Alina menangis sesenggukan seorang diri di atas sebuah batu besar. Dia tidak tahan mendengarkan sindiran dari teman-teman cewek sekelasnya yang menghina dirinya yang gendut, culun, dan juga lambat. Apalagi sebuah hinaan yang mengatakan jika dirinya begitu bodoh selalu terngiang di telinga Alina. Bagaimana dirinya bisa betah berada di sebuah acara perkemahan menyambut akhir tahun 2020 itu. Jika sedari tadi hanya hinaan dan cacian yang dia dapatkan dari teman-teman satu kelompoknya.
"Kenapa? Kenapa aku terlahir seperti ini! Kenapa aku tidak secantik Jessy, sekaya Merlin dan sepintar Nata. Kenapa aku terlahir untuk dibully! Mengapa harus aku! Mengapa!"teriak Alina sambil menepuk-nepuk dadanya yang terasa sakit sambil menangis.
"Aku juga ingin menjadi seperti mereka. Aku ingin dicintai, dipuja dan juga dikagumi oleh semua orang. Bukan diriku yang penuh kekurangan ini! Aku ingin seperti mereka. Apakah keinginan ku ini sulit untuk dikabulkan!"teriak Alina yang masih merasakan sakit hati.
Tiba-tiba angin berhembus kencang seiring berhentinya teriakan Alina. Mendadak Alina pun menjadi terkesiap dengan apa yang terjadi barusan.
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
Sebuah suara terdengar bersamaan dengan sirnanya hembusan angin. Tiba-tiba tampak di bawah jurang sebuah sinar yang begitu terang membuat Alina pun menjadi tertarik untuk melihat benda apa yang ada di bawah sana.
Alina menuruni jurang tersebut seorang diri dengan bersusah payah. Alina melihat cahaya terang berasal dari sebuah kotak kayu. Alina tertarik untuk membuka kotak tersebut dan dia mendapati sebuah kertas didalamnya. Alina membaca tulisan yang ada di kertas tersebut.
"MEMBACANYA ADALAH SEBUAH KESEPAKATAN, 72 JAM UNTUK TIGA PERMOHONAN, DARAH AKAN MENJADI SEBUAH BAYARAN, SEGALA KEINGINANMU DIKABULKAN!"
"Apa ini?"ujar Alina bingung setelah membaca tulisan itu.
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
Sebuah suara terdengar, sontak Alina terkejut dan menjatuhkan kotak tersebut.
"Siapa itu?"tanya Alina yang tampak ketakutan.
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
Lagi-lagi suara itu terdengar. Alina menengok kesana-kemari tetapi semua yang dia lihat hanyalah kegelapan.
"Pergi! Jangan ganggu aku!"ujar Alina.
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
"Astaga!"Alina pun sangat ketakutan mendengar suara gaib tersebut. Alina mencoba memanjat jurang itu kembali agar dia bisa bertemu dengan teman-temannya di atas sana. Akan tetapi berkali-kali Alina mencoba naik, dia selalu saja terjatuh.
Tiba-tiba ada sebuah cekikan kuat di lehernya yang membuat langkah Alina terhenti. Alina merasakan kesakitan yang teramat perih akibat tajamnya kuku yang mencekik dirinya.
"Arrrrkkkkhhhhhhh, Tidakkkkkkkkk!"teriak Alina sekuat tenaga dan kemudian semuanya menjadi gelap.
*
Alina terbangun setelah sekian lama dia merasakan tubuhnya begitu lemas. Akan tetapi betapa terkejut Alina ketika mengetahui dimana dia berada saat ini.
"Astaga! Dimana aku!"
Alina mendapati dirinya disebuah kamar yang begitu luas dan indah. Sama persis dengan kamar impian dia selama ini. Alina bergegas turun dari ranjang, dia melihat ke sekeliling ruangan tersebut.
"Ya ampun!" Alina terkejut melihat pantulan dirinya sendiri di cermin meja riasnya. Betapa wajah yang jelek dan tubuh yang tambun kini telah menjadi wajah yang begitu cantik dan tubuh yang molek dan seksi.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa? Kenapa aku berubah seperti ini?"
