Hujan rintik-rintik masih membasahi bumi. Seorang gadis berseragam SMP menatap rumah di seberang jalan. Di bawah payung merah mudanya, gadis itu berdiri kaku. Matanya terpaku pada pintu gerbang rumah itu.
Dia berharap ada seseorang yang keluar dari situ. Namun dia juga berharap orang yang keluar bukanlah yang dia kenal. Cukup lama gadis itu menunggu. Hujan semakin deras. Udara pun menjadi lebih dingin. Tubuhnya mulai menggigil.
Namun pintu gerbang tak kunjung terbuka. Tak satu pun sosok keluar dari rumah itu. Gadis itu pun mulai putus asa.
Mungkin hari ini orang itu tidak ada di rumah desah sang gadis dalam hati. Mungkin juga aku salah duga, tidak ada seorangpun yang aku kenal di dalam rumah itu. Hiburnya lagi dalam hati.
Gadis berpayung merah muda itu pun mulai berjalan meninggalkan tempatnya berdiri tadi. Aku akan kembali besok. Mungkin Aku bisa memastikan siapa orang tadi.
Namun saat dia hendak pergi, pintu gerbang rumah itu terbuka. Sebuah mobil perlahan keluar dari rumah itu. Gadis itu pun menghentikan langkahnya. Ditatapnya mobil yang keluar itu. Mobil itu sangat familier baginya. Tatapan mata bundarnya jatuh pada plat nomor mobil itu.
Dia membelalak tak percaya setelah melihat plat nomor mobil itu. Tubuhnya gemetar, tangannya terkepal dan air mata tak terasa mengalir perlahan.
Itu mobil ayahnya. Bukankah seharusnya ayahnya masih dikantornya? Di jam kerja seperti ini, di hari hujan ayahnya ada di rumah orang lain.
Mobil itu pun melaju disampingnya. Menyipratkan air pada tubuh mungilnya. Dia sempat melihat pengemudi mobil itu. Ayahnya dan di sampingnya ada seorang wanita cantik.
Gadis itu kembali terpaku di tepi jalan. Di bawah payung merah mudanya, gadis itu menangis terisak-isak.
Ayah itu sungguh dirimu. Pertama kali melihatnya aku tak percaya. Namun sekarang aku harus mempercayainya mesti tidak ingin.
Gadis itu berbisik sendiri dengan suara lirih.
Perlahan gadis itu meninggalkan rumah itu.
💦💦💦
"Delia bangun nak... " suara ketukan pintu dan teriakan ibunya mengejutkan Delia. Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi, hanya saja dia duduk termenung di depan jendela kamarnya.
Delia menatap hujan rintik-rintik di depan jendela kamarnya. Ah hujan ini datang terlalu pagi. Membuat dingin suasana pagi yang seharusnya cerah. Bisik Delia dalam hati.
Setelah mendengar teriakan ibunya, Delia perlahan beranjak dari kursinya. Dia menuju kamar mandi dan mandi dengan cepat. Udara dingin membuatnya enggan berlama-lama di kamar mandi.
Setelah berpakaian rapi, Delia turun ke ruang makan. Tampak ayah dan ibunya sudah menunggunya untuk sarapan bersama-sama.
Delia duduk di seberang ayahnya. Ayahnya itu sedang meminum kopi dan membaca koran. Sedangkan ibunya tengah menyiapkan sarapan mereka.
Kali ini ibunya menyiapkan bubur ayam dan cakue. Itu sarapan favoritnya. Namun hari ini dia tidak berselera makan.
Delia melirik ayah dan ibunya. Mereka tengah bercakap-cakap dengan harmonis. Tampaknya semua baik-baik saja.
Setidaknya itu yang terlihat dipermukaan. Seandainya Delia tidak melihat ayahnya bersama wanita lain, mungkin dia pun berpikir orang tuanya baik-baik saja.
Delia mengaduk-aduk buburnya tanpa berniat untuk memakannya. Ibunya memperhatikan Delia yang seperti sedang melamun.
"Delia, ayo dimakan buburnya. Nanti dingin tidak enak lho." Ibunya menambahkan telur rebus coklat kedalam mangkoknya. Dia tahu itu kesukaan putrinya.
