Nurhayati adalah seorang gadis kecil yang bisa dikatakan sangat lah unik.
Bukan hanya kebiasaannya yang diluar dugaan,tapi karena perilakunya pula yang semestinya tidak harus dilakukannya.
Usianya memang masih sangat dini sekali.
Tapi,pemikirannya sangat lah dewasa.
Gadis berusia 10 tahun ini pun memiliki sifat dan akhlak yang sangat mulia.
Baru-baru ini,Nurhayati dibuatkan penangkaran kecil bagi kucing-kucing jalanan oleh orang tuanya.
Bapaknya bekerja sebagai Wiraswasta,dan ia mempunyai toko yang lumayan agak besar.
Tokonya itu berjalan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun.
Jadi,walaupun setiap pagi menjelang maghrib Bapaknya menjaga toko,malamnya di rumah saja.
Walaupun mereka memiliki kesibukan masing-masing,tapi hidup mereka sangat bahagia.
Ibunya bekerja sebagai keamanan di Desanya.
(Atau,bisa disebut sebagai pemerhati lingkungan sekitar).
Nurhayati adalah putri semata wayang mereka.
Karena,dua tahun silam rahim Ibunya harus diangkat akibat penyakit kanker rahim.
Itu bisa dikatakan bahwa Nur tidak akan pernah bisa mendapatkan seorang Adik.
Kecuali keajaiban yang menghampiri keluarganya tersebut.
"Ibu,Nur pergi dulu ya.
Nur mau memberi makan kucing-kucing itu."
Nur meminta ijin kepada Ibunya sambil membawa beberapa makanan kucing.
"Iya,jangan kesorean pulangnya ya.
Kalau Ibu nanti belum pulang,kamu cari kunci rumahnya dibawah keset depan pintu ini ya."
Jawab Ibunya.
"Loh,Ibu mau pergi kemana?"Tanya Nurhayati.
"Ibu ada urusan sebentar.
Mungkin,nggak lama Ibu pulang kok!"Jawab Ibunya sambil menyunggingkan senyum dibibirnya.
"Oh,kalau gitu aku saja yang bawa kuncinya."
Kata Nurhayati.
"Nggak usah dibawa,siapa tahu Ibu yang duluan pulang."
Kata Ibu sambil membereskan tempat masaknya.
"Ya udah deh kalau gitu,Nur pergi dulu ya Bu."
"Iya,hati-hati ya."
Nurhayati kemudia pergi ke tempat dimana kucing-kucing itu berada.
Selang beberapa menit,Ibunya pun pergi.
Sesampainya di tempat penangkaran kucingnya,"Halo kucing-kucing ku yang manis,aku datang membawakan makanan untuk kalian lagi.
Maaf ya,aku datangnya agak terlambat.
Beberapa hari ini,aku ada kegiatan di Sekolah."
Nurhayati berkata kepada kucing-kucing itu,seolah-olah menganggap bahwa para kucing itu dapat menjawab perkataannya.
Pada saat Nur menyiapkan makanan untuk para kucing itu,tiba-tiba temannya datang.
Seraya berkata,"Nur,kamu baru datang ya?"
"Iya,kenapa?"Ia menjawab sambil mendongakkan kepalanya menatap ke arah temannya itu.
"Oh,"jawab temannya pendek.
Mereka berdua saling membantu satu sama lain memberi makan para kucing itu.
Mereka berdua tersenyum senang melihat kucing-kucing itu makan dengan lahap.
"Aduh sayang,pelan-pelan makannya.
Nanti kesedak loh!"Seru Nur sambil tertawa senang.
"Nia,kamu kok kesini.
Ada apa?"Tanya Nur,menyelidik.
"Nggak ada apa-apa kok,aku hanya ingin melihat kucing-kucing kamu yang lucu ini."
Nia menggeleng pelan menjawabnya sambil tersenyum.
"Oh,aku kira ada apa."
Kata Nur.
Lama sekali mereka berdua memberi makan para kucing itu.
Tidak lama kemudian,adzan asar pun berkumandang.
Waktunya Nurhayati untuk pulang ke rumah tepat waktu.
"Maaf ya Nia,aku harus pulang!Aku takut,Ibu marah kalau aku pulangnya kesorean."
Kata Nurhayati sambil membereskan barang bawaannya tadi.
Nia hanya menjawab dengan anggukan kepalanya saja.
Para kucing itu masuk ke kandang itu,dan Nurhayati pun mengunci kandang tersebut.
