Hari ini adalah hari Minggu, saat yang tepat bagi orang-orang untuk menikmati akhir pekan di rumah bersama keluarga tercinta. Melepaskan rasa penat dari dunia pekerjaan bersama keluarga adalah hal yang paling ditunggu-tunggu. Bersenda gurau di halaman rumah, menonton tayangan weekend, atau merawat kebun. Tentunya kebanyakan orang tidak akan melewatkan momen-momen seperti ini, termasuk aku.
“Dada na ... uma um.” bayi berumur satu tahun ini begitu semangat berbicara di pangkuanku.
“Nih ... pesawat terbangnya masuk, aaa ...” ucapku sambil menyodorkan sendok mini berisi makanan bayi.
“Mmm na na na.” bocah itu sangat kegirangan usai mendapat suapan dariku.
“Anak pintar.” kataku gemas.
Aku sangat menyayangi anak ini layaknya anak kandung. Ya ... walaupun sebenarnya aku belum mempunyai anak kandung sebagai perbandingan. Tapi sungguh, aku cukup dekat dengannya, sudah tidak ada keraguan tentang itu. Begitu juga anak ini, tentunya rasa sayangku padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Makhluk menggemaskan ini juga merasa nyaman apabila aku berada di dekatnya.
Setelah beberapa menit mengasuh bayi ini, akhirnya dia tidur juga. Segera aku membawanya ke kamar dan menidurkannya di kasur dengan hati-hati, berharap ia tidak terusik dan bangun. Ah, leganya. Anak itu terlelap, kutatap wajahnya dengan sendu.
“Anak malang ... kamu tidak sendirian.” batinku.
Lama menatapnya, membuatku mengingatkan kembali suatu hal. Bayi ini sendiri menjadi sebuah bukti perjalananku menggapai sebuah mimpi. Ya ... sebuah perjalanan yang jarang terjadi di masyarakat kebanyakan. Perjalanan yang penuh kekecewaan, kesedihan, dan pertentangan. Cukup berat memang untuk orang lemah sepertiku. Tapi dengan melihat keadaan sekarang, aku sudah pernah melewatinya. Akan aku ceritakan awal kisah kasihku dengan seorang gadis yang membuatku jatuh cinta berkali-kali.
***
“Farhan! Cepat bangun! Bukannya hari ini kamu ada kelas pagi?” teriak ibu mengalahkan suara bising alarm Handphone yang telah aku atur.
“Hmm ... iya bu, lima menit lagi.” sahutku setengah sadar.
“Dasar kebluk siah ... terserah, ibu mau ke pasar dulu.” ucap ibu saat hendak meninggalkan kamarku.
“Jam ... jam berapa sekarang, bu?” tanyaku dengan mata yang masih tertutup.
“Setengah sembilan!” bentaknya.
Aku baru tersadar, hari ini ada perkuliahan pukul sembilan. Tanpa basa-basi lagi, segera aku lompat dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
“Budak gelo!” kata ibu saat aku melaluinya.
Hari ini aku sangat semangat sekali menuju kampus tercinta. Tidak seperti semester-semester sebelumnya, di mana aku sangat malas sekali apabila sudah berurusan dengan kampus. Namun di semester lima ini, rasanya sangat berbeda. Kampus menjadi tempat yang paling aku rindukan. Ya ... walaupun masih suka telat seperti sekarang. Terkadang, pengaruh seseorang sangat begitu besar untuk perubahan orang lain. Hal itu yang sedang aku rasakan. Tentunya karena seorang gadis, dan pastinya ... jatuh cinta.
Akhirnya aku sampai di kampus, aku tak sabar ingin segera mendiskusikan hasil tugasku dengan tugas hasil Nadya ... orang ini yang dari tadi aku bicarakan. Nadya Amelia Putri, nama yang cantik ... selaras dengan parasnya. Dia adalah anak jurusan Sastra Indonesia, kelas B, semester lima. Semuanya persis denganku, ya ... karena kita satu kelas!
“Farhan!” seseorang memanggilku dari belakang.
“Nadya ...” batinku sambil berbalik.
“Kamu ... dari tadi aku cari juga, ternyata di sini!” sahut Nadya dengan nada sebal.
“Hehe ... maaf telat, tadi aku telat bangun.” balasku mencari alasan.
