"MAMA, MAMA!" teriak seorang gadis kecil berumur 5 tahun yang terus mencari ibunya disebuah rumah tua.
Langkahnya kala itu terhenti di depan sebuah kalender tua yang di mana sudah dipenuhi dengan coretan-coretan spidol berwarna merah. Tiba-tiba sebuah tangan meraih pundaknya, tapi anehnya dia tidak terkejut. Itu karena si pemilik tangan tersebut adalah kakaknya.
"Ana, sedang apa di sini. Ayo balik ke kamar?"
"Tapi kak, mama gak ada di kamarnya."
"Mama lagi kerja, udah ya kamu tidur. Ayo kakak anter ke kamar."
Mereka baru saja pindah ke sebuah rumah tua yang disewakan dengan harga murah. Awalnya gadis itu tidak mau masuk ke rumah tersebut karena aneh saja, bagaimana mungkin rumah sebagus ini walaupun sudah tua tapi berikan harga sewa yang murah. Sebelum pindah, dia sempat mendengar beberapa gosip bahwa setiap malam jum'at akan ada bunyi gamelan yang entah dari mana asalnya. Sudah banyak kali orang tinggal di rumah tua itu tapi tak bertahan hingga seminggu, mereka sudah keluar.
Uang yang sudah diberikan tidak dapat dikembalikan lagi, itulah ucapan si pemilik rumah tua tersebut. Setelah sang adik tertidur, dia berjalan kembali ke kamarnya. Namun, ada yang aneh. Tiba-tiba ada sekelebat bayangan yang masuk ke kamar mamanya. Padahal dia yakin sekali bahwa sang mama belum pulang bekerja.
Karena sudah mengantuk, dia bergegas ke kamarnya yang letaknya harus melewati ruang perpustakaan. Saat berjalan, tiba-tiba dia mendengar suara seperti bunyi gamelan. Awalnya dia tidak mau ambil pusing hingga suara tersebut makin terdengar jelas. Mata yang awalnya sayup-sayup kini terbuka dengan lebar. Dia yakin itu suara gamelan.
Gadis itu berlari menuju kamarnya lalu mengunci pintu dan melihat ke tanggalan yang ada diponselnya. Ternyata sekarang malam jum'at dan sudah memasuki jam 12. Tubuhnya mendadak menggigil, diambilnya selimut bermaksud untuk menutupi tubuhnya dari hawa dingin yang semakin mencekam. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari arah luar.
Mau tidak mau dia harus melihat dari balik jendela, betapa terkejutnya dia ketika melihat seseorang seperti diseret menuju lingkaran obor. Gadis yang diketahui bernama Naya itupun terus melihat tanpa terusik oleh dinginnya angin malam. Suara seretan pun berubay menjadi jeritan. Naya terkejut bukan main ketika sebuah kapak mereka layangkan kearah leher orang yang tadi menjerit.
Darah segar muncrat layaknya air mancur ditengah kota. Naya menutup kedua mulutnya dengan rapat hingga sebuah ketukan pintu terdengar. Dia mengalihkan pandangannya sebentar lalu menatap luar jendela lagi tapi anehnya tempat itu kosong seperti tidak ada jejak apa-apa. Walaupun harus mengucek matanya berkali-kali tetap tidak ada apa-apa. Naya segera naik ke atas ranjang dan tidur tanpa memperdulikan suara gamelan dan ketukan pintu.
Keesokan harinya Naya terbangun seperti biasa tapi anehnya, ketika menggerakan lengannya saja terasa sangat sakit. Padahal seingatnya, dia tidak pernah kemana-mana atau melakukan sesuatu yang berdampak bagi tubuhnya.
"Kok tubuhku pada sakit-sakit ya?" tanyanya yang mencoba untuk menggerakan lengannya.
Ketika hendak turun dari ranjang, tiba-tiba tubuhnya susah untuk digerakan. Bahkan untuk mengeluarkan suara saja tidak bisa. Lalu masuklah dua orang yang di mana membuat Naya terkejut.
"Mama, kok bisa sama om Martin?" tanya Naya kebingungan.
Keduanya saling berpelukan mesra sembari masuk ke dalam kamar dan menutupnya. Saat hendak membuka baju, tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar dan ternyata itu adalah dirinya.
