Membahagiakannya adalah impianku. Apa pun akan kulakukan untuknya. Untuk dia yang telah mengikhlaskan diri mengarungi hidup bersamaku. Walau belum ada cinta di hatinya untukku, namun ia bersedia menghabiskan sisa umurnya denganku.
Aku bukan orang berada, namun ia terima kefakiranku. Aku bukan orang hebat, namun ia terima kelemahanku.
Kehadirannya memberi warna dalam hidupku. Tawanya, candanya, senyum manisnya, menghiasi hari-hariku.
Dia yang selalu berkorban, mengorbankan perasaannya untukku yang tidak tau malu. Aku yang memintanya tanpa memikirkan apa yang ia mau dan apa yang membuatnya bahagia.
Aku bukan seorang yang romantis. Aku hanya manusia biasa yang selalu ingin dicinta. Dicintai olehnya, aku merasa sempurna. Namun apakah aku bisa mendapatkan cintanya? Sedangkan aku tidak pernah paham apa yang dapat membuatnya jatuh cinta padaku.
Setiap untaian doa yang dipanjatkan olehnya, terdengar merdu dan merasuk ke dalam sukmaku. Setiap langkahku terasa ringan. Setiap hari, ku merasa terberkati.
Dia adalah orang yang berarti dalam hidupku. Dia yang merengkuhku saat sedih. Menghapus jejak air mataku. Menemaniku di kala sepi. Menyemangatiku selalu dalam setiap aktivitasku.
10 tahun pernikahan kami, namun aku belum mampu membahagiakannya. Bukan waktu yang sebentar kami jalani. Suka duka kami lewati bersama. Aku tau ia sedih. Aku tau hatinya selalu menangis. Aku tau, ia ingin seperti teman-temannya, merasakan kebahagiaan dari sebuah pernikahan. Namun ketidakmampuanku, menjadi penghalangnya.
Sempat terpikir olehku untuk melepasnya. Membiarkannya mencari kebahagiaannya sendiri. Hingga suatu malam, aku mengajaknya berbicara dari hati ke hati.
"Bahagialah, Cinta! Aku akan menceraikanmu. Aku belum mampu membahagiakanmu. Bersamaku, hanya membuatmu menderita"
Cinta pun menangis.
Aku sadar, aku bukan lelaki terbaik untuknya. Aku hanya menambah derita di hidupnya. Membebaninya dengan pekerjaan rumah, mengurus anak-anak, dan dia pun harus membantu perekonomian keluarga kami dengan berjualan kecil-kecilan di rumah. Karena aku hanya pegawai swasta dengan gaji yang tak seberapa.
Pernah aku melihatnya menatap nanar pada teman-temannya yang tengah bersenang-senang menikmati masa muda mereka sedangkan ia sudah menggendong bayi buah hati kami.
"Maafkan, telah memintamu untuk menjadi istriku. Maaf, aku belum bisa membahagiakanmu" ucapku lirih.
Cinta hanya terdiam.
Tak banyak yang ia minta selama pernikahan kami. Ya, karena ia perempuan yang paling mengerti keadaanku. Memang terasa aneh, hanya aku yang mencintainya, sedang ia tak pernah mencintaiku. Namun perhatiannya, membuatku merasakan cintanya.
"Apa kamu mencintaiku?" tanyaku suatu ketika.
"Tidak" jawabnya singkat.
"Kenapa kamu mau menikah denganku?"
"Karena kamu baik dan aku yakin kamu bisa bahagiakan aku"
"Tapi selama pernikahan kita, aku belum bisa membahagiakan"
"Aku yakin, suatu saat nanti"
Aku pun tersenyum mendengar jawabannya yang penuh keyakinan.
Kalimat itu menjadi charger yang mencharge diriku untuk lebih semangat memberikan kebahagiaan padanya. Membuatku termotivasi mewujudkan segala impiannya.
Aku pun bekerja dengan sungguh-sungguh, untuk bisa meningkatkan kehidupanku juga untuk membahagiakan keluarga kecilku. Istriku dan anak-anakku.
Dan saat ini, kami sedang berjuang bersama mewujudkan kebahagiaan kami. Bahagialah, Cinta! Aku pun yakin kita akan bahagia bersama selamanya. Menua bersama, melihat anak-anak kita dewasa, merasakan pelukan malaikat kecil di tubuh renta kita.
Tidak apa-apa, kau tidak mencintaiku. Namun deras cintaku akan terus menghujanimu setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, dan setiap hembus napasku. Kita akan bersama hingga ruh terlepas dari raga.
~END~