Katakan apa yang harus kulakukan jika keadaan sudah begini? pria yang sangat teramat kucintai mencampakkan aku begitu saja, dia bahkan mengatakan jika aku terlalu mudah, hanya dengan rayuan, aku menyerahkan diri padanya, hanya dengan kata 'AKU CINTA PADAMU' aku sudah luluh begitu saja padanya, apa memang aku begitu bodoh dan murah?
setelah memutuskan ku, seminggu kemudian kami tidak saling bertemu, tetapi hari ini, dia tiba-tiba datang ke rumah sewa ku pada siang hari, "jika tidak ada ke pentingan kau bisa pergi Adrian" ucap ku, pria itu menyeringai dan terus menatap ku dengan tajam, tenaga ku tak cukup kuat untuk mendorong pintu agar tertutup, karena tertahan oleh kekuatan Adrian yang memiliki tubuh lebih besar dari ku.
"aku kemari ingin melepas hasrat ku" ucap Adrian dengan santai, aku benar-benar terkesiap mendengar ucapannya, mataku bahkan terasa begitu panas menahan air mata yang siap untuk menetes, "aku rindu dengan desahan mu Yura" ucap Adrian lagi.
sakit sangat sakit hati ku ini, aku tidak lagi bisa menahan air mata ku, begitu rendahnya dia memandang ku, padahal aku begitu mencintai dengan tulus, seluruh hati dan hidup ku sudah kuberikan untuknya, tapi aku bodoh, benar-benar bodoh, "seharusnya kau katakan saja padaku, jika kau sudah tak menyayangi ku lagi, jangan menghinaku seperti ini, kita bisa berpisah baik-baik Adrian" ucap ku, dengan tangan yang kugunakan untuk mengusap air mata yang masih terus menetes di wajah ku ini.
"ck' aku akan rugi jika begitu saja melepasmu" sahut Adrian
"pergi, aku mohon pergilah dari rumah ku" aku mengusirnya, dan berharap dia segera pergi, dia meminta asistenya berjaga di depan pintu rumah, dan menarik tangan ku begitu saja menuju kamar ku.
Bruk.....
aku yang sudah berada di bawah kungkungan Adrian menatapnya dengan tatapan memohon, berharap dia akan melepaskan aku dan pergi dari rumah ku, aku terus menatap pada mata indah milik Adrian, bola mata yang selalu membuat ku terpesona dan jatuh cinta berkali-kali pada nya, tetapi sekarang mata itu sangat menyakitkan bagiku, tak ada lagi kehangatan seperti biasanya untuk ku, gak lagi kulihat cinta disana, hanya kebencian yang begitu jelas terlihat.
"kenapa kau begitu tega pada ku Adrian? apa kesalahanku begitu besar padamu? tidak bisakah kau memaafkan aku saat itu?" tanya ku pada Adrian yang sama sekali belum mengalihkan tatapannya dari ku.
Adrian tidak menjawab ku, dia justru melakukan apa yang di inginkan nya dari diriku, hingga satu jam lebih sudah berlalu, Andra sudah kembali rapi dengan pakaian nya, dia tersenyum sinis padaku, mencium keningku cukup lama dan mengusap air mata ku yang masih menetes, menemani remuknya hati dan tubuh ku "di cek ini ada lima ratus juta, aku rasa cukup untuk bayaran mu dan biaya hidup mu setahun, jadi kau tidak perlu lelah bekerja dan aku akan datang lagi padamu jika aku merindukan desahan mu seperti tadi" ucap Adrian
"beristirahatlah Yura, kau pasti lelah" ucap Adrian lagi, lalu dia pergi dengan menutup pintu kamar ku secara perlahan, aku kembali terisak, aku menangis histeris di kamar, bahkan aku berteriak, aku berharap dengan melakukan itu semua rasa sakit hati ku akan berkurang, kenapa semua nya begitu kejam padaku? dunia tidak mau berteman dengan ku? hati ku terus bertanya kenapa? tetapi tak sama sekali aku menemukan jawaban nya.