"Mama?"
"Na-Naya?" ujar mamanya yang terkejut bukan main.
"Mama ngapain sama om Martin di kamar Naya?" tanyanya dengan nada kesal bercampur kecewa.
"Sayang, mama bisa jelasin."
"Apa yang mau mama jelasin lagi. Mama selingkuh sama om Martin? Ma, papa lagi nyari uang buat kita ma sementara mama asik selingkuh sama om Martin?"
"Bukan begitu sayang."
"Aku kecewa sama mama. Aku akan beritahu semuanya ke papa, lihat saja."
Tiba-tiba Martin berlari dan memukul tepat dibagian belakang kepalanya Naya menggunakan pemukul bisbol milik gadis itu hingga darah segar keluar dari belakang kepalanya. Sang mama terkejut melihat hal itu dan langsung berlari untuk memeluk anaknya.
"Naya, maafin mamak sayang!"
Tentu saja yang saat ini tengah melihat kejadian tersebut ikut menangis. Dia seperti tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi. Tiba-tiba tubuhnya seperti melayang dan membawanya ke sebuah tempat yang luas. Terlihat Martin tengah mengubur tubuh Naya sementara mamanya hanya menangis.
Pria itu pun menarik paksa mamanya Naya agar pergi dari sana. Selang beberapa menit, suara gamelan berbunyi lagi dan ternyata asalnya dari depan rumah tua itu. Naya yang tak mengerti dengan semua ini berusaha tenang hingga menemukan sang adik yang menatapnya dengan iba.
"Kakak udah liat semuanya 'kan?"
"Maksud kamu?" tanya Naya kebingungan.
"Rombongan yang menyeret orang di luar rumah tadi hanyalah clue buat kakak tapi sepertinya kakak masih tidak paham juga. Alam kakak sudah beda dengan mama."
"Ha?"
"Kakak dipukul sama om Martin terus meninggal dan di bawah ketanah lapang tepat di mana kakak melihat orang diseret dan bunyi gamelan itu adalah tanda di mana malam kakak dibunuh. Sebenarnya mereka melakukan hal itu hanya untuk menyadarkan kakak, bahwa kakak sudah meninggal."
"Jadi selama ini kakak gak tau kalau sudah meninggal dan mengira masih hidup?"
"Itulah kenapa sikap teman-teman kakak aneh dan ketakutan ketika ngelihat kursi tempat kakak bergerak sendiri."
"T-tapi kok Ana bisa lihat kakakn?"
"Ana ikutan dibunuh sama om Martin. Arwah seseorang akan terus bergentayangan ketika dia belum menyadari dirinya telah meninggal. Sekarang kakak balik ya sama Ana ke alam kita. Kasihan orang-orang yang setiap malam jum'at harus membunyikan suara gamelan demi menyadarkan kakak."
Naya berjalan kearah keluar, melihat orang-orang itu terkejut ketika mendapati pintu rumah terbuka dengan sendirinya. Seorang pria yang sedang menabu pun mulai angkat bicara.
"Tolong untuk arwah Naya, jangan mengganggu kami lagi. Kami akan segera menemukan mayat kamu tapi tolong jangan mengusik ketenangan kami."
"Ana, apakah mayat kakak sudah ditemukan?"
"Belum."
"Lalu tanggal yang dicoret menggunakan spidol merah itu apa?"
"Itu adalah tanggal di mana pencarian mayat kakak. Polisi sudah menyerah dengan kasus kakak tapi tidak dengan orang-orang ini."
Tiba-tiba sebuah kertas melayang membuat sebagian warga terkejut dan saling merapat. Tulisan menggunakan bercak darah pun terlihat.
"Mayatku ada dibelakang rumah ini. Jalan 20 langkah dari kamarku akan menemukan mayatku."
Mereka lantas mulai berkemas dan mengambil cangkul serta sekop yang disiapkan sejak awal pun bergegas menuju tanah lapang itu. Benar saja, terlihat mayat Naya yang sudah membusuk. Seseorang menelfon papanya Naya bahwa mayatnya sudah ditemukan.
Hati sang papa sangat hancur mengetahui anaknya sudah seperti ini. Di sisi lain, terlihat sebuah mayat seorang pria menggantung di pohon beringin yang ternyata adalah papanya Naya.