"Uueeekkkk..."
Aku ingin muntah sakarang, ketika baru saja menginjakkan kakiku di rumah.
"Bau apa ini..bau amis seperti darah..,uueeekk"
Aku terpaksa mencupit hidungku, sebab tidak tahan dengan bau yang ada dalam rumahku sekarang.
Ternyata bau ini berasal dari dapur, ku lihat ibu sedang sangat sibuk membungkus sesuatu yang ada dalam wajan, masakan yang tidak jelas warnanya, merah tapi juga bercampur kuning, seperti kaldu yang kental.
Karena aku penasaran, aku bertanya kepada beliau.
" Bu...ibu sedang masak apa, uueeekkk" tanyaku sembari menutup hidung dan mulutku.karena semakin tidak tahan ingin muntah.
Ibuku hanya diam, tidak membalasnya, tapi itu tidak masalah buatku, karena aku sadar, umur beliau sudah semakin tua.
" Ibu sedang membungkus makanan ini, pesanan orang untuk hajatan." jawab ibu kemudian,terlambat membalasku.
Ibuku sepertinya sudah biasa dengan bau masakan ini, karena tidak merasa mual sama sekali dengan masakan yang ada di dihadapannya.
Di sebelah masakan itu juga ada masakan lain, seperti udang ebi,tapi bukan udang ebi. sejenis seperti...ulat...tapi..kecil sekali bentuknya...atau..mungkin sejenis belatung....,bathinku, dan kemudian aku semakin mual lagi.
" Uueeekkk..."
Aku segera lari ke kamar mandi, apa yang tadi aku makan ,sekarang tumpah semua di lantai kamar mandiku.
Kemudian aku kembali lagi ke dapur, rupanya ibukuu
sudah hampir selesai membungkus masakan itu.
" Sejak kapan ibu menerima catering?" tanyaku penasaran.
" Sejak seminggu yang lalu, ada orang yang tiba tiba datang, dan meminta bantuan ibu untuk memasakkan bahan bahan yang sudah dia bawa kemari, sejak saat itu, ibu jadi sering dapat orderan dari teman temannya....yah...lumayan buat penghasilan ibu..." jawab beliau, terlihat bersyukur.
Kami adalah orang yang tidak mampu, bahkan tanah untuk membangun rumah saja tidak punya, jadi rumahku berada di pinggir kuburan, dan jauh dari perkampungan.
Ayahku seorang pemulung, dulu sebelum beliau meninggal, dan ibu seorang pengemis, dan aku sendiri sekarang bekerja di kota sebelah, sebagai jasa pengantar barang.
Hidup kami semakin susah semenjak ayahku meninggal waktu itu, dan saat itu aku masih berumur 10 tahun. Tapi sekarang umurku sudah 18 tahun, jadi aku bertekad mengadu nasib di luar kota , supaya hidup kami lebih baik lagi.
Aku jarang sekali pulang, seperti saat ini, setelah 2 bulan aku tidak pulang, dan tadi malam aku putuskan untuk pulang, karena kebetulan aku libur dan perasaanku merasa tidak enak, memikirkan terus keadaan ibu yang hidup sendiri dan sudah tua.
Masakan itu telah selesai di bungkus dengan rapih, dan di tampung dalam 3 kardus.
Kini kami membereskan rumah kami yang tiyangnya sudah rapuh dimakan rayap, pagar yang terbuat dari anyaman bambu juga berkelamat dimana mana, sepertinya ibu jarang membersihkannya,karena sibuk dengan usaha cateringnya kini.
Setelah selesai, aku pergi kekamar mandi sebentar, untuk membasuh wajahku, ibu juga masih berada di depan, duduk di bangku panjang depan rumah.
" Bu..bu..." panggilku, setelah dari kamar mandi.
Ternyata ibu sudah tidak ada di bangku depan. Aku kehilangan dia, padahal baru sebentar aku tinggal ke kamar mandi.
Aku cari di dapur, tapi juga tidak ada di sana, bahkan 3 kerdus yang makanan pesanan orang pun sudah hilang.
" Sebetulnya kemana perginya ibu, apa mungkin dia mengantarkan pesanan tadi ketika aku di kamar mandi?", bathinku bertanya.
"Ibu sudah tua dan jalannya pun lambat, untuk berdiri saja kadang kesulitan, ...tapi...kemana ibu sekarang?" pikirku semakin penasaran.
" Ibu...ibu....". Aku masih mencarinya dimana mana, ke tempat terdekat yang biasa ibuku kunjungi, seperti makam ayah, dan tempat sekitarnya.
