'Tepat 72 jam sebelum tahun berakhir, kau-harus bersiap!'
Tulisan itu terbayang-bayang oleh Arman. Dia berusaha tidak mempercayainya, namun tetap saja hatinya di selimuti rasa gelisah. Arman menyesali keisengannya. Seharusnya dia tidak pernah mengakses dark web seumur hidupnya.
Setelah mendapatkan pesan aneh itu. Arman langsung menyegarkan perangkat lunak komputernya. Agar komputernya tidak terganggu lagi dengan halaman yang berbahaya dan ilegal itu. Dan dia sangat beruntung, karena usahanya berhasil menghilangkan jejak dark web dari komputernya.
***
Tepat tanggal 28 Desember 2020, Arman masih beraktivitas seperti biasa. Dia tetap pergi bekerja sebagai seorang perawat di salah satu rumah sakit.
Glek. . Glek. . Glek
Arman meminum kopi pemberian rekan kerjanya. Setidaknya dia merasa bersemangat lagi setelah meminum kafein yang cukup.
"Makasih ya Us! Kopinya!" ujar Arman sambil meletakkan mug yang sudah tersisa ampas kopi.
"Siap bro!" sahut Daus santai.
Arman pun melanjutkan kembali kerjaannya. Dia mengontrol pasien-pasiennya satu per satu. Tiba-tiba ada satu pasien lelaki yang menarik perhatiannya saat itu.
"Satu jam lagi, jam 12 malam kan?" ujarnya dengan raut wajah yang nampak mengerikan.
"Iya benar Pak. . ." jawab Arman lembut.
"Mati dong! Haha!" sahut pasien itu, yang kemudian langsung di tenangkan oleh keluarga yang berada di sampingnya. Arman hanya berdiri mematung sembari menatap aneh pasiennya.
"Maaf ya dek, suamiku tidak bermaksud begitu!" ucap istri dari pasien lelaki paruh baya itu.
"Tidak apa-apa kok. . ." Arman berusaha mengukir senyuman di wajahnya, lalu langsung beranjak pergi. Dia berusaha memaklumi sikap pasien itu. Toh lagi pula hal seperti itu sudah sering dia temui, sejak dia meniti kariernya sebagai seorang perawat.
***
Drrt. . . drrt . . .
Ponsel Arman bergetar, dia pun langsung membuka pesan tanpa nama itu, yang bertuliskan ;
'30 menit lagi'
Arman mengernyitkan dahi sembari memikirkan maksud pesan itu. Setelah mencari-cari jawaban di kepalanya, dia pun teringat dengan pesan dari dark web kemaren. 'Apa ini ada hubungannya?' benak Arman bertanya-tanya.
Mata Arman langsung melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Dia langsung membelalakkan mata, karena sebentar lagi jam 12.00 malam. Artinya 72 jam yang dimaksud pesan dark web itu, memang akan terjadi. Entah apa yang akan terjadi. Namun Arman mulai merasa ketakutan.
Arman mulai menyusun runtutan kejadian yang di alaminya sejak berangkat kerja. Pertama, seorang pasien lelaki yang memperingatinya. Kedua, pesan misterius yang terkirim ke ponselnya. Bagaimana itu bisa terjadi? bukannya semua itu tidak masuk akal?
Arman berlari ke dormnya, tetapi dia tidak menemukan rekan kerjanya Daus di sana. Suasana rumah sakit semakin sepi. Arman berusaha menyusuri lorong sembari celingak-celinguk untuk mencari seseorang yang bisa menemaninya. Nihil, dia tidak bisa menemukan seseorang untuk di ajak bicara. Semakin dia berjalan, semakin sepi pula tempat yang di lewatinya.
Arman berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Dia kembali melirik jam tangannya. Matanya langsung membelalak ketika melihat kedua jarum jam bersamaan menunjuk ke angka 12. 'Berarti sesuatu akan terjadi sekarang!' gumamnya.
Dari kejauhan Arman bisa melihat beberapa pasien yang berkeliaran. Salah satu pasien berjalan ke arah Arman. Pasien itu berjalan dengan lambat. Ada rasa tenang di hati Arman, dia merasa lega ketika melihat seseorang yang bisa di ajak bicara.
