Senja? kata yang tidak asing ditelinga.
Sore itu, aku baru saja pulang bersama teman-temanku dari sungai dekat hutan. Ibu bilang, kalau matahari sudah hampir tenggelam, segera pulang jika tidak mau bertemu dengan hantu. Itu hanyalah dongeng saja, ibu mana mungkin bisa menakut-nakutiku dengan cerita khayalan seperti itu.
"Besok mandi di sungai lagi ya Ron?" tanya temanku sembari melambai.
"Okee, ngumpulnya dijam biasa!" jawabku dengan senyuman melebar.
Aku masuk rumah dengan baju yang basah kuyup. Ibu saat ini sedang pergi ke rumah saudara yang jaraknya tidak terlalu jauh. Ada ayah yang sedang menonton berita, aku mengendap-endap masuk lalu lari kearah kamar mandi. Suara guyuran terdengar hingga ruang tengah.
"Roni, kamu mandi lagi di sungai ta?" tanya ayahku.
"Iya yah, habisnya seru sih."
"Kamu itu udah dibilangin berapa kali jangan mandi di sungai apalagi yang ada didekat hutan itu. Kalo diculik wewe gombel baru tau rasa."
"Halah yah, palingan juga cuma mitos doang. Roni ini udah kelas 2 smp, gak akan percaya sama omongan ayah ataupun ibu."
"Oo kamu itu dibilangin malah ngeyel."
Setelah selesai mandi, aku berlari kearah kamar dan berganti baju. Suara adzan magrib terdengar, aku memakai sarung dan peci lalu berjalan ke masjid bersama ayah. Keesokan harinya, kami semua berkumpul di tempat biasa. Karena sekarang hari minggu, jadi kami ingin bermain dengan puas. Hingga sore tiba, kami pun pergi ke sungai dekat hutan. Kami mandi tanpa mengingat waktu hingga matahari sudah hampir tenggelam keseluruhan. Aku yang lebih dulu keluar dari air dan segera memakai baju lalu memanggil mereka untuk pulang.
"Woi rek, ayo pulang. Udah mau magrib, nanti kalian dialpa sama si Mina."
Setelah selesai solat, kami selalu mengaji dan itu akan diabsen agar kami bisa lebih rajin untuk hadir. Aku berjalan terlebih dahulu meninggalkan teman-temanku yang sibuk memakai baju mereka. Kami berteman dengan anak-anak yang masih sd juga. Ketika habis magrib dan hendak mengaji, seorang ibu datang menemui kami dan bertanya tentang anaknya.
"Roni, apa kamu liat Asep?" tanya si ibu kepadaku.
"Bukannya sudah pulang bu dari sungai?" tanyaku membalik dengan nada bingung.
Asep itu adalah anak ibu Maryam, dia duduk dibangku 5 sd. Tadi dia ikut kami mandi ke sungai tapi bagaimana bisa Asep tidak pulang?
"Aduh, ibu sudah larang dia buat jangan mandi di sana tetep aja mau mandi."
"Memangnya kenapa sih bu kok gak boleh mandi di sana?" tanyaku penasaran.
"Untuk ibu Maryam, boleh pulang dulu. Nanti kami dan bapak-bapak lainnya akan membantu cari Asep," jawab ustad yang mencoba menenangkan ibunya Asep.
Bu Maryam mengangguk dengan wajah cemas lalu pulang. Hari ini kami diliburkan mengaji karena ustad akan mencari Asep. Aku berjalan sendirian dengan jalanan yang diterangi cahaya bulan. Di desa, jalanan masih minim lampu apalagi jarak rumahku dan Masjid harus melewati pohon bambu. Aku terdiam ketika mendengar suara goresan dipohon bambu. Angin berhembus kencang, aku tidak dapat menengok kebelakang dan terus maju sambil membaca ayat kursi. Sesampainya di rumah, ternyata keadaan sepi sekali. Tanpa pikir panjang, aku masuk dan menutup pintu lalu menuju kamar. Ketika melihat kearah jendela, aku terkejut dengan bayangan yang terlihat jelas. Tungkai kakiku lemas dan aku hanya bisa menangis.
Keesokan harinya, aku membuka mata secara perlahan dan mendapati banyak orang serta ibu yang menangis.
"Kok rame bu di kamar Roni?" tanyaku dengan nada bingung.
"Syukur le, kamu sudah sadar. Maafin ibu yang ninggalin kamu sendirian dirumah," ujar ibuku yang menangis kemudian memelukku.
"Semalam kamu kerasukan, makannya ayah bilang jangan mandi di sungai tetep ngeyel kamu. Diikutin kan kamu sampek rumah."
Aku terkejut ketika tahu kenyataanya. Yang aku ingat hanyalah, aku melihat bayangan hitam lalu terduduk lemas dan menangis setelahnya sudah tidak lagi.
"Lalu Asep gimana yah?" tanyaku penasaran.
"Warga masih nyari Asep. Katanya dia dibawa sama wewe gombel."
Kali ini aku benar-benar kaget, jadi wewe gombel itu bukan mitos melainkan benar adanya. Ketika aku menengok kearah kiri, aku terkejut hingga membuat ibuku ikutan kaget. Ada sosok hitam yang berada di pojokan kamar menatapku dengan mata merahnya. Mendadak aku menangis tak karuan membuat semuanya panik. Ibu memelukku tapi apa yang kuperbuat, aku mendorongnya hingga terjatuh dari ranjang.
"PERGI PERGII. PERGI KALIAN SEMUA!"
Teriakanku membuat yang ada di kamar terkejut sementara ayah mencoba mendekatiku. Entah kenapa rasanya seperti yang berada disekitarku itu bukan manusia melainkan sosok yang menyeramkan. Ayah membaca ayat kursi serta doa-doa lainnya lalu memegang kepalaku. Puncak rasa sakitnya ketika seseorang menekan jempol kaki, benar-benar rasa sakit yang teramat. Aku memberontak, tidak lebih tepatnya adalah tubuhku. Padahal aku di sini tidak melakukan apapun. Apakah tubuhku sedang dikendalikan oleh sesuatu?
Tak beberapa lama akhirnya aku pingsan. Ketika bangun, aku hanya melihat ibu dan ayah yang sedang membaca al-qur'an. Aku merasa seperti tubuhku lemas tak ada tenaga sedikitpun. Sudah tidak ada lagi makhluk bermata merah itu.
"Syukurlah kamu sudah sadar. Makhluk itu sudah gak ada, sama ustad sudah diusir!" jelas ayahku.
"Makannya kalo orang tua ngasih tau itu jangan ngeyel. Gak boleh mainan waktu senja apalagi mau malam jum'at."
"Kak Ana, kapan datang?" tanyaku yang mencoba tersenyum.
Dia adalah kakak sepupuku yang sepertinya baru datang dan baru masuk ke kamar.
"Ya maaf. Gak bakalan Roni ulangi lagi deh, kapok. Terus nasib Asep gimana?" tanyaku yang masih penasaran.
"Alhamdulillah Asep udah ketemu. Ternyata dia dibawa ke pohon bambu deket jalan yang mau ke masjid," jawaban ibu membuatku terkejut.
Buat teman-teman terutama kamu yang masih sd, kalo main harus ingat waktu ya. Senja ketika matahari sudah akan tenggelam, mereka akan keluar dan terkadang menampaki diri atau menakut-nakuti manusia.