aku tidak tau sejak kapan aku terlelap, semua mungkin karena aku terlalu kelelahan, tubuhku juga terasa sangat sakit sekali, beberapa jam kulalui dengan tidur, dan setelah selesai aku membersihkan diri, aku duduk di atas kasur ku, memikirkan apa yang harus kulakukan, mata ku tertuju pada secarik kertas cek yang di tinggalkan Adrian untuk ku tadi, aku mengambilnya dan menaruhnya di dalam laci, bukan karena aku menginginkan uang itu, aku hanya berpikir akan mengembalikan nya saja jika tepat pada waktunya.
.
.
Salsa teman yang tinggal satu rumah sewa dengan ku, dia sebenarnya adik sepupu dari Adrian, yang sangat mendukung hubungan ku dengan Adrian, dia seorang dokter kandungan dan sama seperti Adrian, berasal dari keluarga kaya raya, tetapi dia bilang lebih nyaman tinggal dan hidup sesuai dengan keinginan hatinya, dan kami bertemu beberapa kali setelah Adrian mengenalkan aku dengan Salsa, kami berteman cukup baik, hingga kami memutuskan untuk tinggal bersama di sebuah rumah sewa yang kami bagi dua pembayarannya.
sudah satu bulan ini aku tidak lagi bekerja, karena sebelumnya aku bekerja di perusahaan milik Adrian dan berakhir pria itu memecat ku begitu saja bersama hubungan kami yang berakhir, aku juga sudah mencoba mengirim surat lamaran pekerjaan ke beberapa lowongan kerja yang ku dapat dari berbagai iklan, namun belum mendapatkan hasil.
tabungan yang ku miliki juga mulai menipis, aku tidak mau bergantung pada Salsa yang terus membantuku, ya kami tetap berteman walau Adrian sangat menyakiti ku, masalah ku hanya dengan Adrian bukan dengan Salsa, jadi aku harap itu tak akan menjadi pengaruh bagi pertemanan kami.
"Yura, ntar sore temenin aku ke mall ya?" pinta Salsa padaku yang sedang membuatkan sarapan pagi untuknya.
"oke, dengan senang hati" jawab ku dengan senyum manis yang kumiliki.
"baiklah, terimakasih untuk sarapan dan bekalnya, ingat jika ada apa-apa hubungi aku" ujar Salsa, dan aku memganggukan kepala ku sebagai jawaban, gadis cantik yang sangat baik hati.
.
.
bulan kedua setelah pertemuan terkahir ku dengan Adrian aku sudah bekerja menjadi seorang kasir di salah satu toko roti tempat ku tinggal di kota T, aku harus giat bekerja agar aku bisa lekas mengumpulkan uang untuk biaya persalinan ku nanti, ya saat ini aku sedang mengandung anak Adrian, anak dari pria yang sangat kucintai hingga kini. Bodoh bukan ? he..
dua bulan sudah juga aku tak tau bagaimana kabar Adrian, dia tak pernah lagi datang, aku merindukan nya, tetapi aku juga takut bertemu dengan nya, sudahlah aku hanya ingin fokus pada pekerjaan ku dan bayi yang ku kandung agar selalu sehat, seharusnya aku bersyukur karena masih ada orang yang mau menerima ku bekerja dalam keadaan hamil, aku hanya mampu tersenyum miris jika mengingat kembali perjalan cerita yang kulakoni beberapa bulan ini.
"Yura ini sudah jam 4 sore, kenapa kau belum pulang ?" tanya bos tempat ku bekerja
"eh.. pak Rama, iya pak sebentar lagi, masih menunggu teman, karena ingin mampir kesini jadi dia meminta saya menunggu nya" jawab ku
"baiklah biar saya temani" ujar Rama
"tidak perlu repot-repot pak, saya sudah ada Niken disini" jawab ku yang merasa tak enak hati.
