Di desa Angin hiduplah seorang janda tua yang bernama Juminten.
dulu Juminten adalah kembang Desa Rejo, Juminten di kenal sebagai perawan angkuh nan sombong dia bangga memiliki paras cantik.
keinginan juminten memiliki suami tampan dan kaya karna dia terlahir dari keluarga miskin tetapi semua lelaki yang mencintai Juminten hanya kalangan petani pekerjaan rendahan menurut Juminten.
salah satu pemuda yang di tolak Juminten merasa sakit hati dan murka pemuda itu bernama Yatno.
Yatno mengajak teman teman nya untuk menghancur kan keangkuhan Juminten, semua teman teman nya setuju dengan rencana yang di buat Yatno.
keesokan hari nya Yatno dan Kardi mengikuti langkah Juminten dari belakang, setelah cukup lama mengikuti Juminten akhirnya Yatno dan Kardi melakukan rencana nya.
mulut Juminten di bekap dari belakang sehingga dia pingsan Yatno dan Kardi membawa juminten ke pinggir hutan disana sudah ada tiga orang yang menunggu Yatno dan Kardi.
Bagong melihat Yatno membopong Juminten segera berlari membantu sedangkan Gimin dan Eko tertawa kegirangan melihat tubuh Juminten lemas tak berdaya.
Juminten yang malang dia di perkosa bergilir ketika masih pingsan, sesudah puas mereka melampiaskan nafsu bejad nya Juminten di tinggal kan sendiri di hutan.
Yatno tertawa terbahak bahak karna sakit hatinya sudah terbayar dengan menikmati keperawanan Juminten tetapi wajah Bagong terlihat sangat sedih karna wanita yang ia cintai sudah hancur.
satu jam telah berlalu Juminten pun terbangun dari pingsan nya, Juminten hendak bangun tetapi dia merasa sangat sakit di sekujur tubuh nya seakan akan dia habis di pukuli.
betapa terkejut nya Juminten melihat tubuh nya tanpa sehelai benang satu pun Juminten berteriak histeris dia menangis meratapi hidup nya mahkota yang ia jaga selama ini telah di renggut orang.
miris nya Juminten tidak tau siapa mereka.
keputus asaan Juminten mendorong nya untuk bunuh diri, Juminten berlari ke pinggi tebing dan dia melompat ke sungai.
tubuh Juminten terbawa arus sungai sampai ke desa angin, mbok Karmi si perawan tua menemukan Juminten di pinggir sungai dia memeriksa tubuh Juminten
mbok Karmi memutus kan membawa Juminten pulang dan merawat nya sampai sembuh.
dua hari telah berlalu Juminten sadar dari tidur nya yang panjang.
Juminten sangat bingung dengan keadan nya, dia mengingat kejadian yang menimpa nya di hutan membuat hati nya sangat sakit tanpa sadar Juminten berteriak sekeras keras nya membuat mbok Karmi terkejut dan berlari menuju kamar yang di tempati Juminten
"ada apa nak, apa yang terjadi"
mbok Karmi memeluk Juminten
"mbok siapa kenapa mbok menolong saya"
Juminten menatap wajah mbok Karmi
"karna kamu masih hidup nak"
mbok Karmi mengelus rambut Juminten
"nasib mu sama seperti ku nak"
gumam mbok karmi dalam hatinya
sayang nya mbok Karmi mengandung anak dari pemerkosaan itu dan tragis nya anak mbok Karmi tidak mengakui mbok Karmi sebagai ibu nya karna malu mempunyai ibu yang di perkosa
Juminten menangis sejadi jadinya dan mbok Karmi menenang kan Juminten supaya berhenti menangis dan melupakan kejadian yang memilukan.
bulan berganti tahun tidak terasa Juminten sudah 5 tahun tinggal bersama mbok Karmi di pinggir hutan larangan.
