Di tengah hiruk pikuknya warga Desa Cossavia, aku meringkuk terdiam. Membiarkan beberapa anak seumuranku mengejek dan menendang tubuhku. Mereka tertawa geli ke arahku. Orang tua mereka bahkan tampak ikut tertawa bersama mereka.
Bagaimana bisa mereka tega melakukan hal itu kepadaku setiap hari?. Kenapa mereka memperlakukanku seperti itu cuma karena aku mempunya ayah yang sakit jiwa dan seorang ibu penyihir?. Dimana letak kesalahanku?. Aku juga sudah tidak tahan dengan paman dan bibiku yang selalu memperlakukanku layaknya budak. Karena tidak tahan lagi, aku berlari ke hutan terlarang. Toh orang-orang di desa pasti senang melihatku terbunuh di hutan yang di kenal paling berbahaya di daerah itu.
Di malam yang berkabut dan bersinarkan bulan purnama. Aku terus berlari menelusuri hutan tanpa alas kaki, tanpa arah dan tanpa takut sedikit pun. Hanya ada gundah gulana yang menyelimuti hatiku. Air mata yang berjatuhan di pipiku seakan menjadi tetesan jejak arah lariku.
Aku tidak kuat lagi menghadapi dunia, tidak kuat lagi menghadapi orang-orang. Rasanya aku ingin mati saja di hutan ini dan menghilang begitu saja. Aku ingin angin membawa tubuhku jatuh ke jurang. Aku ingin pohon-pohon di hutan ini menjatuhkan rantingnya yang runcing agar bisa menusuk jantungku.
Aku masih terus berlari secepat yang kubisa. Telapak kakiku mulai lecet dan meneteskan darah segar. Aku pun menghentikan lariku sembari memegang kedua lututku. Nafasku tersengal-sengal. Namun aku langsung terperanjat ketika melihat seekor serigala yang sedari tadi menatapku dari seberang sungai. Serigala itu memiliki ukuran tubuh yang sangat besar. Dua kali lipat dari tubuhku.
"Apa lihat-lihat! sini cepat bunuh saja aku!!!" bukannya takut, aku malah menantang serigala itu agar bisa segera membunuhku.
"Aaaaauuuuuu. . ." serigala itu tiba-tiba mengaum dan membuatku langsung melangkah mundur.
Perlahan Serigala itu melangkahkan kakinya dan mendekat. Sedangkan aku masih diam di tempat untuk menunggunya. Tiba-tiba muncul serigala lain yang sama besarnya dengan serigala yang ada di depanku. Serigala-serigala itu berdiri mengelilingiku.
Serigala yang pertamakali ku-lihat itu langsung meloncat ke arahku, dan seketika membuatku terjatuh ke tanah. Mulutnya menganga, dan perlahan meneteskan air liurnya ke bajuku. Ada sedikit ketakutan di hatiku, tapi aku sudah tidak sabar menunggu serigala itu untuk segera membunuhku.
"CEPAT BUNUH AKU! BUKANKAH ITU YANG KAU-MAU!" pekikku sembari memejamkan kedua mataku.
Tiba-tiba lenganku merasakan sakit yang teramat sangat. Aku pun segera membuka mata, dan langsung di buat kaget ketika melihat serigala itu menempelkan taringnya di lenganku. Aku pasrah dan sama sekali tidak melawannya, karena itulah yang ku-inginkan darinya. Darah segar terus mengucur dari lenganku. Aku tinggal menunggu serigala itu mengoyak tubuhku.
Aku berusaha mengunci mulutku, karena berusaha menahan sakit yang luar biasa. Perlahan serigala itu melepaskan gigitannya, dan seketika tubuhku langsung melemah. Penglihatanku perlahan kabur dan aku pun langsung tidak sadarkan diri.
***
Aku membuka mataku pelan, dan penglihatanku langsung di sambut oleh serigala-serigala yang sedang duduk santai mengelilingiku. Namun, penglihatanku terasa sangat aneh dan tidak seperti biasanya. Pendengaranku juga terasa sangat tajam. Apa yang terjadi padaku?. Kenapa aku masih hidup?