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
Sebuah suara gaib itu terdengar kembali. Alina pun menjadi teringat akan apa yang terjadi dengan dirinya di tempat perkemahan semalam.
"Apakah benar keinginan ku semalam telah dikabulkan?"tanya Alina kepada dirinya sendiri. Alina mencoba mencubit pipinya dan itu terasa sakit.
"Ini bukanlah sebuah mimpi, astaga! Ini benar-benar terjadi! Aku telah berubah sekarang!"ujar Alina tampak merasa senang dengan apa yang dia miliki dan perubahan yang dia alami saat ini. Alina tertawa bahagia dengan perubahan yang terjadi pada dirinya.
Alina berlari keluar kamar dan betapa megah sekarang rumah yang dia miliki. Rumahnya dahulu hanyalah rumah dua lantai dengan bagian bawah sebagai toko, tempat usaha kedua orang tuanya. Kini, Alina bisa berlarian di rumahnya yang luas dan mewah tersebut.
"Astaga! Apa ini?"seru Alina ketika dia melihat banyak piala yang bertuliskan namanya. Ternyata itu adalah piala penghargaan yang dihasilkan oleh Alina dalam berbagai macam perlombaan. Alina tertawa bahagia karena kini dia sudah mendapatkan apa yang menjadi keinginannya.
Alina kini telah menjadi kaya raya, dia akan dipuja oleh banyak lelaki karena kecantikannya dan dia juga akan dikagumi oleh banyak orang karena kepandaiannya.
Alina menikmati semua kekayaan yang dia dapatkan. Dia juga menikmati betapa enaknya diperhatikan oleh semua orang ketika dia berjalan bahkan banyak lelaki yang memuja dirinya. Alina tersenyum puas dengan apa yang dia miliki. Sampai dia tidak tahu lagi bagaimana cara menghabiskan kekayaan yang dimilikinya itu.
Sudah dua hari Alina berada di rumah mewah tersebut. Dia cukup puas dengan apa yang sudah dia lakukan dengan kekayaan yang dia miliki. Kini Alina mulai merindukan keluarganya. Alina ingin membawah ayah, ibu dan adik lelakinya untuk pindah ke rumah mewahnya.
Malam itu Alina pun bergegas menuju ke rumah orang tuanya dengan mengendarai Limosin mewah miliknya. Akan tetapi betapa terkejutnya Alina melihat banyak mobil polisi dan sebuah ambulance berada di depan toko milik ayah dan ibunya.
Alina yang merasa telah terjadi sesuatu dengan kedua orangtuanya pun segera keluar dari mobil mewahnya. Tentu saja kedatangan Alina pun menjadi pusat perhatian banyak orang di sana dengan apa yang dimiliki oleh Alina saat ini. Alina memperkenalkan dirinya sebagai putri dari pemilik toko dan semua orang tentu saja terkejut. Salah seorang polisi mendekati Alina dan mengatakan kejadian yang sebenarnya.
"Ada apa ini, pak? Kenapa ramai begini dan mengapa di toko orang tua saya ada police line segala? Apa yang terjadi di dalam?"tanya Alina panik.
"Tenang mbak, sebaiknya mbak menunggu di sini terlebih dahulu. Petugas kami sedang melakukan olah TKP di dalam."
"Apa? Olah TKP? Apa maksudnya?"potong Alina.
"Begini, toko orang tua mbak dirampok oleh seorang psikopat yang menjadi buronan pihak kepolisian selama ini. Dia terkenal kejam terhadap korbannya dan suka menyiksa korban dengan cara yang sadis."
"Lalu nasib keluarga saya? Ayah, ibu dan adik saya bagaimana?"tanya Alina kembali.
"Maaf, tetapi ketika kami sampai disini, mereka sudah meninggal di lokasi,"ucap polisi tersebut dengan wajah tertunduk.
"Tidak! Tidak! Tidak!"Alina tidak bisa mempercayai apa yang dikatakan polisi tersebut. Dia berlari menuju ke dalam toko kedua orangtuanya.
Alina memaksa masuk meskipun dia telah dihadang oleh beberapa petugas. Namun, Alina tetap memaksa bahkan berteriak-teriak seperti orang kesetanan.
