang dibawa Natalie.
"Kenapa dimasukkan disana pak?" Tanya Natalie yang baru melihat kotak makannya penuh dengan anggur dan kini ada apel disana.
"Untukmu. Makanlah sambil kerja. Jangan diberikan ke yang lain. Makanlah sendiri" ucap David sembari memasangkan tutup tempat makan itu.
"Pergilah. Jam makan siang sudah selesai. Jangan buang waktumu hanya untuk melamun" Kesadaran Natalie kembali saat mendengar ucapan David. Ia bergegas pergi sampai lupa mengucapkan terimakasih.
"Apa dia tidak suka buah-buahan?" Tanya David saat melihat Natalie pergi begitu saja.
.
"Ini sangat aneh Marry. Pak bos memberiku buah-buahan" ucap Natalie seperti murid yang melapor pada gurunya.
"What??? Apa yang ia minta kau lakukan pada buah-buahan ini?" Tanya Marry melihat buah itu dengan seksama. Buah yang ia beli sampai mengorbankan diri menahan lapar.
"Ini yang sangat aneh. Dia memintaku memakannya" Marry menatap Natalie horor. Imajinasi liarnya mulai lagi.
"Pergilah... Bawa buah-buahan ini bersamamu. Semoga kau selamat kalau mati jangan hantui aku... Aku cuma diberi tugas untuk membelinya bukan memasukkan racun ke dalamnya" ucapan Marry membuat Natalie menatap horor kotak makannya. Padahal tadinya Natalie pikir David sedang berbaik hati padanya.
"Sudah pergi sana... Aku tidak ingin dapat masalah karena bicara denganmu" ucap Marry dan mendapatkan tatapan datar Natalie.
.
.
David sengaja keluar dari ruangannya agak telat karena berpikir Natalie akan lembur lagi, tapi saat pria itu mencari Natalie malah wanita itu sudah tidak ada.
"Anda mencari Natalie pak?" Tanya Marry yang terpaksa pulang telat karena bosnya itu.
"Tidak. Silahkan pulang" Marry mengangguk dan pamit untuk pulang.
"Eh Nat... Tentu saja aku datang, ini aku dalam perjalanan. Aku akan segera kesana. Jangan goda semua prianya ya.. sisakan beberapa untukku" ucap Marry pada orang yang menelponnya. Ia tidak sadar kalau dibelakangnya ada David.
.
.
David berdecak kesal melihat pemandangan didepannya, ia melihat Natalie duduk ditengah pria sembari tertawa riang.
"Natalie Anastasya! Temui saya sekarang!" Teriak David
"Ya pak!" Refleks Natalie langsung berdiri dan menghadap kearah sumber suara.
Natalie langsung menunduk saat melihat ada kilatan kesal di mata David. Mampus aku!
.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Natalie duduk disamping David dan sibuk menunduk. Aku merasa bersalah, tapi aku tidak tahu salahku apa.
"Kau tahu salahmu apa?" Pertanyaan David membuat Natalie menegang.
"Tidak- ah... Karena aku tidak lembur? Apapun itu maafkan aku pak" Natalie masih setia menatap kuku tangannya.
"Kau membuatku marah karena tersenyum bersama mereka"
"Eh?"
"Disaat aku mencoba mencintaimu, kau malah bersikap kurang ajar"
"Ehhhhhh?!"
"Anu- ah... Maksud anda apa pak? Untuk apa mencintai ku?"
"Aku akan bertanggung jawab untuk malam di apartemen waktu itu"
"What?!?! Anda pikir kita melakukan apa disana?! Kita tidak melakukan apapun yang harus dipertanggung jawabkan pak!" Natalie tak habis pikir dengan pikiran David mengenai waktu itu.
"Tidak perlu mengelak. Dari bukti di kamarku, ada kancing bajumu, ada blazer mu juga ada bercak darah di seprai ku. Aku tahu aku telah melakukan hal yang salah padamu" Natalie membelalakkan matanya karena terkejut mendengar ucapan David. Untung saja bukan wanita itu yang menyetir, kalau iya mereka akan mati karena Natalie terbujur kaku bahkan lupa bernapas.
"Bernapas lah Nat. Maafkan aku. Aku akan mempertanggungjawabkan kelakuanku" ucap David tenang, ia sangat pintar mengontrol emosinya. Buktinya mobil yang mereka tumpangi masih jalan dengan kecepatan stabil.
