Perkenalkan namaku Syauqi Azzahra. Aku biasa dipanggil Qia, baik itu teman-temanku ataupun keluargaku sendiri. Aku merupakan seorang gadis kelas 3 SMP yang tengah berumur 14 tahun. Jika mengenai tempat tinggalku, aku bukan seorang gadis kota, melainkan hanya seorang gadis biasa yang tinggal di desa dan bersekolah di kota.
Mungkin, kalian semua berpikir, kalau aku pasti malu saat sekolah di kota yang dikarenakan asal tempat tinggalku sendiri. Kalian semua salah besar, karena aku tidak malu sama sekali. Buat apa aku malu? Aku bersekolah di kota agar aku bisa menuntut ilmu dengan baik, bukan untuk memamerkan harta kekayaanku. Lalu, buat apa aku harus merasa malu?
Baiklah, singkat cerita saja. Sekarang, aku tengah berada di sekolah kebanggaanku dan saat ini, aku juga sedang dalam jam istirahat pertama. Kalau jam istirahat pasti kalian pergi ke kantin, bukan? Ya,begitu juga denganku yang kini tengah berada di kantin sekolah bersama dengan sahabat tercintaku ini, Nada.
Aku dan Nada memang belum lama bersahabat sih, hanya saja kami sudah saling mengerti satu sama lain dan kami juga saling menyayangi antara satu sama lain, layaknya bagaikan kakak beradik. Menurutku, Nada adalah tipe sahabat yang selama ini aku impikan, yaitu enggak egois, perhatian, penyayang, baik hati, asik, dan pastinya penyabar. Kalian pasti bertanya-tanya, memang sebelum adanya Nada aku belum pernah dapatin sahabat yang seperti itu? Ya, begitulah sangat sulit untuk dibahas.
Yaudah, kita kembali lagi sama keberadaanku sekarang ini. Aku dan Nada kini tengah kebingungan, bingung akan apa yang akan kami beli sekarang. Ya, itulah kami selalu saja bingung akan apa yang akan dibeli saat sampai di kantin.
Lama berpikir dan memilih, akhirnya kami berdua pun memutuskan untuk tidak membeli apa-apa dan kembali ke kelas kami masing-masing. Ya, kini kami sudah tidak sekelas lagi, inilah yang membuat kami merasa sedih, karena sudah tidak bisa lagi bercerita banyak hal di saat jam kosong. Tapi, walaupun begitu, kami tetap menjalin hubungan persahabatan dengan baik sama seperti biasanya.
Kami pun terus berjalan keluar dari kantin sambil bercerita sedikit hal. Sampai pada akhirnya aku dan Nada berhenti, karena pandanganku yang terfokus pada salah satu siswi yang tengah duduk sendirian di kursi depan kelasnya.
"Ada apa, Qi?" tanya Nada keheranan sambil mengikuti arah pandanganku. "Aku bingung Nad." ujarku yang masih menatap siswi itu. Nada yang kini tengah berada di sampingku pun mengernyitkan dahinya dan berkata, "Bingung? Kenapa bingung?"
"Sudah lama aku memperhatikan siswi itu, aku selalu melihatnya sendirian seperti itu dan aku juga tidak pernah melihatnya tersenyum sedikitpun, aku bingung akan apa yang sudah membuat dia bisa seperti itu?" ujarku sambil menatap Nada sekilas dan kembali menatap siswi itu.
"Kamu mau tau tentang siswi itu?" tanya Nada yang spontan membuatku menatapnya, lalu menganggukan kepalaku. "Yasudah, ayo ikut aku!" ajak Nada, sambil menarik tanganku. Aku yang ditarik pun hanya bisa mengikuti langkahnya saja sampai pada sebuah taman yang terlihat sedikit sepi.
Keesokan harinya. Sejak kemarin, aku selalu kepikiran mengenai siswi misterius itu. Ya, aku menamainya siswi misterius, karena menurutku terlalu banyak kisah hidupnya yang coba ia sembunyikan. Kemarin, Nada sudah menceritakan semuanya padaku. Nada memang mengetahui penyebab sikap dingin siswi itu, karena ibu siswi itu yang berteman baik dengan mamanya dan siswi itu juga merupakan teman satu SD nya dulu.
Ada rasa ingin mengubah siswi itu untuk menjadi seorang gadis ceria, setelah mengetahui kebenarannya. Namun, ada perasaan takut untuk mengajaknya berteman yang dikarenakan sikap dinginnya ini.
Setelah lama mempertimbangkan keputusanku sendiri, akhirnya aku pun memutuskan untuk menghampiri siswi itu. Kini, ia tengah duduk di dalam kelasnya dengan posisi sendirian di kursinya, sedangkan yang lainnya duduk bersama teman-teman mereka. Aku bisa melihatnya dari luar kelasnya ini, banyak tatapan aneh dari teman-teman satu kelasnya ini. Namun, siswi itu berusaha untuk tidak memperdulikannya.
Melihat siswi itu, ntah mengapa air mataku ini rasanya sudah tidak bisa lagi untuk dibendung. Aku pun akhirnya mengurungkan niat untuk berkenalan dengan siswi itu dan pergi dari sana dengan sedikit berlari, sebelum ada yang melihatku yang tengah menangis hanya karena memperhatikan siswi itu.
Dua hari kemudian. Setelah kejadian dua hari yang lalu, kini aku kembali memutuskan untuk berkenalan dengan siswi itu, namun dengan ditemani oleh Nada. Bukan tanpa sebab aku mengajak Nada, hanya saja aku takut dan canggung jika harus berkenalan dengan siswi itu. Eitss, bukan takut karena siswi itu akan marah ya, tapi takut kalau siswi itu bakalan mencuekin aku dan menjutekin aku.