Hingga waktu menjelang magrib, ibu belum juga kelihatan batang hidungnya.
" Apa mungkin pergi ke perkampungan?, tapi untuk ke situ jaraknya cukup jauh kalo di tempuh jalan kaki" . Bathinku masih terus bertanya tanya, kemana perginya wanita yang melahirkanku itu.
Akhirnya aku putus asa, dan kembali ke rumah dengan perasaan khawatir.
Hingga tengah malam tiba, tepat pukul 11 malam, ibu ku masih juga belum pulang.
Aku gelisah dan tidak bisa tidur.
" Apa ibu di culik seseorang?", jalan pikirannku mulai berpikiran macam macam.
Aku duduk di dalam rumah, yang hanya ada ruangan , kamar 1, dapur dan kamar mandi, karena ukuran rumah kami memang sempit.
" Hoamm.." matamu sudah mulai mengantuk, dan aku bermaksud kembali ke kamar, dan tidak di duga, ternyata ibu sudah berbaring di tempat tidur.
Aku terkejut, merasa aneh, darimana ibu tadi masuk. bathinku semakin penasaran.
Padahal semua sudut rumah tidak lepas dari pencarianku tadi. bathinku merasa aneh.
" Ah..sudahlah, itu tidak penting, yang penting sekarang ibuku sudah kembali." bathinku membuang rasa penasaran yang sejak tadi menggebu gebu.
Keesokan paginya, aku mendengar suara dentingan alat masak, ketika mataku belum sepenuhnya terbuka( samar- samar). Antara mimpi dan kenyataan, aku datang ke dapur.
Aku bermaksud membantu ibu, supaya nantinya orang tua yang sangat aku cintai itu tidak kelelahan, akibat pekerjaan yang sedang ditekuninya.
Bathinku merasa bersyukur, karena ada orang yang masih peduli dengan ibuku, memudahkan mencari uang untuk memenuhi kebutuhannya.
Tapi...aku juga merasa bersalah, karena tidak bisa mengurus orang tua sendiri dan yang sudah tua ini, membiarkan beliau bekerja keras dan hidup sendiri di lingkungan yang hanya ada makam makam yang berjajar.
" Bu..biar Aku bantu,.." ucapku sambil menghampiri beliau yang sedang memasak sewajan tulang dicampur dengan sesuatu berwarna merah seperti darah, dalam wajan tersebut.
Lagi- lagi aku terkejut, memang itu adalah tulang dan darah, dan bau amis segera menyerang indra penciumanku.
" Uueekk...uuueeekk.." aku merasa langsung mual dan lalu berlari ke kamar mandi.
Tapi tidak di sangka, di kamar mandi tersebut ada mayat yang tergeletak , mayat seorang wanita, yang mata dan hidungnya sudah tidak ada.
" AAAAAAAAAAAAAAAAAAA" aku berteriak sangat kencang, lalu berlari keluar segera, keluar dari kamar mandi...rasa mualkun tiba tiba menghilang, kini di gantikan dengan rasa ketakutan, yang membuat badanku menggigil.
" IIIIIBBUUUUU....DIIII...DIII ...KAA...KAAA..MAAAARRR....MAANNN...DIII...ADA...AAADAAA...MAAYAATT."
ucapku sambil terbata bata.
Ibuku hanya diam saja, seolah itu bukan suatu kejutan baginya.
Aku berjalan mendekat kepada beliau, lalu menggoyang goyangkan pundaknya...
" Bu...Ibu...Ibu...mendengar aku kan bu..." jawabku sedikit jengkel.
" Iya ..putra...ibu mendengar kamu..."
" Kamu itu mengada- ada,.."jawab ibuku dengan acuh.
"Coba kamu lihat lagi...tidak ada apa apa di sana." lanjut ibuku ,membantah apa yang aku utarakan.
" Oh..mungkin ibu benar, karena aku baru saja bangun tidur, jadi nyawaku masih setengah hidup." bathinku.
Aku beranikan diri ke kamar mandi lagi, dan memang, sekarang tidak ada apa apa di kamar mandi.
Aku akhirnya sekalian membersihkan diri, mandi sekalian.
Aku bersiul, ketika keluar dari kamar mandi, aku memakai pakaian seragam" jasa pengantar" Ku, karena nanti siang aku akan kembali ke luar kota untuk bekerja kembali.
Ketika aku ke dapur lagi, ibu sudah selesai membungkus pesanan itu, dan karena masih ada banyak waktu, aku putuskan untuk membantunya mengantar makanan pesanan tadi.
" Bu...aku antarkan ibu dengan motor..ya..biar ibu tidak kecapaian, nganterin pesanan ke rumah orangnya."
