Adhy sedang duduk di sebuah kelas yang sepi. Karena dia mahasiswa baru di universitas A jadi belum memiliki teman seorangpun.
Saat itu kelas sangat sepi. Sepinya seperti sedang berada di area pekuburan.
Adhy seorang diri dengan dagu ditopang, membaca sebuah novel di Noveltoon.
"Hei pria kesepian, marilah datang kepadaku. Aku akan membuat hari-harimu penuh kejutan!"
Sebuah suara. Entah suara siapa itu. Adhy memandangi ruangan kelas. Tak ada siapa-siapa.
Dia kembali membaca tanpa peduli.
"Ayolah dan kau akan menjadi sahabatku!"
Adhy kembali terusik. Kemudian dia berdiri, "Siapa pun kau berhentilah menggangguku!"
Adhy malah berteriak-teriak mirip orang gila. Seorang temannya masuk kelas, menatap dia sejenak lalu geleng kepala. "Dasar gila!"
"Adhy! Ayolah datang kemari, di sini ada pesta kecil-kecilan!"
Suara itu lagi.
Pesta kecil-kecilan?? Adhy mulai tertarik. Sepertinya dia pernah bermain JAILANGKUNG dulu saat ia bersama tiga kawan indigo. Entah mereka ada di mana, apa sudah mati atau belum, Adhy tidak pernah lagi mendengar kabar tiga kawannya itu.
"Adhy! Sini!"
Suata itu semakin meracau. Adhy melempar bukunya, tepat mengenai kepala dosen bot*k yang baru saja masuk. Dia berdiri memandang Adhy dengan tatapan horor.
"Adhy! Sini kamu!"
Dosen itu sekarang memanggilnya.
Mampuslah dia!
Adhy berdiri, lalu mendekati dosen dengan jengah.
"Ya pak-,"
PLAK! Muka Adhy ditampar.
"Kau mau cari muka, ya bukan di sini tempatnya! Keluar!" usir si dosen killer yang bingar. Dia mengusap kepalanya. Adhy terus memandangi kepala dosen itu.
"Kalau masuk kelas pakailah topi untuk pelindung kepala."
Entah kenapa Adhy memiliki keberanian berucap seperti itu.
Adhy pun keluar. Sementara dosen itu berucap kalimat tidak jelas memaki-makinya.
"Adhy, kalau bosan keluarlah dari tempat manusia! Datanglah kemari, kami menyambutmu dan akan memperlakukan kamu sebagai raja kami!"
Ha, suara itu lagi. Huh.
Adhy tidak menggubris, tetapi secara tiba-tiba, sesuatu seperti kabut dan asap hitam menghalangi pandangan matanya. Langkah kakinya terhenti. Ia mundur beberapa langkah, dan ... !!
"AAAAAAAH!"
Adhy terjatuh. Sesuatu mendorong dia dengan hebat. Menarik tubuhnya dan menjatuhkan dia dengan kecepatan yang diluar akal sehat.
Adhy terjatuh ke ruang waktu. Sebuah dimensi tak kasat mata berwarna kebiruan. Bersinar seperti spiral. Bergerak-gerak seperti seekor cacing raksasa. Melahap tubuh Adhy!
AAAAAHHHH!
Adhy jatuh dengan tubuh tertancap di dalam tanah berlumpur.
"Aikh bau banget!" Dia mengeluh, sambil memaksa diri keluar dari situ, akan tetapi sangat sukar, ia malah tidak bisa bergerak. Semua benda lengket dan menempel di tubuhnya. Kotoran, Serangga, tikus mati dan beberapa tengkorak manusia melekat di tubuhnya. Menimbulkan bau yang sangat memabukkan. Adhy muntah berkali-kali.
"SELAMAT DATANG ADHY WIJAYA! KAU DISAMBUT HANGAT!"
Seseorang, bukan! Hanya kepala saja yang menyerupai manusia. Orang berbadan ular besar datang dan melilitkan badannya di leher Adhy.
Mukanya mendekat menatap lekat muka Adhy.
lalu mencabut tubuh Adhy keluar dari lumpur hitam itu.
"AAAAAH!" Adhy mengerang kesakitan, dikiranya ular itu mau memisahkan kepala dan badannya. Adhy keliru, ular itu justru menyelamatkan dia.
"AKU ADALAH SNAKE OF KING SATTAN!"
"Raja dari ular setan besar. salam kenal hai Adhy!"
Suara itu familiar, pikir Adhy.
"Kau sudah tahu bukan, akulah yang selalu menjahilimu di kelas itu!"
Adhy tidak takut, ia malah jengkel.
"Kau lahir di Yogyakarta tahun 2000 silam. Bukan begitu Adhy? Golongan darahmu AB, anak dari Wijaya Kusuma dan Dewi Ratih!"
"Kau pesulap hebat tahu segala biodata manusia," sinis Adhy.
"Hahahahaha, terima kasih. Emang aku hebat!" Ular itu malah berbangga diri.
Dasar iblis hina!
"Saya berada di mana ini Bro ular?"
