Namaku Suci Mahendra Dewi, mungkin orang akan menyebutku dengan sebutan wanita terbodoh karena aku mempertahankan seorang laki-laki yang berstatus suamiku namanya Kevin Wijaya Putra.
Kevin bukan seorang lelaki yang tidak baik buat aku dan anak-anakku, entah berapa kali ia harus bermain api dengan beberapa wanita yang ku pergoki dengan mata kepalaku sendiri dan bukan hanya itu ia juga lelaki yang gemar melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Perkenalanku dengan Kevin bermula sejak aku melamar pekerjaan di kantor yang di pimpin olehnya, ia mempunyai sejuta pesona di mataku, wajah tampan dan kedudukan yang ia miliki saat ini membuat banyak hati wanita pasti tergoda.
Kevin tipe lelaki yang suka merayu sampai aku pun masuk dalam perangkap rayuannya, padahal umurku dengannya berbeda sangat jauh, usia kami terpaut lima belas tahun di mana suamiku itu lebih tua daripada aku.
Selama setahun kami berpacaran dan segala perhatian yang ia berikan kepadaku, mampu membuat aku bisa memutuskan satu keputusan tergila dalam hidupku yaitu menikah dengan Kevin tanpa peduli apa yang akan terjadi di depan nanti.
Sungguh cinta sudah membutakan mata hatiku dan Kevin mampu membawa aku masuk dalam buai rayuannya.
Walaupun di awal orang tuaku sangat menentang hubungan kami, tapi berkat kemampuanku meyakinkan mereka akhirnya ibu dan ayahku merestui juga hubungan ini, sampai membawa kami ke jenjang pernikahan.
Sebagai seorang wanita tentu aku bahagia bisa menikah dengan Kevin, sejak berpacaran ia selalu perhatian dan bersikap manis di depanku.
Tidak sekalipun aku menaruh curiga ia akan berubah kasar kepadaku, demi Tuhan aku percaya bahwa ia adalah lelaki yang baik dan mampu membimbing aku yang umurnya di bawah dia.
Awal pernikahan semua berjalan baik, ia sangat romantis dan begitu perhatian. Sebagai suami ia tidak banyak menuntut, tetapi sebagai istri aku sangat tahu diri bagaimana harus bersikap dan menghormati suami, aku melayani Kevin dengan baik lahir maupun batin.
Seiring waktu berjalan sikapnya semakin berubah menjadi kasar, suka melakukan kekerasan di dalam rumah tangga dan lebih para lagi entah harus berapa kali aku mendapati Kevin selingkuh dan tidur dengan wanita lain.
Mendapati hal ini membuat aku kecewa dan sakit hati padanya, ingin rasanya aku pergi dan meninggalkannya namun bodohnya aku hal tidak pernah aku lakukan.
Setiap kali aku berniat pergi wajah anakku dan orang tuaku hadir di depan mataku, aku tidak ingin membuat mereka kecewa karena keputusan bodohku.
Hanya air mata dan kepedihan yang menemani hari-hariku bersama Kevin, aku memilih bertahan mengorbankan semua kebahagiaanku untuk kebahagiaan orang-orang di sekitarku.
Sampai satu hari kesalahan fatal yang Kevin lakukan adalah membawa seorang wanita ke rumah kami dan aku menangkap basah peselingkuhan ini bersama ibuku.
Jujur hari ini aku sangat malu, selama ini aku selalu menutupi keburukan suamiku baik di depan keluargaku maupun di depan keluarganya.
Tapi apa yang Kevin lakukan hari ini membuat aku malu dan ia membuang kotoran di mukaku, selama ini aku selalu menutupi masalah keluargaku di depan semua orang dengan bersandiwara aku bahagia walaupun kenyataannya berbading terbalik.
Orang tuaku langsung mengatakan, "Ceraikan lelaki itu, dia sudah banyak melukaimu! Selama ini ibu tahu semua kebusukannya walaupun kamu terlalu bodoh untuk menyimpan kelakuannya yang sering menyakiti hatimu."
Aku hanya menangis sedih sambil bertanya dalam hati, kenapa tega Kevin lakukan ini semua kepadaku?
Air mataku tidak berhenti mengalir rasanya ingin aku ingin pergi sejauh mungkin bersama anak-anakku, yang pada saat itu aku sudah memiliki dua orang putri.
Apakah suamiku tidak pernah berpikir, bagaimana perasaan anak-anakku kalau mengetahui kelakuan papanya seperti itu.
Anak-anak pasti akan malu, apalagi kalau aku sampai bercerai aku tidak ingin merusak mental anak-anakku.
Ditengah kekecewaan hatiku dan kesedihanku, akhirnya aku memutuskan berbicara empat mata dengan Kevin.
Aku tidak tahu kadang hatiku ini terbuat dari apa tapi aku adalah wanita yang selalu sabar dan tenang dalam menghadapi semua masalah.
"Aku kecewa dengan sikapmu hari ini, hanya satu permintaanku jadilah papa yang baik buat anak-anak tanpa kamu perlu menjadi suami yang baik buat aku," ucapku sambil berlinang air mata dan sakit terasa di dadaku bagai di tusuk sembilu.
"Aku minta maaf atas semua kelakuannya malam ini dan aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi," sahut Kevin sambil berlutut dan memegang tanganku, suaranya sedikit serak dan menahan tangis.
