#2021
Malam itu terus berjalan menelusuri hutan yang tak ku kenal, hutannya terasa begitu aneh dan menyeramkan. Sepanjang perjalanan bulu kuduk ku terus merinding.
Aku berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Tanpa menyadari ada sebuah gerbang tua di depanku.
"Brak... " bunyi benturan kepalaku yang sudah menempel di tiang gerbang itu.
"Aduh... " aku mengelus-elus keningku yang sakit.
Aku menatap ke atas, terlihat ukiran wajah wanita tua yang menggunakan kap merah di kepalanya. Raut wanita itu tampak cantik tetapi seperti orang yang sedang putus asa.
Aku yang penasaran dengan gerbang itu, terus mengamati bentuk gerbang yang menurutku indah walopun sedikit menyeramkan itu.
Disisi kiri gerbang itu terdapat sebuah cawan emas kecil. Karena rasa penasaran ku, aku menyentuh cawan itu.
" Aduh... " aku kesakitan, ternyata di sisi lain cawan indah itu ada bagian yang sangat tajam seperti silet.
Cepat-cepat aku menarik tanganku. Aku terus berjalan menelusuri hutan berkabut itu. Sesekali terdengar suara gesekan kaki dan suara orang tertawa.
" Ih... Jangan-jangan ada orang di sini." aku bukannya takut, tetapi semakin bahagia karena sepanjang perjalanan menelusuri hutan berkabut ini aku belum mendengar suara ataupun bertemu orang sekali pun.
Setelah beberapa jam berjalan, aku pun mulai kelelahan.
"Duduk dulu ah... Capek juga jalan dari tadi."
Saat aku duduk ada seorang nenek Tua menghampiri ku dan meminta tolong untuk memperbaiki senter nya yang rusak.
"Cu... Tolong nenek.. Senter nenek mati. Nenek sudah berusaha memperbaikinya tetapi tidak bisa hidup juga." ucap nenek tua itu.
Lagi-lagi bulu kuduk ku merinding.
"Ngpain nenek-nenek jalan ke hutan semalam ini." pikir Klara dalam hatinya.
Ya.. gadis yang tersesat itu namanya Klara. Klara yang sedang mengikuti kegiatan pramuka di sekolahnya tak sengaja memasuki hutan berkabut saat mencari kayu bakar untuk api unggun di acara puncak pramuka.
"Sini nek Klara cek dulu." Ucap Klara kepada nenek tua itu.
Nenek tua itu mendekat, semakin mendekat semakin tercium bau busuk di sekitar Klara duduk. Klara mengusap-usap hidungnya, dengan hati-hati agar nenek tersebut tidak tersinggung.
Klara mencoba menghidupkan senter nenek itu tetapi tidak hidup juga. Akhirnya Klara mencoba menggantikan baterai senternya. Ternyata senter itu bisa hidup.
"Yah... bukan senter nenek yang rusak tapi baterainya yang sudah habis. " ucap Klara kepada nenek itu.
"Ini nek, pakai aja baterai ini. Klara masih punya cadangan." Ucap Klara pada nenek tua itu.
"Terima kasih cu, Ini ada buku untukmu cu. Nenek rasa ini bisa berguna untukmu." Ucap nenek tua itu.
Klara mengambil buku itu, karena sibuk memperhatikan buku itu Klara hampir lupa untuk berterima kasih. Saat iya ingin berterima kasih nenek tua itu sudah menghilang.
"Kemana nenek itu ya, cepat sekali jalannya. Ko sudah tak terlihat lagi. " Ucap Klara sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Klara kembali menatap buku itu, senter yang sudah mati karena baterai sudah di berikan kepada nenek tadi memaksa Klara untuk membongkar tasnya untuk mengambil baterai baru. Saat Klara membongkar isi tasnya, Klara menemukan sebuah buku yang bertulisan Sebelum 2021.
"Buku siap ini ya?" pikir Klara yang kebingungan melihat isi tasnya itu.
"aku gak pernah punya buku seperti ini." pikirnya sambil mengerutkan keningnya.
