Aku adalah Karina, seorang gadis remaja yang tidak bisa dibilang pintar. Saat ini, aku sedang belajar untuk ulangan IPS besok.
Bermacam-macam buku telah aku baca dan pelajari. Hingga aku tidak menyadari bahwa jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
“Aduh.... Nilaiku besok gimana ya?" tanyaku khawatir.
Namun, karena sudah mengantuk berat. Aku tertidur lelap dengan posisi yang masih duduk di meja belajar.
Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik hingga menyilaukan mataku. Aku membuka mata perlahan. Kemudian, aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi.
“Hah. Udah jam 7?!" tanyaku kaget.
Kemudian, aku pergi ke kamar mandi. Selepas mandi, aku bergegas membereskan buku untuk dibawa ke sekolah. Saat sedang memilih buku pelajaran, aku menemukan sebuah buku misterius.
Di sampulnya tertulis "Sebelum 2021". Karena sudah terlambat, aku menaruh buku itu di meja belajarku lagi. Lalu, aku berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku kembali membuka tasku. Aku ingin belajar materi IPS yang belum aku kuasai. Saat membuka tas, aku dikejutkan dengan buku misterius itu lagi.
“Bagaimana bisa buku ini ada di tasku?" tanyaku bingung.
Awalnya, aku takut untuk mendekati buku itu. Namun, aku malah menjadi penasaran. Pada akhirnya, aku membuka buku itu dan membacanya.
Di dalam buku itu, terdapat beberapa tulisan.
“72 jam, kegembiraan dan sukacita akan tenggelam oleh air. Pembaca adalah penyelamat," bunyi tulisan di buku tersebut .
“Hari ini tanggal 28 Desember, 72 jam setelah ini, itu artinya saat malam tahun baru?" Aku masih tidak mengerti maksud dari tulisan tersebut. Akhirnya, aku memutuskan untuk memasukkan buku itu ke dalam tas lagi.
Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasanya. Saat sampai di sekolah, aku merasakan ada sesuatu yang bergetar di tasku. Seperti ada yang sedang berusaha memberontak.
Saat mengecek, aku melihat buku itu lagi. Namun, karena aku masih tidak paham dengan maksud dari tulisannya, aku pun menutup tas dan melupakannya.
Singkat cerita, hari ini adalah tanggal 31 Desember. Saat dimana semua orang berkumpul untuk menghitung mundur dan menyambut datangnya tahun 2021.
Begitu juga denganku, aku dan teman-temanku berkumpul bersama para tetangga untuk menyambut tahun baru.
Namun, tiba-tiba terjadi sebuah gempa bumi yang cukup besar. Semua orang ketakutan. Saat itu, aku terpikir lagi dengan tulisan di buku misterius bersampul 'Sebelum 2021' tersebut.
Aku masuk ke dalam rumah dan mencari tas. Kemudian, aku mengambil buku itu.
“Apa maksud dari tulisan ini adalah, dalam waktu 72 jam, akan terjadi tsunami dashyat yang dapat menenggelamkan para warga yang tengah bahagia dalam menyambut tahun baru?" tanyaku dalam hati.
Kemudian, aku melihat jam tanganku yang saat ini telah menunjukkan pukul 9 malam. Aku bergegas keluar rumah untuk mengungsikan para warga sebelum terlambat.
Tapi, saat sampai di luar. Aku baru sadar, bahwa orang di luar itu tidak sedikit. Aku bingung harus berbuat apa, agar semua dapat mendengarkanku.
Saat itulah aku melihat sebuah ruangan khusus untuk menyiarkan berbagai informasi. Namun sayangnya, ruangan itu hanya bisa digunakan untuk para pejabat kota atau penyiar terpercaya.
Tapi karena tidak ada pilihan lain, aku berlari masuk ke dalam ruangan itu. Sesampainya di dalam, aku menerobos masuk melewati dua penjaga.
“Hei nona, berhenti!" perintah penjaga.
Aku tidak menghiraukan hal itu, aku masih terus berlari. Kemudian, aku masuk ke dalam salah satu kamar penyiar. Aku bergegas untuk menyiarkan hal ini.
“Akan terjadi tsunami yang besar dan akan menenggelamkan seisi kota. Jadi diharapkan kepada semua warga untuk...." Mulutku disekap oleh salah satu penjaga. Aku belum menyelasaikan perkataanku.