Mereka berdua akhirnya pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di rumah,ternyata Ibunya Nur sudah pulang dari tadi.
"Maaf ya Bu,Nur pulangnya agak terlambat ya?"Kata Nur sambil menundukkan kepalanya,sebagai tanda untuk meminta maaf.
Bentuk penyesalannya,(sedari kecil,Nur selalu diajarkan untuk bersikap sopan santu dan meminta maaf kalau melakukan kesalahan).
Ibu hanya tersenyum,kemudian mengusap lembut rambut putrinya.
"Ibu baru saja sampai,beda lima menit saja dari kamu sayang."
Kata Ibu sambil menatap wajah putrinya.
Mereka pun masuk ke rumah,kemudian menunaikan shalat berjamaah.
Selepas shalat,Nur sibuk dengan pekerjaan Sekolahnya.
Hari ini,ia dapat tugas banyak sekali dari Gurunya di Sekolah tadi.
"Nur,ayo makan dulu.
Nanti,kamu lanjutkan lagi belajarnya selesai shalat isya nanti."
Ibunya berseru dari arah ruang makan keluarganya.
Disana,ada Bapak yang sudah menunggu dimeja makan.
Nur pun menyusul ke ruang makan tersebut.
"Gimana Nur,kamu suka kan sama kandang penangkaran kucingnya?"Tanya Bapak.
"Iya Pak,Nur s-u-k-a s-e-k-a-l-i!"
"Bagus deh,kalau kamu suka."
Bapaknya langsung memotong jawabannya Nur.
"Kalau begitu,kita makan dulu yuk.
Nanti,dilanjutin lagi ceritanya."
Kata Ibu.
Mereka semua makan dengan sangat lahap sekali.
Masakan Ibu memang sangat enak.
Ibu memang jago masak.
Walaupun masakannya tetap yang itu-itu saja,tapi Nur dan Bapaknya suka sama masakan tersebut.
Terasa lezat dan nikmat sekali makanannya.
Sehabis shalat isya,Nurhayati kembali ke meja belajar di kamarnya.
Saat Nurhayati hendak membuka buku pelajarannya,tiba-tiba handphonenya berbunyi.
Nurhayati segera menjawab panggilan diponselnya itu.
(🌺Assalamu'alaikum.
🌹Wa'laikum salam,ada apa Ri?
🌺Maaf ya Nur,aku menelponmu malam-malam begini.
🌹Nggak pa-pa kok.
🌺Nur,aku mau bilang sesuatu ke kamu boleh?
🌹Boleh kok,mau bilang apa?
🌺Begini Nur,aku mau mengundurkan diri dari grup tarian merak itu.
🌹Loh,kok mengundurkan diri,kenapa Ri?Apa kamu ada masalah?
🌺Nggak ada kok Nur.
Dua hari lagi aku mau pergi keluar Negri.
Maaf ya,aku ngasih tahunya mendadak kayak gini ke kamu.
🌹Oh,gitu ya.
Nggak pa-pa kok.
Ya udah,kalau itu memang sudah keputusanmu nggak jadi masalah kok.
Tapi,ngomong-ngomong kamu kok pergi keluar negri mendadak sih?Ada apa?
🌺(Riri terdiam.
Dalam hati,Riri nggak mungkinkan bilang kalau dia telah divonis kena leukimia akut.
Tapi,untungnya masih dalam tahap awal.
Belum memasuki stadium dua.
Nurhayati nggak boleh tahu soal masalah penyakit yang di deritanya selama ini.
Riri nggak mau temannya itu menjadi sedih.
Tiba-tiba Riri terisak dan tak sengaja terdengar oleh Nurhayati.)
🌹Ri,kamu kenapa?Kok nangis?Apa ada yang salah dengan kata-kataku tadi?Aku minta maaf ya Ri.
🌺Nggak kok,aku nggak nangis.
Aku cuma lagi pilek aja dikit.
🌹Oh,gitu.
Ya udah,kalau gitu,aku akan bilang ke pembimbing grup tarian kalau kamu mengundurkan diri dari anggota grup itu.
🌺Makasih banyak ya Nur.
Ya udah,aku tutup telponnya ya.
Assalamu'alaikum
🌹Iya,sama-sama Ri.
Iya!
Wa'alaikum salam.)
"Aduh,aku lupa nanya.
Kenapa Riri pergi ke luar Negri mendadak ya?"Seru Nur dalam hati!
