Sudah ketiga kalinya, Aku duduk di sini, di depan Polisi yang mengintrogasiku saat ini, setelah kedua kali, Aku terbukti tidak bersalah, kini kejahatan apalagi yang mereka tuduhkan padaku.
", Anda di duga terkait kasus pembunuhan kemarin malam." Ucap Polisi dengan tegas. Aku terkejut atas tuduhan itu.
" Waktu kejadian, anda dimana?," tanya Polisi itu,
" Saya di rumah pak, tidur," jawabku dengan malas.
Suara mesin ketik, terdengar berisik di telingaku. Tapi aku hanya bisa mengelus dada, berusaha untuk bersabar , memuaskan Polisi menanyaiku.
Tak lama, seorang polisi yang lain datang, dan membawa beberapa foto ,yang katanya di dapat dari rekaman cctv di jalan.
Kedua polisi itu berbisik, dihadapanku ,tanpa peduli jika rahasia mereka terdengar olehku.
Tak lama kemudian, satu Polisi pergi dan Polisi yang ada dihadapanku kembali mengintrogasi lagi.
Dia menatap tajam pada ku, seolah aku adalah penjahat yang mencoba menghindar dari hukuman, berkata bohong, dan mengingkari bukti.
" Apakah Anda yakin tidak berbohong, jika terbukti bersalah, maka hukuman Anda akan bertambah berat."
Aku balas menatap tajam ke arah polisi itu, karena Aku tidak suka di intimidasi secara terang terangan.
" Tidak pak, yang saya katakan benar" jawabku mantap.
kemudian polisi itu berdiri, dan memukul keras meja di depannnya.
" Apa Anda mencoba menyangkal, Anda berani melawan Polisi?" bentaknya, sepertinya tidak terima Aku membalas tatapannya.
" Heuh" Aku tersenyum miring blak blakan, tidak takut kepadanya.
", Apa yang perlu ditakutkan, Aku tidak merasa berbuat salah." Aku tetap mengelak.
Tanpa memberi kesempatan padaku, polisi itu langsung melanjutkan pertanyaannya, setelah tadi menenangkan amarahnya.
" Baik,...kali ini Anda tidak bisa mengelak lagi, karena kami punya bukti." Ujar polisi itu.
Aku mulai was was.Polisi itu kemudian menyodorkan beberapa foto di meja dan di hadapanku.
" Ini..!,bukankah ini Anda?" Kata kata Polisi itu dengan tegas.
Aku segera melihat foto yang polisi itu sodorkan.
" Hah...ini benar diriku, tapi...Aku tidak merasa telah berbuat seperti di foto ini" bathinku dengan terkejut.
Seketika Aku menyangkalnya.
" Ini bukan saya pak, saya berani jamin, saya tidak bersalah, ada saksinya kalau saya di rumah pas waktu kejadian."
" Baik, kami beri kesempatan pada Anda untuk memanggil saksi sekarang juga." Polisi itu memerintah dengan tegas.
" Baik" Jawabku dengan gugup. Kemudian Aku segera menekan nomor telephon rumahku.
tut..tut..tut...
"Panggilanku tidak ada yang menjawab, kemana bibi?" bathinku ,semakin membuat ku gugup.
Tak berselang lama, tibalah seorang Polisi , dia datang bersama Bibi, orang yang bekerja sebagai pembantu di rumahku.
Aku menoleh, dan merasa senang.
" Akhirnya Tuhan menyelamatkanku" bathinku senang ,sambil tersenyum.
" Bibi...rupanya bibi sudah sampai kemari?" tanyaku kemudian, dengan semangat.
Bibi hanya mengangguk dengan pandangan benci, menatapku sekilas.
Aku sedikit bingung dengan sikap bibi terhadapku sekarang, tapi aku tidak mempedulikannya.
" Katakan pada Polisi ini Bi, aku benar di rumah, dan tidak ada sangkutpautnya sama sekali dengan kasus pembunuhan kali ini". Ujarku , meminta Bibi bersaksi untukku.
