imaginary prince
Kringgg.... Kringgg ... Kringgg (alarm dari handphone berbunyi)
Sinar matahari menyirat di pelupuk mata. Aku buka perlahan mata ini yang masih terasa berat. Betapa
terkejutnya, aku hampir kesiangan menuju sekolah. Langsung ku gulung selimut tebal, berlari ke kamar mandi dan langsung mengenakan seragam sekolah.
Tukk... Tukkk.. tukk.. (suara langkah kakiku menggema)
Mamah Grace : "Apa yang sedang kamu lakukan, sayang? Rumah seperti mau runtuh?!" (Omel mamah Grace)
Bia :" maaf mah, aku hampir kesiangan". ( Sambil mengambil sepotong roti di meja makan, mencium mamah dan langsung melangkah ke luar )
Mamah Grace: "Dasar anak itu.. Hhmm pasti dia membaca novel lagi sampai tengah malam." (Sambil menggeleng-gelengkan kepala)
Aku seorang pelajar tingkat SMA, Namaku Biantari, aku memiliki kepribadian yang pendiam, dilihat secara fisikly dengan pandangan teman-temanku, aku terbilang cewe kuper yang ketinggalan jaman. Menurutku sendiri, penampilanku tidak ada yang salah, tapi teman-temanku selalu mengkambing hitamkan apa yang mereka lakukan.
Bia: "Ayo cepat lari kencang.. Aku hampir terlambat." (Gumamku sambil berlari menuju pemberhentian bus)
Sampai di depan gerbang sekolah yang hampir saja di tutup oleh pak satpam.
Bia: "Pak tunggu, saya boleh masuk kan?" (Sambil terengah-engah)
Pak Satpam: "Tidak bisa, kamu sudah terlambat." (Sahut pak satpam dengan tegas)
Bia: "Tapi pak...."
Gendis: "Pagi pak satpam, bapak makin muda aja deh.. boleh dong kita masuk?" (Tanya Gendis teman sekelasku, sang penguasa kelas)
Pak Satpam: "Boleh dong neng gendis." Sahut pak Satpam
Bia: "Pak.. kenapa dia boleh masuk sedangkan aku tidak boleh?" Tanya ku
Pak Satpam :"Sudah sudah sana pulang lagi." Sahut pak Satpam dengan nada mengusir
Dada ku terasa sesak, sambil mengerutkan wajah , menundukan kepala aku berjalan perlahan tanpa tujuan. Mataku mulai berkaca-kaca, bahkan teman untuk berbagi pun tak ada yang mau denganku.
Bia :"Aduh.. kaki ku sakit." (Menyandung batu)
Saat tersadar, aku berjalan entah ke arah mana, aku melihat sebuah toko yang seolah menggerakkan hatiku untuk masuk ke dalam. Dengan penuh penasaran aku masuk ke sebuah toko buku. Aku melihat-lihat suasana di dalam toko buku sangat mistik.
Bia :"Apa benar ini toko buku?" Gumamku dalam hati
Madam Rose: "Ada yang bisa saya bantu gadis manis?" Goda madam Rose
Bia :"Hhmmm.. anu.. aku mau cari..."
Madam Rose: "Aku sudah tau, ini buku harian ini cocok untukmu dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."
Bia: "Buku harian?" (Bingung dalam hati)
Madam Rose: "Iya, tuangkan semua perasaan kamu dengan buku harian itu, buku itu akan setia menemani." Jawab Madam Rose
Bia :" Baiklah."
Tanpa bertanya lagi, aku membawa pulang buku harian itu. Sampai di rumah, aku buka pintu dan langsung masuk ke dalam kamar. Ku rebahkan tubuh ini yang masih mengenakan seragam sambil menghela nafas. Ku pandang buku harian itu terlihat unik.
Bia :"Hhmmm .. masih belum bisa nulis apa-apa." (Di tarus di atas meja belajar)
*****. *****. *****
Matahari mulai tenggelam, aku hendak ke supermarket membeli sebotol minuman dan cemilan. Jauh mata memandang, aku melihat Gendis dan Rey sedang bersama. Rey cowo tampan yang diperebutkan cewe di sekolah. Bahkan cewe se cantik gendis pun mendekati Rey. Ketika mereka keluar dari supermarket aku langsung mengumpat. Enggan bertemu dengan mereka, lebih baik menghindar.
Bia :" Mereka sudah keluar, saatnya aku masuk." (Sambil bergegas)
Sampai di rumah aku membeli beberapa botol minuman dan cemilan. Langsung aku mengambil sebuah buku, buku harian itu. Aku buka kunci buku harian yang berwarna merah muda itu. Aku mulai menulis, dengan pena bertinta emas, ku tulis keluh kesah yang terbesit dalam hati.
"Dear diary.. sore ini, aku bertemu dengan Rey. Rey pergi bersama Gendis. Sepertinya mereka berpacaran, cewe sepertiku tidak mungkin bersama Rey. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku melanjutkan pendekatan dengan Rey."
Bia :"Hhhuuffftt... duniaku terasa berakhir, Gendis dan Rey berpacaran." Gumamku sambil menghela nafas
Esok paginya, aku kembali seperti biasa. Berangkat ke sekolah. Dengan penuh keteguhan hati, aku harus siap menghadapi tingkah mereka.
Gendis :"Hei... Coba lihat siapa yang datang" (hahaha ketawa Gendis menggema ruangan kelas)
Viona :"Cewe kuper." (Hahaha sahut Viona teman geng Gendis)
Aku langsung manaruh tas dan berlari keluar ruangan. Aku berlari ke taman dan duduk sendirian di bawah pohon dengan hati yang kesal. Angin yang menyiur membuat dedaunan berjatuhan.