"Niken, apa kau merasa terganggu jika aku ikut bergabung disini?" tanya Rama pada Niken
"tidak pak" jawab Niken, kemudian menatap ku dengan senyum sambil mengangguk kecil, ya Niken adalah teman satu pekerjaan dengan ku, dia seorang yang baik dan sangat sabar, aku juga sangat menyukainya.
"nah kalian berdua lanjutkan saja mengobrolnya jangan hiraukan aku, aku akan ada disini menemani kalian" ucap Rama, tetapi beberapa menit kemudian Salsa datang menghampiri ku kedalam toko roti dengan senyum manisnya, dia langsung memilih beberapa roti yang di inginkan nya, dan setelah membayarnya kami berpamitan untuk pulang.
.
.
usia kandungan ku sudah memasuki bulan ke tujuh aku mulai susah bergerak, selain karena perutku yang semakin membuncit, aku juga menjadi sedikit lebih gemuk.
"Yura, aku kan udah gajihan nih, terus ponakan tersayang juga udah 7 bulan kan, waktunya kita belanja perlengkapan bayi dong" ucap Salsa
"iya tante, mama akan mengajak ku berbelanja, setelah gajihan ku nanti" jawab ku sambil menirukan suara anak kecil.
"tidak, tidak, tidak, tante mu yang cantik ini sudah tidak sabar ingin memilih baju dan sepatu mungil untuk mu, jadi ajak mama mu bersiap boy, dan kita belanja sekarang" jawab Salsa tepat di depan perut buncitku.
aku meneteskan air mata, bagaiman bisa aku memiliki teman yang sangat baik padaku ? bahkan dia tak merasa jijik dengan ku? aku sungguh malu, sebagai seorang wanita begitu bodoh! aku di butakan dengan kata Cinta, rayuan cinta dan janji palsu cinta, sangat miris.
"tidak bisa Sa, aku tidak mau terus merepotkan mu, cukup dengan semua yang sudah kamu berikan untuk ku, aku malu sekali padamu Sa" ucap ku sambil menatap sahabatku itu.
Salsa tersenyum padaku, dengan tangan yang mengusap lembut air mata ku, "apa kau masih menganggap ku sebagai kakak mu?" tanya Salsa dan aku menganggukan kepala
"maka jangan lagi merasa tak enak hati atau apapun itu, dan jangan mengucapkan terimakasih padaku, aku bosan mendengarnya, sekarang menurutlah, cepat ganti pakaian mu dan berdandanlah secantik mungkin" ujar Salsa menyuruh ku, aku tak lagi berkata-kata karena aku tak mau membuatnya kecewa, aku hanya bisa mendoakan agar Tuhan selalu menjaga dan memberikan kebahagian untuk Salsa.
kami berdua tengah asik memilih-milih baju-baju bayi yang lucu, sesekali kami berdebat mengenai warna dan model baju,
"cukup Sa, kita beli seperlunya saja, bayi hanya sebentar memakai baju nya karena dia akan semakin besar nantinya" ucapku memperingati Salsa yang seperti orang kalap saat berbelanja, tetapi dia tak menghiraukan ucapan ku, lagi-lagi aku di buat terharu dengan yang dilakukanya.
"apa sudah semua Yura?" tanya Salsa padaku, aku meneliti setiap barang yang kami pilih sebagian kupisah dan ku letakkan di dalam keranjang dan sebagian ku letakkan di tempat kasir
"cukup ini saja kak, yang di keranjang mohon maaf tidak jadi" ucap ku pada kasir, dan tentu saja membuat Salsa kesal dan menatap ku tajam, aku hanya tersenyum menanggapi tatapanya dengan berbisik "maaf" ucap ku.