“Tsunami?" semua warga membicarakan tentang kabar tsunami yang baru mereka dengar.
“Maaf sebesar-besarnya kami ucapkan kepada para warga kota B. Kabar tsunami itu tidak benar adanya. Jadi, kami harap kalian tidak panik dan tetap menjalani aktivitas seperti biasanya," ucap penjaga yang satunya.
Aku memberontak dan berhasil mebuat penjaga yang menyekap mulutku terjatuh. Kemudian, aku mendorong penjaga yang satunya. Aku bergegas untuk memberikan kabar tentang tsunami lagi.
“Para warga, dengan ini saya nyatakan bahwa kota ini akan terkena tsunami. Maka dari itu, saya minta kepada seluruh warga untuk mengungsi di tempat yang tinggi," ujarku menyiarkan.
Semua warga bergegas untuk menyelamatkan diri. Jam tanganku telah menunjukkan pukul 23.38. Aku bergegas untuk pergi. Namun, penjaga itu mencengkram tanganku.
“Aww... Lepasin!" Perintahku kepada penjaga itu.
“Jangan mimpi. Kamu telah menyebarkan informasi bohong hingga membuat semua warga menjadi panik dan ketakutan. Aku tidak akan melepaskanmu," ucap penjaga tersebut.
“Jika memang kau tak percaya, maka tetaplah di sini. Aku ingin hidup, jadi aku akan menyelamatkan diri," ucapku kemudian melepas cengkraman penjaga tersebut.
Aku berlari keluar untuk memastikan bahwa semua warga telah menyelamatkan diri. Jam tanganku menunjukkan pukul 23.51.
“Syukurlah aku tidak terlambat." Aku menghela nafas lega.
Aku bergegas untuk naik ke tempat yang tinggi untuk menyelamatkan diri juga. Namun, saat sudah sampai di atas, aku mendengar suara teriakan panik.
“Anakku!" Seorang ibu berteriak seraya menunjuk seorang anak yang tengah menangis di bawah.
Jam menunjukkan pukul 23.59, tinggal tersisa 1 menit lagi. Aku tahu, jika aku turun dan menyelamatkan anak itu rasanya sangat tidak mungkin. Aku bingung harus bagaimana lagi.
Saat aku tengah bingung dan tak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba sebuah cahaya muncul dari dadaku. Cahay itu mulai membesar dan kemudian mengenaiku.
Lalu, buku misterius itu muncul lagi. Kali ini ada tulisan baru di dalam buku itu.
“Hentikan tsunaminya!" bunyi tulisan di buku itu.
"Mungkinkah ini sebuah kekuatan?" tanyaku dalam batin.
Jam menunjukkan pukul 00.00. Air dari laut mulai meninggi. Aku melompat dari ketinggian dan menghampiri anak kecil itu.
“Nak, kamu tidak usah menangis lagi. Semua akan baik-baik saja," ucapku menenangkan anak itu.
Anak itu mengangguk mengerti. Kemudian, tsunami besar mulai tampak terlihat. Aku berlari, menuju tsunami itu.
Aku mengumpulkan seluruh kekuatanku dan kemudian membuat semacam tameng besar untuk melindungi kota. Semua warga berdecak kagum saat melihatku yang sedang menantang tsunami.
Setelah cukup lama bertarung dengan tsunami, pada akhirnya aku berhasil menyelamatkan kota. Semua warga berteriak gembira dan bertepuk tangan.
“Aku ber-ha-sil." Aku jatuh pingsan karena kehilangan kekuatan.
Kemudian, aku membuka mata perlahan. Aku melihat semua warga tengah tersenyum kepadaku.
“Nona, kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Karena nona telah menyelamatkan kota," ucap salah satu warga.
“Kami juga ingin meminta maaf," kedua penjaga itu meminta maaf.
Aku mengangguk seraya tersenyum.
“Meskipun ini sudah terlambat. Tapi, ayo kita merayakan datangnya tahun 2021!" ajak seorang warga.
Semua warga menyetujuinya. Mereka merayakan datangnya tahun baru ini, meski sudah terlambat. Aku tersenyum senang karena bisa menyelamatkan mereka.
—Tamat—