Tahukah kamu di Indonesia terdapat beragam jenis hantu yang namanya sangat fenomenal di kalangan masyaraka, salah satunya adalah Palasik/Kuyang/Jeroan jika di Sambas kami menyebutnya sebagai Keroakkan. Hantu yang senantiasa akan melepaskan kepala dari tubuhnya ketika akan mencari mangsa ketika melayang yang terlihat hanya kepala beserta organ jantung, hati, usus dan ginjalnya yang akan membuat orang ketakutan sekaligus mual saat melihatnya.
Orang yang ingin menjadi palasik mulanya harus menuntut ilmu hitam dan mengerjakan berbagai ritual sesat salah satunya adalah memakan darah atau ari-ari bayi yang baru saja di lahirkan. Ilmu palasik biasanya juga diwariskan atau diturunkan oleh orangtua yang sebelumnya pernah menuntut ilmu palasik. Orang yang sudah sesat itu percaya bahwa dengan menjadi palasik bisa hidup dalam keabadian dan selalu terlihat lebih muda, namun ingatlah sebelum kita ikut terjerumus dalam aliran sesat bahwa sejatinya takdir seorang manusia ada di tangan Tuhan dan sampai kapanpun tidak ada satu pun manusia yang bisa menghindar dari kematian. Parahnya lagi orang biasa akan sulit membedakan siapa jelmaan palasik sebenarnya karna mereka biasa berbaur dengan masyarakat layaknya orang awam, selain itu semakin tinggi ilmu palasik itu sendiri semakin membuat si penjelma mudah untuk menghilangkan bekas luka penanggal di antara tubuh dan leher mereka.
Baiklah mari kita simak kisah hantu palasik!
Di sebuah desa bernama Desa Simpang Empat ada dusun yang namanya Dusun Arung Kuang. Dusun ini salah satu dusun yang ada di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat letaknya cukup jauh dari Sambas Kota dan lumayan terpencil yang membuat kampung Arung Kuang pernah mengalami kejadian-kejadian mistis seperti di teror hantu palasik belasan atau puluhan tahun lalu.
Kejadiannya tepat terjadi di Rt 12 / Rw 02, salah satu rumah warga yang sedang mengadakan acara syukuran untuk cucunya yang baru lahir beberapa hari lalu. Acara di langsungkan pada malam hari selepas shalat isya, orang-orang mulai berbodong-bondong datang lalu mengadakan acara potong rambut serta pengajian. Setelah acara syukuran berakhir dan para tamu juga sudah pulang ke rumah masing-masing. Ketika tengah malam si bayi tiba-tiba mengalami kejang-kejang. Tubuhnya panas dingin dan mulai kaku, matanya merah melihat ke atas atap rumah sambil menangis tapi tidak mengeluarkan air mata sedikit pun.
Sang ibu yang baru melahirkan sebut saja namanya bu Wati itu tentu saja cemas dan panik melihat anaknya kejang-kejang serta menangis terus-menerus bahkan menolak untuk di susui. Sang Kakek sebut saja Aki Unggal ayahnya Wati kakek si bayi juga tak henti-henti membaca surat-surat pendek seperti tiga Qul dan ayat Al-Kursi, sedangkan si nenek atau Uwan Imai neneknya si bayi pergi memanggil Pak Ustadz.
Pak Ustadz bersama Uwan Imai sampai di rumahnya. Baru satu senti Pak Ustadz menginjakkan kaki ke pintu masuk, dia langsung merasakan aura panas membelai serta meniup tengkuk lehernya. Aura negatif yang begitu pekat akan panasnya hampir menyelimuti seluruh ruangan rumah tersebut. Suara si bayi masih terdengar berteriak-teriak, Uwan Imai langsung mengajak Ustadz bergegas lari ke kamar di mana si bayi berada bersama ibu dan kakeknya.
"Boleh saya lihat anak adik?" kata si ustadz seraya meminta izin. Wati pun tak tanggung-tanggung menyerahkan putranya ke tangan ustadz.
"Astarghfirullah" saat anak itu digendong oleh ustadz sontak ustadz kaget melihat sosok kepala dengan rambut aur-auran dari pantulan bola mata bayi tersebut.
"Ustadz, sebenarnya anak saya kenapa?"
"Dari tadi dia nangis kejang-kejang dan gak mau nyusu." ujar Wati setengah menangis karna sangat takut terjadi sesuatu pada anak pertamanya itu.