Arman melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mendekati pasien itu. Namun tiba-tiba Daus tampak lebih dulu menghampiri sang pasien. Arman pun langsung berlari untuk mendekati mereka.
Tetapi, saat tiba dihadapan mereka, mata Arman langsung membola ketika melihat tangan pasien itu menembus dada Daus. Darah langsung menciprat kemana-mana.
Daus tampak kehabisan nafas dan mematung saat itu. Perlahan pasien itu mengeluarkan tangannya dari dada Daus. Dia menggenggam organ jantung Daus yang bersimbah darah. Lalu langsung memasukkan organ itu ke dalam mulutnya.
Arman langsung berlari sejauh mungkin untuk menyelamatkan dirinya. Dia berlari sembari menengok ke belakang, berharap pasien aneh itu tidak mengikutinya.
Brakk!
Arman terjatuh karena menabrak seseorang di depannya.
Jleb!
Orang asing di depannya itu tiba-tiba saja langsung melayangkan pisaunya ke kaki Arman. Perlahan sepatu putih yang dikenakan Arman berubah warna menjadi merah.
Orang asing itu tampak menggunakan hodie dan juga topeng di wajahnya. Arman berusaha berdiri dan kembali berlari dengan pisau yang masih menempel di kakinya. Namun orang asing itu terlihat tidak berusaha mengejarnya.
Arman berlari keluar rumah sakit, dia pun langsung memanggil taksi yang kebetulan lewat, agar bisa cepat-cepat pulang ke rumah. Dengan tubuh yang gemetaran Arman berusaha menenangkan diri saat berada di dalam taksi. Perlahan dia cabut pisau yang masih tertancap di kaki kanannya itu.
"Aaaaaarkkh!" erang Arman menahan sakit yang teramat sangat.
Arman menyandarkan tubuhnya pelan. Tetapi dia baru tersadar kalau taksi yang dia naiki tidak berjalan menuju rumahnya.
"Pak, ini bukan arah ke rumah saya!" tegur Arman pada sopir taksi.
"Memang!" sahut sopir itu lalu berbalik menatap Arman ke belakang. Dia menyeringai sedikit memperlihatkan giginya.
"Sialan!!! Hentikan mobilnya!!!!" pekik Arman dengan kernyitan di dahinya. Namun sopir itu malah tertawa geli mendengar pekikan Arman.
Tanpa pikir panjang, Arman pun membuka pintu mobil begitu saja dan langsung keluar dari mobil yang masih melaju. Tubuh Arman terpelanting dan terguling, menyusuri rerumputan yang basah karena embun.
Arman merasa tidak kuat untuk berdiri. Hingga saat itu dia memilih beristirahat sejenak di rerumputan. Setidaknya tidak ada orang yang mencoba menyakitinya sekarang. Perlahan dia pejamkan matanya.
***
Arman membuka matanya, namun jantungnya serasa di sambar petir. Ketika melihat tangan dan kakinya di paku dan tertempel di dinding. Tubuh Arman mulai gemetaran, peluh mulai membasahi tubuhnya.
Saat itu Arman hanya mengenakan celana pendeknya. Bagian dadanya tampak goresan pisau yang membentuk gambar aneh. Mulut Arman juga di bekap dengan lakban. Sekarang dia tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan diri.
"Hahaha!" seorang lelaki mendekat dengan gelak tawanya. Arman di buat begitu kaget ketika melihat Daus masih hidup.
"Kenapa? kamu kaget? Ayolah Arman. . . bukankah kamu selalu penasaran dengan dark web, sebab itulah saat itu aku mengirimkan alamatnya padamu," ucap Daus sembari melepas lakban yang tertempel di mulut Arman.
"Sialan! Cuih!" geram Arman melotot ke arah Daus.
"Aku cuma mau memperkenalkan dunia dark web padamu. Bagaimana rasanya? Haha!" Daus berbicara dengan logat mengesalkan. Arman pun baru teringat, bahwa e-mail yang mengirimkan alamat dark web ternyata kiriman dari Daus.