“Ya sudah ... lihat tugas hasil aku, sama enggak?” pinta Nadya.
Aku segera mengambil kertas hasil tugas Nadya dan mengamati tiap-tiap kata yang ia tulis.
“Bagaimana, pak?” tanya Nadya.
“Hasil kamu bagus, benar semua.” jawabku.
“Kok benar semua? Padahal kan beda sama punyamu.” tanya Nadya heran.
“Ya enggak harus semua sama, yang penting maksudnya saja ke sana.” jawabku lagi.
“Oh ... hore! Berarti aku pinter ya? Kayak kamu!” ucap Nadya kegirangan.
“Iya ... berisik bawel.” balasku gemas.
Setelah itu, kami memasuki ruangan kelas bersama yang lain. Perihal hubunganku dengan Nadya sebenarnya tidak terlalu spesial, hanya sebatas teman satu kelas. Namun mungkin belakangan ini kita menjadi lebih dekat. Tapi jujur, aku sudah menyukainya dari awal masuk kuliah. Hanya saja, baru saat ini aku mulai berani mendekatinya.
Sebenarnya, menyukai gadis macam Nadya adalah bencana bagi orang sepertiku. Maksudnya, aku tidak terlalu tampan dan kaya. Sedangkan di luaran sana, banyak lelaki tampan dan mapan yang menyukainya juga. Bahkan, di kelas kita saja sudah ada tiga orang yang menyatakan cinta pada Nadya. Namun, semua ia tolak. Bagaimana aku tidak insecure parah coba?
Tetapi aku cukup bersyukur, ternyata Nadya meresponku dengan baik. Kita selalu saling curhat, bertukar pikiran, atau membicarakan hal bodoh yang menjadi lucu. Dengan seiring berjalannya waktu, aku semakin mencintainya. Dan aku yakin, sedikitnya dia juga pasti mempunyai rasa yang sama. Namun di sisi lain, rasa insecure dalam diriku tak pernah hilang. Aku mencintainya tetapi takut untuk mengutarakannya. Hal ini mungkin terjadi sebab aku tidak mempunyai pengalaman berpacaran. Terlebih lagi, aku selalu merasa bahwa diriku ini tidak pantas untuk seorang gadis idaman seperti Nadya.
Hari demi hari aku dan Nadya semakin dekat saja. Kami menjadi semakin terbuka terhadap banyak hal. Aku mulai mengenal keluarganya, dan aku juga sering membicarakan keluargaku padanya. Terkadang jika Nadya tidak membawa kendaraan, aku selalu mengantar jemputnya. Namun, tidak pernah ada kejelasan dalam hubungan kami. Aku sendiri tidak mempunyai keberanian untuk mengajaknya berhubungan ke arah yang lebih serius, dan Nadya juga tidak pernah memberikan sebuah kode agar ada kejelasan dalam hubungan ini. Dalam hal ini, yang aku inginkan hanyalah menjalaninya ... masalah hubungan serius, aku pasti ingin sekali menikahinya. Rasanya melihat umurku yang sekarang, sudah bukan waktunya lagi untuk pacar-pacaran.
Suatu ketika pada hari Sabtu, kebetulan hari itu tidak ada perkuliahan. Pada saat itu juga bertepatan dengan hari ulang tahun Nadya. Aku berencana memberikan sebuah hadiah yang spesial untuknya. Nadya itu pecinta hewan, terutama kucing. Kebetulan aku mempunyai anak kucing Persia yang sudah mandiri. Aku akan menghadiahkan kucing ini untuknya. Segera aku bersiap-siap untuk datang langsung ke rumah Nadya. Sebelumnya, aku sengaja tidak menghubunginya dari kemarin-kemarin. Agar saat aku datang, terkesan surprise.
Aku pun tiba di rumah Nadya. Kulihat di halaman rumahnya terdapat ayah Nadya yang sedang menyirami tanaman. Aku segera memarkirkan motorku, dan menyalami ayah Nadya.
“Assalamualaikum, pak.” ucapku sambil menyandarkan tangannya ke keningku.
“Waalaikumsalam, wah ... tumben mampir. Mau ketemu Nadya, ya?” tanya ayah Nadya.
“Hehe, iya pak ... minta izinnya buat ketemu.” balasku.