"Ada sosok kuyang di atap kamar ini yang dilihat olehnya, itulah sebabnya kenapa anak ini sakal menangis." jelas ustadz yang membuat Wati beserta orang tuanya kaget.
"Dari mana kuyang itu berasal ustadz? Untuk apa dia mengganggu anak saya?" Wati panik setengah mati.
"Anak adik akan dijadikan tumbal oleh orang yang menjelma sebagai kuyang itu untuk kepentingan pribadi dia sendiri." jelas ustadz
"Bantu cucu saya ustadz, tolong singkirkan kuyang itu." rintih Uwan Imai sambil menangis mengusap kepala cucunya.
"Ada sesuatu yang memancing kuyang itu datang kemari, boleh saya tanya sesuatu?" Pak Ustadz mulai serius, Wati kembali dikagetkan oleh ustadz benda apa yang kira-kira bisa memancing kuyang datang.
"Apa ari-ari anak adik sudah di kubur dengan benar?"
"Ari-ari ustadz?"
"Benar sekali itu salah satu penyebab anak adik diganggu."
"Pa, bu, siapa kemarin yang ngurus ari-ari dedek?" tanya Wati pada orang tuanya. Wati tidak tahu apa-apa soal ari-ari anaknya karna dia melahirkan di puskesmas dan dia juga sempat pingsan beberapa jam setelah lahiran.
"Ibu suruh Romi buat ngubur itu ari-ari karna papamu pas kamu lahiran masih di ladang." tutur ibu. Romi adalah suami Wati yang berprofesi sebagai nelayan. Malam ini Romi juga pergi melaut seperti malam-malam sebelumnya dan pulang ketika pagi hari.
"Sepertinya Romi belum mengubur ari-ari itu." kata ustadz
"Lalu bang Romi simpan di mana bu?" Wati benar-benar panik dan bingung sama seperti ibunya yang tidak tahu apa-apa.
Uwan Imai kemudian mencari-cari di sekitar dapur dan pelecehan kamar mandi namun tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan ari-ari cucunya. Wan Imai bertambah panik serta takut karna tidak berhasil menemukan penyebab kuyang itu datang sementara cucunya masih dalam cengkraman kuyang.
Masih di kamar,
Ustadz menyuruh Aki Unggal buat ngambil segelas air putih untuk dibaca-bacakan doa. Aki Unggal datang membawa segelas air dan langsung memberikannya pada ustadz, kemudian air itu pun dibacakan doa selamat dari gangguang jin atau makhluk halus lalu dipercik-percikkan kesetiap sudut kamar serta tempat tidur bayi dan ibunya. Usai diberi doa penenang sang bayi berhenti menangis dan mau menyusu pada ibunya.
"Yang saya lakukan tadi hanya bersifat mengusir makhluk halus sementara, sebelum kuyang itu datang lagi kita harus segera menemukan ari-ari itu di simpan." kata ustadz dan didengarkan baik-baik oleh Wati beserta orangtuanya.
Esok paginya Wati sedang duduk santai sambil menggendong anaknya sembari menunggu suaminya di teras rumah. Tiba-tiba ada beberapa warga berlarian di jalan depan rumahnya, Wati pun keheranan serta penasaran. Diberhentikannya lah salah satu tetangganya yang lewat itu.
"Pakcik ada apa lari ramai-ramai?" Wati bingung dan penasaran.
"Anak Pak Hasim semalam melahirkan."
"Oh mau lihat anaknya ya Pakcik?"
"Bukan nak Wati tapi mau lihat anaknya yang dimakan sama kuyang sampai badannya membiru berlumur darah."
degdeg
seketika bulu kuduk Wati merinding bersamaan dengan jantung yang berdegup-degup kencang, sembari teringat kejadian yang juga menimpanya semalam.
"Pakcik jangan nakutin Wati ah."
"Tidak nak Wati, Pakcik juga tahu dari warga."
"Kayaknya kampung kita sudah tidak aman, mulai sekarang nak Wati dan perempuan hamil lainnya harus hati-hati jaga anaknya."
"Nak Wati, pakcik langsung ke sana ya!"
"Iya pakcik makasih infonya ya."
