Ardi masih terlihat duduk membisu di depan teras rumah pandangannya masih terlihat kosong tanpa arah dan tujuan.
Sudah berminggu-minggu hanya itu yang di lakukan nya ketika malam datang menyambut. Berteman dengan kesedihan berselimut dengan kenangan.
"Jangan di sesali Ar, tapi di doa kan " Suara pak Budi ayah Ardi telah membuyarkan lamunan nya, kemudian pak Budi mulai mengambil tempat duduk di depan Ardi.
" Ardi Rindu Yah,,, dulu setiap kali Mama ngomel dengan Ardi,,, " Sejenak Ardi terdiam tanpa sadar cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata nya yang sendu. " Ar jangan pulang malam, Ar janga makan sembarangan, Ar bantu mama cuci piring, Ar bantu Mama nyapu lantai. Haah... Saat itu Ardi merasa kesal Yah,,,, Ardi pikir Ardi ini cowok kenapa Mama selalu melibatkan Ardi dalam urusan rumah yang saat itu Ar pikir adalah tugas Mama" Malam semakin hening, kenangan Ardi tentang sosok Mama nya semakin menjadi.
Satu bulan yang lalu rasa kesal Ardi pada bu Nara seolah sudah sampai pada puncaknya, saat itu Ardi meminta izin untuk mengikuti kegiatan lintas alam di kampusnya, namun bu Nara tidak memberikan izin pada Ardi. akhir-akhir ini bu Nara memang lebih sering ingin Ardi berada di dekat nya, bu Nara begitu kekeh dengan keputusaan nya melarang Ardi ikut andil saat kegiatan lintas alam.
" Ardi mohon ma,,, kasih izin Ar,,," Ardi memelas di depan bu Nara dengan begitu mengharap.
" Memang misal Ardi gak ikut, kegiatan itu bakalan batal ya dek???" Hehehe tanpa bu Nara sadar Ardi sering kesal jika bu Nara sudah memanggilnya dengan sebutan 'Dek' bagi bu Nara Ardi akan tetap menjadi anak kecil nya yang lucu dan menggemaskan meski dia sudah menginjak bangku kuliah.
" Yaaaa enggak ma,,, cuma Ar gak enak aja sama teman-teman, Ar yang bikin ide itu laaa sekarang Ar malah yang gak ikut."
Bu Nara seolah menutup telinga dengan permintaan Ardi. Ardi beranjak pergi ketika tak mendengar jawab 'boleh' dari bu Nara.
Di dalam kamar Ardi berusaha menghubungi panitia lintas alam untuk memberi tahu dan memohon maaf karena tidak bisa mengikuti kegiatan lintas alam kali ini.
"Hallo,,, Assalamualaikum kak Rendi" Ardi mulai berbicara ketika telpon telah tersambung.
"Walaikumsalam,,, Ar lo di mana,? Anak-anak udah pada kumpul, tinggal nunggu lo dateng kita berangkat"
"Kak,, sorry banget ya,,, gue gak bisa ikut, tiba-tiba aja kaki gue tadi keram, jadi sorry banget yaaa" Ardi harus berbohong demi harga dirinya agar tak di anggap anak mama karena tidak mendapat kan izin.
" Ya kalo keadaan lo gak memungkinkan yaudah Ar gak apa, ketimbang entar terjadi hal yang nggak di inginkan pas udah di lapangan,,, oke semoga cepet sembuh Ar." Sabungan telepon berakhir.
Perasaan tidak enak hati dan kesal saat ini yang bergemuruh dalam dada Ardi. Tak berselang lama terdengar suara pintu kamar Ardi di ketuk.
Tok tok tok,,,, Tok tok tok...
" Dek.... Mama boleh masuk???" Tak ada respon bu Nara langsung membuka pintu kamar Ardi.
Ardi masih diam duduk di atas tempat tidur nya.
" Dek... Bantuin mama cuci piring donk" Ardi terlihat menghelan nafas panjang.
" Ma.. Ardi kan cowok ma, masak suruh bantuin cuci piring,,, mama juga sering banget nyuruh Ardi bantu pekerjaan rumah, bukan Ardi gk mau,,, tapi Ardi kan cowok Ma,,,," Ardi melontarkan kalimat-kalimat protes pada bu Nara. Hanya seuntai senyum yang terukir di wajah bu Nara meski dengan berat hati dan rasa kesal Ardi mengikuti bu Nara pergi ke dapur untuk membantu mama nya.
" Dek,,, maaf ya, mama udah bikin adek kesel dan suka bikin adek repot, tahu gak dek kenapa mama selalu melibatkan adek di setiap pekerjaan rumah mama???" Ardi hanya diam dan fokus mencuci piring.
Sejenak bu Nara menghela nafas panjang.