mbok Karmi kini semakin tua ia pun sering sakit sakitan dan Juminten semakin dewasa kini dia bisa berfikiran jernih dia memutus kan untuk hidup sendiri di pinggir hutan itu walau dendam akan pemerkosa nya sedikit mengganggu fikiran nya
tetapi dia masih ingat akan pesan mbok Karmi agar tetap hidup bahagia walau banyak bekas luka yang menyelimuti hati nya
Di suatu malam mbok Karmi ingin mengambil minum di dapur dia terpeleset membuat nya jatuh tersungkur kepala mbok Karmi terbentur meja membuat kepala mbok Karmi berdara
tetapi Juminten tidak mendengar mbok Karmi jatuh.
ke esokan hari nya Juminten bangun sepertibiasa dia hendak mandi karna kamar mandi Juminten ada di belakang rumah jadu Juminten berjalan melewati dapur
betapa terkejut nya Juminten melihat mbok Karmi tergeletak bersimbah darah yang sudah kering
"mbok bangun mbok jangan tinggalin Minten mbok"
Juminten terus mengguncang badan mbok Karmi
tapi apalah daya mbok Karmi sudah tidak bernyawa lagi,
Juminten sangat bingung harus mengambil tindakan apa sedang kan mereka tinggal di pinggir hutan larangan yang sangat jauh dari pemukiman desa.
Juminten duduk terpaku di sebelah mbok Karmi sambil memikir kan bagai mana mengurus jenazah mbok Karmi.
setelah memikirkan caranya Juminten pun mengubur jasad mbok Karmi di dekat sungai di bawah pohon jati, hati juminten sangat sedih melihat orang yang ia sayang telah tiada mbok Karmi adalah panutan hidup Juminten.
tiga tahun kemudian setelah kepergian mbok Karmi juminten melewati hari hari nya dengan bahagia walau hidup sebatang kara wajah Juminten yang dulu cantik kini sudah memudar dan kini wajah nya di penuhi kerutan
sang surya menampakan sinar nya yang begitu terang Juminten pun terbangun dari tidur nya.
Juminten menuju sungai yang tidak begitu jauh dari rumah nya.
"mbok Minten datang lagi kali ini aku gak bawa bunga karna kesiangan bangun"
Juminten melewati makan mbok Karmi mendekat ke sungai untuk mandi dan cuci baju,
"makan apa ya hari ini, bosen makan ikan terus"
"apa cari ubi aja ya di dalam hutan"
tangan Juminten sibuk mengucek baju nya
setelah selesai cuci baju juminten bergegas mandi setelah selesai mandi dan menakai pakaian nya Juminten melangkah pulang.
setelah sampai rumah Juminten mengambil pisau untuk mencari ubi di dalam hutan, walau sudah tua Juminten masih cukup sehat dan kuat langkah kaki nya sangat cepat.
ketika sudah mendapat kan ubi yang ia cari Juminten mengumpul kan kayu bakar untuk masak setelah selesai Juminten pulang sambil menggendok kayu bakar di punggung nya.
setelah cukup lama berjalan Juminten merasa lelah langkah kaki nya pun mulai melambat
"penderitaan wanita tua seperti ini ternyata"
grutu Juminten dalam hati nya
Juminten masih terus berjalan tak sengaja kaki nya kesandung sesuwatu membuat Juminten jatuh
"apa itu tadi kenapa mata ini tak melihat batu"
Juminten bangkit dan mengikat kembali kayu nya
dia melihat cahaya dari tumpukan dedaunan kering
"benda apa itu kenapa bercahaya ya"
Juminten mengais dedauan kering itu
"oalah cerminto tapi kok bagus sekali ya"
Juminten mengelap ngelap cermin nya
Juminten melanjutkan langkah nya pulang menuju rumah setelah sampai rumah Juminten segera merebus ubi tadi yang ia bawa dari hutan sambil membersih kan rumah nya