"ini kemauan ku, jangan mengahalangi niat baik ku" ujar Salsa sambil membawa kembali perlengkapan bayi pilhlihanya dan memberikan pada kasir toko tempat kami berbelanja.
aku menatap Salsa dengan memohon agar dia membatalkan nya tapi lagi-lagi aku harus terkesiap saat suara seorang yang begitu familiar di telinga ku bersuara, "biar aku yang membayar semuanya" ucap seorang pria yang sudah berdiri tepat di belakang ku, jantung ku, napas ku, bahkan otak tu semuanya terasa seperti berhenti begitu saja, aku tak berani sedikit pun menggerakkan tubuhku, justru Salsa yang menarik kuat tanganku agar kami pergi dari hadapan pria itu, aku hanya menurut dan mengikuti langkah Salsa tanpa melihat pada pria itu.
"dia ikut dengan ku!" ucap pria itu yang sudah merebut cekalan tangan ku dari Salsa, diliriknya anak buah yang bersama nya untuk menghalangi Salsa yang ingin menolongku, dia terus berteriak tidak terima pada pria jahat yang membawa ku pergi dari mall itu begitu saja.
.
.
aku masih diam tanpa suara dan hanya mundukkan kepala ku, karena aku bingung apa yang harus aku ucapkan dan lakukan, sedang pria yang tak lain adalah Adrian terus menatap ku tanpa sedikitpun dilewatinya.
"kau hamil anak siapa?" tanyanya kemudian, aku tak menjawab, aku hampir lupa jika dia menganggap ku wanita murahan, rasa bahagia yang ada di hatiku tiba-tiba sirna begitu saja kembali pada rasa sakit seperti tujuh bulan yang lalu.
"Yura katakan kau hamil anak siapa?" tanya Adrian lagi dengan nada suara yang mulai meninggi.
aku bukan wanita hebat yang bisa menahan rasa sakit hati, air mata ku turun begitu saja, aku mencoba menatap wajah pria yang kurindukan selama ini, wajah itu masih sama tampan seperti dulu tak ada yang berubah sama sekali dia terlihat baik-baik saja, bahkan tak ada tampak rasa penyesalan di matanya.
"kenapa kau bertanya?" itulah kata yang keluar dari mulut ku, dia menatap ku dengan tajam, lalu menyeringai, lagi hati ku terasa perih melihatnya seperti itu.
"aku hanya penasaran saja" jawab Adrian santai sambil menyandarkan bahunya pada sandaran sofa
aku beranjak berdiri dari duduk ku, "aku harus pergi, dan aku tidak perlu menjawab rasa penasaran mu" ucap ku dengan dada yang terasa sesak.
selangkah kaki bergerak saat itu pula tubuhku secara tiba-tiba kembali terputar dan jatuh kedalam pelukan Adrian, jantung ku kembali tak karuan di dalam sana, aku berusaha menyadarkan diri ku secepat mungkin dan hendak menarik tangan yang di cekal oleh Adrian.
"lepas" pinta ku pada Adrian
"jawab aku!" ujarnya dengan sedikit membentak ku
"bukankah hal wajar, jika seorang wanita murahan hamil? atau kau lupa jika aku wanita murahan? dan aku rasa jawaban ku sudah cukup" aku menarik paksa tangan ku yang sudah memerah akibat cekalan Adrian.
"BERHENTI" bentak Adrian saat aku kembali melangkah dan hampir mendekati pintu.
"KATAKAN YANG SEBENARNYA PADAKU" bentak nya lagi, ya Tuhan aku takut dengan situasi ini, haruskah aku jujur padanya, tapi bagaimana jika dia merebut anak ku nanti, aku hanya ingin tenang bersama anak ku, aku mohon tolong aku Tuhan.
"APA? APA YANG HARUS KU KATAKAN? KAU INGIN AKU MENGATAKAN APA? semuanya sudah sangat jelas Adrian, aku mohon ini menjadi pertemuan terakhir kita, jangan lagi ada saling perduli apapun itu di antara kita" sahut ku, aku berusaha memberontak dari pelukan Adrian, tapi bagaimana caranya hati ku menolak tapi tubuhku sama sekali tak mau berpindah, kedua tangan kecil ku hanya bisa memukuli bahu Adrian dan aku masih terisak.
