Sebelumnya aku ingin memperkenalkan diri, namaku Azkia Aurestela. Biasa di panggil Kia, sekarang berumur 18 tahun.
Di malam minggu yang saat ini tengah di landa hujan lebat, membuatku jadi teringat suatu hal dua tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku kelas 10 sekolah menengah akhir.
Saat itu masa di mana aku baru tahu yang namanya cinta-cintaan, dan aku baru memiliki kekasih saat itu yang bernama Marvel.
Padahal saat itu aku belum sepenuhnya melepaskan perasaan pada salah satu kakak kelas ku, tapi dengan keyakinan aku mencoba membuka hati untuk seorang Marvel.
Aku teringat hal membuat ku tersenyum mengingat hal tersebut adalah di bagian dia menyatakan perasaan padaku, dengan sebuah minuman isotonik dengan selembar sticky note tertempel di tutup botol. Ia memberikan minuman itu di tengah lapangan yang saat itu kami sedang istirahat sehabis olahraga.
Di sticky note itu tertulis huruf yang sedikit sulit di baca, tapi setelah di mengerti membuat ku tersenyum dengan malu.
Tembak!!!
Terima or tidak.
Dia bilang kalau menolak kembalikan kertasnya ambil minumannya, dan bila terima ambil kertas dan minumannya.
Aku menatapnya, tersenyum tipis. Lalu menlipat kertas itu dan memasukannya ke saku baju kaostim milikku.
Momen lucu memang karena hal itu cukup menarik, di mana biasanya laki-laki lain akan memberikan sesuatu hal yang romantis pada saat menyatakan perasaan.
Tapi Marvel berbeda hanya bermodalkan dua benda yang sebenarnya bisa aku beli di kantin sekolah itu ia menembak diriku menjadi kekasih.
Marvel satu kelas dengan ku yaitu 10 IPS 2, orangnya baik, tampan dengan alis tebalnya, ramah, serta selalu sopan meminta ijin kepada orangtua ku bila ingin mengajak diriku berjalan-jalan bersama.
Laki-laki tersebut tak pernah sekalipun melakukan sesuatu yang akan membuat ku marah, ataupun selebihnya. Dia sangat menjagaku.
Hubungan kami saat itu baru berlangsung dua bulan, tapi entah kenapa aku mulai bosan hanya karena dia terlalu sibuk dengan urusan ekstrakurikuler, serta tak lupa ia sering melupakan aku dengan bermain game.
Bayangkan saja gimana pikiran anak umur 16 tahun yang masih labil, tapi aku berusaha memakluminya karena ini adalah sebuah hubungan percintaan pertama bagi diriku.
Tapi ada hal yang membuatku kesal sekali, di mana salah satu perempuan sebut saja Santika.
Sering mengirimkan pesan singkat berupa ucapan seperti good night, good morning, udah makan, dan tak lupa satu pesan yang membuatku geram yaitu, aku suka kamu.
Bagaimana aku bisa tahu? Saat itu ponsel Marvel aku pinjam untuk selfi sedangkan cowok itu sedang masuk ke dalam rumahnya karena saat itu aku sedang berkunjung ke rumah Marvel.
Pesan masuk dari nama kontak Santi, aku membukanya dan betapa kagetnya saat perempuan itu mengatakan suka pada pacarku.
Secara spontan aku memblokir serta menghapus nomor cewek itu, biarkan saja dia marah. Seenak jidat begitu.
Tak sampai di situ akhir keganjenan dari si Santi itu, di dalam kelas si Santi bersama kelima temannya, yang tak ku ingat temannya yang mana aku lupa mengatakan begini. "Kapan nih taken."
Dan si Santi ini sambil cekikikan menjawab. "Tadi malam ngajak vc dia, bilang udah suka sama gue."
"Ih serius?" Timpal perempuan berponi tipis.
Sinta mengangguk. "Iya, tapi belum gue jawab."
Benar-benar itu anak, aku sudah akan menghampiri perempuan menyebalkan itu, dan menjambak rambut berombre coklat itu tapi harus di tahan oleh teman-temanku yang mengatakan. "Coba lo perhatiin dulu cowok lo, siapa tau bukan dia yang di omongin Santi."
Ada benarnya juga sih, masa nanti udah hajar duluan eh malah bukan yang dia maksud. Kan malu nantinya.
Besok paginya seperti biasa Marvel akan menjemputku tak lupa menyalami tangan kedua orangtuaku, tapi saat di jalan sikapnya agak berbeda, dan membuatku canggung.
Dia hanya bicara sepatah dua patah kata, lalu ikut mengumpul bersama teman-teman cowok untuk bermain game online.
Rasanya jarak kami berdua semakin jauh, tanpa tau sebabnya.
Aku yang benar-benar hampir bosan menjalankan hubungan yang sekarang saja aku bingung mengatakannya apa? pacaran tapi saling diam, putus tapi tak ada konfirmasi.
Di saat aku masih pusing memikirkan hal tersebut, aku tak sengaja bertemu salah satu kakak kelas bernama Kelvin di taman sekolah.
Kelvino yang biasa aku panggil ini sudah aku kenal sejak kelas 7 smp, kami kenal berawal dari camping yang di adakan sekolah di kawasan hutan rimbun.
Kenalnya pun hanya karena aku tergelincir saat outbond di pinggir sungai beraliran tenang, dan dia yang menolongku.
