Lyra pulang dari sekolahnya, ia melihat ada dua orang yang menghampirinya.
"Hey! kau mau membawaku kemana?!" Lyra membentak dua laki-laki berotot yang membawanya.
"Nona tenang saja" kata sang laki-laki berotot besar.
"Hey!!! lepaskan!" Lyra memberontak.
Dua orang berotot tersebut membawa Lyra ke sebuah rumah mewah yang sangat jauh jaraknya dari sekolah.
"Silahkan masuk nona" kata sang bodyguard lain yang ada di rumah itu.
"Hey, ini rumah siapa?!" Lyra.
"Ini rumah calon suami anda nona" kata sang bodyguard.
"Apa?!!!!" Lyra sangat terkejut.
"Masuklah" datang laki-laki tampan yang umurnya mungkin 28 tahunan.
"Pergilah kalian" lanjut sang laki-laki mengisyaratkan bodyguard untuk pergi.
Para bodyguard tersebut pun pergi.
"Antarkan aku pulang" rengek gadis berumur 17 tahun itu.
"Tidak akan" laki-laki itu menatap tajam lyra.
"Bagaimana jika keluargaku mencari ku? hiks hiks hiks" Lyra mulai menangis.
"Aku tidak peduli" jawab sang laki-laki.
"Kau menurutlah padaku, maka aku akan baik padamu" kata sang lelaki.
"I.. iya" Lyra menurut karena tak ada pilihan lain.
"Bagus" kata sang lelaki.
"Gantilah bajumu, kita akan menikah hari ini" sang lelaki berkata santai.
"Apa?!!!" Lyra sangat terkejut akan hal itu.
"Menurutlah padaku, atau kau akan menyesal seumur hidupmu" jawab sang lelaki.
"Ba baik" Lyra pikir urusan pernikahannya nanti saja ia pikirkan lagi, yang penting ia bisa keluar dari rumah itu.
Lyra pergi berganti pakaian yang telah ditunjukkan para pembantu di rumah itu.
Lyra dan lelaki itu pun pergi ke sebuah hotel dan melangsungkan pernikahan.
Kini mereka sudah sah menjadi suami istri.
Mereka sedang berada di tempat makan untuk makan. Lyra yang tak melihat orang tua suami dadakannya itupun bertanya.
"Ma...maaf, apa orang tua mu tidak datang?" tanya Lyra.
"Tidak" jawabnya santai.
"Owh baiklah" kata lyra.
"Ehm... siapa namamu? aku belum tau" tanya Lyra lagi.
"Radit" jawab lelaki yang ternyata namanya adalah Radit.
"Owh..." kata Lyra.
"Oh iya, aku harus memanggilmu apa?" tanya Lyra lagi.
"Terserah kau saja, diamlah dan makan makanan mu" kata Radit.
"Baik" Lyra.
Lyra dan Radit makan bersama.
"Bagaimana kalau aku memanggilmu om, kau kan lebih tua dari aku" Lyra membuka mulutnya setelah makan.
"Hey! kau pikir aku paman mu apa?! aku ini suamimu" darah Radit mendidih.
"Ma maaf" Lyra takut pada Radit.
"Huh...." Radit menghela napasnya.
"Aku akan memanggil kakak, apa boleh?" tanya Lyra.
"Ya sudah, itu lebih baik" jawab Radit.
Akhirnya acara makan-makan telah usai.
"Apa aku kabur saja ya?, ah aku mending kabur aja" Lyra mengendap-endap keluar dari hotel berniat kabur.
"Nona mau kemana?" tanya salah satu anak buah Radit.
"Ah itu, aku mau keluar dulu" sangkal Lyra.
"Apa sudah izin pada tuan?" tanya anak buah Radit.
"Ah su su sudah kok" jawab Lyra gugup.
"Sebentar nona biar saya konfirmasi terlebih dahulu pada tuan" kata sang anak buah.
Lyra yang melihat sang anak buah Radit akan menelpon tuannya langsung kabur.
"Hey nona!" salah satu anak buah Radit mengejar Lyra.
"Telepon tuan" kata anak buah yang lain.