"aku mohon jangan lagi saling bertemu, bencilah aku seperti yang sudah kau lakukan, itu akan lebih baik untuk ku dan dirimu" ucap ku di sela tangis ku
"apa kesalahanku padamu Adrian? kenapa kau memberikan luka yang begitu dalam padaku? padahal aku tulus mencintai mu, jika kau tidak bisa membalasnya lebih baik kau katakan saja padaku, agar lebih mudah untuk ku melepas mu" aku mengucapkan kata apa saja yang terlintas di otak ku, sungguh aku tidak lagi mampu menahan rasa sakit hati ku.
"bayi di dalam kandungan mu ini anak ku kan?" tanya Adrian sambil mengusap perut buncit ku.
aku menggelengkan kepala ku, sedang Adrian kembali menatap tajam padaku, aku tau dia tidak percaya dengan apa yang ku katakan tadi, tapi ketakutan lebih kuat di hatiku.
"jujur padaku Yura" ucap nya lagi
"aku.... aku memang mengandung anak mu, tapi aku yakin kau tidak akan percaya padaku, hiks... hiks..."
"maafkan aku" ucap Adrian, tidak aku tidak mau mendengar kata maaf jika aku harus membayar mahal sebagai gantinya.
"dua bulan lagi bayi ini akan lahir, dan selama itu kau harus tinggal dengan ku, agar aku bisa selalu memgawasi mu dan menjaga kesehatan bayi ku, setelah lahir anak ini akan menjadi milik ku, dan kau boleh pergi" ujar Adrian
bukan hanya runtuh dunia ku terasa hancur tanpa bekas, apa yang di katakan Adrian tadi? dia ingin bayi ku? ketakutakun menjadi kenyataan?
"kau ingin mengawasi ku? kau ingin tau kesehatan bayi ini? lalu kemana saja kau selama ini? tujuh bulan aku melewati semuanya sendiri dengan hati yang kau hancurkan, aku menguatkan hatiku untuk menjaga anak ku, dan sekarang dengan mudah kau mengatakan ingin mengambil anak ku!"
"Bukankah kau sangat keterlaluan Adrian?"
"aku tidak perduli apa pendapat mu, jelas anak ini milik ku" sahut Adrian.
Plaaakk....
aku menampar Adrian, aku bahkan memukuli dada dan bagian tubuhnya, dia hanya diam menerima semua yang kulakukan, sampai aku merasa lelah dan tak sanggup lagi walau hanya untuk mengangkat tangan ku, semuanya terlihat buram dan semakin gelap, aku hanya mendengar suara Adrian memanggil-manggil nama ku lalu aku tak tau apapa lagi.
.
.
Adrian
"maafkan aku Yura, aku rasa ini harga yang pantas untuk kau bayar, setelah apa yang di lakukan ayah mu pada kakak ku" aku bergumam di dalam hati, aku terus mengusap lembut puncak kepala wanita yang sebenarnya sangat aku cintai namun kuhancurkan sekaligus hidupnya.
kakak ku Renata harus berakhir di rumah sakit jiwa karena hancurnya perusahaan yang dibangun dengan seluruh hidupnya,
ayah Yura yang bekerja di perusahaan kakak ku ternyata hanya sebagai mata-mata untuk perusahaan lain, kepercayaan yang begitu besar pada seseorang memanglah tidak baik, seperti kakak ku yang akhirnya di khianati oleh orang kepercayaannya sendiri dan menjadi kehancuran seluruh hidupnya, walau aku berhasil memasukkan pria tua itu kedalam jeruji besi, hati ku tidak begitu saja mendapat kelegaan, aku dengan sengaja mendekati anak gadisnya dan selalu memberikan kabar pada pria tua itu tentang apa saja yang kulakukan pada anak nya hingga kini dia sama seperti kakak ku menjadi gila.
hatiku terasa sangat sakit setiap kali aku melihat air mata menetes di wajah cantiknya, tapi aku harus membuat hati ku puas melihat kehancuran keluarga Bayu, ayah dari Yura, namun sayang nya hingga kini aku tak merasa puas, aku ingin kembali pada cinta ku, tapi aku sudah bersumpah untuk melepasnya dariku.
aku memalingkan wajah ku saat ku dengar suara pintu ruangan Yura di rawat terbuka, ku lihat Salsa masuk dengan wajah yang sudah memerah memberitahukan padaku jika dia sangat murka dan ingin membunuhku.