Saat kami tak sengaja bertemu di taman belakang sekolah itu, kami saling bercerita satu sama lain. Aku yang tadinya masih merasa canggung karena baru bertemu kembali merasakan getaran itu.
Aku menepisnya karena sudah memiliki kekasih.
Tapi perasaan lama yang aku kubur untuk kak Kelvin selama hampir tiga tahun lamanya kembali bangkit hanya karena pertemuan tempo hari.
Dan lama-kelamaan juga hubungan yang ku jalani bersama Marvel semakin tak menentu jalannya.
Saat kami sedang menikmati malam minggu di taman kota, aku bertanya apa dia bosan denganku, Marvel menjawab. "Aku sayang kamu, Kia. Gak pernah bosan."
Dan aku menyahuti dengan menggebu. "Kalo gak bakal bosan, kenapa kamu cuekin aku terus dengan sering mabar bareng teman-teman kamu? Kenapa kamu mau aja di deketin Santi yang ganjen itu?"
Dapat ku lihat bila Marvel terdiam kemudian dia ingin menyentuh tanganku, aku menepisnya.
"Aku mau putus, aku capek gini terus, aku bosan." Ucapku dengan tegas.
"Jadi kamu yang bosan sama hubungan kita, apa yang bikin kamu bosan Ki?"
"Ya bosan aja." Sahutku asal.
Catat. Aku belum pernah memutuskan seorang laki-laki jadi main asal-asalan aja.
"Oke kalau kamu mau putus. Aku cuma mau minta maaf kalau aku sering cuekin kamu seperti yang kamu bilang tadi. Dan masalah Santi, aku gak ada niat suka sama dia."
Kenapa aku yang merasa sakit mendengarnya padahal aku memutuskan?
Aku menepis perasaan itu, mungkin hanya kasihan saja.
Setelah hubungan ku dan Marvel selesai, aku kembali dekat dengan Kelvin. Egois memang tapi mau bagaimana lagi perasaan ku masih ada untuk lelaki yang sekarang kelas 12 IPS 1 tersebut.
Di pagi senin setelah selesai melaksanakan upacara bendera, aku ijin pada teman-temanku untuk menghampiri Kelvin yang sedang duduk di bangku tepat di bawah pohon rindang pinggir lapangan.
Btw, hari ini sudah dua bulan lebih aku putus dari Marvel. Tau saja gimana canggungnya diriku saat tak sengaja bertemu laki-laki itu apalagi kami sekelas.
Soal masalah Santi, perempuan itu semakin lengket saja pada Marvel. Teman-teman ku marah saat tau aku memutuskan Marvel karena Santi, dan juga karena aku masih menyukai Kelvin.
"Kak Kelvin." Aku menyentuh bahu lebar Kelvin lalu duduk di sampingnya.
Dia baru saja selesai melaksanakan tugas sebagai pengibar bendera pusaka. Kelvin tersenyum padaku, tapi entah kenapa senyum sulit di artikan.
"Lo suka sama gue." Aku terdiam, memilih menatap laki-laki berkumis tipis itu dari samping.
"Jawab."
"Hmm, iya dari dulu." Aku menunduk memilin jari-jemari kecilku.
"Gue gak." Aku mendongak di sertai kening berkerut.
"Maksudnya?"
"Mau tau kenapa gue deketin lo? Gue cuma mau balikan sama mantan gue Rani, sahabat lo."
Aku membeku, lidahku serasa kelu untuk mengumpat kasar. "Itu kenapa saat jalan sama gue, kakak suruh bawa Rani terus?" Tanya lirih.
Laki-laki itu mengangguk cepat.
"Jadi setelah ini gue mau lo menjauh dari gue, karena gue udah balikan sama Rani." Setelah mengucapkan perkataan yang sungguh menancap di hati itu, kak Kelvin pergi dengan santainya. Seakan mematahkan hati ku itu adalah sebuah perbuatan yang baginya biasa saja.
Memang aku tau kalau dia pernah berpacaran dengan Rani saat awal masa mpls tapi putus entah kenapa, dan aku baru sadar kebodohan diriku mau saja di kelabuhinya dengan menjadi perantara hubungan mereka.
Aku kembali meratapi nasib menyedihkan diriku yang memutuskan hubungan dengan Marvel dan memilin Kelvin yang hanya manusia penipu.
Dan entah kenapa setiap mengingat kejadian 2 tahun lalu membuat ku ingin selalu menangis, sekarang aku baru menyadari siapa yang benar-benar tulus mencintaiku tanpa memandang kekuranganku.
Marvel, dia entah ke mana sekarang. Setelah kenaikan kelas 11 dia pindah sekolah, nomer WhatApps miliknya pun sudah tak aktif lagi.
Sekarang aku menyesal memutuskan hubungan secara spontan tanpa berpikir panjang, tanpa bertanya alasannya. Walau ku tau di balik kesibukan Marvel dulu saat kami masih pacaran, dia masih sempat memberi kabar.
Aku merindukan dirinya, celotehan anehnya, guyonan garingnya tapi bisa membuatku tertawa.
Marvel di mana pun sekarang kamu berada, semoga selalu bahagia ya, aku minta maaf bila dulu terlalu egois.
Maafkan Cinta.
Dari aku manusia super egois, Aurestela Azkia.
••The End••