Gendis :"Hey cewe kuper.. ngapain di sini? Kasian.." (Tiba-tiba Gendis menghampiri Bia)
Gendis dan gengsnya menghampiri ku yang sedang duduk di taman. Sambil menggoyang goyangkan tangannya, Gendis menunjukan buku harian Bia.
Gendis :"Lihat apa nih yang ada di tanganku." (Sambil menunjukan buku harian Bia)
Bia :"Itu buku harian ku ! Kembalikan!" Sentak ku dengan tegas
Gendis :"Uuhhh takut.." ledek Gendis (sambil tertawa)
Viona :"Hari gini masih nulis buku harian... Dasar cewe kuper." (Ledek Viona sambil tertawa)
Gendis :"Lihat guys isi nya.. ga banget deh.."(Ledek Gendis)
Viona :"Cewe sepertimu jangan bermimpi bisa bersama Rey." (Sambung ledekan Gendis)
Kemudian Gendis merabik-rabik buku harian milik ku, Buku harian itu berhamburan di depan ku. Air mata berjatuhan dan membasahi pipi. Gendis dan teman-temannya pergi. Aku masih terdiam meratapi serpihan buku harian yang berhamburan di tanah. Aku ambil potongan demi potongan kertas itu dan membawanya.
Setelah jam belajar selesai, aku bergegas pulang dan hendak pergi ke toko buku. Aku ingin membeli lagi buku harian, karena buku harian itu sudah seperti temanku yang selalu setia menemani.
Bia :"Loh.. aneh sekali, aku yakin toko itu ada di sini, koq sekarang tidak ada." Kataku bertanya-tanya
Akhirnya aku kembali lagi dengan membawa buku harian yang telah rusak. Sampai di rumah, ku lempar tas dan ku letakkan serpihan kertas buku harian itu di meja. Ku rebahkan diri di kasur, sambil terisak-isak hingga tertidur. Tanpa sepengetahuanku.
Tengah malam serpihan kertas itu bersinar dan menghilang.
Pagi harinya saat aku ingin bersiap sekolah, aku menyiapkan semua perlengkapan yang akan di bawa ke sekolah. Aku bingung mencari buku harian itu.
Bia :"Mah, mamah tau buku Bia di atas meja belajar ga ya?" (Tanya Bia)
Mamah Grace :"Engga.. kalau buku penting seharusnya kamu simpan dengan baik." (Omel Mamah Grace)
Bia :"Hhhmm.. sudahlah aku berangkat dulu."
Mamah Grace: "Yahh. Hati-hati sayang."
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, aku hanya bisa menundukan kepala dan bergerutu dalam hati.
Bia :"Hhmm.. aku harus bertemu lagi dengan Gendis."
Aku langsung duduk di bangku dengan kepala masih menunduk, terdengar desas-desus perbincangan antara Gendis dan teman-temannya. Aku tak memperdulikannya, aku langsung mengambil handset sambil mendengarkan musik. Bel pun berbunyi, seluruh siswa duduk di bangkunya masing-masing.
Bu guru :"Selamat pagi anak-anak" (sapa Bu guru)
Seluruh siswa: "Selamat pagi Bu.."
Bu guru :"Hari ini kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan diri."
Jesen :"Hai semua.. perkenalkan namaku Jesen." (Sapa Jesen)
Bu guru :"Silahkan Jesen, duduk di belakang Bia."
Jesen: "Baik Bu."
Saat jam istirahat berbunyi, seluruh siswa mengantri untuk mengambil makanan di kantin. Aku pun pergi ke kantin, setelah aku memilih makanan, aku hendak mencari tempat duduk, tiba-tiba...
Praaaannnkkkk... (Suara piring pecah berhamburan di lantai)
Aku terjatuh ke lantai, piring pecah berkeping-keping di depanku. Gendis sengaja menyenggol kakiku hingga aku terjatuh. Uluran tangan seseorang tepat di hadapan mataku, saat aku melihat Jesen sambil tersenyum membantuku berdiri.
Jesen :"Apakah kamu baik-baik saja?" (Tanya Jesen)
Bia : "Ya, terima kasih."
Langkah kakiku kian cepat, meninggalkan keributan yang terjadi di kantin. Aku mencari suasana tenang di taman, dan duduk di bawa pohon sambil teesedu-sedu. Tiba-tiba Jesen datang menghampiri ku yang sedang menguraikan air mata.
Jesen :" Kenapa menangis?"
Bia :"Aku sedih, tidak ada seorang pun yang bisa aku ajak bercerita."
Jesen :"Ceritakan lah padaku, seperti biasa saat kamu menulis dalam buku harian, mulai sekarang Aku akan melindungimu."
Bia :"Apa maksud kamu?"
Jesen :"Aku selama ini, aku teman dalam sepi perasaan yang kau curahkan melalui buku harian."
Bia :"Apa?!" (Sambil terkejut)
Jesen :"Ya, ketika buku itu rusak, kamu dengan tulus meneteskan air mata, hingga aku menjadi wujud manusia yang akan mencintai dan menyayangi mu."
Aku menatap mata Jesen, tatapan itu benar terlihat begitu tulus. Jesen dapat menerima keadaanku, Jesen adalah sosok pria yang selalu aku impikan. Pada akhirnya aku dan Jesen bersama, bergandengan tangan sambil melebar senyum yang tulus.