Klara menghentikan lamunannya sejenak dan kembali mencari baterai untuk senternya yang padam. Setelah senter hidup, Klara baru menyadari buku yang di berikan nenek itu dan buku yang di dalam tasnya ternyata tulisannya sama.
" Lah ko sama shi dengan buku yang di berikan nenek itu. " Klara kembali mengerutkan dahinya.
Karena penasaran Klara membuka buku itu. Buku itu berisi cerita seorang perawat yang sombong, dia seorang perawat yang memiliki keahlian yang luar biasa. Kemampuannya hampir melebihi seorang dokter, banyak orang yang bisa di tolong nya. Tetapi karena kesombongannya dia malah mengabaikan orang-orang rendah, perawat itu hanya mau menangani orang-orang yang memiliki uang.
Hingga suatu ketika ada seorang tua yang sedang sakit parah datang kepadanya, karena tidak punya uang perawat itu tidak menanganinya. Sehingga nenek itu murka dan mengutuknya. Tempat indah yang menjadi tempat perawat itu praktek di kutuk menjadi Hutan berkabut yang sangat angker sehingga tak ada satu pun orang yang berani datang ketempat itu.
Hanya orang yang berhati baik dan tulus yang bisa masuk ke hutan berkabut itu. Ya.. orang itu adalah Klara.
Klara mengerutkan dahinya, ah.. aku rasa ini hanya cerita aja pasti hanya kebetulan aja.
Setelah membuka buku yang ada di dalam tasnya, Klara kembali membuka buku yang di berikan nenek tua itu.
Klara melototi buku itu, iya sampai melemparkan buku itu. Di buku itu tertulis jika Klara tidak bisa menemukan hantu gentayangan nenek itu untuk mengobatinya Klara akan terperangkap di hutan berkabut itu dan mati. Waktu yang di berikan hanya 1 hari yaitu sebelum 2021.
"Apa-apa ini. kenapa bisa seperti ini shi, mana aku tau nenek itu rupanya seperti apa." Pikir Klara dalam hatinya.
Untuk sementara waktu Klara membiarkan buku itu tergeletak di sampingnya. Dan dia pun tertidur sejenak, dalam tidurnya Klara bermimpi.
"Klara..... Klara.... hihihi... hihi.. hihi... " Suara yang tidak tau asalnya memanggil Klara.
Tiba-tiba.. ada sesosok wanita berwajah terbelah yang mengeluarkan darah segar di belahan luka di pipinya.
Darah itu menari-nari dan membasahi seluruh tubuh Klara.
Klara terbangun kaget dengan mimpi nya, tetapi hal aneh terjadi. Darah yang ada di dalam mimpinya benar-benar ada di bajunya. Baunya busuk.
"Ada apan ini, ini hanya mimpikan." Klara menampar pipinya dengan kencanag.
"Aduh sakit. " ini bukan mimpi.
Klara mengambil kembali bukan yang sempat dilemparkannya. Dibukanya satu persatu, ternyata sentuhannya pada cangkir mas yang melukai tanyanya itu adalah kunci masuk ke dalam hutan berkabut itu.
"Tidak, ini tidak mungkin. Mana mungkin aku memasuki hutan berkabut tempat para hantu gentayangan. Aku Kan masih hidup." Pikir Klara yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.
Klara kembali membuka lembar demi lembar buku itu. Disitu tertulis setiap orang yang mengalami mimpi bertemu wanita berdarah di wajahnya berarti orang itu adalah orang pilih hutan berkabut.
Klara memejamkan matanya sejenak. Menarik nafas sejenak, aku harus ambil keputusan segera sebelum waktunya habis pikir Klara.
Akhirnya Klara memutuskan untuk menjalankan misi hutan berkabut untuk mencabut kutukan nenek tua itu.
Klara terus berjalan, ternyata jalan yang ditempuhnya sama.
"Pantas saja aku masih di hutan ini terus, ternyata ini hutan hantu gentayangan. " pikir Klara.