"Berarti selama ini kelakuan aneh Pak David- anda salah paham pak! Tidak ada sesuatu seperti yang dipikirkan anda pada malam itu. Aku mengantar anda pulang dan sesampai dikamar anda memang menyerang tapi karena anda kesal dengan ucapan ku saat di acara makan malam. Saat hendak pergi anda menarikku hingga aku lepaskan blazer, anda terus berteriak mengancam akan memecat ku dan mencengkram lengan ku setelah itu anda pingsan. Karena aku sadar kesalahan jadi aku membantu Anda tidur diatas kasur dengan nyaman. Darah itu darah dari lengan saya karena anda menancapkan kuku terlalu dalam" Natalie menjelaskannya secara detail.
"Kita tidak melakukan hal itu?" Ucap David terkejut dengan cerita Natalie, matanya melirik kearah plester yang yang ada di lengan wanita itu. Kini David sudah menghentikan mobilnya.
"Tidak pak. Tidak ada hal seperti itu"
"Keluarlah. Kita sudah sampai" Natalie menengok kearah luar jendela melihat gedung tempat tinggalnya.
"Maaf membuat anda kecewa. Berkendaralah hati-hati" ucap Natalie sambil menatap kearah David yang memperlihatkan ekspresi datarnya. Dia kecewa karena kita tidak melakukan itu?
.
.
Natalie POV
.
Aku memasuki rumah dan seperti biasa memasak karena acara kencan tadi aku tidak banyak makan jadi sekarang aku lapar. Terlebih kejadian barusan yang entah mengapa membuatku senang juga kecewa.
Senang mendengarnya mencoba jatuh cinta padaku dan kecewa karena itu hanya wujud pertanggungjawaban.
Natalie... Apa yang kamu pikirkan?!?! Tentu saja bakal seperti itu... Tidak mungkin Pak David akan jatuh cinta padamu hanya dengan melihat dirimu... Tidak ada hal yang menarik dariku.
Padahal aku pikir dia membalas rasaku.
.
.
Author POV
.
Setelah hari itu semua berjalan seperti biasa, David kembali ke semula yang hanya memanggil Natalie mengenai pekerjaan. Kelakuan itu membuat Natalie sedih, dia merasa ada yang kurang.
"Nat!" Natalie langsung berdiri refleks saat ada orang yang berteriak menyebut namanya.
"Ini bukan hutan Rose!" Meski dengan ekspresi kesal, Natalie tetap memeluk senang teman SMA nya itu.
"Kau tahu kenapa aku kesini kan? Tidak ada alasan untuk tidak datang. Kau harus datang membawa pacarmu Nat. Jangan protes apapun, kau cukup datang membawa pria. Semua orang sangat penasaran denganmu dan pacarmu" ucap Rose sembari memberikan undangan reunian sekolahnya.
"Aku tidak punya pacar Rose! Dimana aku mendapatkan nya kalau acaranya lusa. Aku tidak akan datang" tolak Natalie setelah melihat tanggal acara.
"Siapa yang kau coba bohongi Nat! Mana ada yang menolak dirimu sekarang... Kau sekarang cantik dan memiliki pekerjaan. Aku yakin kau memilikinya. Jangan sembunyikan dia... Perlihatkan pria itu pada teman-teman kita. Tunjukkan dirimu yang sekarang Nat" Natalie menatap datar Rose yang berpikiran terlalu positif mengenai dirinya.
"Aku tidak akan datang Rose. Itu hanya akan membuatku malu" Natalie menolaknya sekali lagi.
"Datang atau aku akan membencimu. Aku sudah sesumbar ke teman-teman akan membuatmu datang tahun ini bersama pacarmu. Kau harus datang. Wajib!" Ucap Rose menatap Natalie lekat dengan dua tangan menangkup tanda memohon.
"Apa yang kau katakan pada mereka Rose?! Ah... Terserah... Aku akan datang tapi seorang diri. Jangan mengharapkan lebih. Sulit menyewa orang kalau dadakan seperti ini" ucap Natalie lemas.
"Sewa saja teman kantormu. Mereka pasti keren... Bawalah siapapun Nat... Kau bertanggungjawab atas diriku di reunian nanti"
.
.