"Halo, tuan nona berusaha kabur tuan" kata sang anak buah setelah teleponnya diangkat oleh Radit.
"...." Radit.
"Baik tuan" kata sang anak buah.
Akhirnya Lyra yang kelelahan berlari pun tertangkap oleh anak buah Radit. Sang anak buah membawa Lyra pada tuannya. Lalu ia pergi kembali mengerjakan tugasnya.
"Kenapa kau berusaha kabur?!" bentak Radit.
"Ma maaf" Lyra tertunduk takut.
"Kenapa kau membuatnya pusing ha?!" bentak Radit lagi.
"Kita akan menginap di sini malam ini" Radit pergi menelpon seseorang lalu masuk kembali ke kamar hotel dan menguncinya.
"Mandilah" kata Radit.
Lyra langsung masuk ke kamar mandi. Ia menangis di sana meratapi nasibnya yang menikah tanpa ada rencana, di usia muda dan dengan orang yang di kenal pula.
Lyra selesai mandi, ia lalu keluar. Ia tak mengenakan pakaian sama sekali, karena mereka menginap secara dadakan dan tak ada persiapan.
Radit yang merupakan lelaki dewasa normal tergoda oleh tubuh mulus Lyra. Radit mendekati Lyra yang berada di dekat pintu kamar mandi. Ia berniat mencium bibir Lyra.
"Kak kakak mau apa" Lyra menghindar.
"Berhenti menghindar dariku! aku ini suamimu! dan tubuh ini adalah milikku! Ingat kau tidak akan pernah bisa lari dariku, jangan coba-coba kabur seperti tadi. Apa kau mau jadi janda di usia muda?! menurutlah padaku, paham!" bentak Radit.
Radit mencoba mencium bibir Lyra kembali, tapi Lyra menolak dan memalingkan wajahnya.
"Berhenti menolakku!, kau ini istriku" Radit yang darahnya sudah mendidih langsung menggendong Lyra ke ranjang dan melakukan hal yang sudah seharusnya dilakukan.
"Hiks hiks hiks" Lyra menangis karena Radit yang kasar padanya.
"Maaf" Radit ikut sakit melihat air mata Lyra.
"Aku mencintaimu, aku tidak mau kau diambil oleh orang lain. Apalagi dia akan berbuat jahat padamu" Jelas Radit.
"Apa maksudmu? hiks hiks hiks" tanya Lyra tak paham.
"Suatu hari aku akan menceritakan itu padamu, aku mencintaimu, maaf jika aku terlalu memaksa mu" kata Radit.
"Tolong berusahalah mencintai aku" kata Radit dengan tatapan sendu.
"Maaf, aku akan berusaha mencintaimu karena sekarang kau adalah suamiku" jawab Lyra.
"Baiklah, tidurlah sudah malam" Radit turun dari atas tubuh Lyra.
"Iya" Lyra pun kemudian tidur.
Keesokan harinya Lyra bangun. s
Saat bangun Lyra sudah diberi tatapan cinta oleh Radit.
"Selamat pagi" kata Radit.
"Pagi" jawab Lyra.
"Hari ini kau tidak usah sekolah dulu" kata Radit.
"Kenapa?" tanya Lyra.
"Apa kau akan berangkat ke sekolah dengan keadaan seperti ini? lagipula besok aku akan pindahkan kau ke sekolah yang lebih baik" kata Radit.
Lyra pun melihat dirinya sendiri, ia merasa tubuhnya sakit semua.
"Tapi kenapa aku harus pindah sekolah?" tanya Lyra.
"Tidak apa, sudah ayo mandi" Radit pun menggendong Lyra ke kamar mandi.
Hari-hari telah berlalu, kini tepat 2 bulan Lyra berstatus sebagai istri. Kini ia lebih bisa menerima pernikahannya karena Radit semakin lembut padanya.
Hingga suatu hari Radit menceritakan alasan ia menikahi Lyra secara paksa. Lyra yang mendengarnya merasa bersalah karena dulu ia pernah melawan Radit yang ternyata mempunyai niat baik padanya.
Kini mereka mengisi pernikahan mereka dengan kebahagiaan.