"Lalu pasien itu. . . Bagaimana?" tanya Arman bingung, tentang bagaimana cara pasien itu bisa menembus dada Daus.
"Kopi itu, aku campuri dengan obat yang bisa membuat kau-seketika delirium, dan sekarang aku akan menambah dosisinya untukmu!" ujar Daus santai. Mata Arman langsung membelalak sembari menggelengkan kepala, berharap Daus tidak melakukan hal itu kepadanya.
Daus tampak menggenggam beberapa obat di tangannya, dan langsung memasukkan obat itu ke dalam mulut Arman secara paksa.
"Nikmati deliriummu kawan, jika kau-melakukannya, aku akan membiarkanmu hidup!" bisik Arman dengan seringainya.
***
Arman membuka matanya perlahan, paku-paku di tangan dan kakinya sudah terlepas, dia sekarang terduduk di lantai. Namun dia malah melihat hal-hal yang lebih mengerikan di sekelilingnya.
Banyak kepala-kepala kerbau yang menatapnya tajam dengan mata merah mereka. Bahkan ada kepala tengkorak manusia yang terus tertawa dengan lengkingan yang mengerikan.
Arman langsung menutup mata dan telinganya. Tetapi, suara-suara itu malah semakin nyaring terdengar. Perlahan Arman pun kembali membuka matanya. Dia langsung di buat kaget ketika melihat dua makhluk kecil yang berdiri di pojokan.
Mulut kedua makhluk kecil itu sangat lebar. Mulutnya menganga hingga menyentuh lantai yang sedang di pijaknya. Tangan makhluk itu juga begitu panjang, dan sesekali berusaha menyentuh Arman.
Arman saat itu semakin gelagapan, dia mencoba mencari benda untuk melawan makhluk-makhluk aneh yang saat itu mengelilinginya. Hingga terlihatlah linggis yang tersandar di dinding. Arman pun segera mengambil linggis itu sekuat tenaga. Dia langsung berlari menyerang dua makhluk kecil lebih dulu.
Brakk! Brakk! Jleb! Jleb!
Dia pukul dan tusuk kedua makhluk itu sekaligus. Darah langsung menciprat kemana-mana. Tetapi Arman masih saja melayangkan linggisnya ke makhluk itu. Suara lengkingan tawa juga semakin menusuk telinganya. Terdengar suara teriakan dan juga tawa menghantui kedua pendengaran Arman.
Dari balik dinding itu, Daus dan ketiga temannya sedang menayangkan siaran langsung dark webnya.
"Inilah tayangan spesial penutup tahun 2020, bagaimana? Kalian puas dengan tayangan 72 jam mendebarkan?" Daus berbicara di depan kamera dengan topeng yang menutupi wajahnya. Suaranya di samarkan layaknya suara robot. Ketiga temannya juga ikut berdiri di belakang Daus sambil menggunakan topeng yang sama.
"Selamat tahun baru semuanya!" ucap mereka bersama-sama.
●@ Komentar di channel dark web D987 (Daus)
Died33 : So cool bro! Do this again in next year!
Fkbon : What the...... Amazing plan!
Mrxx : Wah parahhhh kerennya! Tayanganku harus lebih sadis nih! 😒
Jo3 : Darah kedua anak itu 🤤
Botie : Menjebak korban dengan cara delirium, jenius!!! Lihat lelaki itu, sampai memukuli kedua anak polos itu dengan linggis 😂
...........
***
Setelah kejadian itu Arman di temukan oleh warga hanyut di sungai. Tubuhnya di penuhi lebam dan darah. Butuh waktu yang lama bagi Arman untuk bisa melanjutkan kehidupan normalnya. Namun seberapa keras Arman mencari Daus, dia malah selalu menemui jalan buntu. Lelaki yang sempat menjadi temannya itu seakan hilang di telan bumi.
~TAMAT~
●INFO
Delirium adalah gangguan mental berupa penglihatan atau pendengaran sesuatu yang tidak dilihat atau didengar orang lain. Adanya kebingungan dan tidak mengetahui keberadaan diri, serta tidak lagi mengenali orang lain di sekitar.