Wati kembali duduk mengelus pelan-pelan kepala anaknya kemudian dipeluknya, dadanya yang makin sesak tanpa sadar air matanya sudah tumpah. Wati tidak bisa membayangkan betapa hancur dan syoknya ibu yang baru melahirkan itu ketika melihat bayinya mati mengenaskan, mungkin jika itu terjadi pada dirinya Wati bisa menjadi gila atau bahkan rela mati sebagai ganti asal anaknya bisa terbebas dari gangguan makhluk mengerikkan itu.
Tak lama kemudian, Romi suami Wati pulang dari melaut. Hari ini tangkapan ikannya sangat banyak beda dari hari-hari sebelumnya. Romi sangat bergembira serta semangat ketika memperlihatkan baskom yang berisi penuh dengan ikan kepada istrinya, tetapi dia juga bisa merasakan Wati tampak murung.
"Cium anaknya dulu kek ini malah ikan yang di dahuluin" gerutu Wati dengan raut wajah kesal.
"Kamu kenapa istriku, suami pulang malah diomelin."
"Bang semalam Fahmi di ganggu sama kuyang gara-gara abang gak nanam itu ari-ari dia, dan hari ini anaknya Pakcik Hasim yang baru melahirkan itu abang tahu cucunya mati di makan kuyang dan kuyang itu sama dengan yang udah gangguin Fahmi."
Pernyataan Wati sepertinya justru malah membuat perut Romi serasa tergelitik. Romi tak tahan untuk menertawakan istrinya yang begitu tampak cemas.
"Astaga sayang jangan percaya yang begituan."
"Kuyang itu tidak ada sayang kalau ada mungkin orang udah pada lihat itu wujudnya, kuyang hanyalah cerita rakyat yang menyebar dikalangan masyarakat untuk menakut-nakuti ibu hamil."
"Abang sesumbar banget sih, ustadz yang bilang bang kalau anak kita diganggu kuyang karna itu ari-ari gak dikuburin."
"Bang itu ari-ari kotor bau amis darahnya sangat pekat, janganlah abang main-main ah."
"Udahlah sayang abang gak percaya yang begituan, abang mau mandi dulu amis bau ikan."
"Percayalah sama abang tidak perlu khawatir jangan takut tidak akan terjadi sesuatu sama anak kita."
"Abang enak jarang di rumah tapi Wati yang lihat Fahmi nangisnya sakal banget kan takut bang."
"Shalat 5 waktu terus ngaji udah cukup gak perlu parnoan gitu sayang ntar itu setan juga hilang sendiri kalau memang ada."
"Itu ari-ari abang simpan dimana? pak ustadz nanti mau datang buat ngubur itu barang."
"Udah abang simpan di tempat yang aman."
Romi berlalu masuk ke dalam rumah, sedangkan Wati masih mengomel-omel kecil di teras. Wati hanya tahu mencemaskan anaknya tapi suaminya itu tidak percaya dengan adanya makhluk yang sedang mengancam anak mereka dan itu membuat Wati kesal pada Romi sekaligus takut kehilangan Fahmi.
"Nak, mukamu kok pucat?"
"Kamu demam ya? Kita masuk aja ya nak mataharinya juga udah mulai naik."
Wati pun memutuskan untuk masuk karna merasa anaknya sedang demam. Begitu baru selangkah meninggalkan teras tiba-tiba terdengar suara orang memanggil namanya. Wati langsung berbalik badan melihat ke arah jalan ternyata Santi yang datang.
"Ayo San masuk ke dalam, duduk-duduk dulu biar aku buatin air minum."
sembari mengajak Santi masuk tetapi wanita itu hanya diam saja sambil ikut berjalan masuk. Kala itu Wati langsung merasa aneh, aura panas mulai terasa bertiup ditengkuknya yang membuat bulu kuduknya seketika berdiri.
"Kamu lihat apa San?" Wati mencoba bertanya setelah mencurigai Santi yang aneh ketika menatap ke arah kamarnya.
"Tidak ada. Maaf ya aku baru jenguk kamu soalnya aku baru tahu kalau kamu habis lahiran." kata Santi seolah mengalihkan pembicaraan.
"Gak pa-pa kok San biasa aja."
"Udah berapa lama kamu melahirkan, Wat?"
"Sepuluh hari. Oh ya emang selama ini kamu kemana, San?"
"Aku pulang ke kampung ibuku setelah pisah dengan suamiku."
"Udah lama ya San?"
"Baru dua bulan yang lalu."
"Maaf ya San aku gak tahu soalnya selama hamil aku di rumah aja gak keluar-keluar jadi gak tahu kalau kamu udah pindah." Santi tersenyum sambil manggut-manggut gusar.
