Boneka berwarna kuning menggemaskan dengan telinga panjang, ia peluk erat. Matanya asyik menatap layar televisi datar yang tergantung di dinding kamar. Aku yang melihatnya, melemparkan selimut padanya. Kupikir, udara dingin yang merasuk, akan membuatnya mudah sakit. Ia terkejut. Boneka pikachu kesayangannya, justru ia lemparkan padaku. Kesal, karena aktivitas menonton acara televisi kesukaannya terganggu karenaku.
Aku beranjak duduk di sofa berwarna kuning samping tempatnya merebahkan diri. Tersenyum usil melihat gadis dengan rambut terurai sepinggang ini. Boneka pikachu miliknya, berganti aku yang memeluknya.
Kuraih buku di rak, mulai melanjutkan bacaanku yang sempat tertunda. Sayang, aku kehilangan fokus. Mataku masih ingin berlama-lama memotret setiap perilakunya. Dia, wanita yang tengah menyelimuti diri dengan selimut berwarna kuning yang kulemparkan tadi. Beata. Aku memanggilnya 'Bee'. Dia seperti lebah, mudah menyengat jika diusik.
"Kalau aku mati, kau yang akan datang pertama kali."
Itu yang pernah kukatakan padanya saat pertama kali ia kegirangan mendapati lamarannya diterima. Pekerjaan yang sangat ia idam-idamkan.
Dia merengut kesal saat aku membicarakan tentang kematian. Bagiku, setiap yang bernyawa pasti akan mati.
"Jangan berkata begitu lagi," gusarnya.
"Kenapa?"
"Aku enggak mau jadi yang pertama melihatmu dengan begitu mengenaskan."
"Mengenaskan? Kalau aku tersenyum saat kematian datang, akankah itu mengenaskan? Bukankah aku masih tampan?"
"Ayolah ... kau tau pekerjaanku berkenaan dengan kematian yang menyedihkan. Aku enggak suka kau bercanda dengan maut."
Aku tersenyum kecil. Tanpa kusadari, gadis dengan baju tidur berwarna kuning ini menghampiriku. Berbalut selimut kuningnya, ia duduk pada bantalan sofa. Tiba-tiba, melentangkan kedua tangannya, memelukku.
"Hei, Bee."
"Kak, aku ingin memelukmu," rajuknya.
Sedikit kubenahi letak dudukku, agar ada ruang kosong untuk Bee bebas memeluk. Selain begitu tergila-gila dengan warna kuning, Bee juga keranjingan memelukku. Aku yang jarang pulang ke rumah, karena tugas lapangan sebagai penegak hukum, membuat Bee kian sering memelukku saat di rumah.
Ah, gadis ini!
🍯🍯🍯🍯🍯
Sembari mengacak-acak rambutku yang basah, aku yang baru saja mandi ini keluar rumah saat telingaku mendengar bising keributan. Tampak tertangkap mata, beberapa temanku, para lelaki, sudah terlihat di pekarangan rumah menyaksikan dua sosok yang fisiknya sudah tak asing lagi untukku. Aku baru pulang dari pendidikan di Akademi Polisi, dan sudah disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Memang luar biasa!
Seorang gadis beranjak dewasa dan seorang gadis remaja, sama-sama mengenakan gaun berenda berwarna kuning dan sepatu pantofel jenis Mary Jane yang mengilap dengan warna senada. Pada rambut mereka, juga ada hiasan pita berwarna kuning. Menariknya, mereka saling beradu otot.
Salah satu gadis yang beranjak dewasa memulai dengan mengarahkan tinju tepat di hadapan wajah gadis lainnya. Nyaris saja, kepalan tangan itu mengenai wajah menggemaskan gadis yang ia serang. Si gadis remaja cepat menangkis. Ia menarik lengan si gadis penyerang lalu menyentuh bagian vital pergelangan bahu, dan tinju gadis penyerang mengendur. Tak mau kalah lagi, gadis penyerang mengambil kuda-kuda, hendak menyerang bagian kaki. Namun, sebelum benar-benar terjadi pertumpahan darah, aku berlari mendekat.
"Apa-apaan ini?" pekikku, menghentikan aktivitas mereka. Serta merta, semua yang ada, menoleh bersamaan.
"Aksa!"
Astaga, setidaknya para gadis ini saling menjambak, atau saling memaki, bukan justru saling adu kekuatan dengan beradu tenaga fisik.
"Aksa! Mereka kembar?" Pertanyaan seorang teman tiba-tiba memecah kesunyian yang belum lama tercipta.
Aku menggeleng, "enggak. Yang satu adalah anak teman ayahku. Yang satu lagi bernama Bee."