walau tinggal di hutan Juminten sangat rajin membersih kan rumah nya
siang pun berlalu hari semakin sore dan gelap Juminten menyiap kan damar untuk penerangan di dalam rumah, Juminten duduk santai di kursi sambil memakan ubi dia teringat cermin yang ia temukan di hutan tadi
"tak taro dimana ya cermin antik tadi"
Juminten membuka peti baju nya
setelah lama mencari di setiap sudut akhir nya Juminten ingat bahwa cermin itu ia letakan di dekat kayu bakar di luar Juminten pun segera mengambil nya dan kembali masuk kedalam rumah
"sudah lama aku tak melihat wajah ku di cermin"
"kaya apa ya wajah ku sekarang"
Juminten terus berkata kata sendiri karna selama dia tinggal bersama almarhum mbok Karmi belum pernah dia melihat wajah nya sendiri
"ya ampun wajah ku ternyata sudah keriput to"
"jelek nya aku sekarang gak ada bagus bagus nya"
Juminten mengelus ngelus pipi dan dahi nya begitu lama menatap cermin itu sambil bengong
Juminten sangat kaget melihat pantulan wajah nya di cermin tersenyum sinis padahal dia tidak tersenyum Juminten seketika melempar cermin nya
"loo apa tadi itu kenapa aku terlihat senyum tadi"
"aku kan gak senyum sama sekali cobak tak lihat lagi apa bener tadi itu"
Juminten meraih kembali cermin nya dengan perlahan dia membalikan cermin itu ke arah wajah nya tetapi tidak ada yang aneh sama sekali
"oalah itu hanya hayalan ku saja to"
Juminten meletakan cermin di pangkuan nya
"Juminten,, Juminten,,, Juminten"
terdengar lirih tapi menyeram kan
"siapa itu sii siapa di luar jangan bikin takut aku"
Juminten sangat gelisa dan takut
"ini aku teman mu Juuminten"
suara menyeram kan itu terdengar lagi
"aku mohon tampakan wujud mu"
Juminten masih duduk tapi sangat tegang
"lihat lah ke cermin Juminten"
Juminten pun melihat kearah cermin yang ada di pangkuan nya itu
"ke kenapa wajah ku bisa menyatu di cermin"
Juminten menggoyang kan cerminya tetapi wajah itu tidah hilang malah terlihat semakin seram saja wajah nya di dalam cermin itu
"siapa kamu kenapa dengan wajah ku"
Juminten memberanikan diri menatap cermin
"kalau kau ingin memiliki kecantikan mu kembali"
"maka dengar kan perintah ku ini"
"aku sudah tua wajah ku tak mukin muda lagi"
Juminten menyangkal perkataan cermin itu
"cari lah ari ari bayi yang baru lahir"
"dan segera makan sampai habis setalh itu"
"jangan makan apa pun selama 3 hari"
"aku tidak akan melakukan itu"
juminten sesikit menekan suara nya
cermin itu pun berubah seperti cermin biasa suara aneh itu pun hilang bagai di telan bumi saja
wajah Juminten pucat karna terkejut dengan kejadian yang baru saja ia alami.
Juminten terus memikir kan kejadian tadi terus menerus hingga membuat kepala nya sakit setelah lelah berfikir Juminten memutus kan tindakan yang ia pilih dan Juminten tidur lebih awal agar bisa bangun lebih pagi
malam yang panjang pun berlalu Juminten keluar menuju perdesaan yang sangat jauh dari tempat tinggal nya, perjalanan yang melelah kan tetapi Juminten tidak menyerah dia terus melangkah mengitari desa itu akhir nya dia menemukan apa yang dia cari
ada seorang wanita hamil yang hampir melahir kan begitu lama dia menunggu di luar akhir nya sang jabang bayi lahir sang dukun bayi akan menanam ari ari tersebut Juminten memukul kepala mbok mbom itu hingga pingsan.
