Praaaak ....seeeer! Jatuhlah secara spontan benda kesayangan kami berdua di lantai kayu ulin yang mengkilap dalam rumah kami. Berserakan. Berhamburan di sana-sini. Berkeping-keping. Berkeping-keping pula pecah kalbuku. Wajahku mendadak pucat pasi. Bibirku terkatup rapat. Jantungku serasa berhenti berdetak.Sementara adikku masih menangis.
"Kacau, kacau, dunia belum kiamat, " gumamku.
"Bagaimana kalau memang nyaris kiamat betulan? Gawat deh. Matilah aku!"
Aku kaget luar biasa. Tiba-tiba mama sudah berada di dekat kami. Biasanya Mama kami baru datang dari rutinitas pekerjaan bertani beliau menjelang azan tengah hari berkumandang. Aku sangat gugup. Ketakutan juga kulihat menyelimuti adikku yang kini tangisannya tinggal tersedu-sedu. Serasa sang malaikat Izrail datang ingin menjemputku.
Ibu terpaku memandangiku. Sorot matanya tajam memelototi wajahku. Sekali waktu beliau menyapu pandangannya pada lantai yang berserakan. Lalu menatap adikku Bara penuh tanda tanya. Bara adikku yang baru duduk di kelas 5 SD terlihat semakin takut. Tangisnya pecah kembali.
Sungguh di luar dugaanku mama datang terlalu dini. Memang kebetulan ini sudah musim tanam padi tiba di kampung kami. Setahuku hari ini Mama kami tadi pagi-pagi sesudah shalat Subuh sebelum matahari terbit sudah berangkat ke sawah untuk "manaradak" (bahasa Banjar manaradak artinya menanam bibit padi) sebagai kegiatan awal bercocok tanam. Beliau membawa "paung" (bahasa Banjar artinya bibit padi) sebanyak dua gantang. Cukuplah paung sebanyak itu untuk seorang diri bahan beliau hari ini. Mama kami pekerja ulet. Beliau harus rajin bekerja keras sebab menjadi tulang punggung keluarga kami semenjak ayah kami meninggal dunia tiga tahun silam.
"Ada apa ini? Apa sudah kalian lakukan?" tutur mama memulai pembicaraannya sembari bolak-balik menatap kami. Kami berdua sementara waktu hanya mampu berpandangan.
"Ayo, jelaskan Viral apa yang sesungguhnyanya terjadi?" pinta mama padaku dengan penuh harap. Aku sadar dan memahami mengapa mama akan meminta keteranganku sebab akulah anak tertuanya. Bara terdiam kaku. Aku juga masih membisu. Berusaha merangkai kata-kata.
"Viral, belajarlah bertanggung jawab apabila berbuat sesuatu!" Sebuah desakan yang tepat mengenai naluriku. Padahal, aku tahu mama kami tidak pernah berbicara "sesadis'" dan sekeras ini pada kami anaknya.
"Be....gini Ma, " kuberanikan nyaliku mulai bicara. Walau ku mulai dengan terbata-bata. "Tadi sesudah mama berangkat ke sawah Viral membuka hp sendirian saja. Viral ingin mengerjakan tugas belajar daring online yang diberikan guru bahasa Indonesia di sekolah, Ma. Tugasnya tentang unsur-unsur intrinsik cerpen."
"Terus mengapa sampai hp ini bisa pecah berserakan seperti ini?" Mama melanjutkan interogasinya.
"Anu....Bara yang memulainya, Ma." jawabku membela diri sambil memandang Bara yang tertunduk lesu. Tentu saja Bara tidak berani membalas argumenku sebab dia paham betul aku akan menyerangnya lagi dengan kata-kata yang lebih tajam. Begitulah kebiasaan kami bersaudara kalau lagi bertengkar. Paling-paling Bara mengadu meminta pembelaan mama karena tidak sanggup meladeniku.
"Waduuuh....kakak menyalahkan ku nih? Main tunjuk-tunjuk sama Bara." Aku kaget kok Bara sekarang sudah berani melawanku. Batinku menganalisis penyebab Bara berani melawanku kini. Apalagi dia berani melawanku di depan mama. Oh, iya Bara sekarang sudah bukan kelas 4 SD lagi. Pantasan bicara sudah mulai lihai membela diri.
Mata mama kontan beralih pandang ke arah Bara. " Jadi, Bara ingin sampaikan sesuatu juga mengapa ini bisa terjadi?"
Aku merasa tersudut. Kalau-kalau Bara menyalahkan ku juga seperti aku menyalahkannya.
" Ini semua gara-gara Ka Viral, Ma. Bara cuma mau pinjam hp sebentar, tapi Ka Viral menolaknya. Malah menyuruh Bara nonton tv saja."
Ternyata benar dugaanku. Adikku mulai menyudutkanku.
"Kan aku harus pakai hp sebab untuk belajar tugas sekolah. Kamu cuma maunya pakai hp buat main game doang", sahutku mempertahankan diri.
Kulihat mama yang kini mulai berdiri dengan wajah beliau yang berwibawa mencoba memahami sesuatu. Direntangkan beliau kedua belah tangan ke arah kami seperti merpati putih yang ingin terbang tinggi ke angkasa. Tangan kanan beliau ke arah Bara, sementara tangan kiri ke arahku. Butiran air bening mengucur membasahi pipi kanan dan kiri beliau. Butiran air yang penuh makna dan mengalirkan arti cinta bagi kami.
"Kini mama sudah mengerti apa yang terjadi sebenarnya sayangku,"suara begitu lembut dan menyejukkan hati kami. Seketika kami pun berangkulan dengan kedua belah lengan mama yang sudah dibuka beliau untuk kami.
"Kalian berdua benar. Tidak ada yang salah," tatap mama pada kami secara bergantian. Tatapan yang sarat kasih sayang. Dari bola mata beliau seolah mengirim sinyal kemesraan yang terikhlas kepada kami. Aku dan adikku serasa hidup kembali.
" Untunglah kiamat kini tertunda, " bisik kalbuku.
" Nak, duduklah kalian di sampingku," pinta mama dengan bijak. Laksana mengajarkan pada kami makna kebersamaan dan toleransi yang hakiki. Refleks kami berdua sudah berada di samping kanan dan kiri beliau.
Sinyal yang dikirim dari hati suci mama terbaca oleh kami tanpa lelet sehuruf pun. Hangat sungguh menyelimuti kami bertiga seketika. Kehangatan yang enggan kami enyahkan sedetikpun juga.
"Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu. Segalanya pasti ada hikmahnya. Kalian yang penting selalu jujur dan harus bertanggung jawab dalam hal apapun," nasihat mama yang terekam di memori jiwa kami.
Ternyata mama tak memarahiku dan Bara. " Mama, sangat sayang kalian berdua," ujar beliau seraya membelai lembut bahu kami berdua. Ada rasa kehangatan yang teramat dalam menjalari sekujur tubuhku. Mungkin begitu juga yang Bara rasakan.
"Nanti kalau kita sudah panen padi mama Insyaa Allah akan menyisihkan sebagian hasilnya untuk membeli hp baru untuk kalian masing-masing-masing satu. Tidak lagi hp bekas seperti yang berserakan di lantai ini. Kalian tidak perlu lagi berebutan. Sudahlah, ngga apa-apa sayang."
Kami pun saling tersenyum. Terlihat bias"himung". (bahasa Banjar artinya sangat bahagia) menyelimuti wajah mama kami yang cantik dan bijaksana.
* KalSel, Desember 2020#