Kami berdua pun sampai di hadapan siswi itu, langsung saja aku menyapanya, " Hai!". Siswi itu hanya diam sambil menatapku datar dan itu membuatku sedikit menciut dan bertambah canggung, tapi walaupun begitu aku masih tetap menetralkan ekspresiku. "Boleh kenalan?" tanyaku sambil mengulurkan tanganku. Jujur saja, sebenarnya aku tengah ketakutan sekarang ini. Aku takut dia akan menolak permintaan pertemananku ini.
Astaghfirullah, aku sudah salah sangka. Siswi itu membalas jabatan tanganku sambil berkata, "Salsa." Memang terdengar singkat, namun itu sudah membuatku bahagia sekali, karena akhirnya aku bisa berkenalan dengannya. Aku pun tersenyum sambil berkata, "Syauqi, panggil aja Qia."
Hari pun semakin berlalu, sudah tidak terasa kalau sekarang sudah memasuki akhir semester 1 saja. Hari ini adalah hari di mana aku akan melaksanakan ujian akhir semester untuk yang terakhir kalinya.
Berjalan sendiri menyusuri lorong sekolah membuat aku sedikit jengkel. Karena suasananya yang sunyi, ditambah lagi diujung sana ada segerombolan para siswa yang tengah duduk. Astaghfirullah, aku benar-benar merasa malu kalau harus melewati mereka semua. Aku pun memelankan langkahku, namun saat berada di hadapan mereka semua, aku pun langsung mempercepat langkahku sebisa mungkin.
Alhamdulillah, akhirnya aku berhasil juga melewati mereka semua. Namun, baru dua langkah aku kembali berjalan, aku kembali dikejutkan oleh kejadian yang sangat membuatku marah. Aku pun kembali mempercepat langkahku menuju sebuah kerumunan para siswi yang tengah membully seseorang.
Plakk!!
Satu tamparan yang aku layangkan ke wajah salah satu siswi, yang aku yakini bernama Manda, dan tamparan itu pun terdengar begitu memilukan di pipinya. Orang-orang yang berada di sekitaran sana pun terkejut saat melihat aku yang menampar seorang most wanted di sekolah ini.
Amarahku sekarang sudah benar-benar membludak dan tidak bisa di tahan lagi. Aku tau Salsa akan marah padaku, tapi apa peduliku sekarang? Aku sudah tidak tahan lagi jika ada seseorang yang membully orang lain. Asal kalian tau, aku ini juga seorang korban bullying. Namun, semenjak saat itu, aku sudah tidak bisa menerima, jika ada orang yang suka membully orang lain.
"Apa maksud lo, ha?" teriak Manda padaku. "Kecilkan suara kamu itu Manda!" perintahku yang masih dengan nada rendah. "Berani-beraninya lo nampar gue, lo pikir lo ini siapa, ha?" Aku hanya diam tanpa memperdulikan bentakkannya itu. Karena aku yakin, jika aku membalas ucapannya, aku akan semakin di bawah kendali dan bakalan ada yang semakin terluka.
Aku pun membalikan badanku dan membantu Salsa untuk berdiri, lalu membawanya ke UKS. Masalah Manda tadi, aku sudah tidak menghiraukan dia yang kini tengah mencaciku dengan berteriak-teriak. Aku hanya fokus pada luka yang ada pada Salsa sekarang ini, dengan mengobatinya. Terdapat banyak luka pada tubuhnya, aku yakin ini sangatlah menyakitkan, belum lagi luka pada batinnya.
Setelah selesai mengobati lukanya, aku pun membuka suaraku untuk bertanya padanya. "Kenapa kamu hanya diam, Sal? Kenapa kamu enggak mencoba untuk melawan? Kalau kamu terus bersikap seperti ini, kamu pasti akan selalu diperlakukan buruk seperti tadi." Aku benar-benar tidak bisa lagi membendung amarahku sendiri saat ini.
Bukan jawaban yang aku dapatkan, tapi lengkungan indah. Apa? Dia tersenyum? Masya Allah, senyuman itu manis sekali. Untuk pertama kalinya aku melihat senyuman itu dan ini membuatku sangat takjub sekali. "Aku tau, kalau aku selalu seperti ini, maka aku sendiri yang akan menderita. Tapi, apa dayaku? Aku enggak bisa apa-apa, trouma yang aku alami selama ini masih menghantuiku. Bahkan, sampai sekarang pun aku masih mengalaminya. Jika, aku memberikan perlawanan pada mereka, aku takut mereka akan tersakiti akan amarahku sendiri." jelas Salsa yang membuat aku menjadi semakin kagum dengannya.
Tapi, walaupun begitu, aku tetap tidak terima jika ada yang menyakitinya. Karena aku tau bagaimana rasanya saat dibully orang lain. "Tapi Sal," keluhku yang membuat Salsa menggeleng seketika. "Sudahlah Qi, aku akan baik-baik saja selama kamu berada di dekatku." Terkejut? Ya, jelas aku terkejut, tapi walaupun begitu aku juga merasa senang. Aku senang karena dia sudah menganggapku sebagai sahabatnya.
Tanpa aba-aba aku pun langsung memeluk Salsa dengan begitu bahagianya. Aku tau kalau dia sangat terkejut akan kelakuanku ini, tapi dia masih tetap membalas pelukanku ini. "Tetaplah menjadi sahabatku Qia, karena kau adalah orang yang menerbitkan kembali senyuman yang telah lama hilang ini."