Sudah hampir lima tahun ini jembatan yang ada di kotaku di bangun. Jembatan itu digadang gadang akan menjadi jembatan termegah dan terindah seasia tenggara. Jembatan yang menghubungkan satu pulau ke pulau lainnya itu nampak kokoh dan kuat. Sepertinya gempa pun tak akan mampu merobohkannya.
Saat ini pengerjaanya sudah selesai, meski sudah rampung dibuat dan sudah aman untuk di lewati kendaraan tapi pihak kota belum memperbolehkan untuk dilewati. Menunggu diresmikan nanti saat malam tahun baru tiba. Sekaligus pengendara bisa menyaksikan pergelaran kembang api yang spektakuler diatas jembatan itu. Hal itu juga digadang gadang akan menjadi perayaan tahun baru yang paling meriah dan indah yang pernah ada.
Empat hari sebelum malam tahun baru, aku dan temanku, Fajri pergi memancing di teluk dekat jembatan itu. Entah kenapa sudah berjam jam kami memancing disana tidak mendapat ikan. Awalnya ada yang memakan umpan kami. Tarikannya pun cukup kuat sampai beberapa kali senar yang kami gunakan putus.
Untung kami membawa persediaan senar, pancing dan umpan. Jadi kami segera mengganti semuanya untuk kemudian melanjutkan memancing. Daerah ini memang terkenal ikan kakap yang besar besar dan sulit untuk dipancing. Jadi jiwa mancing maniaku pun terpancing untuk menaklukan ikan kakap yang ada di perairan ini.
Tarikan yang kuat dari gagang pancing yang aku pegang kembali terasa. Kali ini aku harus menaklukan ikan itu sampai dapat. Kutarik ulur senarku agar tidak putus lagi. Cukup lama aku bergelut dengan ikan ini akhirnya berhasil kuangkat ke permukaan. Namun apa yang kudapat? Bukan ikan yang kami harapan melainkan sebuah buku.
Fajri yang sedari tadi bersorak menyemangatiku menarik pancing sampai berhenti dan melongo melihat apa yang kudapat. Kami pun saling memandang heran. Tarikan yang amat kuat itu bukan datang dari ikan kakap yang besar melainkan dari sebuah buku. Yang tidak rusak meski terendam di dalam air.
Kemudian Fajri mengambil buku itu seraya melepas pengait pancing yang nyantol di sampulnya. Dia membaca tulisan pada sampul buku itu dengan suara pelan.
"Sebelum 2021." Ucap Fajri sambil mengerutkan dahinya. Ia membuka halaman pertama dari buku itu lalu membacanya lagi.
"Wahai manusia kami berikan waktu 72 jam kepada kalian untuk...." Kalimat itu terpotong dan dilanjutkan ke halaman berikutnya.
"Memberikan tumbal manusia kepada kami karena kalian sudah berani membangun jembatan diatas kerajaan kami tanpa seizin Raja kami, penguasa seluruh lautan...." Fajri terus membuka halaman selanjutnya sampai selesai.
"Kalau tidak, kalian wahai manusia akan merasakan kemarahan kami saat malam pergantian tahun baru tiba!" Fajri pun jadi merinding, dia membuang sembarang buku itu ke tanah. Aku yang sedari tadi ikut mendengarkan mencoba untuk tidak perduli. Acuh tak acuh sambil menggulung senar pancingku. Aku heran pada temanku itu, hanya membaca buku yang kukira novel horor itu saja dia sudah ketakutan begitu.
"Ngapa elo takut Jri?"
"Eh enggak kok, siapa yang takut?" Jawabnya pura pura. Dia mencoba menutupi ketakutannya dengan memasang raut sok cool.
"Halah, jidat lo aja udah keringetan gitu. Elo takut kan?"
"Beneran gue gak takut Kal."
"Kirain elo takut baca novel horor gitu aja." Fajri kemudian mengambil buku itu lagi. Sambil membolak balikan buku aneh itu.
