Jade tidak sengaja bertemu buku aneh berisi kutukan di perpustakan. Saat ia membacanya, tiba-tiba ....
●\~/●
Keributan yang berada di luar kamar gagal menghancurkan konsentrasinya. Buku tebal dipenuhi tulisan rapat berbau misteri duduk nyaman di atas meja berpenerangan lilin. Tidak seperti kutu buku yang lain, dia sangat menjiwai karakter yang bermain di dalam cerita.
Sebuah mantel hangat, sepatu boot kulit, kemeja putih tua, dan celana jeans hitam melekat di tubuhnya. Persis seperti Vher Naite—pemeran utama wanita di novel detektif yang sedang ia nikmati.
"Jadeee! Kau sudah siaaapp?" Teriakan ibu bergema dari balik pintu. Namun, si pemilik nama tetap bergeming. Terlanjur hanyut di dalam kasus yang Vher Naite coba pecahkan.
Ceklek!
"Jade, ayo! Nenek, keluarga besar, dan kue tahun baru sudah menunggu." Lidah wanita paruh baya itu berdecak sebal, karena tak mendapat respon dari anak bungsunya. "Ayolah, Jade! Nanti malam sudah tahun baru, loh. Kau tidak lelah menghabiskan waktu menatap buku tebal itu?" Tetapi masih tidak mendapatkan respon.
Sekedip mata, buku tebal itu ditutup, kemudian dirampas. Jade memutar bola mata, terpaksa mengakui keberadaan ibunya di dalam kamar.
Wanita tersebut melipat tangan di depan dada, menunggu Jade berdalih lagi untuk menghindari acara keluarga. "Huuhh .... Aku harus pergi ke perpustakaan, Ibu. Ini hari kamis," jelasnya setenang mungkin.
"Lalu? Apa kau ada jadwal bercinta dengan buku usang di hari kamis?" balas ibunya, dalam hati berharap Jade akan berubah pikiran. Percayalah, ini bukan perdebatan pertama yang mereka lakukan setiap kali ada pertemuan keluarga besar Grasley.
Sebuah kepala berambut pirang muncul dari balik pintu, terang-terangan mengintip ke dalam ruangan. "Jade tidak mau ikut ya, Bu? Sudah biarkan saja! Mungkin dia jatuh cinta pada si penjaga perpustakaan. Atau ... hantu perpustakaan? Hahaha! Whooo!" Kepala itu menghilang tatkala novel tentang detektif Vher Naite melayang ke arah pintu.
Ibu berkacak pinggang lalu berkata, "Pergilah, Jay. Urus tumpukan mainan yang ingin kau bawa ke rumah nenek. Jangan lupa, umurmu sudah delapan belas tahun." Suara gerutu marah perlahan menghilang, pertanda Jaylo—kakaknya selisih 1 tahun—sudah pergi.
"Itu novel yang sangat mahal, Bu. Jika ingin membunuh Jay, gunakan saja buku sekolahku," ketus Jade seraya berdiri, kemudian mengambil benda tebal yang bentuknya tak karuan di depan pintu. Ia kembali, meraih tas kulit usang kesayangannya di atas meja, lalu berjalan meninggalkan kamar.
"Ibu pasti tahu aku mau pergi ke mana. Bilang saja pada Nenek tugas sekolahku menggunung. Selamat bersenang-senang dengan Grasley yang lain. Bye bye!"
●\~/●
Ia menutup mata, menikmati aroma khas perpustakaan yang selalu membuatnya rindu. "Selamat datang di rumah," gumam Jade, lalu bergerak mendekati meja besar yang berada di inti lantai pertama.
"Hai, Jade! Menghindari acara keluarga lagi?" Seorang pria paruh baya tersenyum ramah, melambaikan tangan ke arahnya. Gadis itu balas melambai, tertawa renyah, lalu menjawab, "Yaa ... tidak sepenuhnya juga. Perpustakaan ini rumah keduaku. Apa kau tidak berencana membuat acara keluarga di sini? Aku janji akan menginap." Pria itu terbahak-bahak, kemudian memberikan stempel di buku kehadiran yang selalu Jade bawa.
