Dian dibesarkan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Awalnya Dian kecil tumbuh menjadi anak yang pintar dan menggemaskan. Ayah dan ibunya selalu memanjakannya. Memberikan yang terbaik untuk putranya dari bocah itu belum bisa apa apa. Memberikan mainan mainan yang banyak, seperti mobil mobilan yang bisa dinaiki padahal Dian kecil belum bisa duduk sendiri.
Bocah itu juga doyan sekali makan, jadi setiap anak itu mengucap ingin makan apa, Ayah atau Ibunya langsung memenuhi. Hingga sekarang tubuhnya menjadi gemuk dengan pipi bulat seperti kue bakpao.
Hari demi hari, tahun demi tahun Dian tumbuh menjadi anak berbeda. Semakin tumbuh besar malah prilakunya menjadi nakal dan manja. Keduanya sampai bingung menasehati Dian. Apa apa harus keturutan, jika tidak dia akan mengamuk dan mengancam akan pergi dari rumah.
Ibunya Dian yang bernama Lia, sampai tidak tahan menghadapi anaknya yang berubah jadi anak bandel dan terkesan preman. Sudah menginjak umur 18 tahun tapi masih saja belum berubah dewasa. Apalagi sekarang keinginan tidak lagi jajan bakso pinggir jalan atau mainan robot robotan yang bisa di beli dengan harga murah. Sudah berulang kali Dian minta dibelikan motor oleh Ayahnya tapi belum keturutan. Pekerjaan Ayahnya yang hanya seorang buruh di pabrik membuat beliau harus berpikir keras untuk memenuhi keinginan putranya satu ini.
"Yah, beliin motor dong. Temen temen Dian udah pada punya motor sendiri sendiri tapi kok Dian belum dibeliin sampai sekarang?" Protes Dian tidak terima jika temannya sudah punya motor dia belum sendiri.
"Sabar ya Nak, Ayah masih ngumpulin duit. Nanti kalau sudah terkumpul pasti Ayah beliin."
"Halah kelamaan Ayah tuh, Dian pingennya sekarang bukan nanti!"
"Hei Dian mau kemana Nak, Dian?" Bocah itu tidak lagi mau mendengar Ayahnya yang terus memanggil manggil namanya. Dia sudah nyelonong keluar rumah sambil berjalan kaki kesembarang arah.
Lia keluar dari dapur menemui suaminya yaitu Rian. Dengar ribut ribut dari ruang tamu, wanita itu pun langsung keluar.
"Ada apaan sih Yah? Loh itu Si Dian mau kemana Yah malam malam begini?" Lia sudah panik melihat anak bujangnya keluar rumah malam malam.
"Sudah biarin aja Bu, palingan tempat temannya Si Danu."
"Ya Tuhan itu anak lama lama kok jadi kayak gitu ya Yah, berandal bener?"
"Sabar Bu sabar, nanti juga dia pasti pulang."
"Kalau pulang jelas pasti pulang Yah, gak mungkin dia mau nginep tempat temennya. Siapa juga yang mau nampung anak nakal kayak gitu. Tapi Ibu gak sukanya pasti dia main tidak ingat waktu. Pulang pagi pagi terus, entah ngelayap kemana anak itu tuh!"
"Ayo lebih baik kita masuk Bu, sudah malam. Biar Ayah nanti yang cari tahu kemana dia suka main." Lia dan Rian pun masuk ke kamar. Mencoba memaklumi sikap anaknya lagi.
Dian berjalan sampai pada sebuah warung di pinggir jalan. Meski sudah larut malam warung itu masih saja ramai. Beberapa pria duduk melingkar sambil memegang kartu di tangan mereka. Dia melihat Danu diantara pria paru baya itu.
"Heh, ngapain lo disini? Main judi ya lo?" Tegur Dian pada temannya padahal dia sebenarnya juga penasaran dengan permainan yang menyesatkan itu.
"Sssttt, mulut lo bisa diam gak sih. Jangan teriak teriak, cuma kita yang ada disini yang tahu kalau kita lagi main judi."
"Gilak lo Dan, menang kagak lu?" Dian merubah suaranya jadi berbisik bisik di telinga Danu.
"Lihat nih!" Danu segera menunjukan saku celananya yang sudah penuh dengan uang.
"Mantep banget elo Bro. Gue ikutan dong!"
"Bentar, gue lagi main nih. Kalau udah selesai baru lo bisa gabung."