“Boleh-boleh ... tunggu ya, nak ... mangga duduk dulu.” ujarnya sopan.
Aku pun duduk di kursi teras rumah Nadya. Sambil menunggu, jantungku berdebar cukup kencang. Seperti biasa, aku tidak bisa mengontrol emosi kala bertemu dengan orang yang aku suka. Tak lama, seorang gadis cantik dengan setelan piyama tidur berwarna Pink keluar dari rumah.
“Hai.” sapa Nadya dengan senyuman manisnya dan poni rambutnya yang semakin membuatku gemas saja.
“Hai ... baru bangun, mbak?”. tanyaku.
“Ih ... enggak dong! Cuma belum cantik aja.” balasnya.
“Sudah cantik, kok ...” saat itu aku sangat bingung harus berkata apa lagi. Nadya hanya senyum-senyum sambil menunggu aku lanjut berbicara.
“Selamat ulang tahun, Nadya Amelia Putri. Semoga menjadi lebih baik, terus dilancarkan atas segala urusannya ... juga semoga apa yang kamu inginkan dapat tercapai ...” aku segera mengeluarkan kucing yang aku bawa dari kandang khususnya.
“Kamu pernah bilang kalau kamu suka kucing. Jadi ... aku cuma bisa kasih ini. Tapi jujur ... ini dari ras asli, loh.” lanjutku. Kini kucing itu sudah ada di pelukan Nadya.
“Wah ... makasih banyak, Farhan! Lucu banget kucingnya ... aku suka! Ini pasti mahal, loh. Duh ... jadi gak enak aku.” balas Nadya malu-malu kucing.
“Enggak, kok. Kebetulan kucing aku bunting, terus keluar ini bocah ... tapi belum sempat aku kasih nama.” jelasku.
“Kalau aku kasih nama Vanilla, bagaimana?” tanya Nadya.
“Nama yang bagus! Aku setuju!” balasku.
“Hallo Vanilla ... selamat datang di rumah mama!” ucap Nadya pada kucing itu.
“Ih ... Farhan! Makasih banget, loh. Terharu aku.” tambahnya.
“Sama-sama, cantik ...” kucubit pipinya dengan lembut.
“Ya sudah ... aku pulang dulu, ya! Masih ada urusan di rumah.” tambahku.
“Iya ... bye. Hati-hati, ya.” balas Nadya.
“Bye ... i will miss you.” ucapku.
“Miss you too.” balasnya lagi.
Aku pun pamit juga ke orang tua Nadya dan mulai melajukan motorku keluar dari pekarangan rumah Nadya. Selama di perjalanan, aku hanya bisa senyum-senyum sendiri mengingat kejadian yang barusan terjadi. Aku menjadi semakin yakin pada cinta Nadya. Oh Tuhan, betapa bahagianya aku pada saat itu.
Waktu terus berlalu, sedangkan hubunganku dengan Nadya sama saja ... tetap pada posisi itu. Lambat laun, aku merasakan sikap Nadya berubah padaku. Kami jadi jarang saling menghubungi, kalaupun aku menghubunginya ... balasannya cukup singkat dan terkesan dingin. Jika kita bertemu di kampus pun kami jarang berbincang, tidak seperti dulu. Hatiku menjadi risau, mungkinkah aku melakukan kesalahan? Hingga Nadya seolah-olah tidak mengingatku? Tetapi sejauh ini, aku tidak pernah menyakiti hatinya ... atau mungkin ... dia sadar bahwa aku suka padanya dan membuatnya risih? Entahlah ... yang jelas aku cukup sedih karenanya.
Suatu hari selepas ujian tengah semester. Kala waktu luang, kuhabiskan untuk rebahan di kamar. Sembari melihat-lihat status WhatsApp generasi muda, kulihat juga status milik Nadya yang baru saja ia buat. Lalu saat kubuka ... boom ... isinya adalah sebuah foto dirinya dengan seorang pria yang tampak bermesraan. Isi caption-nya adalah “beres UTS nge-date”.
Melihat hal itu, membuat aliran darahku mengalir cepat. Hatiku sakit rasanya, inikah yang membuatnya berubah? Tak ada yang bisa kuharapkan lagi ... tapi aku tidak bisa memendam rasa sakit ini sendirian, aku membutuhkan teman untuk bercerita. Banyak teman-temanku yang merespon hal ini. Ada yang menyayangkan bahwa aku tidak bisa bergerak cepat, ada juga yang memberikan penilaian buruk pada diri Nadya yang menurut mereka ... aku hanya dijadikan tempat pelarian dari rasa sepi Nadya.