" Tuan muda memang di rumah..tapi..hiks..hiks...hiks..." Bibi tidak menyelesaikan kalimatnya, tetapi dia malah menangis syok.
" Tapi memang Tuan muda yang melakukan semuanya,....hiks...hiks...hiks...., Nyonya bahkan di bunuh oleh Tuan muda , anaknya sendiri."
Aku sangat terkejut, Bibi malah menuduhku...
Mataku membelalak tak percaya. ,aku menoleh dan memandang dengan tak percaya pada orangku sendiri.
" Apa yang bibi katakan,...aku tidak membunuh mereka,....apalagi tega membunuh ibuku sendiri." sangkalku menolak atas apa yang bibi tuduhkan padaku.
kemudian aku kembali menatap polisi itu lagi, membela diriku sendiri.
" Itu tidak benar pak Polisi, aku tidak membunuh siapapun, pelakunya bukan aku, ini fitnah, bibi ini telah menfitnahku." ujarku protes.
Kembali aku menatap Bibi itu, dan melanjutkan kata kataku.
" Apa saya telah menyakiti hati bibi selama ini, kenapa bibi tega menuduh saya yang tidak tidak, apa maksud bibi?" cerocosku , karena tidak terima.
" Saya tidak bermaksud apa apa tuan muda, saya hanya ingin masalah pembunuhan ini berakhir, dan nyawa nyonya akan tenang di alam sana, hiks..hiks.."
"Berapa kali saya katakan Bi, saya tidak membunuh ibu saya sendiri, dan apa bibi tidak berpikir, saya anak kandungnya dan saya sayang sama ibu saya, kenapa bibi menuduh saya yang membunuh..?" kataku ,dengan emosi.membela diriku sendiri.
" Hiks..hiks..hiks...,memang benar Tuan muda sendiri yang membunuh nyonya, bibi melihat dengan mata kepala sendiri,..hiks...hiks...tapi sebelum nyonya meninggal, beliau berpesan untuk tidak membocorkan rahasia ini...." Jelas Bibi ,sambil terisak.
" Rahasia..?, rahasia apa?" , tanyaku dengan bingung.
" Iya Tuan muda, Tuan muda memiliki rahasia yang hanya nyonya dan saya yang mengetahuinya."
" Bibi jangan mengada ada, kalau benar ada rahasia, kenapa kalian menyimpannya,..saya ingin tahu sekarang." ujarku, penasaran dengan rahasia yang bibi ketahui dariku.
Wanita setengah baya itu, mulai bercerita kepada kami. dan kami mendengarnya dengan serius.
" Pada waktu siang hari sebelum malam Natal, seorang pengantar paket, mengantarkan sebuah paket atas nama Tuan muda, paket itu berisi baju sinterklas, tadinya bibi bingung dan mengira orang itu salah kirim, tapi orang itu bersikeras, karena alamat yang tertulis sudah benar sekali. Dengan itu ,bibi akhirnya menerima paket tersebut dan bilang kepada nyonya. Nyonya juga sepertinya bingung ,tapi kemudian menyuruh saya meletakkannya di kursi ruang tamu, siapa tahu memang benar Tuan muda yang membelinya."
" Setelah Tuan muda pulang di malam hari, Tuan muda mengambil paketnya dan membawanya ke kamar."
" Pada malam hari, sekitar jam 1 malam, ketika itu saya akan ke kamar mandi, dan melihat pintu kamar tuan muda terbuka, tadinya saya hanya bermaksud menutup pintu tersebut, tapi tidak sengaja saya melihat tuan muda sedang membubuhkan sesuatu, seperti serbuk ke kue -kue, dan kemudian membungkus kue tersebut."
" Karena saya penasaran, saya sengaja bersembunyi di balik tembok, dan mengintai tuan muda. kemudian tidak berselang lama, Tuan muda keluar dengan pakaian sinterklas, keluar dengan membawa sekarung hadiah yang berisi kue kue tadi."
" Saya terkejut ,lalu membangunkan nyonya di kamarnya. Kemudian Nyonya merasa penasaran dengan apa yang saya katakan, dan beliau sengaja menunggu tuan muda kembali."