PLAAAAK.... PLAAAKK......
dua tamparan aku terima dari Salsa, ya dia memang adik sepupu yang paling berani kepada ku, dan aku juga sangat menyayangi nya, "puas dengan apa yang kau lakukan kak?" tanya Salsa
"kau tidak tau bagaimana hidup Yura selama 7 bulan ini, kau menghilang begitu saja, dan sekarang saat kalian bertemu kau membuatnya kembali menderita, aku sungguh membenci mu" ujar Salsa
"aku tidak menyakitinya, aku hanya bertanya tentang anak yang di kandungnya, karena jika itu anak ku maka aku harus mengambil nya" jawab ku dan ternyata jawabanku membuat Salsa semakin emosi padaku.
"aku malu mengakui mu sebagai kakak ku" ucap Salsa
aku dan Salsa kembali mengalihkan perhatian kami pada pintu ruangan rumah sakit, seorang wanita paruh baya masuk dengan wajah dingin dan menatap tajam padaku, aku tau ini semua pasti ulah Salsa, memberitahukan pada ibu ku apa yang sedang terjadi.
"uuukkkhhh,..... ampun bu.... ampun, ini sakit"
buk....buk.....buk....
setelah puas memukuli ku dengan tas nya ibu ku berjalan mendekat pada ranjang rumah sakit dimana Yura masih terlelap, sedang Salsa tersenyum mengejek padaku dan mengucapkan, "ini baru permulaan" katanya, aku hanya pasrah apa yang akan di lakukan dua wanita beda usia itu.
ibu mengusap lembut puncak kepala Yura, dan sesekali menyeka air matanya sendiri, "kau harus menikahinya" ucap Ibu
Deg.....
hatiku, bagaimana dengan hati ku yang tiba-tiba ingin terbang saat ibu memintaku menikahi Yura, aku bahagia aku sangat bahagia, tetapi itu tak bertahan lama, bayangan wajah kak Renata melintas di depan mataku, tidak mungkin aku bisa bahagia jika saudari ku menderita.
"aku tidak mau, aku hanya akan mengambil anak ku" jawab ku dengan tegas
"kau tidak akan pernah bisa menemui anak mu jika kau tidak mau menikahi Yura" sahut ibu ku
"bu, aku tidak mau, dia anaknya Bayu yang sudah menyebabkan kakak mengalami gangguan jiwa" aku tak bisa lagi menahan kekesalan ku.
"aku tau, tapi yang kau lakukan lebih memalukan, Bayu sudah menerima hukumnya, Yura tidak tau apapa, kau salah jika melibatkan Yura" jawab ibu ku dengan nadabtegas dan penuh penekanan.
Hati ku terasa sakit saat ibu membela Yura dari pada kakak ku Renata, aku menatap diam pada ibu dan Yura, aku tak menjawab pernyataan ibu, aku memilih diam hingga keheningan terjadi di antara kami.
Yura mengerjapkan matanya dan dia mulai kembali sadar dari pingsan nya, ibu berulang kali mengucapkan syukur pada Tuhan sama dengan Salsa yang juga langsung melakukan pemeriksaan pada Yura dan bayi ku.
dia masih terlihat lemah, duduk pun di bantu oleh Salsa, aku hanya diam terus menatap nya, dia juga menatap ku dengan mata sayu, wajah cantik itu terlihat sangat pucat, Yura memutus tatapan di antara kami, ku perhatikan ibu yang memperkenalkan dirinya, menawari Yura berbagai macam makanan yang selalu di tolak oleh wanita hamil itu, Salsa juga membantu, mengatakan jika wanita paruh baya yang memeluknya adalah ibu ku, bukan wajah bahagia yang kudapat tetapi wajah cantik itu semakin pucat ketakutan.