Nurhayati menaruh handphonenya di meja belajar,membereskan semua buku mata pelajaran,dan pergi tidur.
Esok paginya di Sekolah,"Pagi Nur!"Sapa Ibu Cantika.
"Pagi juga Bu."
Balas Nur.
Ibu Guru Cantika adalah Guru yang paling dekat dengan Nurhayati.
Ibu Guru sangat senang dan bangga terhadap Nurhayati,karena Nurhayati adalah gadis yang paling teladan dan baik hati.
Rajin dan cerdas.
Ia juga suka membantu teman yang sedang kesulitan.
Beberapa tahun kemudian...
Pulang Sekolah,Nurhayati mendadak nggak enak hati.
Ia selalu merasakan ada firasat aneh yang memenuhi pikirannya setelah melihat ada bingkai foto ia yang sedang berduaan dengan temannya itu tiba-tiba terjatuh begitu saja dari meja belajarnya itu.
"Ada apa ya,kok perasaanku nggak enak.
Kenapa foto ini bisa terjatuh?
Padahal,nggak ada angin nggak ada hujan?"Batin Nur dalam hati.
Tiba-tiba,Ibu datang ke kamarnya.
"Ada apa sayang,kok kamu bengong kayak gitu?Kenapa fotonya bisa jatuh?"Tanya Ibu,menyelidik.
"Ah,nggak pa-pa kok Bu.
Aku nggak sengaja menyenggolnya.
Jadi pecah deh bingkainya."
Kata Nur sambil tersenyum karena idenya itu,beralasan.
"Oh,lain kali hati-hati ya.
Ya udah,nanti Ibu belikan bingkai foto yang baru ya!"Kata Ibu sambil tersenyum dan mengusap-ngusap kepala Nur dengan lembut.
Ibunya Nur jarang sekali memarahi anak semata wayangnya itu.
Paling juga hanya menasehatinya sedikit lalu mencubit perutnya kalau marah kepada Nur.
Tapi,untungnya Nur adalah anak yang penurut dan rajin.
Malam harinya,"Nur,tolong kamu ambilkan buku nota Bapak di toko."
Kata Ibunya menyuruhnya.
"Iya Bu,Nur ambil sekarang ya."
Jawab Nur sambil beranjak keluar menuju tokonya.
Nur tidak tahu,bahwa ada kejutan yang akan diberikan kepadanya sepulang dari toko nanti.
Orang tua nya memang sengaja merencanakan semua ini tanpa sepengetahuannya.
Di rumah,sudah ada Tante,Oom,Sepupu,Nenek dan Kakeknya.
Setiba di rumah,Nur terlihat bingung sekali.
Lampu di dalam rumahnya tiba-tiba padam.
"Loh,kok mati.
Padahal,diluar nggak mati lampu?"Tanya Nur dalam hati.
Saat Nur membuka pintu menimbulkan bunyi "kreeek" dari pintu.
Tiba-tiba lampunya menyala lagi.
Nur kaget setelah lampunya menyala lagi.
Nur terharu,ternyata ada kejuta kecil untuknya.
Ada Tante,Oom,sepupu,Nenek dan Kakeknya.
"Ya Allah,"Nur berseru senang sambil menahan tangis saking harunya.
Mereka masing-masing membawakan hadiah kado kepadanya.
"Selamat ulang tahun sayang!"Seru mereka bersamaan.
(Tiup lilinnya,tiup lilinnya,tiup lilinnya sekarang juga,sekarang juga,sekarang juga).
Tepat pada saat Nur akan meniup lilinnya,tiba-tiba ponsel di meja belajar dalam kamarnya berbunyi.
Nur bergegas mengangkat panggilan diponselnya tersebut.
Ternyata,Riri yang meneleponnya.
(Wa'alaikum salam,ini siapa ya?
Oh,Om.
Ada apa Om?
Apa Om?Nggak mungkin Om,Om bercanda kan?
Ya Allah Riri!
Iya Om,makasih kabarnya ya Om.)
Nur kembali ke ruang tamu sambil menangis.
"Ada apa sayang,kok nangis?"Tanya Ibu.
"Riri Bu,R-i-r-i..."
Nur berkata sambil menangis.
"Riri kenapa sayang?Ini ada apa sebenarnya?"Tanya Ibu semakin penasaran.
"Riri m-e-n-i-n-g-g-a-l d-u-n-i-a Bu!"Nur terbata-bata sambil terus menangis.