Juminten pun mengambil ari ari itu dan berlari sekuat tenaga untuk bersembunyi dan begitu rakus nya Juminten melahap ari ari yang berlumuran darah tanpa ada rasa jijik dia segera menghabis kan makanan baru nya itu
"hey cermin aku telah memakan ari ari"
Juminten menatap cermin itu
Juminten memutus kan tidak pergi dari desa itu karna dia bosan kesepian di pinggir hutan
tiga hari pun berlalu cermin itu pun bersuara kembali seperti waktu itu
"langkah pertama kau sudah lulus kali ini"
kau harus memberi ku darah mu seteguk saja"
suara nya begutu membuat hati sangat takut
Juminten pun segera melukai tangan nya dan menetes kan darah nya di atas cermin setan itu
"coba lihat wajah mu itu"
perintah dari cermin hitan itu
Juminten pun mengikuti arahan dari cermin itu betapa terkejut nya Juminten melihat wajah nya kembali cantik dan sangat muda Juminten melihat tangan dan kaki nya yang tadi nya keriput kini kembali kencang seperti seorang gadis
"apa aku tidak sedang bermimpi"
Juminten mencubit kakinya
"ingat Juminten kau harus mengorbankan"
"seorang pemuda untuk ku"
"bergaul lah kau dengan nya agar aku bisa menikmati tubuh pemuda tampan"
Juminten hanya mengangguk tanpa bersuara, dia masih tidak yakin akan perubahan badan nya
Juminten berkeliling di pasar dia melihat lihat baju yang di tawar kan pedagang laki laki, Juminten mencoba merayu seorang penuda yang memilih baju di sebelah nya
mata juminten berkedip genit ke arah pemuda tampan itu yang ada di sebelah nya semula pemuda itu tidak menghiraukan tingkah laku Juminten yang sangat gila
lama kelamaan pemuda itu pun terhipnotis
kini pemuda itu tergoda dengan tubuh Juminten yang montok
wajah Juminten yang ayu nan mulus tanpa cela membuat laki laki cinta mati dengan nya
pemuda itu di bawa ke gubuk yang jauh dari desa tangan pemuda itu terus meraba bokong Juminten yang semok
sesampai di gubuk percintaan yang bergairah di mulai pemuda itu segera melampias kan nafsu nya di tengah permainan Juminten berubah menjadi nenek tua dengan ganas memakan senjata pemuda itu hingga tak tersisa
pemuda itu pun tewas mengenas kan korban pertama Juminten untuk cermin setan telah di persembah kan
perbuatan Juminten telah berlansung berbulan bulan tanpa ada yang mengetahui.
Juminten sangat menikmati kehidupan nya yang sekarang tanpa punya rasa hawatir sama sekali
Juminten berjalan lenggak lenggok bagai bidadari yang turun dari kayangan
di sisi jalan ada sekelompok pemuda yang lagi duduk di warung kopi, semula mereka santai menikmati kopi panas mereka ketika Juminten lewat mata semua orang terpanah dengan kecantikan wajah Juminten
salah satu dari mereka menghampiri Juminten
"boleh kenalan gak mbak"
"nama saya Ari mbak"
Ari mengulur kan tangan nya
"Juminten mas"
Juminten menjabat tangan ari dengan erat
"mbak mau kemana sore sore gini"
Ari tersenyum tipis
"saya mau kedanau mas"
Juminten meneruskan langkah kaki nya
"saya antar ya mbak takut nya ada orang jahat"
"boleh asal tidak merepotkan mas nya"
Ari menatap dengan sorot mata yang sendu
"waah ari berhasil dapat ikan mas"
sorak gembira teman teman ari
mereka berdua meninggal kan warung kopo setelah berjalan cukup jauh akhirnya danau yang di cari nampak juga Juminten pun mulai merayu Ari dengan segala cara supaya Ari tertarik sendiri karna itu syarat utama
percintaan penuh gairah panas pun berjalan lancar tanpa ada halangan Juminten yang cantik kini berubah menjadi nenek tua yang tak memiliki mata dan hidung
Ari yang melihat perubahan Juminten terkejut sontak berteriak sekeras mungkin agar ada yang membantunya lepas si genderuo.
