Keinginan Ashyana adalah hanya ingin bertemu dengan kakak tirinya yang diam-diam ia cintai. Andromeda yang sudah meninggal saat berumur sembilan belas tahun. Di malam tahun baru, Ashyana membuat permohonan kepada-Nya. Apa permohonannya itu?
Ya, benar. Dia ingin bertemu dengan Andromeda. Satu kali saja seumur hidupnya. Berkali-kali melakukan ritual, tetapi gagal. Ashyana tidak berputus asa. Kali ini dia harus melakukan ritual lagi yang ke-99 kali.
Tanggal 31 Desember, di 2020 inilah terakhir dalam hidupnya memohon kepada Sang Pencipta Khalik semesta. Bertemu dengan seseorang yang sangat dia rindukan. Agar tidak menyesal mencintainya harus mengatakan sejujurnya.
Ashyana masuk ke dalam kamar, menguncinya lalu berdoa.
"Aku ingin bertemu dia. Mohon kabulkanlah sekali saja. Tuhan, sekali saja kumohon padaMu!"
Air mata membanjiri gaun merah mudanya, tak dia perdulikan. Asalkan tangisannya didengar oleh-Nya dan dikabulkan dia akan sangat berterima kasih dan bahagia.
"Sebelum aku meninggal, kumohon pada-Mu kabulkanlah sekali ini saja. Biarkan ruhnya datag padaku dan menyapaku sesaat..."
Ashyana tidak berani melangkah dan membuka lembaran baru bersama Januar, laki-laki pilihan orang tuanya. Ashyana ingin jujur sedikit saja, agar bisa menyelamatkan perasaan egonya. Ashyana tidak mampu membohongi perasaannya terlalu lama dan kepada ayah dan ibu, dia harus menyimpan rapat-rapat. Kasihan dan ironis sekali. Sampai kakak tirinya meninggal pun dia tetap berpendirian teguh tidak akan mengatakan siapa yang dia cintai selama ini.
"Walau dunia ini runtuh, aku bersumpah hanya akan mencintai satu orang saja seumur hidupku!"
Sumpahnya dia tepati. Selama bertahun-tahun menjadi jomblo, tidak menikah dan tidak tertarik lagi dengan pria manapun.
5 tahun yang lalu, saat itu Andro mengalami sakit asma parah. Dia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa saat lamanya. Ashyana bersedia menjadi pengantar makanannya setiap hari, dan menghibur hati Andro di kala sepi. Namun, hubungan itu tercium oleh seseorang. Raditya adik Januar. Pemuda kecil itu melaporkan hubungan Ashyana dan Andromeda. Mereka dituding berbuat hal tidak patut.
"Aku bersumpah atas diriku! Kami adalah kakak beradik dan tidak ada hal yang istimewa selain hubungan saudara saja!"
"Beneran? Jangan bohonglah!" Januar menyelidik dengan mata menyipit. Dia melempar semua foto-foto itu. Ashyana memungut foto kebersamaan dia dengan Andro. Mereka tampak mesra terlihat seperti sepasang kekasih.
"Ini tidak benar! Dari mana kau dapatkan ini, kak Januar?"
"Heh, mulut bisa berbohong, tapi hati tidak bisa berdusta! Kau tanyakan saja kepada Andromeda. Kalian ini bukan kakak adik biasa!" Januar bersuara keras sampai beberapa pasien di kamar sebelah datang dan melihat mereka.
"Pelankan suaramu, Kak!"
Ashyana melirik Andro yang sedang tidur. Dia tidak akan mendengarnya atau mungkin sudah dengar, tapi berpura-pura saja tidur? Wajahnya memerah saat itu.
Ashyana tidak tahan lagi. Jika Tuhan mengubah takdirnya, tentu Ashyana tidak perlu diam-diam menaruh rasa suka terhadap Andromeda. Dia akan leluasa. Hal ini mustahil karena mereka di lingkungan keluarga. Saat Andromeda datang ke rumahnya, jantungnya bertalu keras. Pandangan mata tak lepas dari senyuman Andro yang begitu menawan hatinya. Dia sudah terikat dengan sejuta kerinduan yang merasuk dan menusuk-nusuk kalbunya. Ashyana yang lugu telah terbuai kemanisan Andromeda.
"Aku akan menjadi kakak yang baik, yang selalu ada dan menjagamu setiap waktu. Janji, ya. Kita akan selalu bersama-sama. Selamanya!"
Mereka mengaitkan jari kelingking. Menulis janji dengan darah mereka sendiri.
Semua kenangan itu sangat indah. Ashyana selalu mengingatnya dengan baik. Sampai ia tidak mampu lagi memikirkan pria lain yang selalu mengejarnya. Januar juga baik tapi selalu curiga dan kasar. Benih itu tidak bisa tumbuh di tanah yang tandus, tanah hati milik laki-laki itu.
"Tolong, kumohon padamu. Aku telah berjanji dan menandatangani perjanjian darah dengan kak Andro. Tolonglah ingatkan dia tentang diriku. Aku ingin bertemu dan memberitahukan segalanya. Bahwa aku ... aku mencintainya!"
Langit bergemuruh. Awan menjadi gelap. Siang itu berubah berkabut dan hujan deras. Petir menyambar...
Apakah Dia mendengar permohonan Ashyana?
Tiba-tiba langit terbuka, suara berat seperti desau air bah bergemuruh di awan-awan.
"HAI PEREMPUAN, AKAN KUKABULKAN PERMOHONANMU, TAPI HANYA SEBENTAR SAJA!"
Ashyana bersujud dan berterimakasih. Sangat berterimakasih kepada-Nya. Dia telah mendengar seruan dan jeritan hatiku selama ini. Ternyata Dia tidak mengabaikan permohonanku itu.