Sejak saat itu, aku mulai menjalani hidup baru tanpa kehadiran Nadya. Jujur, hampa rasanya ... sakit hati dan kecewa masih saja menghantui pikiranku. Sisa perjalanan semester lima akan kulalui tanpa adanya sosok penyemangat. Aku selalu mencoba melupakan Nadya, namun itu terasa sangat sulit ... mengingat kita selalu bertemu di kelas. Kucoba menyibukkan diri ... dan tak terasa, semester lima selesai kulalui.
Liburan semester telah berakhir. Saat itu adalah waktu yang tepat untuk melupakan sedikit kenanganku bersama Nadya. Suatu hari, aku sedang duduk di kursi taman kampus. Sembari menunggu masuk kelas, kubuka ponsel pintarku untuk bermain game online ... sebal rasanya duduk seorang diri. Pada waktu yang sama, aku melihat seorang gadis berlari kecil ke arahku. Kusipitkan mataku ... dan what? Aku pastikan itu Nadya! Mau apa dia? Jantungku berdegup cukup cepat saat ia tiba di hadapanku.
“Farhan!” sapanya.
“Iya, ada apa Nad?” sahutku.
Belum sempat menjawab, seketika Nadya memelukku dengan sangat erat ... ia pun menangis di pelukanku. Mendapat perlakuan itu, membuat diriku kaget sekaligus bingung.
“Eh ... kenapa, Nadya?” tanyaku lagi.
Kulepaskan pelukannya, menghapus air matanya, dan menyuruhnya untuk duduk. Kubiarkan ia beberapa saat agar dirinya tenang. Berselang beberapa menit, akhirnya ia membuka mulutnya.
“Farhan ... apakah kamu cinta sama aku?” tanya Nadya.
“Em ... iya ... aku mencintaimu Nadya.” balasku gugup.
“Aku terlambat mengatakannya padamu.” ucapku pasrah melihat kenyataan.
Nadya sempat tersenyum tipis sebelum ia kembali
memasang wajah sedih.
“Farhan ... tolong jangan marah.” ucapnya seraya menangis.
“Lah ... kok? Kenapa aku harus marah?” tanyaku.
“Aku ...” kata Nadya sesenggukan.
“Aku ... hamil!” lanjutnya lirih.
“Apa?! Bercanda kamu! Jangan asal kalau bicara!” ujarku kaget tak percaya.
“Serius, Farhan ... aku menyesal ... aku kecewa percaya sama Radit!” teriaknya.
“Pacarmu itu?” tanyaku.
“Iya ... aku malu, Farhan. Orang tuaku juga sudah tahu ... aku bingung harus bagaimana?” ucapnya sambil tak kuasa menahan tangis.
“Brengsek! Kenapa kamu tidak minta tanggung jawab darinya saja?” tanyaku prihatin.
“Dia kabur ke luar pulau ... aku tidak tahu sekarang dia ada di mana”. jawab Nadya.
Suasana seketika hening, berada dalam keadaan seperti ini adalah hal yang sangat membingungkan. Sementara di sisi lain, aku masih mencintai Nadya. Jelas aku marah dan kecewa mendengar kabar ini. Perasaanku kini sangatlah kacau.
“Kamu jijik ya sama aku?” Nadya kembali membuka pembicaraan.
“Enggak, Nadya ... jangan bicara begitu.” sahutku.
“Aku ingin mati saja!” ujarnya.
“Jangan! Ada aku ... akan aku bantu.” balasku.
“Habis bagaimana? Aku bingung harus ngapain lagi!” ucapnya lagi.
“Aku bersedia menanggung beban hidupmu.” balasku datar.
“Maksud kamu?” tanyanya bingung.
Kuraih kedua tangannya dan kugenggam erat. Kutatap matanya sendu.
“Aku bersedia menikahi kamu, Nadya Amelia Putri.” jelasku.
“Enggak! Aku gak pantas buat kamu, Farhan ... kamu tidak seharusnya berbuat itu”. balasnya terharu.
