Malam itu suasana malam tampak terang karena bulan purnama yang ikut menyambut malam natal, meskipun begitu suasana nya tampak mencekam. Semua penghuni desa berkabut yang terletak ditengah hutan lebat tiba tiba menjadi sunyi, sepi dan seperti tidak ada orang. Hanya ada seorang gadis kecil yang meringkuk ketakutan dibawah meja sembari berharap sosok yang sedari tadi ditunggunya datang.
Tidak! Dara tidak menunggu kehadiran sinterklas ataupun santaclaus yang bahkan sepertinya tidak ada. Dara hanya menunggu sosok sang ayah yang tiba-tiba sudah menghilang saat ia bangun pagi tadi, Dara berharap ayahnya segera pulang untuk merayakan hari ulang tahunnya ke-9 tahun tepat pukul 00.00 seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Ayah, dimana kau?" Gumamnya lirih, "Apa ayah lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku? Apa ayah begitu repot karena aku? Atau, apa ayah meninggalkan ku disini sendirian?" Gumamnya dengan prasangka yang semakin buruk. "Tidak! ayah tidak akan melakukan itu!" ucapnya keras. Hingga gadis itu melamun untuk menunggu kehadiran sang ayah.
Ting ting ting
Tanpa disadari, jarum jam terus berputar dengan cepat. Dara yang mendengar bunyi lonceng jam nya itu semakin bergetar takut, jantungnya berdebar dengan kencang. Bunyi lonceng itu menandakan bahwa dalam hitungan menit ulangtahun beserta malam natal yang biasanya dirayakan semua masyarakat desa berkabut akan tiba.
"Ayah!" Panggilnya keras, berharap sosok sang ayah telah pulang. Namun nihil, hanya ada kesunyian. Bahkan angin yang berhembus mengisi rumah itu membuat bulu kuduk Dara terus saja merinding. Perlahan air matanya mulai mengalir, "Kenapa ayah tidak datang? ayah selalu janji akan menghapus air mataku saat aku menangis! ayah juga selalu janji untuk merayakan ulang tahunku selamanya! kenapa ayah menghilang! bukankah ayah selalu bilang tidak akan pernah meninggalkan ku sendiri!" Teriaknya histeris. "Kenapa sekarang ayah melupakan semua itu!" Jeritnya lagi
Tok tok tok
"Yo Ho Ho Ho" Tawanya yang khas seorang santa
"Santaclaus datang!" Teriak seseorang dari luar yang mengaku sebagai santaclaus.
Meskipun takut, Dara tetap keluar dari persembunyian. Bukankah itu santaclas? teman-temannya selalu mengatakan jika santaclaus itu tidak ada, hanya ada sinterklas yang tidak akan mungkin datang ke desa ditengah hutan lebat ini. jika begitu, bukankah Dara bisa meminta sesuatu?
Dengan langkah kaki gemetar, Dara mulai mendekati pintu. Rumahnya masih dalam keadaan gelap, perlahan tangan Dara terayun untuk membuka pintu rumahnya.
Sosok pria dengan janggut putih tebal yang khas dengan seorang santaclaus ada di depan rumahnya dengan wajah yang tersenyum lebar. Dara yang melihat senyuman lebar itupun ikut tersenyum, "Apa aku bisa meminta hadiahku sendiri?" Tanya Dara yang ketakutannya telah hilang ntah kemana.
Santaclaus mengangguk, "Yo Ho Ho Ho. Tentu saja! kau adalah gadis yang paling istimewa pada malam ini" Ujarnya
"Bisakah kau panggilkan ayahku? sedari tadi aku terus menunggunya datang, ayah tidak pernah pergi sebelum pamit padaku" ucap gadis itu dengan penuh harap. Tatapan polos yang membuat sang santa tertawa lebar.
"Yo Ho Ho Ho"
"Apa hanya itu yang kau inginkan gadis kecil?"
Dara mengangguk, "Pada saat ini seharusnya ayah dan aku akan merayakan ulangtahun ku yang genap berusia 9 tahun, tapi sekarang ayah bahkan tidak ada"
"Aku yang akan merayakan ulangtahun mu dengan caraku, Yo Ho Ho Ho"
Perlahan tawa itu terdengar jadi menyeramkan untuk Dara, tapi gadis itu berusaha biasa saja. Mungkin memang seperti itu.