"Aku buatin air teh dulu ya bentar, kamu di sini aja San."
"Boleh aku gendong anak kamu?"
"Boleh kok, ini." Wati tak tanggung-tanggung menyerahkan anaknya untuk digendong oleh Santi tetangga lamanya. Saat berpindah tangan si anak langsung menjerit menangis seolah anak itu tahu ada mata jahat yang sedang mengawasinya.
"Anakku demam jadi agak rewel." tutur Wati.
"Tidak pa-pa nanti juga diam dengan sendirinya, mungkin karna dia belum pernah melihatku."
Santi memang penyayang sama anak kecil jadi Wati tidak heran kalau anaknya cepat berhenti nangis setelah ditimang-timang oleh Santi.
"Wat, anakmu habis diganggu makhluk halus ya?" tanya Santi tiba-tiba sehingga Wati menahan diri untuk membuatkan minuman.
"Kok kamu tahu?"
"Aku mencium bau amis keluar dari tubuh anakmu, ini amis darah."
"Apa suamimu tidak mengubur ari-ari anakmu?"
"I-iya benar." jawab Wati ragu-ragu, sontak sorot mata Santi langsung berubah sangat menakutkan.
2 Hari Kemudian
Wati berteriak keras memanggil suaminya saat melihat tubuh anaknya membiru dibagian belakang punggung. Aki Unggal bersama istrinya yang sedang menampi beras juga segera berlari ke kamar Wati setelah mendengar teriakkan itu. Mereka semua terkejut melihat tubuh Fahmi juga semakin kurus padahal selama ini mereka tahu Fahmi kuat saat menyusu bahkan Wati sendiri merasakan kalau anaknya menyusu dengan sangat baik.
"Abang panggil pak ustadz sekarang."
"Cepat bang." perintah Wati sambil ketakutan.
Sepelas magrib Romi pun berjalan kaki sendirian menuju rumah ustadz. Mulanya Romi tidak merasakan apa-apa, tapi matanya mulai nanar melihat ke sana kemari tidak fokus lagi melihat jalan yang berbatu kecil-kecil. Tidak jauh dari rumah ustadz ada pohon banyak pohon kelapa tiba di sana Romi langsung merinding. Sayup-sayup suara angin seolah tidak terdengar, mendadak suara jangkrik pun hilang. Suasana gelap dan sunyi meski di kiri kanan masih tampak rumah orang.
Syuppp
Suatu bayangan hitam seperti kepala terbang melintas secepat kilat di pucuk kepala Romi, bulu kuduk langsung berdiri. Romi enggan menoleh ke atas tapi bayangan tadi membuatnya penasaran, tiba-tiba di atas pohon kelapa terlihat oleh Romi ada api berwarna merah kehijauan terus menyala-nyala tetapi sama sekali tidak membakar dedaunan kelapa yang agak menutupi cayaha tersebut.
Sebelumnya Romi tidak pernah melihat keanehan, tapi saat melihat bola api yang terus berpindah-pindah dari pohon satu ke pohon yang lain itu membuat Romi merinding dan takut sehingga dia harus berlari kencang untuk sampai di rumah pak ustadz.
Setelah bertemu pak ustadz, Romi bercerita tentang apa yang dia alami saat menuju rumah pak ustadz tadi. Percaya tidak percaya begitu mendengar pernyataan pak ustadz mengenai kepala terbang yang memancarkan cahaya merah kehijauan itulah tanda-tanda kemunculan kuyang. Biasanya kemunculan kuyang juga ditandai dengan suara-suara burung yang suaranya nyaring bisa membuat telinga berdengung setelah mendengarkannya.
Masih di jam yang sama ditempat yang beda. Wati turun ke halaman belakang rumah yang di belakangnya terdapat kebun karet serta kebun kelapa. Wati turun mengambil jeruman pakaian anaknya yang sudah kering tapi lupa buat di angkat tadi sore. Meski masih dihantui rasa takut tapi Wati berusaha tetap memberanikan diri dengan sedikit bernyanyi-nyanyi pelan sembari tangannya meraih jemuran satu persatu menempatkannya ke dalam keranjang jemuran baju.
