Di sebuah gerbong kereta KRL Bandung Tasikmalaya, berdesak desakkan gadis kecil yang dituntun seorang pemuda, berdiri bersama para penumpang lainnya yang tak kebagian kursi tempat duduk. Hilir mudik para pedagang asongan yang menawarkan barang menambah aroma ketidaknyamanan angkutan rakyat kota pinggiran.
“ Kaka mau kemana, Ibu mana...,Ibu kaka...Ibu....”
Disela suara tangis bayi, gadis kecil usia 4 tahunan itu bertanya pada sosok laki laki kurus berusia 15 tahunan, berkulit hitam terbungkus baju putih dekil penuh tambalan. Laki laki itu mendekap erat bayi dalam kain aisan lusuh, melintang dari bahu kiri ke pinggang kanannya, sesekali ia menggoyangkan kain itu berusaha meredam tangisan bayi yang sulit berhenti. Raut wajahnya yang terlihat keras tak mampu menyembunyikan rona kesedihan, iapun tak bisa menahan sedu sedan diantara tangis dan rengek manja bocah kecil yang slalu bertanya tentang ibu.
“ Kaka Ibu mana...kaka, ... mau ke Ibu !. “
Bocah itupun mulai menangis, menampakkan wajah memelas kehilangan sosok ibu.
“ Ibunya tidur dulu ya de “
Jawab Sang kaka tidak mampu memberikan rasa nyaman sehingga gadis itu terus merengek bertanya tentang ibunya.
“ Dibawa kemana ibu,..... mau tidur sama Ibu “
Gadis kecil itu menangis mengiringi lantunan pilu seorang bayi yang kehausan dalam gendongan kakanya. Semua mata tertuju pada tiga anak manusia tak berdosa, beragam Tanya menghiasi raut wajah para penumpang kereta, namun tak satupun dari mereka berupaya menenangkan tangisan nyaring yang saling bersahutan.
“ Adek tidur dulu disini sama Ibu dulu ya “
Sosok wanita setengah baya menawarkan jasa, berupaya mengurangi situasi hingar tangisan bocah bocah yang haus kasih sayang.
“ Dede tidur dulu sama Ibu itu ya, kaka tidurin dedenya Lies dulu “
Sang kaka mulai membujuk gadis kecil yang bernama lies, gadis itupun nurut setelah lelah berdiri.
“ Namanya siapa ? “ Ibu itu bertanya
“ Lies Siti mashati ...” Gadis kecil itu menjawab polos menggemaskan.
“ Gak sama Ibu...Ibunya mana ? “
“ Ibu Lies tidur dulu, tapi dibawa pergi sama orang orang “
Jawaban polos kembali terlontar dari bibir mungilnya, Lies belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“ Maksudnya apa nie mas, adeknya lucu banget Mas “
Ibu itu bertanya pada sang kaka yang sedang memberikan dot bayi berisikan air putih.
“ Ibunya sudah dipanggil oleh yang maha kuasa, Bu “
Sang kaka memberi jawaban diiringi derai air matanya yang sulit untuk dibendung lagi.
“ Ya tuhan....” Ibu itu ikut menangis dipeluknya gadis kecil yang bernama lies. Didekapnya erat untuk menumpahkan rasa haru yang sulit disembunyikan. Penumpang lainnya hanyut terbawa suasana duka, tak sedikit penumpang yang mengetahui cerita sebenarnya menitikkan air mata seiring tangisan bayi yang sangat menyayat hati mengundang simpati penumpang penumpang lainnya.
“ Kaka ibu mana ...pengen tidur sama ibu ..kaka...” lies meronta dalam dekapan sosok Ibu yang tak dikenalnya, Lies masih tetap merengek menanyakan ibu.
“ Ibu beliin permen dulu ya.. biar Lies tidurnya sama Ibu disini “ Ibu itu merayu mencoba mengalihkan perhatian Lies.
“ Iya De ini buat dede ya !. “
Seorang pedagang asongan memberikan permen coklat gratis, ia mengetahui kondisi Lies yang sudah ditinggalkan Ibunya, rasa iba dan simpati mendorong dirinya untuk membantu sesama manusia yang membutuhkan pertolongan.
“ Lies ..pengen Ibu bukan permen....ibu....” Lies terus menangis bersahut sahutan dengan tangisan adiknya di dalam ayunan sang kaka.