"Hei bocah! selamat datang di kawanan! aku Walace!" ujar salah satu serigala berbulu hitam. Aku pun langsung terperanjat karena melihat seekor serigala berbicara padaku.
"Kau-bisa bicara?" tanyaku.
"Haha! bukankah seekor serigala otomatis akan memahami bahasa serigala lainnya?" Walace menatapku tajam dengan mata merahnya.
"Serigala??" aku membelalakkan mata, dan langsung memperhatikan sekujur tubuhku. Benar yang Walace katakan, aku sudah menjadi seekor serigala seperti mereka sekarang.
"Apa yang kamu lakukan padaku?" aku kembali bertanya dengan perasaan ketakutan.
"Membantumu!" sahut Walace singkat.
"AKU MAU KAMU MEMBUNUHKU! BUKANNYA MENGUBAHKU MENJADI SEPERTIMU!!!" pekikku dengan nafas yang naik turun.
"Bukankah balas dendam lebih baik dari pada membunuh dirimu sendiri?, kau-harus tunjukkan pada mereka bahwa apa yang telah mereka lakukan kepadamu adalah kesalahan!" Walace berbicara sambil berjalan mengitariku.
"Ba-ba-balas dendam?" aku mengernyitkan dahi.
"Dengan warga Desa Cossavia! tidak hanya kamu yang di sakiti oleh warga desa itu, tetapi kami juga. Kami sudah lama menunggumu Kaine!" sambung Walace lagi.
"Bagaimana kau-tahu namaku?"
"Itu mudah, kami mengetahuinya lewat telinga kami,"
"Kenapa kalian menungguku?" tanyaku lagi.
"Karena kami harus melengkapi satu anggota lagi dalam kawanan. Jika tidak, bulan purnama tidak akan bisa memberikan kekuatannya pada kita. Tujuh belas manusia terkutuk yang menjadi serigala, ditakdirkan untuk balas dendam. Warga Desa Cossavia memanglah orang-orang yang kejam. Apa kau-pernah melihat benteng bawah tanah mereka?" ujar Walace sambil menatap ke arah bulan purnama.
"Apa yang ada di dalam benteng itu?" aku mulai tertarik.
"Para budak dan anak-anak yang mereka siksa dan mereka bunuh. Kita hanya tujuh belas anak yang beruntung dari ratusan anak yang ada di dalam benteng itu!" jelas Walace yang langsung membuatku terdiam.
"Tapi suaramu tidak seperti anak-anak sebelas tahun sepertiku?" tanyaku lagi.
"Hahaha! butuh waktu bertahun-tahun untuk menunggu anggota ke tujuh belas di hutan terlarang ini Kaine!"
"Lalu kapan kalian akan balas dendam?"
"Aku maunya sekarang, tapi sepertinya kau-belum siap?!" tebak Walace.
"Bagaimana kalau saat bulan purnama berikutnya saja. . . Hai Kaine, kenalkan aku Jay!" seekor serigala bebulu putih tiba-tiba mencoba masuk dalam pembicaraanku dan Walace.
Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk mempercayai mereka. Sebab telah begitu lama aku mencari seseorang yang peduli dengan kehidupanku. Mungkin waktu itu sudah tiba sekarang!
***
Beberapa minggu telah berlalu, hingga bulan purnama yang kami tunggu akan terjadi malam ini. Aku sudah mempelajari banyak hal untuk hidup layaknya serigala. Ternyata banyak sekali kelebihan yang di miliki tubuhku ini. Yang paling berguna adalah telinga. Sebab pendengarannya sangat tajam, bisa mendengar suara dari beberapa kilometer jauhnya.
Aku dan kawananku berkumpul, kami sudah siap untuk segera menyerang Desa Cossavia. Dengan perasaan yang sangat bersemangat, aku berlari sekuat tenagaku karena merasa sudah tidak sabar.
Setibanya di Desa, aku dan kawananku langsung memporak porandakan Desa Cossavia. Bahkan Walace juga terlihat lebih mengerikan dari biasanya. Aku sempat melihatnya mengoyak tubuh seorang lelaki sampai terbelah menjadi dua. Darah bercipratan dimana-mana. Entah kenapa aku begitu menikmatinya.