Ibu hanya mengangguk setuju. Tak lama kemudian ,kami pun segera berangkat.
"Bu...dimana rumahnya?", tanyaku ,karena sejak tadi belum sampai ke rumah orang yang memesan catering ibuku.
" Sebentar lagi akan sampai" jawab ibu dengan halus.
Akupun menurutinya, hingga motorku mulai berhenti mendadak, karena kehabisan bensin, padahal sudah aku isi penuh sebelumnya , ketika aku menemukan pom bensin terdekat dari jarak rumahku.
" Bu..bensinku habis, trus bagaimana bu, pesanannya belum sampai ke pemesannya." tanyaku khawatir.
" Bu..." ku panggil ibu lagi, aku memanggilnya tidak menoleh ke belakang.
" Bu..?" ku ulangi lagi, tapi ibu masih belum menjawab.
karena penasaran, karena ibu tidak menyahuti panggilanku, akhirnya aku menoleh ke belakang, mungkin saja ibuku ketiduran, bathinku ,karena tadi beliau bangun sebelum pagi, memasakkan catering.
Aku terkejut seketika, ibuku menghilang,...
" Ibu...bu..." Aku gugup dan mulai mencarinya,
" Apa jangan- jangan ibu jatuh tadi waktu ku bonceng" bathinku.
Aku berlari kesana kemari, seperti orang gila, karena terlalu panik.
" Bu..bu..." aku terus memanggilnya ,sambil berteriak.
hingga tidak terasa, langit sudah cerah, dan matahari sudah naik sedikit.
" Kemana ibu menghilang, kemana lagi harus aku cari?" aku mulai frustasi.
Aku duduk di sebuah batu, yang kebetulan ada di sampingku, dua batu dengan jarak yang di atur.
" Nak...?", seseorang mengagetkanku ,ketika aku hanyut dengan perasaanku.
Aku menoleh , dan ku dapati seorang laki laki sekitaran 40 an mungkin juga 50 an umurnya.
" Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya lelaki itu.
" Ibu saya hilang pak , entah kemana, saya sudah kebingungan mencari ,harus kemana lagi..? jawabku mulai terisak.
" Ibu kamu siapa?" tanya lelaki itu lagi.
" Ibu Munah" ujarku mengaku.
" Saya anaknya, saya baru pulang dari kota sebrang pak."lanjutku lagi.
" Ibu Munah?" lelaki itu berkata, dia nampak terkejut.
" Ibu Munah yang tinggal di pinggir kuburan ini?", lanjut lelaki itu lagi.
Aku mengangguk sedih..
" Bukankah ibu Munah sudah meninggal satu minggu yang lalu?" lanjut lelaki itu ,dengan serius.
" Apa...!" pekikku ,terkejut seketika.
" Ibu saya sudah meninggal seminggu yang lalu, tapi kenapa saya tidak di kabari pak, saya anak satu satunya, lalu siapa yang mengantar jenazahnya." Aku marah tapi juga sedih.
Kabar ini benar benaar sangat mengejutkan bagiku.
Badanku menjadi lemas, aku menunduk sambil mengacak rambutku sendiri. karena belum bisa percaya begitu saja ucapan lelaki ini.
kemudian datang 2 orang lainnya, mereka membawa pacul, rupanya 3 orang ini adalah penggali tanah untuk jenazah.
Lelaki itu yang namanya pak Hartoyo menepuk pundakku pelan, mencoba menenangkanku.
" Sabar...iklhlaskan saja kepergian beliau..., memang jenazah ibu Munah, terlambat kami ketahui...ketika itu ada salah satu warga ingin memberi sedekah untuk ibu kamu, dia memanggil manggil, sampai berulang kali, tapi tidak ada yang menyahut, lalu dia putuskan untuk membuka paksa pintunya, dan Ibu Munah sudah tergeletak di lantai kamar mandi dengan wajah membusuk. orang itu lantas berteriak memanggil warga lain, dan kami menguburkannya segera."
" Mungkin saja ibu Munah jatuh terpeleset saat ke kamar mandi....yah...nasibnya kurang beruntung...ikhlaskan saja ya Nak...." Pak Hartoyo menasehatiku.
Aku hanya bisa menyesal, tidak ada lagi orang yang selama ini ingin aku jaga dan lindungi...baik ibu dan bapak, orang yang sangat aku sayangi, mereka meninggal tanpa mengalami masa bahagia mereka...
" Ya...Tuhan...terimalah mereka di sisi Mu" hanya itu yang bisa aku panjatkan ,doa untuk kedua orang tuaku....
***