"P-a-d-a-h-a-l,Riri adalah teman terbaikku..."
Kata Nur.
"Memangnya Riri sakit apa,kok bisa sampe meninggal gitu?"
"Leukimia!"Jawab Nur pendek.
Nur bergegas menuju ke kamarnya lagi.
Seraya membanting pintu dan mengunci pintunya,kecewa.
Kecewa dan sedih sekali hatinya.
Tepat pada hari lahir dan hari bahagianya ini,teman terbaiknya itu pergi untuk selama-lamanya menghadap-Mu.
Esok paginya.
Nur terbangun dari tidurnya semalaman,kaget karena mendengar suara mobil ambulan.
Jenazah Riri baru tiba pagi ini.
Nur semakin sedih,sakit sekali hatinya menerima kenyataan sepahit ini.
Beruntung,hari ini adalah hari minggu.
Jadi,Nur tidak pergi ke Sekolah hari ini.
Tiba-tiba,ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Nur kaget,dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa Bu?"
"Sayang,kamu jangan sedih kayak gini terus.
Ikhlasin Riri pergi ya!Riri sudah bahagia disana sayang.
Disamping Allah,bersama Ibunya..."
Kata Ibu sambil memeluk Nurhayati erat-erat,menenangkannya agar tidak terus bersedih.
Ibunya Riri sudah lama meninggal,saat melahirkan Riri dulu akibat pendarahan.
"Iya Bu!"
"Nak,sekarang kita kebawah yuk.
Kita lihat pemakaman Riri sekarang!"Kata Ibu tersenyum sambil mengusap air mata putrinya dengan lembut.
Saat prosesi memakamkan jenazah Riri,Nurhayati tak henti-hentinya menangis.
Sampai prosesi itu selesai,Nurhayati tidak langsung pulang.
Nurhayati jatuh terduduk di atas pusara makam temannya itu.
"Ri,kenapa kamu pergi secepat ini,kamu ninggalin aku sendiri begitu saja.
Padahal,kemarin kita masih bercanda tawa bersama.
Sekarang,kita beda tempat Ri.
Bahagia disana ya,surga menantimu Ri.
Do'aku selalu menyertaimu.
Kamu adalah teman terbaik yang aku punya saat ini.
Tidak ada lagi selain kamu Ri..."
Perkataan Nur,tiba-tiba terhenti.
Terhenti karena ada yang menyentuh bahunya dari belakang.
Nurhayati kaget,seraya sambil terbata-bata berkata.
"Riri,bukannya kamu sudah m-e-n-i-n-g-g-a-l?"Nurhayati terbata bingung sambil menatap Riri,kaget.
"Nur,aku memang sudah pergi.
Aku kesini,cuma mau bilang.
Kamu jangan sedih terus ya!Aku janji,akan menunggumu di sini."
Kata Riri sambil tersenyum.
Setelah Riri pergi,Nur terbangun.
Ternyata,dia pingsan selama tiga jam lamanya.
Selama Nur pingsan,Nur mimpi bertemu dengan Riri di makamnya.
Nur menganggap,bahwa Riri masih hidup.
"Alhamdulillah sayang,kamu akhirnya siuman juga.
Kamu tadi pingsan di makam.
Ibu khawatir dan takut sekali."
Kata Ibu cemas sambil memeluk putrinya.
"Bu!"Seru Nurhayati.
"Iya,ada apa sayang..."
"Aku mimpi buruk Bu.
Di dalam mimpiku,Riri meninggal dunia.
Ini mimpikan Bu?"Tanya Nur.
Ibunya menjawab dengan gelengan sambil mengusap mukanya yang mulai basah.
Nurhayati semakin teriris oleh sebilah sembilu.
Pedih nian rasanya harus menerima kenyataan sepahit ini.
Tiga belas tahun kemudian...
Tiga belas tahun sudah Nurhayati telah melupakan rasa sedihnya waktu itu.
Namun,Nur tidak akan pernah melupakan Almh. temannya itu.
Selama tiga belas tahun Nur sering mengunjungi makan temannya itu dua bulan sekali.
Kadang kala ada bolongnya juga karena kesibukannya.
Namun,selama dua tahun terakhir ini kembali aktif lagi seperti biasa,jiarah kemakam dua bulan sekali setelah lulus Kuliah.
Tak disangka,Nur telah berpacaran sejak lima tahun yang lalu.