"Siap!" Dian memperhatikan mereka yang tengah bermain, hening dan serius. Dian juga cukup handal jika bermain kartu seperti ini. Tapi sebelumnya tidak pernah dengan uang. Hanya main main saja untuk senang senang. Kali ini dia tertarik, siapa tahu dia bisa menang.
Ronde kali ini berakhir, Danu keluar dengan kekalahan. Dia tidak ingin melanjutkan permainan lagi takut nanti uangnya akan habis dan tidak lagi untung.
"Gara gara lo sih Yan ngajakin gue ngobrol. Jadi kalahkan gue. Udah sini gantiin gue."
"Yeah elo yang begok, nyalahin gue. Lihat nih gue, pasti gue bakal menang terus!" Ucap Dian sombong sambil menepuk nepuk dadanya.
"Dih belagu, ya udah sana tunjukin sama gue!" Mereka memulai permainan, ketika satu persatu orang meletakan uang seratus ribu ke dalam toples, Dian hanya bengong bingung.
"Heh anak muda, mana duit loh? Jangan bilang gak punya duit!" Pria disampingnya melotot seakan akan mengatakan kalau dirinya lebih baik pergi karena tempat ini tidak cocok dengannya. Dian langsung menyikut nyikut lengan Danu yang masih duduk di sampingnya.
"Dan, pinjem duit dong!"
"Kagak bisa, lo pinjem aja tuh sama pemilik warung. Dia biasa pinjemin orang gak berduit kayak lu." Dian pun segera menghampiri pemilik warung yang sedang duduk di depan kasir sambil memegang kipas tangan. Pria tambun itu pun melihat ke arah Dian enggan.
"Bang?"
"Hmm apaan?"
"Boleh pinjem duitnya gak?"
"Boleh."
"Wah beneran, pinjem 500 ribu dong bang?" Pria tambun itu mengeluarkan uang lima lembar uang berwarna merah dari dalam laci kasir.
"Tapi ini berbunga loh, masih mau pinjam?"
"Mau bang mau, saya janji kalau saya menang judi kali ini saya bakalan lunasin semuanya Bang." Balas Dian girang, ia sudah membayangkan gemilang kemenangan jatuh ditangannya. Permainan dimulai, ia merelakan selembar demi selembar uang panas itu ke meja judi. Apa yang ia bayangkan tidak pernah terjadi. Lima kali putaran dia kalah semua. Melihat temannya kacau Danu justru tergelak kencang sambil menepuk nepuk meja dengan heboh. Dia sangat geram pada temannya itu tapi saat ini dia lebih takut lagi melihat pandangan tajam pria tambun di depan kasir. Menatapnya tanpa berkedip, dia masih berpura pura main supaya terlihat dia uangnya masih dan masih bisa bermain terus. Danu sudah pulang terlebih dulu karena malam semakin larut, mata temannya itu sudah tidak bisa diajak begadang.
Dian harus memikirkan cara agar bisa kabur dari tempat ini. Celahpun datang, pria tambun itu berdiri dan berjalan masuk untuk pergi ke kamar mandi. Tanpa sepengetahuan orang orang disana Dian berpura pura berdiri mencari udara segar lalu bergegas pergi dari sana.
Cowok itu mengumpat kesal berkali kali, malam sebentar lagi menjadi pagi dia harus cepat sampai rumah sebelum kedua orang tuanya bangun. Meski pintu terkunci tapi jangan panggil dirinya Dian jika tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri. Dia mengeluarkan kunci serep yang biasa dia bawa kemana mana.
Klik
Kunci terbuka, Dian pun masuk sambil mengendap ngendap seperti maling. Setelah dia berhasil masuk ke dalam kamarnya, Lina memergoki anaknya itu. Tapi wanita itu hanya diam berdiri di kegelapan, sehingga cowok itu tak mengetahuinya.
Pagi pun menjelang, Lina mulai bersibuk diri memasak di dapur. Memasak menu makanan untuk hari ini dan juga kue kue coklat untuk perayaan hari Natal besok. Ketika Lina sedang bergelut dengan tepung di dapur, Rian justru tengah mendekor pohon Natal hingga menjadi indah dan cantik. Beliau juga sudah menyiapkan hadiah spesial untuk putranya besok. Beliau tidak sabar menunggu hari esok melihat putranya senang mendapat motor yang diidam idamkan.
