Rangga melambaikan tangannya kepada wanita yang berada di pinggir laut, menatapnya penuh perhatian. "Aku akan menyelam sebentar, jika kamu merasa itu lama maka berhitunglah. Sebelum seratus aku akan datang!"
"Pembohong." Gumam wanita itu kecil, melihat Rangga berlari penuh kesenangan dan lenyap di bawah air laut. Dia mencari tempat teduh, duduk dengan nyaman dan mulai berhitung.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, ..."
Pintu kayu yang rapuh terbuka dengan derit keras, Rangga masuk ke dalam ruangan kecil dengan napas yang tersengal. Matanya mengelilingi ruangan sebelum berhenti ke tubuh seorang gadis kecil yang sedang menghitung sambil memeluk boneka beruangnya.
Mata gadis itu cerah ketika melihat Rangga, terapi dia berusaha sekeras mungkin menahan semangatnya dan memasang wajah cemberut. "Aku menghitung sampai dua ratus lima puluh tujuh hari ini." Ucapnya dengan bibir yang mengerucut.
Rangga mengusap kepala gadis itu dengan penuh kasih, "Kali ini maaf oke? Besok aku datang pasti sebelum hitungan seratus."
"Pembohong, kemarin juga Kak Rangga bilang gitu." Gadis itu mendengus kesal, matanya secara tak sadar melirik ke tas plastik yang ada di tangan Rangga.
Rangga menyeringai, "Lain kali pasti sebelum seratus. Aku akan memberikan coklat sebagai tanda maaf."
"Benarkah?" Mata Gadis itu bersinar dengan terang, "Karena Kak Rangga merasa bersalah, maka aku akan memaafkan dengan murah hati."
"..., lima belas, enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, dua puluh, dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat, ..."
"Dor!"
Seorang gadis remaja tersentak hingga membuat suara jeritan ketakutan. Gadis itu menoleh ke belakang dan mendapatkan tawa geli dari Rangga.
"Aku datang." Ucap Rangga pada gadis itu dengan senyum sehangat matahari.
Gadis muda itu memutar matanya kesal, "Aku menghitung sampai tiga ratus lebih." Ucapnya lalu berjalan dengan langkah besar. "Pembohong."
Rangga dengan cepat berlari mengejar gadis itu, "Aku salah oke? Besok pasti sebelum seratus!"
"Ya, ya, ya, aku adalah monyet jika aku percaya ucapanmu."
Rangga meraih tangan gadis itu dan meletakkan minuman dingin di tangannya. "Ini tanda maafku, lain kali aku tidak akan terlambat. Pasti!"
Gadis itu dengan wajah enggan mengambil minuman dari Rangga, membuka tutupnya, dan meminumnya. "Karena kamu menyesal, maka aku akan baik hati memaafkanmu."
"..., dua puluh lima, dua puluh enam, dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh sembilan, tiga puluh, tiga puluh satu, tiga puluh dua, tiga puluh tiga, tiga puluh empat, tiga puluh lima, tiga puluh enam, ..."
Rangga berlari sekuat tenaga menuju tempat parkir yang sangat sepi, "Aku datang!"
Seorang perempuan dengan postur malas duduk di bangku rusak di sisi tempat parkir. Dia menatap Rangga dengan acuh tak acuh seolah telah mengharapkan hal ini akan terjadi lagi. "Kali ini dua ratus sembilan puluh tujuh."
"Besok pasti tidak terlambat!" Rangga menghampiri perempuan itu dengan tubuh semangat, suaranya serak karena kelelahan.
"Terserah." Ujar perempuan itu, berdiri dari bangku dan berjalan lambat meninggalkan Rangga.
Rangga berjalan di belakang perempuan itu, tangannya meraba-raba saku bajunya untuk mengeluarkan sebuah permen. Dia langsung berjalan ke depan perempuan itu dan memberikan permen. "Kali ini maaf oke? Besok aku pasti tidak telat."
"..., tiga puluh tujuh, tiga puluh delapan, tiga puluh sembilan, empat puluh, empat puluh satu, empat puluh dua, empat puluh tiga, empat puluh empat, empat puluh lima, empat puluh enam, empat puluh tujuh, empat puluh delapan, empat puluh sembilan, lima puluh, lima puluh satu, lima puluh dua, lima puluh tiga, ..."
"Terlambat!" Suara nyaring seorang wanita mengisi ruangan yang kecil. Tangannya memegang spatula menunjuk ke arah Rangga yang baru saja membuka pintu.
