"Dimana aku?" ucap seorang wanita muda disela isak tangisnya. Ketakutan terpancar jelas dari wajahnya. Ia menoleh perlahan ke samping kanan kirinya, tampak terlihat olehnya puluhan manusia yang telah terbujur kaku dengan tertutupi sebuah kain.
Iasakan tangisnya semakin kencang saat tak satupun seseorang yang menjawabnya.
"Ricko dimana kau?" tanyanya pada dirinya sendiri. Ia pun menangis sekencang-kencangnya karena tak mengingat satu pun kejadian yang menimpa dirinya sehingga Ia berada diruangan gelap ini.
"Hey tak bisa kah kau diam?"
"Ka..u si..siapa?" ucap wanita itu terbata takut melihat sosok mahluk hitam didepannya dengan bulu yang tebal menutupi sekujur tubuhnya. Mata merahnya molotot tajam karena marah. Namun anehnya, mata itu hanya tinggal sebelah.
"Bukankah ini genderuwo?" batin wanita itu saat selesai mengamati sosok didepannya.
Dan sosok itu pun mengangguk mendengar batinan wanita itu.
"Perkenalkan nama ku Alex, siapa nama mu?" ucap Alex ramah saat melihat wanita itu yang telah pucat pasi.
"Bagaimana kau bisa ada disini?" serunya penasaran. Sudah berjam-jam Ia menyusuri sudut ruangan itu, dan Ia tidak menemukan Alex.
"Aku sudah sejak tadi disana, apa kau tidak melihatnya?" jawab Alex menunjuk sebuah bangsal kosong disudut ruangan.
Wanita itu menggeleng pelan,
"Bagaiman kau bisa ada di sini girl?" tanya Alex lagi.
Wanita itu menggeleng sekali lagi.
"Apa kau tau cara keluar dari ruangan ini?"
Alex mengerutkan dahinya, pertanyaan macam apa itu? bukankah dia dan dirinya satu jenis?
"Lihat aku" Alex pun menembus keluar tembok disampingnya, kemudian menembus masuk lagi.
Wanita itu syok melihat keajaiban yang di miliki Alex.
"Bagimana mungkin?" gumam wanita itu tanpa sadar. Alex baru saja hendak menjelaskan saat pintu ruangan itu terbuka, kemudian seorang ibu paruh baya dengan perawakan gempal menghambur masuk disertai tangisannya.
"Vita bangun nak" Ibu itu mengguncang sebuah tubuh yang sudah terbujur kaku dengan wajah yang hancur tak berbentuk.
"Ibu" teriak wanita muda itu, Ia mengenali dengan jelas ibu-ibu gendut itu.
"Ibu kenapa ibu menangis? aku disini Bu" ucap Wanita itu, Ia hendak menyentuh ibunya agar menoleh padanya. Namun nihil, Ia hanya menangkap udara kosong.
Tak selang beberapa lama Ibu itu pun pingsan. Seorang penjaga yang menunggu dari luar segera menerobos masuk, menggotong ibu itu keluar.
Wanita itu panik, Ia hendak menyusul ibunya, namun saat melewati ambang pintu tubuhnya terpental jatuh seperti ada benda tipis yang menghalanginya.
Alex mengulurkan tangganya membantu wanita itu berdiri.
"Ayok bangun Vit" seru Alex seraya menarik Vita bangkit.
"Vit?" ucap wanita itu sambil mengerutkan dahinya.
"Nama mu Vita kan?"
"Dari mana kau tau?"
"Bukankah tadi ibu mu memanggilmu begitu?"
"Yah dia memang ibu ku, tapi bukankah Vita adalah nama gadia itu?" cerca wanita itu sambil menunjuk ke arah tubuh gasis yang tadi ditangisi oleh ibunya.
Alex menepuk jidatnya,
"Astaga, memang kau tidak tau siapa gadis itu?"
"Tidak, memangnya siapa?" tanya wanita itu balik.
"Dia adalah ragamu"
"Hah? tidak mungkin" teriak Vita.
"Yeaah, kau memang sudah mati" balas Alex santai.
"Hu..hu..hu...tidak mungkin aku mati, aku amsih ingin hidup" Vita masih terus meracau, Alex mengendikan bahunya tidak peduli.
"Hai sayang" sapa seorang wanita cantik dengan pakaian kumalnya. Ia merangkul Alex mesra.
"Hallo honey" balas Alex sembari mengelus pipinya.
Vita bergidik jijik kearah wanita yang baru saja datang, rambut kusutnya tergerai dimana-mana. Bau busuk sekaligus amis menguar tajam.
"Uuuh bau sekali, dasar mbak kunti jarang mandi" gerutu Vita yang kini mulai mual.
"Hey apa yang kau katakan baru saja hah" seru Alex membuyarkan lamunan Vita.
"Kalian berdua sama saja, satu jenis, tidak baik mengolok sesama kaum kunti" ejek Alex mengingatkan Vita yang kini sudah manusia lagi.
Vita mencebikan bibirnya, tidak terima.