Setelah semuanya beres, ia pamit dan berjalan menuju lorong yang dipenuhi harta karun. Di lantai pertama ini sebagian besar diisi oleh buku berbau misteri dan sejarah. Wajar saja nyaris tidak ada orang yang menetap.
"Ada buku baru lagi di lorong E, coba periksa! Mungkin kau akan suka!" ucap pria tadi. "Baiklah. Terima kasih, Andre!" balas Jade, sigap mendekati lorong terakhir di lantai tersebut.
Aroma khas dari ratusan buku baru merasuki organ pernapasannya. Jade tersenyum lebar, antusias mengamati barisan buku yang disampul rapi. Begitu segar, indah, dan menarik untuk dibaca.
Dia meraih satu buku novel tebal, kemudian membuka halaman acak. "Ini luar biasa! Bahkan ada lanjutan dari series detektif Vher Naite! AAAHHH!!!" Pipi memerah, mata berbinar senang, dan tubuh melompat riang. Jade sangat bersyukur karena lagi-lagi berhasil menghindari acara keluarga.
Bugh!
Sesuatu yang terjatuh berhasil mencuri atensinya. Jade menoleh ke sana ke mari di sepanjang lorong. Tetapi tidak ada apa pun di atas lantai yang dibalut beludru merah. Kali ini dia mengintip lorong sebelah, yaitu lorong D. Namun, tidak ada siapa pun di sana.
Jade menghela napas, lalu menggelengkan kepala. Kebiasaan berhalusinasi ketika terlalu antusias kembali merusak pikirannya. "Eh? Kenapa novel Vher Naite sangat ringan?" Dahi Jade mengernyit saat melihat halaman novel yang terbuka di tangannya.
Kalimat besar tiba-tiba muncul di atas kertas.
'KUTUKAN INI AKAN TERJADI DI TAHUN 2021!'
"Aahh!" Jade memekik panik, refleks melemparkan buku itu ke lantai. Ia semakin kebingungan tatkala melihat sampul buku itu tampak lusuh dan tua. Sama seperti tekstur kertas di dalamnya.
Bukankah lorong ini dipenuhi buku-buku baru?
Tidak mau ambil pusing, Jade langsung meraih buku novel lanjutan Vher Naite yang lain dari rak, kemudian berjalan menuju Andre. Pria itu tersenyum, menutup koran, dan bersiap melayani pengunjung setianya. Namun, Andre menyadari sesuatu.
"Kenapa berkeringat, Jade? Apa AC di lorong E rusak?" dia bertanya seraya mencatat nomor buku yang hendak dipinjam. Gadis itu tertawa canggung sambil menjawab, "Haha! Tidak, tidak, tidak ada apa-apa."
Andre mengangguk paham, lalu mengulurkan buku yang baru saja diberikan stempel. "Baiklah, selamat menikmati kasusnya." Jade berusaha tersenyum ramah, kemudian mengambil buku itu, dan dimasukkan cepat ke dalam tas. Baru saja hendak melangkah pergi, dia malah berbalik lagi.
"Ada apa, Jade?" tanya Andre sebelum hanyut di dalam berita koran.
"E-emm ... aku—huuhh ...."
Andre memiringkan kepala, merasa ada sesuatu yang janggal. "Kenapa, Jade? Ini masih sore, apa kau takut pulang sendirian?" Tetapi gadis itu menggeleng cepat dengan wajah dipenuhi peluh.
"A-apa ada bu-buku lama ... di lorong E?" tanya Jade ragu-ragu. Andre tertawa renyah, lalu menjawab, "Kau kan rajin datang ke sini, apa kau lupa? Buku baru selalu diisi ke lorong E. Kalau ada yang lama, paling cuma beberapa minggu atau bulan saja. Kenapa?"
DEG!
DEG!
DEG!
Napas Jade memburu, jantungnya berdetak cepat. Ia tahu, pasti ada yang aneh sejak buku tua tadi mendadak muncul di atas tangannya.