Tiba-tiba Wati mendengar suara menggeruduk dari bawah lantai rumahnya. Seperti kepala orang yang terhentuk ke lantai saat menyusuk ke bawah rumah. Wati takut itu anjing orang akan bersarang dan melahirkan di bawah lantai rumah lagi karna Wati tidak suka bau anjing. Selesai mengangkat jemuran, Wati pun memberanikan diri untuk melihat ke bawah lantai rumahnya dengan memakai sentar yang di bawa sebagai alat penerangan untuk mengusir anjing tersebut. Sebelumnya Wati sempat mengambil kayu, karna Wati tahu anjing ketika diganggu pasti akan menjadi galak jadi kayu itu digunakan untuk membuat anjing takut.
Terdengar lagi suara aneh seperti orang sedang mengunyah makanan tapi dengan cara terburu-buru. Sssrrr Wati langsung merinding dan panas dingin setelah mendengarnya. Pelan-pelan Wati pun menundukkan badannya ke bawah lantai rumah karna perutnya masih terasa sakit jika dipaksakan. Wati pikir itu anjing hitam sedang memakan bekas tulang-tulang sapi, tapi setelah di sentarin lebih jelas ternyata kuyang yang mukanya penuh dengan darah sangat menyeramkan, matanya melotot tajam menatap Wati dengan taring-taring di rongga giginya seolah siap akan menjadikan Wati makan malam selanjutnya.
Ketika itu Wati langsung berteriak memanggil kedua orang tuanya, kemudian menjerit histeris karna menyadari kuyang itu berhasil memakan ari-ari anaknya yang ternyata selama ini suaminya simpan di dalam ember tertutup di bawah lantai rumah. Kuyang tersebut berhasil kabur ketika melihat orang tua Wati datang. Aki Unggal segera mengumpulkan warga untuk menangkap kuyang tersebut, sedangkan Wati dan ibunya bergegas ke kamar untuk memastikan anak Wati baik-baik saja.
Tetapi apa yang terjadi? Wati dan ibunya justru menyaksikan kejadian mengerikkan yang membuat mereka berteriak-teriak. Wati dan ibunya tidak bisa berbuat apa-apa selain mematung tapi mulut berteriak saat melihat kuyang tersebut menghisap darah anaknya. Kuyang itu langsung lari tapi anak Wati sudah mati mengenaskan perutnya robek berlumur darah di mana-mana, kuyang itu mengambil organ dalam bayi tak berdosa itu.
Melihat putranya sudah tidak bernyawa dengan mengenaskan Wati langsung pingsan. Ketika itu pak ustadz dan Romi sampai di rumah, barusan mereka melihat orang ramai-ramai membawa sentar serta bambu runcing dan jaring tapi di rumah mereka melihat ibu sedang menangis memeluk Wati yang masih pingsan.
"Bu, Wati kenapa?" tanya Romi.
"Lihat di kamar kalian." lirih Uwan Imai sambil menangis.
"Innalillahi" ucap pak ustadz
"Romi, kita datang terlambat anakmu sudah meninggal dunia."
Kemudian Romi pun menyesal. Diangkatnya putra kecilnya yang sudah kaku berlumur darah itu ke dalam pelukkannya. Dia menangis sejadi-jadinya.
"Tidak ada gunanya sekarang untuk menyesal, yang perlu dilakukan kita harus segera menemukan kuyang itu dan mencari tahu siapa yang sudah sesat menjelma sebagai kuyang agar warga tidak diresahkan lagi." tutur ustadz.
"Iya ustadz" berusaha untuk tetap tegar serta menjadikan kejadian ini sebagai pelajaran.
"Bu, bapak mana?"
"Dia pergi bersama warga beramai-ramai untuk menangkap kuyang itu." kata Uwan Imai.
Romi bersama ustadz segera ikut mengejar bapak dan para warga. Dan beberapa ibu-ibu pun mulai berdatangan ke rumah Wati untuk membantu proses pemakaman anaknya Wati.
Penangkapan kuyang berlangsung sengit. Bagaimana pun kuyang kodratnya adalah manusia tapi ketika dia melepaskan kepala dari tubuhnya maka wujudnya akan berubah jadi setan yang punya kekuatan, sehingga membuat warga kesulitan untuk menangkapnya.
Kuyang itu dengan bebas terbang melayang-layang di atas pepohonan, sesekali tertawa cekikikan mempermainkan warga yang masih terus mengejar meski harus berlari-larian membuang banyak tenaga.