"Sudah ..sudah, lebih baik kita pergi dari sini, aku ingin berjalan jalan menikmati angin sore dengan mu" ucap wanita itu centil.
Alex pun mengangguk, mereka berdua pun berjalan pergi.
"Hey tunggu" teriak Vita mencegah.
"Ada apa?" ucap Alex menoleh kepada Vita.
"Bolehkah aku ikut kalian? aku takut disini sendiri?" pinta Vita memelas.
"Tidak bisa ikut, kau sudah terkunci disini" jawab wanita itu.
"Apa maksudmu?" ucap Vita menjelaskan. Alex memegang lengan wanitanya.
"Aku bisa saja mengeluarkan mu dari sini, namun dnegan syarat kau harus bisa menemukan sebelah matanya saat kau bebas nanti"
Vita mengangguk cepat, Ia yakin bisa menemukannya yang terpenting Ia harus bisa keluar dari sini agar dapat menemui Ibunya.
"Bagus, ayok pegang tangan ku" ucap Alex.
"Yes, aku bebas" seru Vita berteriak girang.
"Terima kasih" imbuhnya.
"Ingat, kau harus bisa menemukan sebelah mataku, jika kau gagal kau akan kembali terkurung disini" tegas Alex.
Vita segera pergi, tubuhnya kini terasa ringan. Ia berjalan mengambang di udara. Tanpa membuang waktu, Ia mulai menjelajahi dunia mencari mata Alex.
Tiba-tiba hujan deras turun, Vita pontang panting mencari tempat berteduh. Ia pun menghampiri pohon mangga disebuah pekarangan rumah seseorang.
"Ayok masuk Nak, nanti kamu sakit" omel Sari yang tengah menarik paksa tangan bocah berusia lima tahun.
"Tapi Mama aku ingin main hujan" rengek Vino memberontak dari tarikan Mamanya.
"Nanti kalau kamu sakit siapa yang repot hah?" hardik Sari mendelik tajam, kesabarannya sudah habis.
"Sebentar saja Ma, boleh yah" pinta Vino kecil memelas. Sari pun melepaskan tarikannya, pasrah.
Vino bersorak sorai, Ia segera mengambil bola plastiknya yang berwarna merah. Bermain ditengah derasnya hujan tanpa menyadari sosok menyeramkan tengah mengawasinya dari atas pohon mangga.
Vita menajamkan penglihatannya, sekilas benda berbentuk bulat itu memang mirip dengan bola. Namun saat dilihat secara mata batin benda bulat itu adalah benda yang dicarinya selama ini!!.
"Pucuk dicinta ulam pun tiba" Vita menjentikan jarinya, membuat tetesan bening dari langit itu berhenti turun. Ia segera mendekati bocil itu.
"Tante, kembalikan bola ku" seru Vino yang kini telah menangis karena Vita meramapas bolanya. Vita tak mau ambil pusing Ia segera melayang pergi kembali ke atas pohon mangga.
Srettt...
"Tante kembalikan" ucap Vino merengek sambil menarik daster putih yang dipakai Vita.
"What? bocah ini bisa menyentuhku?" ucap Vita terkejut sekaligus membuat Vita kesal. Ia berbalik arah, sedikit merunduk agar bisa sejajar dengan wajah bocah itu.
Vita mengeluarkan kuku kuku tajamnya memegang leher Vino, hendak menusuknya. Namun tiba-tiba sebuah cahaya silau memancar dari balik tubuh Vino.
"Vita melepaskan pegangannya, mendengus kesal saat Malaikat datang untuk menjaga Vino. Yah, untuk anak seusia Vino tentu masih dilindungi oleh Malaikat.
Vita pun pergi dengan hati dongkol. Namun senyuman segera terkembang tak kala mendengar gerutuan Sari.
Vita menjetikan jarinya,
Brukkkk
Sebuah buku yang entah dari mana asalnya terjatuh didekat kaki Sari. Ia pun segera memungutnya, membaca sampul buku tersebut: Harapan 2021. Sari mengerutkan dahinya, apa maksudnya?.
Sari antusias membuka buku itu,
"Tulislah harapanmu saat ini maka akan terkabul dalam kurun waktu kurang dari 72"
Sari bergegas mengambil pulpen, mulai menuangkan harapan yang ada di pikrannya.
"Aku berharap di tahun 2021 nanti bocah itu tak lagi merepotkan ku" Sari mendengus kasar mengingat kenakalan yang telah di lakukan Vino. Ia pun menutup kembali buku tersebut.
Seperti bintang jatuh yang melesat menghunjam kearah bumi, harapan yang ditulis dengan sungguh-sungguh itu telah membumbung tinggi menembus langit.
Seketika malaikat yang menjaga Vino pun menghilang, memberikan ruang kesempatan untuk vita menjalankan aksinya yang tertunda. Tanpa ba bi bu Vita segera menghunjam leher kecil Vino dengan kuku panjangnya.
"Aaaa" Vino menjerit kencang sebelum malaikat menjemputnya lagi.