[Jangan buat aku merengek hanya karena meminta senyum dirimu!] Chat pertama yang aku dapatkan darinya pagi itu.
Dia bernama Yugi Veralga, seorang pemuda berambut gondrong, perawakan yang standar, dan wajah yang sederhana saja. Tapi sialnya setiap ucapan binalnya mampu membiatku menelan saliva meski tanpa harus bicara.
[Kanaya, aku akan terlihat gila jika seperti ini. Jika senyum manis mu saja tak boleh aku lihat. Bagai mana aku tau jika kau pun suka dengan pertemanan ini?] itu chat kedua setelah beberapa kali aku riject permintaannya.
Dia menginginkanku untuk melakukan panggilan vidio hanya untuk melihat senyumku malam ini. Namun beberapa kali aku tolak, dengan alasan yang ia anggap hanya sebatas alibi saja. Ck, hatiku yang kurang ajar ini mulai berusaha meronta. Beberapa chat yang aku abaikan setelah ia menyatakan hal gila siang kemarin di tempat aku dengannya bekerja, aku berpikir mungkin sudah saatnya aku untuk lebih memproteksi diri darinya. Dia yang binal, dia yang menggemaskan, oh... mau sampai kalan aku seperti ini? Setiap rayuannya laksana tengah menggelitik hatiku. Dan mau tidak mau, akupun serasa bergeliat gelora jiwaku.
[Aku takut tak mampu untuk mengontrol perasaanku!] tulisan itu langsung aku kirim tanpa aba-aba.
Hari ini aku memang tak berniat untuk masuk kerja dengan alasan kurang enak badan. Yang pada hakikatnya hatikulah yang mengalami ketidak nyamanan. Aku takut mencintainya, aku takut akan ada hati yang tersakiti antara pasanganku, dan juga pasangannya. Ya, dia telah beranak, juga telah beristri. Dan akupun telah memiliki kehidupanku sendiri. Aku memang mulai tertarik padanya akhir-akhir ini, namun akupun bukanlah orang gila yang lebih memilih mengorbankan keluarga hanya demi egoki sendiri. Yang aku sendiri tak tahu, apakah ia akan lebih baik dari suamiku yang telah terbukti mampu menerimaku apa adanya.
Beberapa kali ia melakukan panggilan vidio dan mulai membuat suamiku risi mendengarnya. Namun aku mencoba untuk biasa saja.
"Angkat lah Bun... itu suara panggilannya berisik banget." Suamiku yang seorang karyawan biasapun sudah mulai bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
"Tidak, Yah. Itu tidak penting. Lagi pula hari ini Mami ada cuti."
"Lho, kenapa? Bunda sakit?" sambil meletakan pungungg jemarinya di keningku, membuatku semakin merasa bersalah.
"Tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak badan. Nanti siang juga sembuh lagi."
"Lekaslah minum obat."
"Iya sayang..."
"Ayah berangkat dulu ya..." sambil mencium keningku.
"Yeah..." lirihku.
Aku mengantarkan suamiku sampai ia menaiki mobil kesayangannya menuju tempatnya bekerja. Ku tatap kereta rida empat itu sampai benar-benar lenyap dari pandangan. Setelah aku yakin bahwa hanya ada aku dan anakku yang masih terlelap di rumah, segera ku berlari menuju anak tangga untuk memasuki kamarku. Ku raih kembali benda hologram pipih itu, segera menuju sidik jari untuk membuka paswordnya. Masih tampak dia yang kembali memberondolku dengan beberapa chat menggemaskan dan menggelitik seluruh hasrat yang sedari tadi meronta.
[Hhhaaa jangn terlalu bocah .... Bukankah kamu orang yang pintar mengatur perasaan? Semalam kau bilang bgitu, Bagaimana sekarang kau bisa berkata takut gak bisa control?]