"Ah, tidak, tidak ada apa-apa. Aku pulang duluan, yah!" seru Jade, lalu berlari ke arah pintu masuk.
Sebuah bus berhenti tepat ketika dia sampai di halte dekat perpustakaan. Jade buru-buru naik, sedikit berdesakan dengan penumpang yang lain. Ia bernapas lega setelah berhasil duduk nyaman sendirian di pertengahan bus yang cukup besar. Walaupun bulu kuduknya masih merinding, paling tidak Jade berada di kerumunan sekarang.
Kemungkinan terburuk, orang-orang ini akan ikut dalam malapetaka yang bisa saja terjadi.
Ia meraih novel lanjutan detektif Vher Naite dari dalam tas. Sedikit membaca spoiler mungkin bisa mengalihkan perhatiannya.
DEG! Kepala Jade sontak berdenyut pusing. Buku tua lusuh itulah yang kini berada di genggamannya. Dengan hati-hati Jade meletakkan buku itu di kursi sebelah, lalu segera mencari keberadaan novel Vher Naite.
Nihil. Sama sekali tidak ada buku tebal yang menghuni tas kulitnya.
Walaupun panik dan ketakutan, Jade cukup penasaran dengan isi buku yang tiba-tiba menghantui hidupnya hari ini. Perlahan dia meraih benda terkutuk itu, lalu membuka halaman pertama.
'Kutukan Tahun 2021'
Beberapa kata terpampang jelas, mungkin saja itu judulnya. Namun, tulisan kecil yang berada di bawahnya sukses mencuri atensi Jade.
'Oleh Jade Isabelle Grasley'
Tunggu dulu, ada berapa banyak orang yang bernama Jade Isabelle Grasley selain dia di dunia?
Tetapi, Jade sama sekali tidak pernah menulis novel. Meskipun dia sangat ingin melakukannya.
Karena tambah penasaran, tangan Jade membuka halaman kedua. Sebuah kalimat lagi-lagi muncul tanpa izin di permukaan kertas. "Kutukan Pertama. Dunia akan kehilangan penglihatan ...," lirih Jade refleks.
WOOSSHH!! Angin bertiup kencang di luar bus, mengguncang pepohonan dan semua benda lainnya. "Aahh!!" Orang-orang menjerit tertahan ketika bus yang mereka naiki mendadak hilang kendali. Jade menatap buku tua di pangkuannya, tetapi dia mendadak nyaris buta. Matahari seolah padam, hanya ada cahaya remang dari lampu jalan dan kendaraan yang menerangi sekitar.
Kalimat berikutnya muncul dan menciptakan cahaya sendiri, menerangi seluruh wajah Jade. "Kutukan kedua. Dunia akan kehilangan pijakan ...," lirih Jade lagi tanpa sadar. Padahal hiruk pikuk di dalam bus begitu mempengaruhinya.
Bumi seketika bergetar hebat, mengombang-ambingkan seluruh penghuni permukaan. Retakan-retakan menganga lebar membelah jalanan. Supir bus berusaha sebaik mungkin menghindari semuanya, tetapi malah memperburuk suasana.
Jade ingin berteriak panik, berlari, dan melompat dari bus ini. Namun buku tua itu tiba-tiba menjadi sangat berat. Tali panjang yang tak kasat mata seolah mengikat tubuhnya erat. Matanya tak lagi diizinkan menoleh ke berbagai arah, kecuali menatap tulisan bercahaya yang kerap muncul di halaman buku tersebut.
Untuk ketiga kalinya, buku itu kembali bercahaya. Jade menggigit bibir kuat-kuat, sama sekali tidak ingin membaca kalimat terkutuk itu. Namun ....
Srak! Bibirnya terkoyak, tetes demi tetes darah membasahi buku tua itu. Lidahnya bergerak di luar kendali, melafalkan setiap kata yang akan membawa kutukan terakhir.
"Kutukan ketiga. Dunia akan kehilangan segalanya."
●\~/●
Terima kasih sudah membaca!;)