Dian masih terlelap di kamarnya, bagaimana tidak semalam dia bergadang di warung seorang rentenir. Baru semalam dia kesana, sudah memiliki hutang cukup banyak dengan lintah darat yang terkenal kejam itu. Namun tidur nyenyaknya tidak berlangsung lama, terdengar keributan di luar rumahnya. Terpaksa Dian bangun untuk melihat siapa yang sudah berani mengganggu tidurnya.
"Sialan, rentenir itu kemari. Gue harus cabut dari sini!" Dian kembali masuk ke dalam meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang adu mulut dengan pria tambun semalam bersama dua pengawalnya.
Dian masuk ke dalam kamar orang tuanya menggeledah isi lemari kayu itu. Mencari cari sesuatu dibawah baju yang terlipat rapi disana. Beberapa lembar uang terselip disalah satu tumpukan baju lalu segera menyimpan ke dalam saku celananya. Dian kabur lewat pintu belakang pergi menuju rumah kos kosan Danu. Namun sesampainya disana dia di tolak mentah mentah oleh temannya.
"Pergi lo Yan dari rumah gue, gue gak mau ketiban sial gara gara lo!"
"Eh lo kok ngomong gitu sih bro, salah gue apa?"
"Salah elo udah hutang sama rentenir tapi gak bisa bayar! Tadi Big Daddy kesini nanyain elo yang kabur semalem. Gue hampir babak belur di hajar bodyguardnya gara gara elo!"
"Oh jadi elo Dan yang udah ngasih tahu dimana rumah gue sama lintah darat itu! Sialan ya elo Dan, brengsek lo ya, temen macam apa lo!"
"Ah udahlah mending lo pergi dari rumah gue! Gue gak mau temenan sama lo lagi!"
BRAAKK
Danu membanting pintu rumahnya kencang, hingga kaca jendelanya hampir retak. Dian sudah kesal gak ketulungan. Dia tidak menyangka punya teman seperti itu, brengsek tingkat iblis. Dia bingung harus kemana sekarang. Teman brengsek hanya Danu yang dia punya. Perutnya juga sudah keroncongan, minta makan. Dia memutuskan mencari warteg untuk sarapan. Dia berjalan menuju warteg langganan, memesan makanan paling murah yang penting bisa kenyang. Dia harus menghemat uang yang ia curi dari lemari ibunya. Karena tidak mungkin dia kembali kerumah setelah kekacaun besar yang telah dia lakukan.
Belum saja makanan yang dia pesan datang, seseorang yang dia takuti muncul.
"Itu dia Bos bocahnya!"
"Tangkap dia, bawa masuk ke mobil!" Dian akan kabur lagi namun keberuntungan tidak lagi berpihak padanya. Seorang pria kekar sudah menangkap tubuhnya lalu menyeret kerah baju bagian belakang sampai rasanya tercekik.
"Le-lepasin B-bang!" Dian mencoba melepas tangan bodyguard itu tapi tetap tidak bisa, tubuhnya serasa seperti kapas melayang ketika pria kekar itu menyeret tubuhnya.
"Bos, taruh dimana nih bocah!"
"Bagasi!!!"
"Siap Bos." Setelah membuka bagasi, Dian dilempar begitu saja ke dalamnya. Rasanya sempit dan panas. Dia juga susah bernapas di tempat sempit ini. Entah dibawa kemana dirinya ini, tubuhnya sudah lemas tak berdaya.
"Berhenti, turunin bocah itu disini!" Sesampainya di pinggir jalan yang sempit dua orang pengawalnya turun. Membuka bagasi lalu mengeluarkan Dian yang sudah pingsan.
"Bangunkan dia!" Perintah Big daddy pada dua pengawalnya. Salah satunya kemudian menampar wajah Dian berulang kali. Hingga berhasil membangunkan Dian dari pingsannya.
"A-ampun Bang, saya bener bener gak punya duit buat bayar hutang." Ucap Dian memelas, tapi pria kejam itu sudah tidak punya hati jadi dia tidak akan tersentuh sama sekali pada Dian yang memang sudah tidak berdaya.
"Geledah semua pakaiannya, aku tidak percaya dengan rubah cilik ini!" Perintah pria tambun itu lagi. Pengawalnya segera menggeledah ke seluruh pakaian Dian bahkan sampai ke pakaian dalamnya.
"Ini Bos, hanya ada segini di saku celananya!" Pria itu segera menyerobot uang beberapa lembar dari tangan pengawalnya lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
"Cepat habisi dia lalu pergi dari sini!"
"Siap, laksanakan Bos!"