Klara bejalan 5 meter kemudian Klara bertemu dengan hantu yang isi perutnya terbuka sampai bertaburan di tanah tetapi orang itu masih bisa berjalan dengan baik. Orang itu melambai-lambai Klara.
Jantung Klara terasa mau meledak melihat hantu itu. Tetapi hantu itu terus melambai-lambai kan tangannya. Klara mendekati hantu itu.
"Tolong aku, aku sudah berusaha mengumpulkan isi perutku tetapi tidak bisa." ucap hantu itu.
Tanpa menjawab dan menahan rasa mual, Klara memunguti isi perut hantu itu. Setelah selesai Klara menyodorkan kepada Hantu itu.
"Aku tidak bisa memegangnya, kalau aku pegang nanti berhamburan lagi. Bisakah kamu memasukkan kedalam perutku." ucap hantu itu.
Karena kasihan melihat hantu itu, Klara akhirnya membantu memasukkan isi perutnya kedalam perut hantu itu.
Sungguh luar biasa, perut hantu itu menjadi sembuh seperti tidak ada luka sedikitpun.
"Kamu memang pilihan, kata hantu itu kepada Klara, terimalah ini tanda ucapan Terima kasih dariku." hantu itu memberikan sebuah batu yang menyerupai petasan.
"Simpanlah baik-baik, karena itu akan sangat kamu butuhkan dalam perjalanan ini. " ucap hantu itu.
Seketika itu juga hantu itu menghilang dari hadapan Klara.
Klara terus berjalan, 5 meter kemudian Klara bertemu seorang laki-laki yang kehilangan matanya dan kedua tanyanya. laki-laki itu berjalan berputar-putar mencapai mata dan tangannya yang ada di sampingnya.
"Tolong aku, aku mencari tangan dan mataku. " ucap laki-laki itu.
Klara mengambil tangannya dan matanya kemudian memasangnya di tubuh laki-laki itu.
Laki-laki itu sangat bahagia, kemudian memberikan sebuah korek api kepada Klara.
Klara berjalan lagi sejauh 50 meter, dari kejauhan Klara bisa melihat banyak sekali uang-uang yang penuh dengan darah, uang itu menghalangi jalan untuk pergi ke seberang sana.
Semakin Klara mendekat, darah semakin bertambah banyak. Klara kebingungan dan sedikit mundur agar darah itu tidak mengenai tubuhnya.
Klara teringat akan batu yang menyerupai petasan dan korek api. Klara mencoba menghidupkan korek api dan membakar ujung batu yang menyerupai lilin itu. Setelah hidup, Klara melemparkan batu itu di uang uang penuh darah itu.
"Doarrr..... " batu itu meledak tetapi anehnya tidak menyerupai petasan. Ledakannya melumat uang dan darah itu. Sedikit demi sedikit kabut itu menghilang.
Hutan yang tadinya tampak seram menjadi hutan yang sangat indah, dimana banyak sekali buah-buahan dan bunga yang begitu indah.
Tampak sebuah rumah megah yang sangat indah di depan mata Klara. Tiba-tiba seorang perawat berbaju putih dan ber kap merah menghampiri Klara.
"Terima kasih sudah mencabut kutukan ini." ucap Perawat tersebut.
Ayo masuk kedalam, ucap perawat tersebut.
"Karena kebaikan hatimu yang mulia kami di bebaskan dari kutukan ini. Silakan pilih hadiah yang ingin kamu bawa keluar dari hutan ini." ucap perawat tersebut.
Klara tersenyum kepada perawat tersebut.
"Saya tidak ingin hadiah, saya hanya ingin anda memiliki hati yang mulia. Jangan membeda-bedakan setiap pasien yang datang berobat. Berikanlah hadiah itu untuk orang yang tidak mampu agar mereka bisa menerima pengobatan gratis darimu. " ucap klara
"baiklah, Terima kasih sudah menyadarkanku. "
Akhirnya Klara kembali di tempat teman-teman nya berkumpul sebelum 2021.
#2021