Dia pun menghantui warga dengan mendekatkan diri melayang-layang di atas kepala warga. Wujudnya yang mengerikkan serta menjijikkan membuat satu persatu warga mual dan muntah-muntah melihat jeroan yang menjuntai bebas. Dan baru darah segar yang amis semakin menyengat bertepatan dengan berhembusnya angin, salah satu warga sampai pingsan karna sudah tidak tahan menahan mual dan bau.
"Pakcik, sepertinya kita tidak kuat lagi sudahi saja rencana menangkap kuyang."
"Mustahil bagi kita untuk menangkapnya karna malam memang waktu makhluk ini menjadi kuat, kita cuma manusia biasa Pakcik."
protes beberapa warga pada Aki Unggal. Terpaksa Aki Unggal menuruti kemauan mereka tetapi mereka semua harus siap untuk mendapat teror kuyang di kemudian hari. Dan para warga sepakat untuk lebih hati-hati saat teror kuyang datang, bersamaan dengan kesepakatan yang mereka buat, Romi datang bersama pak ustadz.
Dengan bergabungnya Romi dan pak ustadz bersama mereka untuk membasmi itu kuyang rupanya kembali membangkitkan semangat warga untuk ikut menangkapnya lagi.
"Siapa kamu sebenarnya hei makhluk yang tersesat dalam kemungkaran?" Pak ustadz mencoba menghadapi kuyang itu.
Kamu kamu semua tidak bisa menangkapku karna aku sudah kekal selama-lamanya.
aarghhh
"Tunjukkan wujud aslimu sebelum saya membakarmu dengan api yang menyala-nyala."
Api itu tidak akan membakarku karna aku setan yang terbuat dari api neraka.
Kamu semua tidak bisa membunuhku, aku yang akan membunuh kalian.
"Atas izin Allah dan hanya dengan bantuannya, saya akan membakarmu."
"Cepat ambilkan bensin, lalu ratakan ke dalam lingkaran yang sudah saya garisi." kata ustadz setelah membuat lingkaran besar tepat di bawah kuyang itu melayang.
"Tetap fokus baca surat-surat pendek dan ingat sang pencipta selalu, ayo fokus jangan takut pada setan sesungguhnya manusia makhluk yang paling sempurna." pinta ustadz pada semua warga.
Beberapa warga yang lain berhasil menyirami garis lingkaran tersebut sampai ke dalam-dalam lingkaran, tetapi kuyang itu sama sekali tidak takut kemudian menggigit salah satu warga yang masih berada di dalam lingkaran.
Keadaan mulai panik, membuat warga menjadi ketakutan. Pak ustadz langsung masuk ke dalam lingkaran kemudian menarik kepala kuyang tersebut dari leher warga yang berhasil dia gigit. Pak ustadz tidak akan melepaskan kuyang tersebut, lalu dia melilitkan kain yang di bawanya untuk membungkus kepala kuyang tersebut, sedangkan warga tadi langsung lari terbirit-birit dengan kondisi lunglai mendekati kerumunan warga lainnya.
"Romi, lempar korek apinya sekarang."
Kamu tidak akan bisa membunuhku
Aku sudah kekal
Kuyang yang sudah dibungkus itu masih memberontak berusaha keluar sambil berkoar-koar tidak terima kekalahannya.
"Jika Allah mengizinkan saya membunuhmu, maka kamu akan mati di dalam api-api ini."
Aargghhh... coba saja
Kuyang itu masih menantang dan tetap menyangkal keabadian yang dia miliki akan berakhir. Pak ustadz langsung membakar lingkaran tersebut kemudian segera menjauh dari kobaran api yang sangat cepat membesar.
Setelah itu Pak Ustadz mengajak warga untuk sama-sama berdoa dan membaca ayat suci Al-Qur'an dengan memohon harapan kepada Allah Swt supaya kuyang tersebut benar-benar musnah dan tidak akan mengganggu ketentraman warga lagi.
Suara jeritan serta makian jelmaan kuyang masih terdengar di telinga mereka. Sepertinya kuyang itu tidak terima dikalahkan serta nyatanya hidup yang kekal tidak bisa dia dapatkan. Pak Ustadz dan para warga tetap sabar mendengarkan celotehan dari kuyang tersebut sambil terus memanjatkan doa kepada Allah Swt. Hingga beberapa saat kemudian api itu padam perlahan-lahan dan membakar kuyang tersebut hingga hangus menjadi debu.
~TAMAT~