" Umur itu Allah yang punya, tapi hal yang paling mama takutkan bukan sebab suatu kematian dek, melainkan sebuah perpisahan, Mama sama Ayah,,, gak selamanya bisa jaga adek, bisa lihat adek meraih kesuksesan, gak selamanya bisa bantu adek dalam setiap hal, selama ini Mama berusaha mengajari adek tentang kemandirian, Mama ingin adek menjadi jiwa yang tangguh meski tanpa Mama dan Ayah, harapan mama adek menjadi orang yang bisa bertanggung jawab paling tidak untuk diri adek sendiri." Ardi tertegun mendengar kalimat panjang Bu Nara, selama ini Ardi tidak pernah tahu sedalam itu alasan Mama nya di balik sikap nya yang tegas dan terkesan tak acuh.
Hari telah berganti pagi ini bu Nara melakukan aktivitas seperti biasaanya pergi ke pasar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur, tetapi tidak setiap pagi sebelum sebelumnya yang meminta Ardi mengantar nya, pagi ini bu Nara pergi sendiri.
" Ayo Ma,,,, " Ardi sudah bersiap di atas motor maticnya.
" Mama berangkat sendiri aja Dek, sekalian mama mau mampir ke rumah teman mama."
Jam sudah menunjukan pukul 10 pagi bahkan matahari sudah terasa menyengat, namun tidak juga terlihat tanda-tanda bu Nara kembali ke rumah.
" Yah,, Ayah,,, kok tumben Mama lama banget balik dari pasar, nasi yang Ardi masak di magicom sampe udah mateng dari tadi." Ardi mulai terlihat khawatir.
" Iya, emang Mama tadi pamitan ke mana Ar abis dari pasar?" Tanya pak Budi.
" Kata nya mau mampir ke rumah teman nya Yah, tapi kok lama banget Ardi udah lapar."
Tok tok tok... Tok tok tok....
" Lha,,, mungkin itu Yah, tumben mama pakai ketuk pintu." Ardi bergegas menghampiri ruang tamu untuk membuka pintu.
Ardi melihat seorang laki-laki ternyata yang mengetuk pintu.
" Mau cari siapa mas?" Tanya Ardi.
" Apa benar ini kediaman ibu Nara?" Tanya seorang laki-laki di hadapan Ardi.
" Benar mas,, ada apa ya,,?" Pak budi menyahut dari belakang punggung Ardi.
" Begini pak, mas,,, tadi pagi ada kecelakan sebuah mobil tiba-tiba saja rem nya blong dan menabrak seorang perempuan pejalan kaki di dekat pasar, dan kata orang-orang yang berada di tempat kejadian nama ibu-ibu yang tertabrak itu adalah ibu Nara, sekarang beliau sedang berada di rumah sakit Citra Medica."
Dunia Ardi dan pak Budi seolah berhenti bergegas mereka pergi ke rumah sakit yang di maksud seorang laki-laki yang datang tadi, dalam hati Ardi berdoa semoga yang di maksud adalah bukan ibu nya semoga informasi yang dia terima hanya kesalah pahaman. Tiba di depan pintu ruang UGD rumah sakit Ardi dan pak Budi terlihat sangat cemas, gelisah. Sampai ketika pintu ruangan terbuka mereka berlari menyambut dokter dan perawat yang keluar dari balik pintu.
"Dok,, apa benar itu mama saya??!!" Tanya Ardi gusar,
Saat itu bersamaan seorang perawat menyerahkan sebuah dompet yang berisi identitas korban.
" Apakah ini milik salah satu anggota keluarga anda???" Perawat menyerahkan sebuah dompet.
Ardi begitu terpukul saat mengetahui itu milik Mama nya.
" Iyaaa dok itu dompet punya istri saya Nara" jawab pak budi.
" Begini pak, mas,,, mohon maaf sebelumnya kami tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk keselamatan pasien, akan tetapi Tuhan berkehendak lain, " belum selesai dokter memberikan penjelasan air mata Ardi sudah membanjir tangis suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Sedang pak Budi terkulai lemas di lantai.
"Mamaaaaa,,,,,, maafkan Ardi Ma,,,,, huwaaaaaaaaaaa,,,,," tangis Ardi pecah.
Kita memang tidak pernah tahu kapan maut menjemput, jika kita tidak akan pernah tau satu detik yang akan datang akan terjadi apa maka setidaknya di setiap detik hendaklah selalu berbuat baik, mungkin dengan kabaikan detik ini akan bermanfaat untuk satu detik berikutnya.
Seorang ibu itu seperti lentara pada setiap kehidupan anak nya. Sayangi ibu mu selagi masih ada. Kadang kita tidak pernah tahu pelajaran kehidupan yang seperti apa yang ibu kita ajarkan dalam hidup kita tapi yakinlah ibu lebih tahu siapa kita melebihi diri kita sendiri.
Teruntuk para ibu wanita tangguh pembawah syurga bagi anak-anak nya.....