****
15 tahun berlalu kenangan itu masih lekat dalam ingatan, Lies yang dulu masih lugu, kini tumbuh manjadi gadis dewasa yang tangguh menjalani kerasnya hidup dikota, dipandanginya gerbong kereta yang dulu membawa seribu duka, menggiring ingatannya terhadap sosok adiknya yang sampai kini terpisah, lies yakin digerbong ini, dibangku nomor 133 ia tertidur dalam dekapan seorang ibu yang tak dikenalnya. Satu yang dia ingat pedagang asongan dan permen coklat itu, ada bekas jahitan disebelah pipi kiri itu yang Lies ingat.
Zaman sudah berubah semua telah berganti, gerbong itu kini menjadi besi tua terkubur bersama deretan gerbong gerbong lainnya yang dimakan usia, tak ada lagi pedagang asongan yang hilir mudik menawarkan barang, semua tertata rapi menawarkan kenyamanan pengguna angkutan Kereta Api, kenangan tinggallah kenangan rasa rindu terhadap ibu dan adiknya yang belum dipertemukan, mendorong dirinya untuk slalu menyempatkan diri singgah di station kereta yang menggores kan seribu duka, tak lupa untuk menyempatkan dirinya berdo’a di Mushola station.
“ Dengan izinmu Aku masih bisa hidup, dengan izinmu pula aku bisa tersenyum, Ya Tuhan dalam setiap sujudku aku mengharap RidhoMu, pertemukanlah hamba dengan adikku ”.
Sementara itu disudut mushola anak laki laki yang sebelumnya Lies beri kue sus masih bersimpuh memanjatkan doa, tubuhnya semakin lemah dibanding hari kemarin, sorot matanya hampa dan terlihat semakin cekung seperti kurang tidur, wajahnya terlihat pucat, seiring dengan balutan busananya yang tak pernah ganti, kali ini terlihat dua bulir air mata jatuh dipipinya. Sama seperti kemarin Lies tak berani mengganggu kekhusyuan seseorang yang lagi berdoa, yang bisa Lies lakukan hanya memberikan dua pcs kue sus dan satu kemasan air minum. Ia tak banyak berkata apalagi bercerita, anak laki laki itu begitu hanyut dengan perasaan seakan pasrah menerima apapun kondisi selanjutnya.
“ Terima kasih teh “ hanya itu yang terucap setelah kue sus yang Lies sisihkan dari dagangannya ia terima.
Hari ini adalah hari yang berat buat Lies, dalam setiap langkah menjajakan kue sus, Lies slalu teringat akan laki laki di sudut mushola itu, bayangan anak itu terus saja mengikuti, Lies paham betul bagaimana rasanya menahan lapar, Lies sangat hapal seperti apa rasanya kehausan karna bukan satu dua kali kondisi seperti itu Lies alami.
Semakin jauh Lies melangkah semakin kentara bayangan anak itu hadir didepan mata. Tak ingin ada rasa penyesalan dikemudian hari Lies putuskan untuk kembali ke Mushola dimana anak itu berada, tak peduli beras belum kebeli karna kue sus yang Lies jajakanpun belum banyak terjual, tak dihiraukan lagi rasa lelah Lies setengah berlari kembali ke tempat ia memanjatkan doa. Lies tak ingin kekhawatiran di hatinya akan berakhir penyesalan yang susah untuk dilupakan.
“ Kamana anak itu pergi “ gumam hati Lies lirih saat tiba dimushola, rasa khwatirnya berbuah kenyataan. Tak didapatinya anak itu disudut mushola. Kini hanya hamparan kosong yang terlihat, sepi lengang tak ada tanda kehidupan. Lies bersimpuh lesu gairahnya hilang ketika rasa bersalah dan penyesalan datang menghiasi hatinya, jikalau ...seandainya....kalau saja....kata kata itu berulangkali hadir mengusik akal sehatnya bahwa dirinya masih saja egois, enggan berbagi enggan untuk mengulurkan tangan bahwa dirinya bisa menolong selagi di beri kesempatan egoisnya masih saja memilah.
“ Ya Tuhan jika ini menjadi Dosa Ampunilah Hamba “
Dengan langkah gontai Lies pulang kerumah, tak ada ambisi lagi untuk menjual kue sus yang ia bawa, biarlah para tetangga yang menghabiskannya gratis buat mereka, karna seperti itulah scenario Yang Maha Kuasa member rizki para hambaNya.
“ Teh makasih kue sus nya enak “
Anak laki laki itu menyapa Lies didepan Pintu masuk rumahnya.
“ Kamu..........Anak itu .... !..“
Tak Jelas yang Lies ucapkan, pandangannya gelap kedua kakinya tak mampu menopang beban berat tubuhnya, iapun terjatuh kedalam dekapan Anak laki laki di sudut mushola.
“ Teteh Ini Dian, adikmu yang dulu terpisah, bangun...biarlah Dian yang bercerita “ bisik laki laki itu ditelinga Lies.