Aku mengerutkan dahi. Karena yang aku sadar sejak semalam tak pernah ada percakapan apapun dengannya. Baik itu lewat tellon, ataupun lewat chat. Tampak di layar hologramku dia melakukan beberapa panggilan yang memang sejak awal tak pernah aku angkat. Hingga untuk penaggilan yang entah keberapa kalinya, aku memberanikan diri untuk mengangkatnya.
Yugi memamerkan jejeran gigi putih tertata rapih pada layar ponselku yang terdapat bayangannya bergerak seenaknya.
"Aku mau kau tersenyum pagi ini untukku." Lancang sekali ia berbicara, yang justru membuatku semakin gemas padanya. Ah, sialan sekali hatiku ini. "Terserah kau mau berpikir tentangku apa, yang pasti di bagian terdekat tulang rusukku ada yang dijatuhkan Tuhan tanpa dosis dan takaran. Tak tahu ini rindu atau cinta. Yang pasti, mengeja namamu aku tersenyum." Dengan segala kebinalannya ia tersenyum simpul sok manis.
Aku mencibi lalu membalasnya, "laksana tengah berhadapan dengan seorang pemuda yang meminta keikhlasan tubuhku." Mataku berembun.
"Tubuh?" ia mengernyitkan dahi, "apa basahaku trlalu fullguard?"
Aku menunduk, menutup mataku rapat-rapat untuk tidak memerhatikan wajah yang mulai menggelitik perasaanku itu.
"Ucapku jahat, otakku lemh, etikaku kurang.
Tapi maaf htiku belum pernah berpikir seburuk itu."
Yang aku tahu jika seseorang berkata belum, maka akan ada saatnya ia melakukan apa yang dianggap belum ia lakukan.
"Seorang istri yang melayani orang lain, itu bukanlah orang yang baik. Apa lagi orang itu suami orang lain pula. Aku bukan org yg baik, aku minta maaf, karena tak bisa memenuhi keinginanmu." Memang harus dari awal aku jangan pernah memberikan kepastian, meski hati meronta menginginkannya.
"Itu bukan inginku, hanya saja angkuhku yg terucap."
Perasaanku meronta, menginginkanmu, meski ku tahu ini salah. Tapi aku tidak bisa.
Aku masih memiliki hati lain dan sebuah kepercayaan yang harus aku jaga___benakku.
"Dibuat tak berotak kehadiranmu." Yugi meremas rambut gondrong tak beraturan. Wajahnya yang tengil, sukses membuatku ingin memeluknya jika saja keegoisan atas dasar keserakahan itu menguasai otak normalku.
"Memang sulit seekor serigala menginginkan senyum dari seekor domba." Dia mulai merajuk karena aku tak kunjung tersenyum untuknya. "Mungkin ibaratnya sperti itu. Menerkam sang domba sama saja mlukai sang gembala. Aku ingin bertemu denganmu. Banyak hal yang akan kuceritakn untukmu.
Tentang tawa, tentang canda, atau sedikit ajaan kata rindu, tapi tidak tentang rasa."
"Ketika kau katakan rindu, ketika itu pula rasa mulai timbul." Sialnya lidahku tak mau berkompromi dengan otak sehatku.
"Hahahaa, hatimu lemahhh...!" raungnya. "Berhadapan dengan buaya macamku saja sudah bgitu." Ia tersenyum kecut mengejek kemunafikanku.
"Kelemahan hatiku kau tertawakan. Puaslah kau!" makiku
"I love you... Kanaya..." lirihnya, membuat pemberontakan hatiku semakin menyeruak.
"Owh.... Aku menekan perasaan.... Haha.." aku menertawakan diriku sendiri.
"Katakan saja yang kau rasa," lirihnya menatap sendu.
Tatapannya terbalaskan tatkala aku berbalik menatapnya pula. Oh, Kanaya... kenapa kau begitu rapuh? Kau yang semula tak pernah goyah sedikitpun, meski ombak tak henti menghantam karang, kau tetap kokoh tegak berdiri. Dan kini, kau tak ada bedanya dengan segundukan pasir pantai yang disiram air laut. Kau lemah Kanaya! Hatiku terus memaki akan kebodohanku.