"Mereka keluarga ku! Mereka orang tuaku dan adikku! Aku ingin bertemu dengan mereka! Lepaskan aku!"ujar Alina sambil meronta-ronta. Akhirnya petugas itu merasa kasihan juga kepada Alina. Kemudian Alina pun diperbolehkan melihat kondisi keluarga nya yang begitu mengenaskan.
Alina melihat sesosok tubuh didekat pintu di depan meja kasir. Dengan ditutup kain putih, Alina menduga jika itu adalah ayahnya. Salah seorang petugas membuka penutup kain tersebut. Sontak kedua mata Alina melotot melihat kondisi sang ayah yang terbujur kaku dengan luka di kepalanya bahkan salah satu matanya yang hancur. Alina seketika lemas melihat keadaan itu.
Alina berpindah ke tubuh yang lain yang dia duga adalah milik ibunya. Tidak berbeda jauh dengan sang ayah. Dengan luka di kepalanya yang sepertinya dihantam berkali-kali dengan benda tumpul dan keras membuat kepala sang ibu hancur dan bola matanya pun di cungkil. Alina sudah mual-mual melihat kondisi sang ibu tersebut. Kepala Alina terasa berputar-putar melihat apa yang menimpa ayah dan ibunya.
Kini Alina menatap ke lantai atas rumahnya. Alina segera berlari menuju ke kamar adik lelakinya. Karena adiknya itu suka sekali berada di kamarnya. Dan begitu Alina sampai di depan pintu kamar, sontak tubuh Alina langsung terjatuh. Alina berteriak histeris melihat bagaimana kondisi sang adik yang tidak jauh berbeda. Bahkan lebih parah. Alina menangis meraung-raung sambil memukul-mukul ubin lantai.
Adik lelaki satu-satunya itu bahkan kehilangan kedua matanya dan juga organ dalam tubuhnya. Darah segar menggenang di lantai kamarnya itu. Alina sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dia lihat. Dada Alina terasa sangat sesak dan begitu sakit. Apalagi melihat betapa kejam yang dilakukan psikopat tersebut.
"Ayahhhh! Ibuuu! Arthaaaaaaaa!!!!!!!
Itulah teriakan terakhir Alina sebelum dirinya kehilangan kesadaran di depan mayat adik lelakinya.
**
Alina duduk seorang diri di rumah mewahnya setelah dia melakukan upacara pemakaman keluarganya. Alina tidak berhenti menangis sejak semalam. Alina tidak mengerti kenapa ini semua harus terjadi.
"MEMBACANYA ADALAH SEBUAH KESEPAKATAN, 72 JAM UNTUK TIGA PERMOHONAN, DARAH AKAN MENJADI SEBUAH BAYARAN, SEGALA KEINGINANMU DIKABULKAN!"
Suara gaib itu menggema di dalam rumah. Alina pun sontak teringat dengan tulisan yang ada di dalam kotak ajaib yang mengubah kehidupannya. Apakah ini semua ada hubungannya?
"Kakak....."tiba-tiba sebuah suara yang khas memanggil nama Alina. Seketika itu juga Alina sontak menengok ke belakang dan mendapati ketiga sosok arwah ketiga keluarganya. Alina hendak mendekati mereka akan tetapi ada sebuah tembok kasat mata yang menghadang Alina untuk mendekat.
"Ayah..... Ibu... Adik.."panggil Alina sambil berderai air mata. Alina melihat ketiga arwah itu dengan luka berdarah di sekujur tubuhnya. Bahkan kedua kaki dan tangan ketiganya pun dirantai.
Alina sekarang mengerti apa yang telah terjadi. Permohonan yang dia inginkan itu ternyata meminta tumbal.
"Kakak, kamu bahagia bukan sekarang?"
Alina tidak mampu menjawab pertanyaan adik lelakinya itu. Air matanya semakin deras mengalir. Alina menggelengkan kepalanya mengisyaratkan bahwa dia tidak bahagia. Sangat-sangat tidak bahagia.
"Tidak! Aku tidak .....!!!!"Alina tidak sanggup meneruskan ucapannya.