"Ini tuh bukan novel horor tahu Kal, baca aja kalau gak percaya!" Sahut Fajri sambil menyodorkan padaku.
"Ogah amat, buang ajalah! Gak penting amat baca baca buku gak jelas!" Jawab ku ketus seraya membereskan alat pancingku ke dalam ember untuk wadah ikan.
"Ya udah deh gue buang aja!" Fajri segera membuang buku itu jauh ke tengah air. Byuur buku itu pun tenggelam. Lalu dia ikut membereskan alat pancingnya juga. Karena hari sudah siang, akhirnya kami berdua memutuskan untuk pulang.
Malam hari, saat aku sudah tertidur lelap. Aku bermimpi sedang berada di dasar laut. Anehnya aku tidak mati namun masih bisa bernapas. Aku juga melihat ada sebuah istana dibawah laut. Di sekeliling istana itu di penuhi oleh tengkorak tengkorak manusia. Sangat menyeramkan, gelap dan suram. Aku sedang berenang di dasar laut itu ketika aku merasa ada yang mengawasiku. Tapi entah apa.
Ketika mentari sudah menampakan sedikit cahaya kuningnya, aku pun terbangun. Mimpi yang aneh pikirku. Padahal aku tidak pernah membaca novel horor bahkan memonton film horor. Tapi kenapa seperti habis lihat sesuatu yang horor lalu terbawa mimpi.
Aku bergegas mandi untuk pagi ini memancing lagi ke teluk itu. Aku masih penasaran akan ikan ikan yang ada disana. Setelah membawa semua alat tempur memancingku, aku kembali menyamper Fajri di rumahnya. Aku ingin mengajaknya memancing lagi disana.
"Ah gue gak ikut deh Kal hari ini? Badan gue adem panas." Ucapnya lemah, wajahnya sudah pucat pasi.
"Yaelah baru sekali gue ajak mancing elo udah tepar. Cemen banget lo!"
"Beneran Kal. Gue meriang banget ini." Jawabnya sambil bersedekap dan menggigil.
"Lo gak asik banget sih Jri. Pakek ada acara meriang segala. Ya udah deh, gue mancing sendiri." Sambil menenteng ember dan alat pancing, aku berjalan menuju teluk itu. Namun di tempat yang berbeda. Tepat di bawah jembatan. Siapa tahu pindah tempat ikannya disana juga banyak.
Aku mulai memancing, namun di bawah jembatan lebih parah. Tidak ada pergerakan sama sekali. Berjam jam umpanku utuh hingga aku merasa bosan dan mengantuk. Akan tetapi tiba tiba pancingku tertarik sangat kuat sampai gagang pancingnya melengkung hampir patah.
Kutarik sekuat tenaga dan plak! Sebuah buku terbang dari dalam air dan menabrak wajahku dengan keras.
"Aww!" Aku memekik keras. Hantaman buku itu amat kuat hingga membuat kepalaku pusing dan akhirnya pingsan.
Mimpi itu kembali, aku kembali berenang ke dasar laut. Merasa ada yang mengawasiku, aku berenang semakin cepat menjauh dari cahaya yang terus mengikutiku dari belakang. Bukannya naik ke permukaan aku justru semakin mendekat ke istana aneh itu. Tiba tiba air berputar semakin kuat ketika aku semakin mendekati istana itu. Tubuhku tersedot ke dalam sambil berputar putar. Tubuhku seperti terlempar ke dasar laut terdalam yang ternyata adalah lantai dari istana itu. Setelah terputar dengan begitu dahsyatnya aku masih bisa bernapas. Mencoba bangun dihadapan sesosok makhluk aneh berjubah hitam yang membelakangiku.
"S-siapa kamu?" Tanyaku ragu ragu namun sangat penasaran. Makhluk itu menoleh dan menunjukan wajahnya berlendir menjijikan dengan bola mata dan mulut yang mengeluarkan api.