Sesaat aku menahan nafas, hingga hembusan itu terbuang seiring dengan mataku terbuka lebar. "Aku tak layak untuk memiliki perasaan apapun terhadapmu, meski pada kenyataannya sulit dipungkiri."
"Love you." Dua kata itu sukses membuat mataku berkaca-kaca.
"Biarkan aku tetap menyimpan semua tentangmu, meski hanya dalam angan semata."
"Buang lempar dan lpakan!" matanya melotot garang. "Lebih baik terbuang dengan hormat daripada tak diperhatikan dengan cermat!"
Hening. Aku terdiam untuk beberapa lama. Lidahku kelu hanya untuk sekedar menjawab semua yang ia katakan, meski hanya satu kata saja.
"Ada yang meronta tepat di bagian dada kiriku..." ia menekan dadanya sambil memejamkan mata. Tampak Yugi bernafas berat, hingga hembusan itu terdengar memenuhi rongga telingaku."
"Keluarkan aja, biarkan dia pergi, kemanapun dia mau." Aku serasa tak berani lagi untuk menatap bola matanya yang bulat berwarna hitam kecoklatan.
"Jangan," suaranya terdengar parau. "Aku tak mau dia salah, lalu memberontak pada hati yang tak perduli."
"Love you to..." akhirnya pertahananku lenyap sudah, seiring dengan luruhnya air mataku.
"Meski aku sebenarnya tak berniat untuk membuatmu berpikr seprsti itu." Sungguh jawaban yang sangat kurang ajar yang aku dengar dari mulutnya. "Berpuisi tentang hasratku, meronta ingin memeluk, mendesah di balik tembok tua, tentangmu, tentang segala erang yang ingin ku bisikan di telingamu."
Oh... aku benar-benar tak sanggup mendengar apa yang ia lontarkan dari mulut nakalnya.
"Kuharap, helai rambutmu tak menghalangi khusukku."
Sadar Kanaya, sadar! Ia hanya ingin merayumu saja!___benakku dongkol.
"Kadang otak jahat ingn mlihat kau menari erotis di hadapanku. Bergerak pelan menggerayangi lekuk seksualmu di bawah bias lampu yg samar."
Aku menggelengkan kepalaku dalam posisi terlungkup di atas tempat tidur, sambil menatap layar hologramku.
"Mungkin puisi antologiku lebih menggila jika ispirasinya dari tubuhmu." Ia tersenyum penuh kemenangan setelah melihatku bernafas berat dan berubah posisi menjadi terlentang.
"Kamu itu jelek, binal, tapi justru hal kecil itu yang membuatku tak mampu menghapus samua tentangmu dari benakku." Aku menekan kembali merasaan yang terus meronta. Ku seka air mata yang menggambarkan kecengenganku, yang membuatku serasa jatuh harga diri yang selama ini aku jaga.
"Jalani tanpa harus mengelak."
Aku menggeleng, "tidak, Yugi. Ada hati yang harus benar-benar kita jaga. Kau cintailah istrimu sepenuh hatimu, dan aku akan kembali pada suamiku. Perasaan kita cukup sampai di sini, aku serasa telah jalang dengan cara berkhianat seperti ini. Aku bukan orang baik, tapi aku ingin menjadi wanita baik-baik, istri yang benar-benar baik."
"Kanaya..."
"Maafkan aku."
Ku tutup percakapan via virtual yang sukses membuat jiwa bergejolak. Tanpa sadar, suamiku sudah bersandar pada ambang pintu kamar, menyilang tangan pada perutnya sambil menatapku lekat.
"Are you oke, honey?" tanyanya. Dia bahkan tak terlihat marah sedikitpun.
"Fine, very well.." Kuraih pundak kekar suamiku, kusandarkan kepala di dananya, merasakan detak jantungnya begitu tenang.
~TAMAT~