"Mereka kakak beradik?" tanya temanku yang lain.
Aku kembali menggeleng.
"Mereka sungguh serupa. Kupikir, mereka kembar."
"Tapi, dia lebih tinggi dari Bee, jadi kukira mereka berdua adalah kakak beradik."
"Mereka berdua sama-sama memiliki bentuk wajah yang serupa. Astaga, mereka seperti kloning. Benar-benar mirip satu sama lain."
"Satu lagi, mereka pintar bela diri."
Suara celoteh teman-temanku, terdengar memuji dua gadis di depanku. Aku hanya bisa menatap gadis seusiaku yang berdiri di samping Bee dengan khawatir.
"Hei, apakah aku cantik?" Pertanyaan gadis di sebelah Beata menarik perhatian teman-temanku. Mereka serempak mengangguk.
"Tentu saja. Aku adalah yang nomer satu," ucapnya kemudian.
Aku mengerutkan kening. Aku sangat mengerti apa yang ia maksudkan. Aku benar-benar tak tahu bagaimana menghadapinya.
"Aku yang asli. Bee yang suka meniruku."
Kualihkan tatapan pada Bee. Gadis penggila warna kuning itu, memandangku tidak terima. Aku hanya menggeleng pelan, meminta Beata untuk diam. Aku bahkan tidak tahu lagi akan berbuat apa. Gadis di samping Beata, sungguh-sungguh membuatku sakit kepala.
🍯🍯🍯🍯🍯
Udara dingin menyelusup ke sela-sela jaringan kulitku. Kurapatkan jaket, lantas melipat kedua tangan. Kuraih remote, kunyalakan penghangat ruangan. Kuamati sekilas, semua ruangan di sini berwarna kuning. Meski aku telah sering datang ke hunian ini, masih tetap saja rasa tak nyaman menyergapku. Warna kuning di penjuru ruangan ini seperti punya daya magis. Ah, sudahlah.
Aku beralih, berdiri menatap ke luar dinding kaca. Hujan mengguyur tanah dengan deras. Kilat juga sesekali menyambar. Tak tampak di mataku lalu lalang orang atau kendaraan di bawah sana. Rupanya hujan sanggup membuat orang-orang bertahan dalam tempat tinggal mereka.
"Kau mau mi? Atau kopi? Aku lapar, di tempat tinggalku hanya tersisa mi instan," tanya seseorang dari balik pintu dapur.
Aku melirik jam di pergelangan tangan. Ingin cepat pulang. Bee pasti sedang menunggu di rumah. Ia menghubungiku, pekerjaannya selesai sore tadi.
"Aksa, ini sedang hujan deras. Di sinilah sebentar. Kau baru saja mengintai di apartemen sebelah. Toh, perempuan penyuka kuning itu akan mengerti jika kau terjebak hujan," teriaknya.
Aku menghela napas. Mengangguk. Beranjak duduk di sofa panjang. Entah mengapa, perasaanku malam ini tak nyaman. Udara dingin seakan mendukung kegelisahan ini.
Tak lama, sosok itu datang menghampiri. Membawa nampan berisi dua gelas kopi hangat dan dua mangkuk mi kuah. Meletakkannya di meja depanku.
"Ayo makan dulu," serunya.
Aku mengangguk. Meraih mangkok berisi mi kuah dengan telur mata sapi di atasnya. Pelan, mulai menyantapnya.
"Kau, kenapa?" tanyanya. Sepertinya ia menangkap kegelisahanku.
Aku mengangkat kedua bahu, "entahlah. Malam ini seperti akan terjadi sesuatu."
"Pada gadis kuning itu?"
Aku menatapnya yang duduk di hadapanku. Aku mengacak rambutku. Menggeleng. "Aku enggak tau."
"Aksa, kau menyukainya? Kau bahkan membelikannya sesuatu." Ia menunjuk dengan dagunya pada tas jinjing berbahan kertas yang tergeletak di meja. Di dalamnya terdapat jepit rambut emas dengan lebah sebagai aksesorinya yang sengaja aku pesan jauh-jauh hari.
Aku tersedak. Kembali menatapnya yang seolah tak acuh, ia justru asyik menyantap mi instan.
Orang di hadapanku, bukankah ia seharusnya sudah tahu?
"Kau? Sejak kapan kau menyukainya?" tanyanya lagi.
"Bukankah kau tau, jika aku memang menyukainya?"
"T-tapi ... ah, sudahlah! Tidakkah kau sadar, jika ada orang lain yang menyukaimu?"
"Siapa?"
"Aku."