Juminten tidak menghiraukan rintihan wajah ari yang memelas dari tadi,
begitu rakus Juminten melahap senjata ari tanpa dia sadari ada seseorang yang melihat perbuatan nya yang mengerikan
orang itu berlari sangat kencang untuk meminta bantuan kepada warga setempat
perbuatan Juminten yang dia saksikan tadi terus terbayang di mata nya membuat dia ketakutan setengah mati
"heeeey toolong tolong bantu aku menyelamat kan pemuda itu"
suara orang paru baya itu sedikit tidak jelas
"ada apa pak bapak kenapa"
salah satu teman ari menghampiri
"iiitu disana ada hantu wanita maakan hiii"
suara nya terbatah batah
"bapak minum dulu nanti cerita yang bener"
ahmad menyodor kan segelas air
setelah meminum air dan bapak ibu merasa sedikit tenang akhir nya dia bisa bercerita dengan benar kejadian yang ia lihat tadi di danau
dari ujung kaki sampai ujung bapak itu menjelas kan semua yang ia ceritakan itu benar ada nya dia tidak bohong, empat teman ari akhir nya percaya dan setuju memeriksa ke danau
empat pemuda itu mencari cari di sekitar danu keberadaan ari tetapi tidak menemukan nya tetapi salah satu dari mereka menemukan bercak darah di batu besar di tepi danau
mereka menelusuri bercak darah ari yang menuju ke sebuah gubuk tua di tengah hutan, rahmat mengintip kedalam gubuk dia melihat gadis muda itu sedang berbicara dengan cermin
betapa terkejut nya dia mendengar cermin bisa berbicara dengan gadis cantik yang menjinjing kepala ari
Rahmat seketika terjatuh teman teman nya membantu berdiri dan bertaya kepada Rahmat apa yang ada di dalam sana.
Rahmat menyuruh mereka melihat sendiri semua menuruti perintah Rahmat melihat ke dalam gubuk
Udin sangat geram akan perbuatan Juminten dia mengajak teman teman nya untuk menghabisi wanita jelmaan setan yang telah membunuh teman karib nya
Udin dan Rahmat mengambil kayu dan mereka mendobrak pintu
Juminten sangat terkejut melihat teman teman ari mengetahui semua yang ia bicarakan dengan cermin setan
"kau bangga dengan kecantikan palsumu"
Udin berteriak sangat keras
"aa aku hanya"
"diam kau wanita setan rasakan ini"
Rahmat memukul kepala Juminten
Juminten pun tergeletak tak berdaya sesat kemudian Juminten bangkin dan tertawa sangat menyeram kan wajah ayu Juminten berubah seketika
mata dan hidung nya mengeluarkan darah dan belatung membuat semua teman teman ari ketakutan, Udin maju hendak memukul Juminten lagi tetapi tubub nya terhempas dangat jauh dari gubuk
meraka berlari menghampiri Udin yang tergeletak penuh luka di bagian tubuh nya
"bagaimana kita melenyapkan dia Din"
"entah lah aku tidak tau"
Udin meringis menahan sakit
"ayo cari cara yang membuat dia mati"
Rahmat celingukan mencari kayu besar
"tunggu kita gunakan perjaka kita"
"kalian ingat cerita bapak bapak tadi"
Udin bangun bangkit dari duduk nya
"Karman kau goda dia nanti aku yang akan membunuh nya"
"tapi Din aku takut dengan wajah nya itu"
"gak perlu kau melihat wajah nya itu"
"ba baik lah kalau gitu ayo temenin aku"
"kau Rahmat ambil cermin yang tadi dia pegang"
Karman pun berusaha merayu, Juminten melihat kepolosan tubuh Karman tergoda dan mendekati Karman.
Juminten pun melakukan perbuatan nya seperti biasa sebelum melahap senjata dia memuaskan nafsu bejad nya terlebih dulu setelah begitu lama dia mempermain kan Karman akhir nya dia menuju ke sebuah senjata idaman nya itu
hampir melahap senjata Karman Udin sangat sigap menusuk kepala Juminten dengan cermin yang selana ini dia puja puja.
jeritan Juminten menggema di hutan rintihan Juminten sangat mengerikan cermin yang tertancap di kepala nya musna seketika, Juminten pun berubah ke wujud aslinya semua mendekat menatap Juminten dengan wajah ibah
Juminten mengucap kan terimakasih dengan suaranya sedikit tidak terdengar Juminten meminta kepada para pemuda itu memakam kan nya dengan layak
dengan menghilang nya cermin setan itu membuat Desa Angin kembali tenang lagi tidak ada kericuan yang mengusik masyarakat
=================/============
Terimakasih yang sudah baca. dan dukung saya autor baru 😊😉