"Yo Ho Ho Ho, Aku telah menyiapkan hadiah besar untukmu gadis kecil, hadiah teristimewa untuk malam saat ini".
Sebuah kotak yang besarnya hampir menyamai besar rumah Dara tiba tiba berada disampingnya, mata gadis itu berbinar. Namun binar itu perlahan meredup, "Aku tidak butuh itu, aku hanya ingin ayah!" Teriaknya dan kembali menangis.
"Yo Ho Ho Ho, bukalah kotak itu maka kau akan menemukan sang ayahmu. Dan aku akan melaksanakan tugasku!" Perintahnya.
Dara semakin menjerit-jerit keras kala sosok santaclaus itu mengeluarkan sebilah pisau panjang. "Bukalah dengan ini!" Titahnya.
"Aku pikir itu untuk membunuhku" Ucap Dara polos, menghapus air mata yang dipikirnya sia-sia.
"Yo Ho Ho Ho, Tentu saja tidak, daripada memakai pisau aku ada cara lain untuk itu" Ucapnya, Dara tak mendengarnya lagi. Gadis itu sekarang telah berada diatas kotak besar itu dengan memanjat tangga yang tersedia.
Dengan senyum lebar, mata yang berbinar cerah. Dan sinar rembulan yang begitu indah menjadi saksi Dara menusukkan pisau panjang itu ke kotak.
Darah segar langsung muncrat hingga mengenai wajah Dara, tubuh Dara menegang. Dadanya bergemuruh hebat, sedetik kemudian tubuhnya langsung bergetar dan mulai menuruni tangga dengan kalut. Berjalan mendekati sang santa yang menatapnya dengan senyum menyeramkan.
"Kenapa tidak melihat nya secara jelas?" Melihat Dara yang kembali menangis histeris dihadapannya sang santa kembali tertawa. "Yo Ho Ho Ho. Baiklah, aku yang akan membantumu"
Dengan tiba-tiba sang santai merusak habis kotak yang dihias sedemikian rupa itu, darah langsung mangalir seiring tusukan dari pisau itu.
"Ayah!" Jerit Dara kencang, tubuh gadis itu bergetar hebat kala melihat sosok ayah yang sedari tadi ditunggunya telah tak bernyawa. Bisa dilihatnya juga bagaimana bentuk mengerikan para masyarakat desa nya. Terlebih ayahnya yang tubuh nya telah tercabik habis karena kuku sang santa.
"Apa maumu sebenarnya! Kenapa kau menghabisi semua orang disini!" Teriak Dara gemetar.
"Kematianmu!"
"Yo Ho Ho Ho"
"Tidak! Ayah tolong aku!" teriak Dara dan berlari kencang ditengah kegelapan malam itu, tubuhnya bergetar dengan air mata yang mengalir deras. jantungnya berpacu semakin cepat.
Hingga sebuah kuku panjang dan sangat lancip tiba-tiba menusuk tubuhnya dari belakang, Dara berhenti berlari. Menatap tusukan kuku panjang yang tembus ke perutnya itu. Darah segar mengalir deras dari perutnya, perlahan mata gadis itu tertutup rapat. Tubuh nya terjatuh lemas tak berdaya ketanah. Sekali lagi tusukan itu menembus tubuh Dara, kali ini menancap tepat di jantungnya hingga gadis itu benar benar mati. Desa berkabut menjadi saksi bagaimana sang santa yang paling disenangi anak anak menghabisi seluruh penghuni desa berkabut.
"Inilah akhirnya! Tidak ada yang bisa lepas dari sang santa!"
"Yo Ho Ho Ho"
Tawa menyeramkan sang santa menjadi akhir suara yang mengisi keheningan desa berkabut tepat pada malam natal.
Terakhir sang santa memasukkan Dara kedalam kotak yang kembali terbungkus rapi, menutup kotak itu dan memasukkannya kedalam bungkusan kain besar lalu terbang bersama kesembilan rusa yang sama menyeramkan sepertinya.