“Harus! Aku tidak mau kamu menderita! Izinkan aku menikahimu.” ucapku pasti.
“Atas dasar apa kamu bicara begitu?” ujarnya tak yakin.
“Filantropi.” jawabku singkat.
Ya ... aku akan menikahinya. Aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri ... aku mencintainya ... setulus hati. Kabar ini akhirnya sampai juga ke banyak orang, termasuk orang tuaku. Pertengkaran hebat terjadi antara aku dengan kedua orang tuaku. Jelas mereka menolak keputusanku. Sedangkan teman-teman memandangku sebelah mata dengan menyebut aku ini bodoh. Perihal tetangga? Kalian sendiri tahu bagaimana mulut mereka berbicara.
“Pokoknya bapak sama ibu tidak setuju, Farhan! Tolong berpikir realistis!” bentak bapak.
“Begini caraku berpikir realistis!” ucapku tak mau kalah dan segera ke luar rumah.
Bapak masih tidak puas, dia mengikutiku. Bapak mulai mendekat dengan tatapan mata yang tak bersahabat.
“Nak, setia pada pasangan itu wajar.” bapak menghela nafas dan kemudian mencengkram kuat kedua pundakku.
“Namun ... setia pada rasa suka, itu sangat keterlaluan!” lanjutnya tegas.
Aku tetap bersikeras, keputusanku sudah bulat. Kuyakinkan kedua orang tuaku dan lambat laun mereka pun melunak. Hingga pada akhirnya, kalimat-kalimat menggelegar itupun terdengar nyaring.
“Ananda Farhan Alfajri bin Muhammad Zaim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nadya Amelia binti Hari Subagjo dengan maskawin berupa seperangkat alat shalat dibayar tunai.”
“Saya terima nikah dan kawinnya Nadya Amelia binti Hari Subagjo dengan maskawin tersebut dibayar tunai”. ucapku mantap. “Sah.”
***
“Assalamualaikum ... mama pulang!” teriak seseorang dari arah luar.
Sontak, hal itu membuyarkan lamunanku dari tadi.
“Waalaikumsalam. Eh ... tumben cepat?” balasku sambil menghampiri Nadya, istriku.
“Iya hehe ... kebetulan tadi pasarnya sepi ...” jawabnya seraya masuk.
“Dede Nadila udah tidur?” lanjut Nadya.
“Iya sayang, barusan ... selesai makan juga.” sahutku.
Setelah itu, kami berdua beranjak ke ruang tengah. Sambil menyalakan TV, kami membicarakan banyak hal. Seperti Silabus dan RPP baru yang harus sesuai dengan Kurikulum yang baru juga. Terkadang Nadya juga mengeluhkan setiap tingkah laku anak didiknya. Ya ... kami berdua adalah guru di salah satu sekolah.
“Jadi, kapan pelantikan gelar PNS kamu?” tanya Nadya.
“Hari Rabu, sayang. Doakan aku ya, semoga lancar dan sesuai agenda.” balasku.
“Kamu tetap semangat, ya! Enggak lama lagi juga kamu pasti bakal diangkat juga.” lanjutku.
“Iya, sayang. I love you.” ucap Nadya.
“I love you too.” balasku.
Aku pun merangkulnya hangat dan menikmati siaran Televisi. Ya ... inilah kisahku. Hubunganku dengan Nadya hampir berjalan mulus tanpa banyak masalah. Nadila, aku juga menyayangi anak satu tahun itu. Walaupun dia hanya anak tiriku, aku mencintainya sebagaimana aku mencintai mamanya, Nadya. Saat ini adalah tahun ketiga pernikahanku dengan Nadya. Kedua keluarga kami akhirnya bisa saling menerima ... dan, di tahun ketiga ini ... Nadya sedang mengandung anak pertamaku. Usia kandungannya sudah menuju ke enam bulan.
Dari kisahku ini, aku tidak tahu pelajaran apa yang dapat dipetik. Tapi yang jelas, sekarang aku sangat bahagia ... aku sangat menikmati jalan hidupku, karena inilah impianku sejak dulu ... menikahi Nadya. Aku tidak peduli terhadap cemoohan orang-orang, rasa kecewa, dan tentunya sikap bodohku. Karena aku yakin, inilah cara Tuhan menentukan takdirku ... cara-Nya mempertemukan kedua insan selalu unik.