"Iya Ibu. Ayah bisakah kau mengantarku ke sekolah?" Delia mendongak menatap ayahnya yang tengah menyesap kopinya.
"Baiklah, kalau begitu cepat habiskan sarapanmu," Ayahnya melipat koran dan berdiri untuk bersiap menuju mobilnya.
"Baik ayah." Delia buru-buru menghabiskan buburnya. Kemudian dia melesat keatas mengambil tasnya. Dengan berlari-lari Delia menyusul ayahnya yang sudah menunggunya di mobil.
"Delia hati-hati, jangan terburu-buru seperti itu!" Ibunya yang tengah membereskan meja makan mengingatkannya. Wanita itu menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu.
Delia hanya tertawa, kemudian mengecup pipi ibunya. "Dah ibu, aku pergi dulu!"
Delia masuk ke mobil, dan duduk di samping ayahnya yang sudah bersiap di belakang kemudi. Sambil mengenakan sabuk pengaman, tiba-tiba Delia teringat wanita yang dilihatnya kemarin.
Tanpa sadar Delia mengendus-enduskan cuping hidungnya. Mungkinkah ada aroma parfum yang tertinggal?
Ayahnya mengemudikan mobil seperti biasanya. Dia tidak mencurigai tingkah putrinya. Dia juga tidak memperhatikan putrinya yang tengah terjebak dilema karena ulahnya.
💦💦💦
Dari rumah ke sekolah membutuhkan waktu 20 menit. Belum lagi jika macet. Bisa lebih dari setengah jam.
"Ayah, aku melihat ayah dengannya kemarin." Delia berbicara pada ayahnya namun kepalanya tertunduk. Dia sama sekali tidak menatap ayahnya.
"Maksud Delia? Ayah dengan siapa?" Ayahnya sepertinya mencoba untuk tenang. Dia menanggapi putrinya seakan-akan sedang bermain tebak-tebakan.
"Ayah dengan wanita itu. Ayah berada di rumahnya kemarin. Aku menunggu di depan rumahnya. Dan melihat ayah bersamanya. Itu mungkin yang ketiga kalinya aku melihat ayah bersamanya."
Delia berbicara dengan tenang dan jelas. Kata demi kata diucapkannya dengan jelas. Tanpa ada kegugupan dalam nada bicaranya.
Suasana hening sejenak. Ayahnya tak segera menanggapi ucapan Delia.
"Ayah, aku sudah cukup besar. Meski belum tahu dunia orang dewasa, aku tahu apa yang terjadi. Semalam aku searching di Google, ini yang disebut fase berbahaya dalam rumah tangga."
Delia menatap ayahnya dengan polos. Seakan-akan yang diucapkannya hanyalah sebuah cerita yang lucu.
Sang ayah kembali terdiam. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Putrinya bukan lagi bayi kecil yang lucu dan polos.
"Menurut Google juga, ayah dan ibu harus lebih banyak menghabiskan waktu bersama dan mengenang masa-masa indah yang pernah kalian lewati bersama."
Kembali ayahnya terlengak mendengar ucapan putrinya. Sepertinya dia perlu meminta pertanggung jawaban Google untuk perubahan putrinya ini.
"Ayah, aku tidak ingin ayah dan ibu bertengkar juga berpisah. Aku juga tidak ingin kelak harus memilih untuk ikut ayah atau ibu."
"Delia jangan berpikiran berlebihan," akhirnya hanya kata ini yang bisa diucapkan sang ayah untuk menanggapi ucapan putrinya.
"Aku tidak berlebihan. Ayah jika ibu menjadi lebih gemuk, ajak saja untuk olahraga, toh ayah juga sekarang lebih gendut. Kalau ibu tidak secantik dulu ayah harus mengajak ibu kesalon. Tapi pasti mahal biayanya yah."
Delia kembali mengoceh, meski terkesan bercanda tapi semua ucapannya serius dan benar.
"Ayah sudah sampai disekolahku. Aku turun disini. Ingat ayah jangan menemui wanita itu lagi. Kali ini putrimu serius dan tidak bercanda. Daahh ayah!"
Delia turun dari mobil dan berlari menuju sekolahnya. Dalam sekejap sosoknya hilang dalam kerumunan para siswa.