"Bro ular? Kau panggil dengan sebutan sangat jelek. Saya tau saya ular, tapi ular raja yang hebat!" ucap dia berbangga diri lagi.
"Sombongnya!"
"Huahahaha! Hai anak muda, selama kau berada di alam saya, kau akan merasa senang sekali tanpa bersusah dan berselisih dengan orang lain."
"Saya mau pulang! Tolong kembalikan saya ke dunia manusia!" pinta Adhy.
Ular itu tertawa lebar lagi, kemudian menunjuk di atas sana. Ada sebuah jurang terjal dan pemisah antara dunia iblis dan dunia manusia.
"Kamu lihat, Adhy. Di situ ada jurang pemisah antara tempatmu dan tempat saya di sini! Kalau sudah masuk ke sini, tidak bisa keluar lagi!"
"KELUARKAN SAYA, BERENGSEK! SAYA TIDAK PEDULI JURANG PEMISAH MANA! POKOKNYA SAYA HARUS KEMBALI KE ATAS!" Adhy gusar dan berteriak-teriak.
"Adhy, kau harus bersyukur berada di dunia ajaib ini. Tidak usah kembali ke sana, dunia penuh penderitaan! Di sini nyaman dan enak. Makanan tersedia, pelayanan 24 jam oleh perempuan cantik dan seksi. Semua milikmu, kau cuma bilang Yes! Semua jadilah sesuai dengan keinginanmu."
Adhy diam tapi mukanya makin kesal.
"Bagaimana, Adhy? Sungguh menyenangkan bukan?"
"TIDAK! SAYA MAU KEMBALI KE DUNIA TEMPAT SAYA!"
"Apa bagusnya duniamu, Adhy? Duniamu fana dan tidak abadi!"
Ular itu tertawa lagi, mengejek Adhy.
"Di sini tidak ada yang membuat kamu marah, menangis atau malah berselisih. Makanan tinggal makan saja semua ada. Keinginanmu mau cari pekerjaan apa, tinggal sentuh tombol ijo, langsung kerja! Mau tidur di rumah mana, pilih-pilih! Apa sih yang kurang?"
"Saya mau kembali! Pak Ular, tolong keluarkan saya!"
"Oke. Kalau kamu bersih keras, saya kabulkan, tapi ada syaratnya!"
"Apa syarat itu?" tanya Adhy dengan cepat.
"Berikan saya jiwa sebagai pengganti jiwamu!"
"APA!?" Adhy tidak percaya, setan ular itu meminta jiwa yang lain. Dia berpikir keras.
"Akan saya tukar dengan jiwa dari seekor hewan kesayanganku. Damby anjing Dobermen yang hebat, gimana?"
"Seekor anjing? CUMA SEEKOR ANJING?"
Ular itu tertawa keras, lalu menunjuk sesuatu di radius 300 meter dari tempat Adhy berpijak.
"Lihat sana! Semua adalah budak-budakku! Beratus-ratus ekor anjing dari setiap jenisnya ada di sana. Saya tidak butuh hewan itu lagi. Yang saya mau adalah ...jiwa manusia!"
Ular itu mendekati Adhy, lalu mengelus mukanya.
"Jiwamu saja, ya!" Setan ular mengerling.
Adhy cepat menggeleng.
"Jangan jiwaku!" Adhy berpikir cepat. Kemudian ia teringat dengan papanya yang kejam terhadapnya.
"Kalau boleh aku menukar jiwa orang tuaku saja!"
Ular itu tertarik. Ia mengangguk pelan dengan seringai senang.
"Ayah atau Ibu atau," Dia menggantung kalimatnya. Ular itu mengangkat dagu Adhy.
"Kedua-duanya?"
"Ayah saja! Ayah sudah cukup!"
"KEINGINAN TERKABUL!"
SPLASH!!
Seketika sinar merah menyengat kulit Adhy. Ia berteriak kesakitan. Adhy tahu-tahu sudah kembali ke dunianya. Ia memandangi sekitar, ternyata Adhy masih berada di kelas kampus.
"Syukurlah." Adhy tertawa senang. Sejenak dia berhenti tertawa, teringat orang tuanya.
"Papa!"
Adhy berlari pulang ke rumah. Rumah Adhy tidak jauh dari kampusnya.
Sampai di rumah, dia langsung berhambur ke papa dan mamanya. Memeluk mereka dan menciuminya.
"Ada apa Adhy?"
"Kamu seperti orang aneh? Kamu kenapa?" tanya Ayah dan ibunya berbarengan.
"Papa maafkan aku. Maaf!" Adhy memeluk erat ayahnya.
Tiba-tiba saja badan ayahnya tidak bisa direngkuh. Ayahnya menghilang secara misterius.
"TIDAAAAAAK! TIDAAAK, TOLONG KEMBALIKAN AYAHKU! KEMBALIKAN!"
Terlambat. Permohonan Adhy sudah dikabulkan. Ayahnya berganti posisi dengan dia masuk ke dimensi setan itu.
"Hahaha selamat datang, pengganti Adhy!" Ular berkepala manusia itu mendekati ayah Adhy dan menciumnya.
TAMAT.