"Aargh!" Aku berteriak sambil terbangun dari pingsanku. Aku celingak celinguk melihat sekelilingku. Hari sudah gelap dan masih berada di bawah jembatan. Buku yang menimpukku tadi nampak bersinar dalam kegelapan. Aku melihat buku bertuliskan "Sebelum 2021" itu dengan mataku sendiri. Membaca semua yang ada disetiap halaman hingga selesai. Kali ini aku benar benar takut. Aku berlari kocar kacir pulang ke rumah.
Tubuhku pun jadi meriang sekarang. Panas dingin di sekujur tubuh. Selama dua hari aku hanya bisa tidur tiduran di kamar. Mimpi mimpi aneh selalu bermuculan dalam tidurku. Kedua orang tuaku yang sudah tua pun ikut hadir di dalam mimpi buruk itu. Aku melihat mereka jatuh ke dalam pusaran air yang dalam bersama puluhan orang bersamanya. Tersedot ke dalam dasar lautan terdalam. Tapi aku tidak bisa membantu, tubuhku tidak berdaya ditahan dua makhluk besar aneh yang menyeramkan.
Drrrt, drrrt, drrrt
Ponselku bergetar, satu pesan dari Mama. Beliau mengatakan akan menungguku di jembatan yang baru di bangun itu. Kata beliau saat mampir ke kos kosanku aku sedang tertidur dan susah dibangunkan. Padahal mereka hanya ingin mengajakku melihat kembang api di atas jembatan.
Aku bergegas bangun, melihat jam beker di atas meja. Waktu pergantian tahun segera tiba, aku takut tulisan di buku itu akan menjadi nyata. Aku segera mengambil motorku untuk menjemput kedua orang tuaku disana. Aku tidak ingin mereka ikut menjadi tumbal untuk raja iblis penguasa lautan itu.
Karena malam ini adalah malam tahun baru jadi banyak orang turun ke jalanan untuk melihat kembang api yang akan diledakan diatas jembatan itu. Jalanan jadi macet karena padatnya kendaraan dan lautan manusia. Terpaksa aku turun dari motor dan berjalan berdesak desak mencari kedua orang tuaku. Jembatan itu sudah penuh manusia. Aku juga melihat sepasang orang tua berdiri diantara mereka. Ternyata mereka adalah kedua orang tuaku.
Aku terlambat, ramai ramai orang sudah menghitung mundur waktu pergantian tahun. Pukul 00.00 pun tiba. Suara terompet dan ledakan kembang api yang indah memekakan telingaku. Semua orang bersorak gembira tanpa tahu apa yang terjadi setelah ini.
Sedetik kemudian, suasana yang meriah berubah menjadi mencekam. Tiba tiba mendung menutupi langit malam bertabur bintang yang indah. Suara gemuruh tak kalah keras dari ledakan kembang api. Angin berhembus kuat tiba tiba, sejurus kemudian orang orang nampak panik dan berusaha pergi dari jembatan itu. Aku ingin menerobos arus manusia yang berlawanan denganku untuk membawa kedua orang tuaku pergi dari sana. Akan tetapi tubuhku justru ikut terdorong menjauhi mereka berdua.
Dari arah lautan lepas ombak bergulung gulung mengejar satu dengan yang lain. Hingga lama kelamaan ombak itu berubah menjadi gelombang yang sangat besar melebihi tinggi jembatan itu. Menghantam, menelan jembatan bersama orang orang yang ada diatasnya.
JEBYURRRR
Aku pun menangis meraung raung melihat kedua orang tuaku ikut terseret gelombang, tenggelam bersama robohnya jembatan tinggi yang katanya kokoh dan tidak akan roboh meski terkena gempa bumi. Semuanya sudah terlambat, sekarang tinggalah seandainya dan seandainya. Seandainya saja aku memberikan tumbal manusia pada raja iblis, akankah kejadian ini tidak akan terjadi?
TAMAT