Rangga tersenyum tak berdaya, "Kali ini berapa?"
"Empat ratus dua puluh satu." Jawab wanita itu dengan kesal.
Rangga mengangkat kedua tangannya, menunjukkan penyesalannya. "Aku salah, oke?"
Wanita itu membalik badannya, membalik tempe yang digorengnya dengan spatula. "Selalu." Gumamnya.
Rangga meletakkan tas plastik di atas meja kecil di tengah ruangan. "Itu adalah kue, permintaan maafku."
Mendengar ucapan Rangga, wanita itu sedikit menoleh ke belakang melirik ke tas plastik yang ada di atas meja. "Baiklah, aku maafkan."
"..., lima puluh empat, lima puluh lima, lima puluh enam, lima puluh tujuh, lima puluh delapan, lima puluh sembilan, enam puluh, enam puluh satu, enam puluh dua, enam puluh tiga, enam puluh empat, enam puluh lima, enam puluh enam, enam puluh tujuh, enam puluh delapan, enam puluh sembilan, tujuh puluh, tujuh puluh satu, tujuh puluh dua, tujuh puluh tiga, tujuh puluh empat, ..."
Rangga duduk di depan seorang wanita yang sedang menyangga tubuhnya di tembok pagar. "Aku tiba secepat mungkin."
Wanita itu menyerahkan tasnya kepada Rangga dengan lelah, dia bahkan enggan untuk menyampaikan keluhan yang keras, hanya mengatakan satu kata. "Telat."
Rangga memeluk tas tangan wanita di sebelahnya, dia menyerah sebuah es krim tepat di depan wajah wanita tersebut. "Lelah? Es krim sebagai permintaan maafku."
"Oke."
"..., tujuh puluh lima, tujuh puluh enam, tujuh puluh tujuh, tujuh puluh delapan, tujuh puluh sembilan, delapan puluh, ..."
Seorang wanita bergumam menghitung angka sambil menutup matanya, ketika dia mendengar langkah kaki mendekat ke arahnya, matanya terbuka dengan malas. Dia menatap Rangga yang baru saja datang dengan wajah datar. "Kali ini tiga ratus sepuluh."
"..., delapan puluh satu, delapan puluh dua, delapan puluh tiga, delapan puluh empat, delapan puluh lima, delapan puluh enam, delapan puluh tujuh, delapan puluh sembilan, sembilan puluh, ..."
Suara ledakan menggelegar keras menerobos keramaian kota. Petasan demi petasan terbang ke langit lalu menyebar membentuk kembang yang indah dan warna warni.
Seorang wanita berdiri di tengah keramaian sambil bergumam menatap ke langit.
Rangga meraih pergelangan tangan wanita itu, "Aku datang!" Ucapnya sambil menyerahkan bunga kepada wanita itu.
Wanita itu baru saja ingin mengeluh, namun kara-katanya tertahankan ketika melihat kumpulan bunga dimasukan ke dalam pelukannya. "Kali ini lima ratus dua puluh enam." Ucapnya rendah.
"Aku telat lagi, maaf! Lain kali pasti sebelum seratus."
"Pembohong."
"Sebelum seratus aku pasti datang!"
"..., sembilan puluh satu, sembilan puluh dua, sembilan puluh tiga, sembilan puluh empat, ..."
Seorang wanita dengan gaun putih polos berjalan dengan kaki telanjang. Di setiap langkahnya dia menggumamkan angka demi angka.
"..., sembilan puluh lima, sembilan puluh enam, sembilan puluh tujuh, sembilan puluh delapan, sembilan puluh sembilan, ..."
Wanita itu mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan, ke lautan yang tak berdasar. Langkahnya berhenti sejenak, dia mengepalkan tangan keras menatap lautan dengan keluhan yang tak tersampaikan. Lalu dia mengangkat kaki kanannya dengan berat dan mengambil satu melangkah sebelum kembali menggumamkan angka.
"..., seratus."
Kaki wanita itu lemah seketika, dia roboh di atas pasir putih laut yang bersih. Bahunya bergetar dahsyat, dia menundukkan kepala menatap kosong ke arah pasir laut.
"Pembohong."
Hari itu laut dipenuhi suara tangisan ombak, putri duyung bernyanyi untuk ikut berduka, dan ditemani air laut yang asin wanita itu menyusul sang kekasih.