Nur,akhirnya memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya itu di tahun ini.
"Sayangnya Ibu,akhirnya kamu sudah tumbuh dewasa dan cantik sekali.
Sebentar lagi,kamu akan menikah dengan seseorang yang kamu sayangi dan yang menyayangi kamu.
Pesan Ibu!Setelah menikah nanti,jadilah istri yang baik dan jadilah Ibu yang baik untuk anak-anakmu kelak.
Do'a Ibu,selalu menyertaimu nak..."
Pesan Ibu kepada Nur.
"Oh iya Bu,selama ini aku kan sering memelihara dan mengunjungi kadang penangkaran kucing yang Bapak buat.
Aku ingin,penangkaran itu diberikan saja kepada orang lain.
Tapi,orang itu harus sering merawat dan memeriksa penangkarannya itu.
Sama seperti apa yang aku lakukan selama ini."
Kata Nur panjang lebar.
"Iya sayang,Ibu akan ikuti pesanmu!"Jawab Ibu sambil tersenyum.
Tiga tahu kemudian...
Setelah sekian lamanya Nur menanti,akhirnya Nur diberikan sosok bayi mungil yang cantik sekali.
"Alhamdulillah sayang,Tuhan telah mendengarkan dan menjawab do'amu selama pernikahanmu.
Selamat ya sayang,kamu akhirnya menjadi Ibu.
Ingat pesan Ibu waktu itu ya.
Jadi Ibu yang baik untuk anakmu ini."
Kata Ibunya Nur.
Ibunya bahagia sekali,akhirnya bisa mendapatkan seorang cucu dari rahimnya Nur.
Walaupun cucunya itu perempuan,tapi ia tetap bahagia dan bersyukur dengan karunia tersebut.
Enam tahun kemudian...
Tiba-tiba Nur jatuh pingsan.
Akhirnya keluarganya Nur tahu kalau selama ini Nur mempunyai penyakit kelainan jantung.
"Nur,sayangnya Ibu,kamu harus kuat ya.
Harus bisa bertahan demi anakmu yang cantik ini."
Ibunya mendesah.
Nur koma selama tiga hari tiga malam lamanya.
Selama itu juga,Nur bermimpi bertemu dengan Riri,teman baiknya.
Di dalam mimpinya itu,Riri datang menjemputnya dan mengajaknya pergi.
Sebelum pergi,Nur sempat tersadarkan dari komanya.
"Ibu,maafin Nur ya.
Mungkin,Nur akan pergi.
Riri sudah menunggu Nur disana."
"Nggak sayang,kamu nggak boleh ngomong kayak gitu.
Ibu yakin,kamu pasti bisa sembuh kok.
Jangan pergi sayang,jangan tinggalkan Ibu.
Anakmu masih membutuhkanmu."
Ibunya Nur terus menangis sambil menggenggam jemari putrinya.
"Maaf Bu,aku harus pergi."
Setelah membaca dua kali masyahadat,Nur tak sadarkan diri kembali.
"Ya Allah Nur,sayang.
Bangun sayang,jangan pergi.
Jangan tinggalin Ibu sayang."
Ibunya Nur panik seketika.
Ia langsung memanggil Dokter.
Setelah di periksa,Dokter tertunduk sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Tangisnya pun pecah seketika.
"Dok,gimana.
Apa yang terjadi,jawab Dok."
Sambil mencengkram bahu Dokter itu kuat-kuat,meminta jawaban.
Akhirnya,Dokter itu pun menjawab,"Maaf Bu,anak Ibu sudah tidak ada."
Kata Dokter itu.
"Tidak!T-i-d-a-k m-u-n-g-k-i-n!"
"Ibu harus kuat,Ikhlaskan dia pergi."
Kata Dokter itu,menenangkan.
Ibu jatuh pingsan.
Bapaknya yang dari tadi berdiri diam terpaku,kemudian menggondong tubuh Ibu ke ruang rawat lain.
Setelah siuman,Ibunya masih terus saja terisak.
Setelah Nur meninggal,Nur selalu dikenang baik oleh tetangga lingkungan sekitarnya.
Karena,kebiasaannya Nur yang suka berbagi dan membantu itu lah yang membuat semua orang cinta padanya.
Untuk itu,kita pun harus bisa berbagi kebaikan dalam sesama walaupun kecil.
Karena,ketika melihat semua orang bahagia hati rasanya pun ikut bahagia...
Selesai...