"apa ibu juga kesini karena ingin mengambil anak ku?" tanya Yura pada ibu
"iya, ibu ingin mengambil anak mu, karena dia adalah cucu ku" jawab ibu ku, sedang Yura sudah kembali meneteskan air matanya mendengar jawaban ibu, dia menundukkan kepalanya tanpa jawaban lagi.
"apa yang kau tangisi nak, ibu akan mengambil cucu ibu dengan mu untuk menjadi menantuku" ucap ibu lagi, saat itu juga Yura menatap ibu dan menggeleng pelan.
aku tau, wanita hamil itu pasti merasa takut, aku meminta waktu pada ibu dan Salsa agar kami bisa berbicara berdua, sebelum keluar ruangan ibu dan Salsa sama-sama kompak memgancam ku untuk tidak menyakiti Yura.
.
.
aku hanya diam saat Adrian terus menatap ku, sampai dia mengatakan jika kami harus menikah, tetapi bagaimana aku bisa? ayah ku memiliki kesalahan yang begitu besar pada keluarga Adrian, aku tidak berani sama sekali, aku malu mengetahui semua itu, bukankah semakin jelas jika Adrian memang tak mencintaiku, dia hanya ingin balas dendam dengan menghancurkan hidup ku, dan berharap ayah akan merasakan hal yang sama dengan kakaknya.
"kau bisa mengambil anak mu, setelah dia lahir, aku tidak bisa menikah dengan mu" jawab ku tanpa berani menatap pada Adrian.
"apa kau sudah tidak mencintai ku lagi?" tanya Adrian
"kesalahan ayah ku sangat banyak pada kakak mu, aku tidak berani, maafkan aku Adrian" jawab ku
"aku sudah membalas perbuatan ayah mu, dan kau juga sudah merasakan kehancuran dari ku, baiklah jika kau memang tidak mau menikah dengan ku" sahut Adrian dan langsung pergi meninggalkan kau sendiri di ruangan itu.
.
.
setelah delapan jam lamanya aku berjuang untuk melahirkan anak ku, Adrian masuk kedalam ruangan ku di rawat sambil menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, dia memberikan bayi itu untuk ku gendong, Adrian memberiku ciuman di kening dan mengucapkan terimakasih berulang kali.
aku sibuk mengamati wajah anak ku, dia sangat tampan semunya yang ada pada dirinya sangat mirip dengan Adrian, tak ada satupun yang meniruku, aku sempat kesal karena ini, tetapi aku harus segera menepis rasa itu, setelah ini aku tidak lagi bisa bertemu dengan anak ku, Adrian akan membawanya dari ku, berulang kali aku menciumi wajah anak ku, sampai dia merasa terusik dan menangis.
menangislah nak, menagislah mama pasti akan rindu suara tangisan mu ini, gumam ku di dalam hati.
"berjanjilah padaku, kau akan menjaga nya dengan baik, dan mencintainya dengan seluruh hidup mu Adrian" ucap ku
"tentu saja" jawab Adrian
"dan kau tidak perlu lagi datang membawa nya padaku, juga kau tidak perlu lagi datang melihatku" bibir ku bergetar mengucapkan kata itu, hati ku sakit harus berpisah dengan pria yang kucintai dan anak ku.
Adrian tak memberikan jawaban padaku, dia langsung mengambil alih bayi ku dan keluar dari ruangan ku, menangis hanya itu yang bisa kulakukan sekarang,
sudah tiga hari berlalu, Salsa bilang aku sudah boleh pulang besok dari rumah sakit, Adrian benar-benar tidak datang, sedang Salsa dia marah padaku karena aku yang egois tak mau bersatu dengan Adrian dan anak ku.
aku berdiri sendiri di depan gedung rumah sakit, aku melangkahkan kaki ku berniat pergi meninggalkan rumah sakit, saat tiba-tiba seorang pria menarik tangan ku dan memelukku dengan erat, aku merasa terkejut dan nyeri sekaligus di area kewanitaan ku, karena hentakan yang terjadi saat tubuh ku berputar.
