Aku Naura seorang karyawan disuatu perusahaan kecil, dan aku tinggal bersama adikku, Nesa panggilannya. Seperti hari-hari biasanya, setiap pagi kami berdua sarapan sambil berbincang, suasana pagi itu pecah dengan canda tawa kami. usai sarapan aku melanjutkan pekerjaan kantorku dari rumah, dan Nesa pergi kekampus.
" kak, hari ini gak usah dianter, pulangnya juga gak usah dijemput ya?" ucapnya sambil beranjak pergi. hmm, kebetulan kakak lagi mau nyelesain tugas dari kantor dikit lagi, hati-hati dijalan ya Nes.. oke kak. bye.
Selesai merapikan tempat makan, tadinya mau lanjutin kerjaan kantor, tapi aku melihat pohon natal yang masih polosan jadi aku melanjutkan menghias pohon natal yang terpajang dipojok ruang tamu rumah kecilku. tidak terasa hari sudah menjelang malam, " kok Nesa belum pulang2 juga ya? apa banyak tugas?ini kan malam Natal. gak bisa lusa apa?"(mengomel sendirian).
selang 30 menitan Nesa datang, tanpa berkata apa-apa dia berjalan masuk kekamarnya, dengan wajah datar dan sedikit pucat.
Aku berusaha mengejarnya, ku ketuk pintunya berulang kali tidak ada jawaban. "ada apa dengannya? baru pulang jam segini" gumamku.
Akupun pergi dari sana, dan melanjutkan pekerjaanku yang sedari tadi ku tinggalkan. tiba2 terdengar suara dentuman keras dari kamar Nesa. seketika aku tutup laptopku dan berlari kekemarnya.
"Nes . . Nesa, Nesa buka pintunya dong, itu tadi suara apa?,(tidak ada jawaban). Nesa, cerita sama kakak kalo ada masalah oke, jangan disimpen sendiri". kok gak dijawab?ya udah kamu istirahat aja, kalo perlu apa-apa panggil kakak ya?". aku berusaha membujuknya namun lagi-lagi masih tidak ada jawaban.
Wussshhh ... tiba-tiba angin berhembus kencang dan, braakk.. seperti suara jendela terbuka dengan kencangnya. perlahan aku menghampiri asal suara, tetapi aku tidak menemukan apa-apa. jendela depan masih terkunci rapat, jendela sampingpun begitu. aku coba melihat keluar pintu, angin berhembus pelan. sambil melihat jauh ke arah jalan dengan lampu remang-remang, apa aku lagi berhalusinasi?
kring.. kring.. kring ..
(disaat bersamaan aku dikagetkan oleh suara handphone ku)
"iya halo.. maaf dengan siapa?, apakah Benar ini keluarga dari saudari Nesa Anindia?, iya benar saya kakakny, ada apa ya?tanyaku penasaran. saya Fira suster RS A, memberitahukan bahwa adik anda mengalami kecelakaan 2 jam yang lalu dan saat ini sedang berada di RS A, mohon untuk...
Sebelum suster itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Nesa datang dari belakangku, mengagetkanku sehingga aku tidak mendengarkan suster itu. "kak.. aku haus (dengan wajah yang pucat Nesa mengahampiriku), haloo. . haloo (suara dalam telefon), "tolong ambilkan air"perintahnya. Aku masih bingung sambil menatap Nesa. "iya sebentar ya, kakak lagi ada telfon", "sekarang" ucapnya dengan tegas".
Tut..Tut..Tut.. (suara telfon terputus), "ok "jawabku singkat sambil berjalan menuju dapur, sesekali menoleh kearah Nesa yang masih berdiri tegak di samping meja kerjaku
Dengan segera aku menuang air minum ke dalam gelas, dan memberikannya kepada Nesa. tapi Nesa tidak ada ditempatnya berdiri tadi, aku memanggilnya berkali2 tidak ada jawaban, "apa mungkin dikamar ya?minta minum kok ditinggal pergi".