"Berbahagialah, kami rela,"ucap Artha dengan senyuman terakhirnya. Begitu juga dengan kedua orangtuanya.
"Tidak! Tidak! Ayah! Ibu! Artha! Jangan pergiiiiii!!!!!!!"teriak Alina panik karena ketiga sosok itu perlahan menghilang dari pandangannya.
"MEMBACANYA ADALAH SEBUAH KESEPAKATAN, 72 JAM UNTUK TIGA PERMOHONAN, DARAH AKAN MENJADI SEBUAH BAYARAN, SEGALA KEINGINANMU DIKABULKAN!"
Kembali suara gaib itu terdengar.
"Tidak! Aku tidak mau! Aku ingin ayah, ibu dan adikku kembali! Aku tidak menginginkan semua ini. Aku tidak butuh harta, kecantikan dan juga kepandaian. Aku hanya ingin bersama dengan keluargaku kembali. Aku merindukan mereka. Aku mau mereka kembali!"teriak Alina dengan meraung-raung.
"DARAH DIBALAS DARAH, NYAWA DIGANTI NYAWA!"
"Apa maksudmu?"tanya Alina.
"ITU PERJANJIAN YANG TELAH DISEPAKATI!"
Alina mengerti apa yang diinginkan. Dia harus menggantikan nyawa ketiga keluarganya itu. Alina berlari menuju ke dapur untuk mencari sebilah belati. Jika memang ini yang diinginkan maka Alina rela melakukannya demi nyawa ketiga keluarganya itu kembali.
"Nyawaku bukan lagi milikku. Kembalikan mereka dan bawa pergi aku bersamamu!"teriak Alina kemudian dia menusuk tubuhnya sendiri dengan sebilah pisau tersebut. Tidak hanya sekali, Alina melakukan tiga kali tusukan dengan maksud mengganti tiga nyawa keluarganya itu. Tubuh Alina pun terkapar dengan rasa sakit yang teramat sangat. Alina menyerahkan dirinya sebagai pengganti nyawa ketiga orang yang dia cintai.
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
***
Bau obat-obatan yang khas menyeruak ke dalam indera penciuman Alina. Cahaya matahari yang masuk membuat mata Alina silau. Hal itulah yang membuat Alina perlahan-lahan membuka kedua matanya. Alina melihat sekeliling ruangannya yang berwarna putih. Apakah dia sedang berada di akhirat sekarang?
"Astaga! Kakak! Kamu sudah sadar? Aku akan memanggil dokter!"suara lelaki itu membuat Alina menoleh dan betapa terkejutnya Alina mendapati sang adik tengah berlari ke luar dari ruangannya. Kepala Alina terasa begitu sakit. Alina merasa bingung apa yang telah terjadi dengan dirinya. Bukankah dia tadi telah mati karena bunuh diri dengan sebilah belati?
"Kamu ini ya kak, orang mau tahun baruan itu harus disambut dengan bahagia, bukannya malah pergi menyendiri. Lihat itu! Kamu malah jatuh terpeleset ke jurang. Kamu bikin cemas semua orang dah! Dasar dudul!"omel Artha kepada Alina yang sedari tadi hanya menatap ke arah dirinya.
"Nah, sekarang kamu malah gila! Sedari tadi melihat aku terus, ada apa, heh? Kamu baru sadar kalau adikmu ini ganteng ya?"ujar Artha sambil nyengir.
Alina justru maju mendekat ke sang adik dan memeluknya erat.
"Eh, dudul, kamu sehat aja kan?"tanya Artha yang bingung dengan gelagat sang kakak.
"Aku merindukanmu dek, aku merindukan kalian semua. Aku sayang kamu, ayah dan juga ibu. Aku sangat sayang kalian,"ucap Alina setulus hatinya.
"Kami juga sayang kamu, nak,"sebuah suara menyahut dari arah pintu. Alina melepas pelukannya dan melihat kedua orang tuanya tengah berdiri di sana. Alina tersenyum bahagia. Sangat bahagia melihat ketiga orang yang dia cintai telah berada di sisinya kembali.
Kembali Alina teringat permintaan terakhirnya. Dan ternyata....
"KEINGINANMU DIKABULKAN!"
****
TAMAT