Gelas kopi yang baru saja kuraih, hendak kuminum, lepas begitu saja dari genggaman. Tumpah. Airnya membasahi meja dan juga jatuh dalam mangkuk mi milikku. Aku terdiam. Mulutku tercekat, tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun saat sosok di depanku yang dengan lantang menunjuk dirinya. Ia menyukaiku?
"K-kau?" Terbata-bata, aku berhasil mengeluarkan suara. Aku masih diliputi rasa terkejut. Dia, sahabatku. Bahkan tak pernah terlintas dalam pikiranku, jika dia menyukaiku. Atau, aku tertarik padanya. Tidak!
Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Mengacak rambutku. Aku benar-benar tak habis pikir. Rasanya gila saja saat tahu teman dekatku menyukaiku. Aku tak dapat melakukan apa pun saat ini. Aku bingung.
"Berhentilah menyukai gadis penyuka kuning itu, Aksa!"
"Bee. Namanya Beata."
"Aku tau. Aku hanya tak suka kau menyebut namanya. Kau terlalu mengagungkan dia. Dia hanya seorang xanthophile."
Aku bangkit. Tanganku mendarat bebas pada pipi kanannya. Refleks. Membekas bentuk tangan berwarna merah di pipinya. Ada luka robek di ujung bibirnya. Ia menyeka darah yang keluar dari luka di bibirnya dengan punggung tangannya. Matanya tajam menatapku.
"Kau, tak seharusnya menyukaiku."
"Kenapa? Adakah larangan? Aku sudah sejak lama menyukaimu. Sejak sebelum gadis xanthophile itu dibawa ke rumahmu. Harusnya, kau dengan jelas meletakkan hatimu hanya untukku. Akulah orang yang seharusnya kau cintai." Ia berdiri. Matanya nyalang, menatap langsung ke dalam mataku.
"Kau gila!" makiku.
"Ya, aku gila karena menyukaimu. Tidak! Aku mencintaimu."
"Tidak! Tidak boleh."
"Kamu membuatnya menjadi rumit, Aksa!" Teriakannya seperti lolongan serigala, membelah langit gelap. Kilat dan petir kembali menyambar. Seakan menyemarakkan kemarahan di antara kami.
"Tidak. Justru kau yang membuatnya menjadi rumit."
Aku ingin menyudahi kegilaan malam ini. Aku meraih telepon genggam dan tas jinjing berisi hadiah untuk Bee di atas meja. Sekali lagi, menatap sosok di hadapanku, lalu bergegas. Ingin cepat keluar dari apartemen tempat tinggalnya ini.
"Aksa, tunggu!"
"Di luar siapa kau, dengan kau menyukaiku, kau itu normal. Kau juga seseorang yang mencintai seorang laki-laki. Tapi, maaf, aku tidak bisa." Aku tak acuh. Dingin sikapku, jelas kukatakan penolakanku padanya. Aku tahu, ia akan terluka. Hanya saja, setidaknya ia tidak akan tenggelam pada pikirannya yang kacau.
"Tidak, Aksa. Aku masih aku, meski aku mencintaimu. Aku adalah orang yang seharusnya kau cintai."
Aku berdiri memunggunginya. "Tidak. Aku sungguh tidak."
"Aksa! Aku adalah xanthophile sebenarnya. Aku adalah penyuka kuning yang seharusnya kau cintai. Gadis itu, palsu!"
Aku terdiam. Aku tidak lagi ingin berdebat dengannya.
"Aksa!"
Baru saja hendak menggapai gagang pintu, sosok itu berlari menghampiriku. Bahkan, belum sempat aku menoleh, sesuatu yang dingin seperti menghunjam perutku bagian kanan. Menembus masuk, menyentuh tepat pada bagian vitalku.
Kuraba perut, kulihat tanganku penuh dengan cairan berwarna merah. Beralih kutatap sahabat kecilku, tak percaya. Air matanya jatuh saat melihatku meringis. Namun, tangannya masih menusukkan belati semakin dalam. Mengenai hati. Ia memutar belati itu perlahan, sebelum mencabutnya begitu saja. Seakan memberikan efek yang sangat menyakitkan padaku.
"Arrrgghhh!" rintihku.
Ini kegilaan lainnya. Tekanan darahku merosot. Aku limbung di hadapannya. Ia ikut menjatuhkan diri. Darah segar mengalir begitu saja dari perut bagian kananku.
Ia kembali menghunjamkan belatinya pada bagian lambungku. Ia juga menekan belati dan memutarnya di bagian yang menyakitkan, sebelum mencabutnya paksa.