Aku berjalan kekamar Nesa dengan membawa segelas air yang dia minta, tapi aku tidak menemukannya disana, dan diseluruh rumah juga tidak ada. aku teringat akan ucapan suster yang menelfonku tadi. seketika badanku gemetar dan gelas yang aku pegang jatuh hingga pecah. aku segera berlari mengambil Hp dan berusaha menelfon balik untuk memastikan kekhawatiranku. tapi anehnya tidak tersambung, padahal signal bagus, dan aku baru isi pulsa.
Aku mulai panik, bingung harus berbuat apa, air mataku bercucuran tak terbendung. tiba-tiba pintu depan terbuka keras keduanya (braakkk . . braakk),
aku kaget, dan aku hampiri perlahan dengan tubuhku yang gemetar. "Nesa.. apa itu kamu? jangan buat kakak takut".
Semakin aku mendekat ke arah pintu, aku mendengar suara tangisan dari luar. tangisan yang begitu menyayat hati. tubuhku semakin bergetar takut dan seakan aku ikut merasakan arti dari tangisan itu. dibawah pohon terlihat samar-samar seperti postur Nesa." Nesa .. kamukah itu? (bertanya kedua kalinya tapi tidak dijawab), (dari kejauhan) kak, maafin Nesa selama ini udah nyusahin kakak, jadi beban kakak, Nesa sayang sama kakak, kak Naura satu-satunya keluarga Nesa. kita pernah janji bakal bareng selamanya. maaf Nesa ingkar janji kak". ucapnya dengan suara lirih. "Maksut kamu apa Nes?Ayo masuk dulu diluar dingin, kita bicara pelan-pelan ya..
(sekelebat seperti ada orang lewat di belakangku, aku menoleh memastikan, ternyata tidak ada siapa-siapa) dan saat itu pula sosok dibawah pohon tadi menghilang.
Tidak banyak berfikir lagi, aku segera ambil kunci motorku untuk pergi ke RS A, memastikan perkataan suster ditelfon tadi. jalanan sangat licin dan aku pacu kendaraanku dengan cepat, sampai disuatu tikungan yang tidak begitu tajam jauh dari rumah, mobil dari arah berlawanan oleng, sehingga menabrak motor yang aku kendarai dan aku terpental jauh ketengah jalan. Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, setelah aku terbangun aku melihat Nesa duduk meringkuk menangis disebelahku, dengan rambut terjuntai ke depan menutupi wajahnya. Aku ketakutan, apakah yang berada di depanku ini benar Nesa adikku atau kah hantu yang menyamar jadi Nesa.
"Apa yang kau peluk itu Nes?, kenapa kau menangis". aku berusaha menggapai benda yang dipeluk Nesa, namun tok.. tok.. tok suara pintu diketuk membuat aku mengurungkan niatku menyentuh nesa.
tok..tok..tok suara pintu diketuk berkali-kali, akhirnya aku berjalan kearah pintu. sebelum aku membuka pintu itu, pintunya terbuka dengan sendirinya mengagetkanku. Tidak ada seorangpun diluar pintu. "Kak Naura", suara Nesa lirih, aku menoleh kearahnya. "Aku ikhlas kak" kata Nesa hampir tidak terdengar, karena suaranya serak setelah menangis cukup lama. Lalu Nesa meletakkan sebuah foto diatas meja dan beranjak pergi.
Sungguh aku sangat kaget, melihat foto yang dipeluk nesa dengan tulisan dibawahnya, Naura Alensia, Lahir Bandung, 02 Maret 1999, wafat Jakarta 17 Desember 2020, tak lain adalah fotoku. Itu tandanya aku sudah mati dan dimakamkan. disana aku hanya bisa menangis, teriak, tak tertahankan. Aku mengingat semuanya dari awal. Terjawab semua pertanyaanku mengenai keanehan Nesa. karena Nesa tidak bisa mendengar suara hantu sepertiku.
~END~