"Berulang kali kamu lakukan kesalahan dan sebanyak itu aku memaafkanmu sampai hari ini, namun malam ini aku hanya bertahan untuk anak karena itu jadilah papa yang baik untuk mereka dan kamu tidak perlu menjadi suami yang baik buat aku.
Aku tidak akan bercerai dari kamu karena hidupku sepenuhnya untuk anak-anak, mulai malam ini aku tidak akan menuntut nafkah lahir maupun batin kepadamu. Jika kamu melayangkan surat cerai kepadaku pasti aku akan menandatanganinya, kalau itu yang kamu mau," kataku di sela isak tangisku.
"Aku tidak akan menceraikanmu," tegas Kevin.
"Itu terserah kamu, aku tidak akan mengekang apapun yang kamu lakukan karena mulai malam ini aku tidak menganggap kamu suami aku lagi sekali status kita suami istri," tegasku.
Setelah malam itu aku belajar menjadi wanita yang mandiri, memang dari awal pernikahan pun aku sudah termasuk wanita yang tidak selalu mengandalkan suami.
Aku merintis sebuah usaha dan ternyata cukup maju dan berkembang, aku percaya Tuhan itu tidak pernah tidur untuk membela umatnya.
Aku tidak mengharap uang belanja, uang pendidikan dan semua kebutuhan hidup aku juga anak-anak dari Kevin, semuanya aku tanggung sendiri.
Hubunganku dengan Kevin sangat dingin, aku hanya berbicara kalau ia bertanya dan menyapa, aku anggap dia tiada walaupun ia ada bersamaku.
Ia semakin sering pulang malam dan aku pura-pura tidur walaupun sebenarnya aku belum tidur.
Kami satu rumah dan satu ranjang namun kami tidak pernah saling bersentuhan, tetapi Kevin tetap memberikan perhatian penuh kepada kedua putriku dan itu sudah cukup bagiku.
Kadang ia suka kesal ketika berbicara kepadaku dan aku tidak terlalu menanggapinya.
Pernah sampai satu kali putriku yang sulung harus operasi di rumah sakit dan aku langsung membawanya tanpa memberitahu Kevin dan meminta biaya sedikitpun.
Bukan aku sombong namun jujur bertahan dalam sepuluh tahun pertama pernikahan kami itu bagai neraka kehidupan bagiku.
Tidak terhitung berapa kali aku harus menghadapi penganiaya dari suami sendiri dan ini adalah batas kesabaran terakhirku.
Dua tahun aku bertahan dalam situasi rumah tangga tanpa bicara dan tanpa sentuhan walaupun kami satu ranjang.
Mungkin banyak orang bertanya dan tidak percaya bagaimana mungkin dua tahun tidur berdampingan tanpa sentuhan, tapi itu yang terjadi jika hati wanita sudah teramat sakit.
Sering kali Kevin meminta untuk menyentuhku, "Aku menginginkan kamu dan aku boleh melakukannya?" Pernyataan yang berulang kali aku dengar dan aku tidak menanggapinya.
Jika tangannya mulai nakal menggerayangi tubuhku dengan refleks aku menepisnya atau aku memilih pindah kamar.
Kenapa semua ini bisa terjadi? Ternyata tanpa di sadari aku mengalami trauma psikis sehingga sentuhan yang Kevin berikan kepadaku itu terasa pukulan bagiku dan seluruh tubuhku menjadi sakit.
Setiap kali ia mendekatiku membuat aku merasakan sakit yang teramat sangat, menjalar dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Semua terjadi karena aku terlalu menyimpan perasaan sendiri, tidak pernah bercerita kepada siapapun dan jujur ini terasa sangat menyiksa.
Sampai satu hari Kevin tanpa pemberitahuan kepadaku memanggil seorang psikolog untuk menangani permasalahanku, setelah aku mendapat penanganan serius dan untuk tahap pemulihan itu tidaklah mudah.
Setiap kali kalau aku harus melayani suamiku masalah ranjang dan aku melakukannya sambil menagis sesegukan. Tapi aku melakukannya untuk kesembuhan trauma psikis yang aku alami.
Dan kesembuhan traumaku ini bukan memakan waktu satu sampai dua hari bahkan bertahun-tahun baru pulih.
Kalau di tanya bagaimana sekarang hubunganku dengan suamiku? Menginjak usia sepuluh tahun pernikahan dengan segala lika-liku kehidupan yang aku hadapi, aku melihat perubahan dalam hidup suamiku.
Kevin menjadi orang yang diubahkan, sabar, dan dekat dengan keluarga.
Ia tidak pernah keluar malam bahkan waktunya banyak di pergunakan untuk ibadah, hanya kesabaran yang bisa mengubah seseorang.
Kadang untuk membuat seseorang berubah kita harus berkorban kesakitan, namun semua akan indah pada waktunya.
Aku ikhlas menghadapi semuanya untuk mengubah seorang Kevin dan aku memaafkan tanpa pernah mengingat kesalahannya.
Lewat dia aku belajar sebuah kesabaran, lewat suamiku aku melihat Tuhan tidak pernah meninggalkan aku sekalipun di saat masa terberat dalam hidupku.
Jangan pernah mengeluh masalahmu seberat apapun karena kalau itu di izinkan terjadi pasti Allah tahu kamu sanggup dan kamu akan melihat pelangi indah setelah badai masalah itu berlalu.
Ini ceritaku semoga kamu suka dan cerita ini bukan fiksi hanya pengalaman hidup dari penulis.