--Pov Ashyana
Langit kembali menjadi terang, setelah Ashyana membereskan dupa dan buku yang terbuka. Di sana, di dalam buku tertera sebuah tanda tangan dengan darah segar, darahnya sendiri.
Ashyana pergi tidur karena merasa seluruh badannya seperti disengat, ia letih sekali.
"Asya, bangunlah. Ini aku!"
Seorang pemuda yang sangat menarik itu, bersurai cokelat muda membangunkan Ashyana. Ia tepuk pelan pipi gadis itu.
"Apakah ini sudah pagi? Ini sudah tahun baru, ya?" tanya Ashyana sembari mengucek kedua retinanya. Pemuda itu tersenyum, menggeleng lalu mengusap poni Ashyana.
"Kau tidak mengenaliku lagi, Asya? Ini aku, Andro Kakak tirimu."
"Androme-da, kaukah ini??" Ashyana gugup dan tercengang. Dirabanya pipi, bibir dan sepasang mata indah Andromeda.
Dia terkaget-kaget sambil mengangguk tidak jelas. Ashyana mencubit pipinya.
"Auh!"
"Ini bukan mimpi, Adik kecilku. Ini aku Andro!"
Ashyana berlari keluar, dia lihat suasana gelap masih tengah. Berarti, Sang Khalik mengabulkan permohonannya!?
Ashyana melonjak kegirangan saking senangnya.
Dipeluknya Andromeda dan diciumnya wajah laki-laki itu.
"Kakak, makasih kamu mau repot datang lagi ke bumi. Aku menyuruhmu datang karena ada sesuatu yang harus kamu tahu dan jangan marah padaku, ya."
Andromeda terkekeh.
"Ahaha, lucu sekali kamu, Dik. Aku yang datang bukan atas suruhmu. Ehem, kamu mau bilang apa padaku?"
"Aku mau bilang apa ya?" Tiba-tiba dia jadi bingung sekali. Ashyana menggaruk kepalanya.
"Hayoo mau bilang apa? Kok kamu jadi gugup gini?" Andro mengacak rambutnya.
"Kak, sini. Tidur di sini..."
Andro melihat Ashyana dengan raut tidak mengerti.
"Biarkan aku berbaring di pangkuanmu sebentar saja, ya."
Ashyana terkejut tapi senang bukan main. Apakah ini adalah kesempatan baginya untuk bercerita kegalauan cintanya selama ini pada Andro? Ah, terlalu cepat sekali.
"Ayo katakan saja apa itu?"
Ashyana berdehem beberapa kali, bingung, gugup, haru semua perasaannya seperti diaduk. Dia begitu senang dan sekaligus gugup. Belum pernah Andro berbaring di pangkuannya seperti ini. Rasanya terbang ke langit...
"Aku ... Aku, Kak! Aku menyukaimu, kak Andro. Sudah sejak lama, tapi aku sangat takut kalau kau menganggap aku ini adik gampangan dan tidak tahu diri. Aku—,"
Ucapan Ashyana ditimpali.
"Ssst, jangan berisik, ah. Itu kakak sudah tahu. Untuk apa bilang hal itu lagi," sahut Andro dengan mata masih terpejam. Bibirnya menyungging senyum.
"Ha?" Ashyana menarik pahanya. Kepala Andromeda terjatuh di alas kursi, untung empuk kalau tidak sudah benjol dia.
"Kenapa kau kaget dik?"
Ashyana mengerjap berkali-kali sebelum pipinya merona lagi.
"Aku menyesal bilang. Kak Andro sudah tahu tapi kok pura-pura tidak tahu? Ih, kakak Jahat!"
Segala kemanisan mereka terulang kembali. Kebersamaan yang mesra dan selalu mengundang tanya bagi orang-orang yang ingin tahu.
"Jadi, kalau begitu buat apa aku nyatakan cinta lagi, ish!"
"Kamu nggak mau tau apa balasan cintamu?"
Andromeda berubah serius. Ia menaikan dagu adiknya lalu mengecup dengan cepat.
"Jawabannya aku juga menyukaimu. Aku cinta kamu sebelum kamu mencintaiku, dan aku sudah tahu kita memiliki perasaan yang sama."
Deg. Deg. Deg.
Debar di dada Ashyana makin menyiksa. Ternyata Andromeda tahu segalanya, dan Ashyana tidak bertepuk sebelah tangan. Dia juga dicintai seperti sepasang kekasih.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih kak Andro!"
"Pejamin matamu, Asya."
Ashyana memeluk pemuda itu lalu memejamkan matanya seperti yang Andro minta. Perlahan, Andro menempelkan bibirnya dan mencium Ashyana di dahi sangat lembut. Sebelum dirinya sirna, ia berbisik dengan mesra, "Setelah ini kamu jangan lagi menutupi diri, terimalah cinta dari seorang pemuda yang lain. Jangan tidak, loh. Sampai kapan pun, aku akan selalu mencintai dan mengawasimu dari atas. Percayalah, Asya. Awas, loh aku mengawasimu. Selamat tahun baru adikku tersayang."
Kemudian Andromeda hilang selamanya. Ashyana membuka matanya dan melihat sebuah bintang berkerlap-kerlip di langit. Dia masih merasakan sentuhan tangan dan ciuman yang manis Andromeda.
Ashyana menangis sesegukan, lalu memandang ke atas.
"Terima kasih kak Andromeda. Sekarang aku tidak perlu menutupi hatiku lagi. Cintamu akan selalu ada di sini."
Sebuah permohonan telah dikabulkan oleh-Nya untuk cinta yang murni.
Selamat Tahun baru, kakak...
TAMAT