"aku tidak akan pernah melepas mu, dalam keadaan apapun itu, kau milikku dan selamanya akan menjadi milikku" ucap Adrian, aku mencoba mendongakkan kepala ku menatap pria yang memelukku dengan erat.
"apa kau mencintai ku Adrian ?" tanya ku
"aku sangat mencintai mu, sejak dulu hingga sekarang" jawab Adrian
"dan kau tidak akan pernah bisa menolak ku dalam keadaan apapun itu" imbuhnya lagi
"tapi bagaimana dengan permasalahan yang di lakukan ayah ku, aku takut kau akan kem..."
Cup
kecupan singkat dari Adrian di bibirku menghentikan ucapan ku, Adrian menangku kedua pipi ku dan kembali mencium ku, "jangan lagi mengingat itu, maafkan aku yang melibatkan mu dan menyakitu mu, aku mohon maafkan aku dan terima aku lagi" pinta Adrian
"aku...." ya sengaja aku menggantung ucapan ku dan melepaskan diri dari pelukan Adrian, aku malu setelah menyadari jika banyak pasang mata yang memperhatikan kami di depan gedung rumah sakit.
"jawab aku" ujar Adrian
"Yura aku mencintai mu, maafkan segala kesalahan ku dan kita menikah" teriak Adrian yang membuat ku semakin menunduk malu karena mendnegar sorak sorai dari orang-orang yang mengelilingi kami.
sebelum menjawab Adrian aku melihat kearah samping di sana ada Salsa dan ibu Adrian yang menggendong bayi ku, mereka berdua kompak menganggukkan kepala, seolah mengatakan padaku untuk menerima Adrian.
"apa kau bisa berjanji untuk tidak menyakiti ku lagi?" tanya ku
Adrian menatap ku, "maafkan aku, luka itu pasti sangat membekas di hati mu, aku akan berusaha selalu membahagiakan mu" jawab Adrian
"aku mencintai mu" ucap ku yang sudah tak tahan lagi dengan rasa bahagia yang melambung di dalam sana.
Adrian memeluk ku dan mengucapkan kata maaf berulang kali, aku tau dia pasti sangat menyesal lagi pula semua terjadi karena kesalahan ayah yang begitu berambisi, dan kesalahanku yang begitu mencintainya.
"Adrian, bisakah kau lembut sedikit padaku, aku baru saja melahirkan" keluh ku, Adrian tersenyum menatap ku lalu berlari ke arah ibu dan Salsa, ternyata dia mengambil anak kami, lalu memberikan ya padaku.
"Jeldan Mahesa" ucap nya dan aku mengangguk sebagai jawaban kesetujuan ku untuk nama anak kami, aku berulang kali menciumi anak ku begitu juga dengan Adrian yang berulang kami menciumi kami berdua.
setelah selesai aku ikut pulang ke kediaman keluarga besar Mahesa, aku tidak menyangkan jika aku akan di terima baik oleh keluarga besar Adrian ayah dari anak ku.
mereka semua sibuk mempersiapkan untuk pernikahan ku dan Adrian, aku sungguh merasa menjadi manusia paling bahagi di dunia ini dengan semua hal yang sudah ku lalui.
Terimakasih Tuhan, terimakasih Takdir, Terimakasih luka, Terimakasih untuk segalanya yang ada di dalam cerita ku, bertahanlah jika kau mampu, lepaskan jika kau tak mampu, berjuanglah dengan sepenuh hati, jangan pernah takut untuk gagal, karena kegagalan pasti akan kita temui.
Terimakasih 😘 ku