BAK BUK BAK BUK
Dian sudah benjol sana sini, bibirnya pecah matanya bengkak dan tak bergerak.
"Kayaknya bocah ini sudah mati, cabut yuk!" Ucap seorang pria kekar kepada temannya. Mereka langsung berbalik masuk ke dalam mobil meninggalkan Dian di pinggir jalan yang sepi jarang dilewati orang.
Entah berapa lama Dian pingsan di pinggir jalan. Rasa hangat yang terpancar dari sinar matahari ke wajahnya membangunkannya. Dia mencoba berdiri dengan sisa sisa tenaga yang dia punya. Perlahan namun pasti untuk kembali ke rumah orang tuanya.
"Ayah... Ibu..."
Perasaan menyesal yang teramat sangat sudah merasuki hati dan pikirannya. Berharap ayah dan ibunya bersedia memaafkannya. Cukup jauh perjalanan menuju rumahnya tapi akhirnya dia sampai.
Rumahnya nampak ramai dengan orang orang berpakaian hitam. Bernyanyi sambil menangis bersamaan, pikirannya sudah buruk. Siapa yang meninggal? Sebelum masuk ke dalam rumah dia melihat sebuah motor baru yang belum ada plat motornya bertengger gagah di halaman depan rumah.
Apakah itu adalah motor baru yang ia minta pada ayahnya tempo hari? Entah dia harus senang atau sedih. Dia memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Sebuah peti mati yang dikelilingi oleh para pelayat langsung terlihat jelas di matanya. Ayahnya sudah terbujur kaku dengan pakaian rapi berjaz layaknya orang kantoran. Tersenyum damai dalam tidur panjangnya. Ibunya menangis tanpa membuka mata, sambil memeluk sebuah foto milik ayahnya.
"I-ibu, Ayah, ayah..?"
Lina membuka mata, lalu berdiri dengan ekspresi memendam amarah yang siap meledak sewaktu waktu. Bukannya memeluk sang anak yang nampak menyedihkan, Lina justru menampar Dian begitu keras. Menambah luka di wajah Dian menjadi semakin parah.
"Ibu?" Dian sudah meneteskan air mata. Dia tidak menyangka ibunya akan marah sebesar ini. Baru kali ini dia tampar ibunya.
"Jangan panggil aku Ibu! Aku bukan ibumu, kamu anak iblis! Mati saja kamu dan pergi ke neraka!"
JEDERRR tiba tiba Dian seperti mendengar suara petir di siang bolong yang terik ini. Tubuhnya merinding, kata kata itu seperti kutukan dari ibunya untuk dirinya. Ketika Dian akan menyentuh tangan sang ibu, Lina menepis lalu berpaling.
"Cepat pergi dari sini! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!" Tangisan Lia pun pecah, para pelayat tentu mencoba menghibur wanita malang itu. Namun tidak ada satu pun orang yang bersimpati pada Dian. Cowok itu pergi dari rumah orang tuanya dengan lunglai. Semuanya sudah terlambat, ibunya tidak mau memaafkan apa lagi memaklumi sikapnya kali ini.
Pikirannya kosong, pandangannya kosong, berjalan tak tentu arah seperti orang gila.
Telolet, telolet anggap saja itu bunyi klakson dari sebuah mobil truk yang melaju kencang dan ugal ugalan dari arah belakang Dian berjalan.
BAM!
Kecelakaan tak terhindarkan, Dian terpental ke aspal bergulung gulung jatuh ke arah jurang yang dalam. Membentur kayu kayu dan semak semak yang memenuhi pinggiran jurang. Pandangannya buram perlahan lahan hening dan gelap.
******
"Dimana aku? Dimana aku?" Dian terbangun di atas pandang pasir yang sangat luas. Sendirian, tidak ada siapa siapa. Tiba tiba dari kejauhan seseorang berjalan mendekatinya, hilang, muncul lagi semakin dekat, hilang muncul lagi semakin dekat dan tiba tiba sudah ada di depan wajahnya.
"Anakku?" Suara seperti wanita namun keluar api dari mata, hidung, dan mulutnya memanggil Dian sebutan anak. Sontak Dian pun terkejut dan berteriak ketakutan.
"Aaarrrrkkhhh, siapa kamu?"
"Aku ibumu, sayang."
"Bukan kamu bukan ibuku, kamu iblis! Aku bukan anakmu!"
"Aku ini ibumu! Jangan membuatku marah! Ayo ikut ibu!"
"Aw aw, panas, aw. Lepaskan kau membakar kulitku!"