" Tapi...tapi...hiks..hiks....setelah tuan muda kembali, lalu nyonya menegur anda, anda tidak terima dengan teguran nyonya, kalian akhirnya cekcok, kemudian saya melihat ,tuan muda mengeluarkan pisau dari balik baju sinterklas yang anda pakai, lalu dengan teganya anda menghujamkannya pada perut nyonya ...huhuhu....anda sungguh tega berbuat demikian, .....saya tidak berani berbuat apa apa, karena saya takut, saya hanya bisa menyaksikan peristiwa itu dengan mata terbuka ,dan bersembunyi di belakang pintu dapur."
" Setelah itu, tuan muda kembali ke kamar, lalu buru buru saya menghampiri nyonya yang sudah bersimbah darah dan sedang meregang nyawanya. Di sela sela melepas ajalnya, nyonya bilang kepada saya, untuk tidak memberitahukan pada orang orang kalau dia di bunuh oleh anaknya sendiri..huhuhu....", bibi menangis pilu, dan aku semakin syok mendengar keterangan bibi.
kuperhatikan wajah bibi, wanita itu tidak terlihat mengada ada, aku terduduk lemas di bangku, tidak dapat berkata apa apa, aku ingin mengelak, tapi aku merasa kurang yakin.
kemudian terdengar sayup sayup olehku suara bibi, wanita itu masih belum berhenti memberikan keterangan pada polisi.
" Dan siang harinya, kematian anak anak dikota membuat saya yakin, memang tuan muda yang melakukannya."
"Dan malam setelah natal, saya sengaja membuntuti tuan muda ketika keluar lagi, tadinya saya bermaksud menghalangi niat tuan muda , tapi saya tidak berani, saya takut tuan muda akan marah".
" Kebetulan sekali ,ada orang di jalan dan orang itu memperingatkan tuan muda untuk kembali ke rumah, karena keadaan sedang genting. Tetapi tuan muda tidak terima ,lalu perlawanan terjadi diantara mereka, orang itu kalah dan dengan kejam tuan muda langsung membunuh orang tersebut dengan pisau yang sama yang dia gunakan untuk menusuk nyonya,...hu..hu..hu..."
"Pada awalnya,saya masih setia dengan pesan nyonya, untuk menyembunyikan rahasia ini, tapi lama lama hati kecil saya ,menyuruh saya berbicara terus terang dengan peristiwa pembunuhan yang di lakukan oleh tuan muda, saya ingin tuan muda di tangkap sehingga tidak bisa melakukan pembunuhan lagi, dan saya berharap tuan muda akan tobat dan penyakitnya sembuh."
***
Kini akhirnya aku masuk ke dalam jeruji besi, tanpa alas dan tanpa ada apapun di dalamnya, ada tiga orang di dalam sel yang sama denganku. Mereka terlihat menyeramkan.Dan aku akan berusaha untuk tidak membuat masalah dengan mereka.
Pagi hari ,aku bangun dari tidurku. Betapa terkejutnya ketika aku mendapati mereka bertiga tergeletak sudah tak bernyawa lagi, sambil bersimbah darah. Apa yang terjadi sebenarnya, siapa yang membunuh mereka?.
***
Pada malam hari setelah pukul 12 malam, badanku terasa terbakar, Aku menggeliat tidak karuan, ingin rasanya mandi untuk menyiram api di dalam tubuhku..
Aaarrrghhhh...
pekikku sudah tidak tahan, tapi mataku sudah mulai terpejam.
Hahahahaha....(tertawa jahat),dengan sorot mata yang kejam.
Tidurlah saudaraku yang lemah,..kini saatnya Aku mencari darah ,untuk Aku tetap bertahan hidup ,bersarang dalam tubuh kamu...
***
flasback
"Bi...saya mohon pada bibi, untuk menyimpan rahasia ini, jangan biarkan orang orang tahu ,kalau anak saya pembunuh, sebetulnya anak saya menjadi seperti sekarang, ketika tiga bulan lalu, dia pulang dari pendakiannya di gunung, sejak itu dia memiliki dua kepribadian."
***