Sang ayah terdiam sejenak dalam mobil. Dipejamkannya matanya erat-erat. Setiap kata-kata putrinya terngiang-ngiang di telinganya. Apa yang dikatakannya tepat mengenai hatinya.
Dia memang bertemu dengan wanita itu. Mereka dulu teman semasa sekolah SMA. Berawal dari reuni dan kemudian berlanjut kepertemuan pribadi.
Memang benar istrinya tidak selangsing dan secantik dulu. Tapi sebenarnya masih enak dilihat kok. Namun memang tak secantik wanita itu.
Dan benar biaya salon untuk perawatan kecantikan itu mahal. Belum kosmetik, pakaian, sepatu, tas dan aksesoris.
Perlahan dia membuka matanya, menghela napas lega. Aku belum terlalu jauh. Lebih baik berhenti dan menghindari bermain api. Delia ayah mendengarkan ucapanmu. Dan sepertinya ayah tidak jadi menggugat Google.
Mobil itu pun kembali melaju, membelah jalanan kota. Sementara hujan masih mengguyur meski tidak deras.
💦💦💦
Delia sekarang berusia 14 tahun dan duduk di kelas 3 SMP. Dia bersekolah di sekolah swasta yang cukup terkenal.
Delia termasuk siswi yang biasa-biasa saja. Prestasinya sedang-sedang saja. Dia bukan termasuk siswi pintar namun dia juga tidak bodoh. Begitu juga dalam ekstrakulikuler.
Dalam pergaulanpun dia tidak terlalu populer. Delia cenderung pendiam dan pemalu. Bahkan dia agak sulit bergaul dengan teman-temannya. Meski begitu ada beberapa siswi yang cukup akrab dekatnya.
Singkatnya, Delia adalah gadis remaja yang biasa-biasa saja. Namun setelah mempergoki ayahnya bersama wanita lain, Delia sedikit demi sedikit mulai merubah kepribadiannya.
Satu minggu ini dia lebih aktif di klub drama dan sastra. Dia juga sedikit lebih ceria. Teman-temannya tidak begitu merasakan perubahannya. Karena Delia juga melakukan perubahan dengan perlahan dan hati-hati.
Setelah percakapan sepihak dengan ayahnya di pagi itu, Delia pun merasa lebih lega. Dia semakin ceria namun tetap berhati-hati. Tak ada seorangpun yang tahu, perubahan Delia karena keinginannya untuk menghentikan perselingkuhan ayahnya.
Delia belajar untuk memahami masalah yang dihadapi keluarganya. Dia dididik oleh ibu yang mandiri dan stabil baik dalam emosi maupun sikap. Ibunya mengajarinya untuk menganalisis masalah dengan detail sehingga dia bisa menangani masalah tanpa menimbulkan masalah.
Malam sebelumnya ibu dan anak ini berbincang-bincang sampai larut malam. Mereka berdua memang dekat dan akrab.
"Ibu salah satu temanku memiliki sedikit masalah, dia melihat ayahnya dengan wanita lain. Dia bertanya padaku apa yang harus dilakukan?"
Delia mengajak ibunya berdiskusi seakan-akan bukan dia yang mengalami masalah itu.
"Sebenarnya anak-anak seusiamu belum boleh ikut campur masalah seperti ini, namun dia sudah melihat dan tahu apa yang terjadi, mau tak mau dia harus terlibat juga."
Ibunya tampak berpikir sejenak sebelum memberikan pendapatnya. Ditatapnya putrinya itu dengan rumit.
"Delia yang harus dilakukan temanmu adalah cukup untuk bersikap tenang, jangan beritahu siapapun mengenai masalah ini. Terutama teman-temannya yang lain."
"Dia tidak perlu berpikir berlebihan. Tidak perlu juga menyelidiki terlalu dalam. Jika bisa bicaralah dengan ayahnya, beritahu ayahnya bahwa dia tahu mengenai perselingkuhan ayahnya. Ingatkan ayahnya tentang keberadaannya sebagai putrinya. Jangan pernah sentuh wanita lain itu selama dia tidak menyentuhnya juga."
"Delia dunia orang dewasa sangatlah rumit, terkadang ada hubungan yang salah namun dianggap benar. Semua itu tergantung bagaimana kita menghadapinya."