Bulan purnama memang memberikan aura yang berbeda untuk kami. Tiba-tiba mataku tertuju pada seorang wanita paruh baya yang bersembunyi di balik drum. Aku merasa sangat senang melihat wanita itu ketakutan. Sebab dialah bibiku, yang dulunya selalu memperlakukanku layaknya budak. Aku berlari untuk menerkamnya.
HUP!"
Sekarang kuku tajamku sudah mencengkeram lehernya. Tubuh bibiku gemetaran, dia beberapakali memohon ampun. Haha! tapi aku tidak akan mengampuninya!
Perlahan aku koyak dadanya tanpa kesulitan sedikit pun. Darah langsung menciprat kemana-mana. Tampak organ jantung bibiku masih berdetak perlahan. Tanpa pikir panjang, langsung ku-lahap jantung itu dengan ganasnya. Dendam memang terasa begitu nikmat di mulutku.
DOR!
Tiba-tiba suara senapan terdengar tepat dari belakangku. Aku pun langsung berbalik. Sebelum aku memalingkan tubuhku, ternyata orang itu sudah menembakkan pelurunya ke perutku. Namun satu peluru itu tidak membuat tubuh besarku tumbang begitu saja.
Sialan! ternyata orang yang menembakku adalah pamanku. Dia tampak tidak takut menatapku. Terlihat sekali raut wajahnya sedang memerah karena marah.
DOR! DOR! DOR!
Dia terus menembakkan pelurunya ke arahku, tetapi aku bisa menghindarinya dengan gesit. Tidak butuh waktu yang lama bagiku untuk menangkap paman. Kali ini aku tidak ingin mencengkeramnya, tapi langsung melahap kepalanya langsung.
TRAKK!
Tengkorak kepala langsung pecah saat ku-gigitkan taringku di kepalanya.
Tidak butuh waktu yang lama, untuk menghancurkan Desa Cossavia dan warganya. Walace tampak melangkahkan kakinya ke arah benteng bawah tanah, setelah dia berhasil melahap belasan warga desa.
Aku dan kawanan lainnya langsung mengikutinya. Kami langsung di buat kaget ketika semua orang yang ada dalam benteng sudah menjadi tulang belulang yang berserakan. Jay tampak menundukkan kepalanya pertanda dia begitu kecewa melihat keadaan itu.
"Jangan sedih! setidaknya kita bisa membalaskan dendam kita kan?" ujarku mencoba memberi semangat.
"Tapi Kaine, jika tidak ada yang selamat di dalam benteng ini kita tidak bisa kembali menjadi manusia!" sahut Walace tampak sedih.
"Kupikir kau-sangat menikmati menjadi serigala?" balasku.
"Ada yang kamu tidak tahu Kaine, tujuh belas serigala yang membalas dendam akan di takdirkan mati di tangan iblis Abaddon. Dia adalah iblis terkejam dan tersadis di dunia! . . . dan mungkin dia akan membunuh kita lebih sadis dari pada pembunuhan yang kita lakukan pada warga desa,"
"A-a-apa? KENAPA KAMU TIDAK MEMBERITAHUKU DARI AWAL?!!!" aku membelalakkan mata dengan di penuhi perasaan kecewa.
"Karena jika kami mengatakannya dari awal, kamu pasti akan kabur dari kami. Maaf Kaine! . . . aku kira orang-orang yang ada di benteng ini selamat, tapi. . ." ujar Jay masih tampak sedih.
"Memang apa hubungannya dengan orang-orang yang terkurung di dalam benteng ini?" aku mengernyitkan dahi.
"Tujuh belas serigala yang balas dendam akan kembali ke wujud manusianya, jika dia berhasil menyelamatkan orang-orang yang tersiksa. Begitulah yang di sebutkan ramalan!" jelas Walace sembari duduk di dekatku. Aku hanya bisa terdiam dan meratap sekarang.
~TAMAT~
☆Catatan Author☆
"Seberapa besar masalahmu, bunuh diri atau balas dendam bukanlah solusi terbaik untukmu."