Natalie seharian galau... Dia tidak mendapatkan pasangan untuk acara reunian nanti malam. Semua rekan kerjanya menolak dirinya.
"Lagian temanmu itu jahat sekali. Apa dia tidak tahu temannya itu meski berubah cantik tapi tetap saja jomblo?" Natalie menatap tajam Jian yang ucapannya sangat benar.
"Semua temanku sama saja" niat Natalie menyindir malah mendapatkan anggukan setuju dari Jian.
"Ajak saja Pak David. Kau kan sangat berani" ucap Heru menyindir.
"Kau ingin mati ditangan ku?!?" Natalie memberikan genggaman tangan yang malah mendapatkan tawa dari Heru.
"Kau kan jomblo Her... Kenapa tidak bantu saja Nat... Sekalian cuci mata" ide Jian membuat Natalie menatap Heru memohon.
"Jangan memberi ide konyol Jian! Aku tidak mau menghabiskan malam ku dengannya. Lebih baik aku menaikkan level game ku" mata memohon Natalie berubah menjadi mata tajam.
"Iya sih... Tapi kan kasian" ucap Jian yang membuat Natalie menatapnya. Iya sih? Apa aku tidak semenarik itu?
"Sudahlah... Kalian hanya membuatku insecure saja. Tidak usah dibahas lagi. Aku akan pergi sendiri" Ucap Natalie yang kesal dengan teman-temannya.
.
"Pergilah ajak Pak Ujang saja. Dia pasti mau kalau makan gratis" ucap Marry saat dia dan Natalie sedang mengantri lift untuk pulang.
"Kau ingin menghinaku Marry?!" Marry tersenyum mendengar ucapan Natalie.
"Apa salahnya dengan Pak Ujang... Kalau dia pakai jas lumayan" Marry terkekeh sendiri karena ucapannya.
"Bukannya aku menghina Pak Ujang... Dia sibuk menjaga gedung ini. Lagian terlalu tua untuk jadi pacarku... Malah bisa-bisa dikira aku cewek matre menyuka om-om" ucapan Natalie sukses membuat Marry tertawa.
"Jangan banyak ngobrol. Kalian menghalangi jalan" Natalie dan Marry refleks memisah saat mendengar suara bosnya.
"Apa pak David daritadi dibelakang kita?" Tanya Natalie tanpa suara, sedangkan Marry mengangkat bahu menunjukan ketidaktahuannya.
"Kalian tidak masuk?" Sekali lagi suara David membuat dua wanita itu terdiam.
"Ah.. silahkan anda duluan pak" Natalie mempersilahkan pria itu menutup lift.
"Masuklah" Ucapan David sukses membuat dua wanita itu menurutinya.
.
.
Natalie sengaja berdandan cantik untuk menutupi kekecewaan teman-temannya karena datang seorang diri.
"Bukankah itu mobil Pak David?" Natalie terkejut melihat mobil pria itu terparkir di halaman gedung tempat tinggalnya.
.
Tok tok
.
David membuka jendela yang diketuk Natalie.
"Apa yang anda lakukan disini pak?" Tanya Natalie tapi yang tanya malah keluar dari mobil dengan setelan jas mewah yang membuat pria itu lebih tampan dari biasanya.
"Meminta pertanggungjawaban mu" ucap David berdiri didepan Natalie.
"Eh?"
"Kau berhasil membuatku jatuh cinta. Kau harus bertanggungjawab"
"Eh?"
"Ah... Maksudku.... Kau yakin mencintaiku?" Natalie sedikit tidak mempercayainya.
"Kalau kau menolak, pergilah sendiri ke pesta reunian" David kesal karena Natalie tidak menjawabnya. Ia lebih kesal karena diragukan.
"Ah... Bukan begitu... Kau memang pemarah bos. Aku juga mencintaimu" Natalie meraih tangan David dan memeluk pria itu dari belakang. Ia sangat senang cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Lepaskan. Kalau begini mungkin aku akan membawamu ketempat lain bukannya ke reunian"
"Jangan.... Aku ingin pamer pacarku pada mereka" ucap Natalie tersenyum cerah.
.
.
Tamat
.
.
Good bye 2020
Tahun yang cukup menyulitkan bagi kita semua.
.
Setelah setahun melakukan pemulihan, sehat-sehat bumiku.
Ayo lakukan yang terbaik untuk tahun depan 🎉🎉
Happy New Year 2021