Ibunya tersenyum dan membelai kepalanya dengan lembut. Delia memeluknya dengan erat. Dia ingin menangis dipelukan ibunya, namun takut ibunya curiga.
"Aku mengerti ibu, akan kuberitahu temanku itu agar bersikap seperti yang ibu katakan. Terimakasih ibu."
"Baiklah, sekarang tidurlah. Ini sudah larut, besok kau harus bangun pagi."
Ibunya membantu Delia berbaring dan menyelimutinya. Kemudian mematikan lampu dan menutup pintu.
Di depan kamar Delia, ibunya berdiri kaku.
"Delia, seorang ibu dan seorang istri tidak mudah dibohongi. Terimakasih nak untuk tumbuh menjadi anak yang bijaksana."
Airmata perlahan mengalir dipipi wanita itu. Tak pernah terbayangkan dia akan dikhianati suaminya dan putri mereka sendirilah yang menjadi saksinya.
💦💦💦
Suatu pagi, hujan turun rintik-rintik sisa hujan deras semalam. Meski hujan suasana pagi itu tidak sedingin hari hujan biasanya.
Delia masih terbaring telungkup di tempat tidurnya. Dia memandangi titik-titik air hujan yang menetes di jendela kamarnya. Beberapa bulan lalu, hujan juga turun terlalu pagi. Saat itu terasa dingin hingga menusuk tulang.
Hujan terkadang membawa kegembiraan kadang membawa kesedihan dan kadang hanya membawa air yang mengguyur bumi tanpa diharapkan.
Seperti sekelumit kehidupan keluarga Delia. Terkadang ada kegembiraan, kadang duka, kadang dilema kadang hambar tanpa ada rasa. Hujan yang turun terlalu pagi ini membawa banyak cerita dalam keluarga Delia.
Suatu waktu hujan datang seperti badai yang hampir memporak -porandakan keluarga mereka. Namun dilain waktu hujan bisa menyejukkan suasana hati keluarganya. Mereka bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan hati yang sejuk.
Sehingga tidak ada yang menyangka bahwa badai hampir saja merobohkan rumah kokoh mereka. Dan kali ini hujan turun untuk mengingatkan Delia bahwa rumahnya adalah tempat terhangat di saat hujan maupun badai melanda.
"Delia, turunlah untuk makan. Ibu membuat sup jagung untukmu," teriakan ibunya dari lantai bawah membuyarkan lamunan Delia.
Delia segera melompat dari tempat tidur dan berlari turun ke bawah.
Di ruang makan, tampak ayahnya sedang membaca koran ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng. Sedangkan ibunya tampak sedang merawat bunga di sudut jendela ruang makan.
Delia duduk di sebelah ayahnya. "Ayah hujan turun terlalu pagi, tapi tak apa, Delia suka itu. Udara jadi sejuk."
Ayahnya melipat koran dan menyesap kopinya. Ditatapnya putrinya lekat-lekat.
"Ya, kau suka karena hari ini libur. Jika tidak kau pasti sudah mengeluh sepanjang kereta listrik." Ayahnya terkekeh dan mengacak-acak rambut putrinya.
"Tidak ayah, mulai sekarang aku tidak akan mengeluh meski hujan turun pagi hari." Delia mulai menyuap sup jagung lezat itu ke mulut mungilnya.
"Kapan pun hujan datang itu tidak masalah. Karena saat harus turun, hujan pasti turun. Entah pagi, siang ataupun malam. Yang penting kita tahu bahwa kita memiliki tempat berteduh yang paling nyaman." Ibu menyela percakapan mereka dan duduk di sebelah Delia.
Delia hanya menganggukkan kepalanya.Karena mulutnya penuh dengan sup jagung. Ditatapnya ayah dan ibunya bergantian. Dan entah mengapa mereka bertiga tertawa bersama-sama.
Delia tersedak sup dan terbatuk-batuk. Ayahnya segera menepuk-nepuk punggungnya. Sedangkan ibunya menuangkan air untuknya. Delia memandang mereka berdua. Tak terasa matanya berkaca-kaca.
Ayah ibu terimakasih untuk tetap mempertahankan kebahagiaan kita untukku.
Terimakasih hujan, meski kau turun terlalu pagi itu tetap membawa kebahagiaan dalam keluarga kami.