Aku mengerang. "Ran-ty, k-kau ...." Mataku berkunang-kunang. Napasku tersengal. Untuk menarik napas saja, rasanya aku sudah tidak sanggup. Ia menusukku tepat di bagian dengan risiko kematian terbesar. Darahku menyembur tiada henti, dan mulai menggenang.
Untuk terakhir kalinya, kulihat perempuan cantik dengan rambut legam tergerai yang banyak digilai pria ini, masih menatapku tajam dengan bulir air mata yang deras jatuh membanjiri pipinya. Fisiknya memang tampak seorang wanita lembut dengan gaun kuning dan pita kuning di rambutnya. Namun, ia tumbuh menyerupai Bee.
Ranty pengidap sindrom cermin Giovanni, atau banyak disebut alter ego. Adalah keberadaan ‘aku yang lain’ yang sejak kecil ia tunjukkan. Sindrom ini merupakan diri kedua yang dipercaya berbeda daripada orang kebanyakan atau kepribadian yang sebenarnya. Perilaku berbeda dari seseorang yang ditampilkan dalam keadaan tertentu. Oleh karenanya, Ranty selalu beranggapan jika dirinya adalah Beata dan seorang xanthophile. Sedangkan Beata adalah palsu. Padahal, Ranty adalah penirunya.
Ah, Ranty ... penyesalan terbesarku adalah, tidak berhasil menyadarkanmu. Aku juga benar tidak bisa mencintaimu. Maaf.
Susah payah kusunggingkan senyum padanya. Aku tahu, ia masih perempuan cantik, sahabatku. Lantas, kualihkan pandanganku, kulihat hadiah untuk Bee yang terjatuh. Hadiah yang belum sempat kuberikan padanya. Sebuah jepit rambut emas.
"Maafkan aku, Aksa. Ini sebuah penebusan. Jika kau tidak dapat membalas perasaanku, aku juga tidak mengizinkan Beata mendapatkan cintamu. Akulah yang asli," serunya sembari mengusap air mata yang tumpah dari matanya. Ia lantas berdiri, membersihkan pisau, dan berlalu. Mata kami masih saling menatap, sebelum akhirnya ia menutup pintu.
Bee ....
🍯🍯🍯🍯🍯
Gadis yang mengenakan medical coverall suit berwarna kuning itu tersenyum di hadapanku. Ia menari-nari kecil, dengan bangga menunjukkan baju pelindung dirinya yang ia desain sendiri.
"Gimana, kak?"
Aku mengangguk. "Bee, kamu diizinkan bikin sendiri? Bukankah forensik punya baju desain sendiri? Kenapa warna kuning? Seperti petugas kebersihan saja," sindirku.
"Ah, Bos-ku ngizinin. Aku, kan, juga petugas kebersihan. Tugasku membersihkan TKP."
Aku tahu, Bos-nya adalah temanku yang menyukai Bee. Ia juga mengizinkan anak buahnya mendesain medical coverall suit-nya sendiri.
"Ok, ok." Aku mengalah.
Kutatap lekat sosok di hadapanku. Entah sejak kapan aku mulai jatuh cinta dengannya. Dia perempuan polos yang penuh dengan keberanian. Seorang xanthophile, penggila warna kuning, yang berprofesi sebagai pembersih forensik. Tugasnya tak pernah kenal waktu. Seperti kematian, siapa yang tahu akan kedatangan malaikat maut.
Cintaku padanya terlalu berbahaya. Kami berbeda. Aku sadar diri, tidak akan pernah bisa menjalin hubungan laiknya seorang pria dan kekasihnya. Kami tidak sejalan. Kutahu, dia bukan milikku. Dia, adik angkatku. Hanya seorang adikku yang manis.
"Tahu tidak? Kematian apa yang begitu menyakitkan?" tanya Bee saat memelukku yang tengah membaca buku.
Aku terdiam. Menatapnya yang mengerjap-ngerjapkan mata.
"Ditusuk?"
Bee menggeleng.
"Tenggelam?" tanyaku lagi. Dijawab Bee masih dengan gelengan.
"Saat kamu mati seorang diri. Tanpa ada yang tahu, tanpa ada yang mengenalmu, bahkan mengingat jika kamu ada atau sudah tiada," terangnya.
Bee menyunggingkan seulas senyum. Kulukis sabit di bibirku, saat mendengar penjelasannya. Ah, dia masih gadis yang kucintai.
Selain seorang xanthophile, Bee yang sangat menggilai sesuatu berwarna kuning, ia juga selalu senang memelukku. Saat memelukku, dia katakan, "aku hanya tidak ingin melewatkan masaku bersamamu. Aku sungguh tidak ingin, kamu, seseorang yang kucintai, mati sendirian."
🍯🍯🍯🍯🍯