Tanduknya mencuat dari selah rambut atau bulu yang teramat lebat, sepasang mata hitam tanpa pupil, dan tentu taring yang mengerikan. Jemari tangannya begitu panjang namun kuat dengan kuku yang tajam menarik Mina hanya dengan satu tangan.
Ia meronta, memekik dengan penuh kengerian tapi apa daya semua sudah terjadi. Ia hanya bisa pasrah kemana pun monster itu membawanya meski hati kecilnya ingin sekali pulang ke rumah menemui kedua anak laki-laki nya Morgan dan Nicko.
Ia ingin sekali di malam natal dapat tertawa bersama mereka sambil menikmati coklat panas, namun itu hanya sebuah angan belaka. Salahnya yang sudah tak mengenal keajaiban, mau bagaimana lagi? setelah ia di tinggalkan begitu saja dengan perut besar yang masih berisi janin Morgan dan Nicko yang teramat polos.
Ia tak mengenal cinta, tak lagi peduli pada sesuatu yang di sebut keajaiban. Ia hanya bekerja berharap dengan itu bisa menghidupi kedua puteranya meski dengan begitu ada banyak waktu yang ia hilangkan hingga Nicko berubah menjadi arogan dan nakal.
Untung saja Morgan kecil sangat penurut dan baik, dengan sabar ia menunggu kepulangan ibunya Mina di depan jendela. wajah khawatirnya terus memandang badai salju yang menghalangi pemandangan, ia percaya Mina akan pulang se-percayanya ia pada pria gendut dengan jenggot putih yang memberi hadiah kepada semua anak di hari natal.
Meski kenyataannya selama apa pun ia menunggu ibunya tak akan pernah kembali lagi, Nicko yang terus menggerutu karena gelap akibat badai yang mengganggu aliran listrik menjadi lebih jengkel melihat adiknya Morgan.
"Dari pada berdiam saja bukankah lebih bagus jika kau bantu aku ambilkan beberapa kayu" ucapnya.
"Nicko, kenapa ibu belum pulang?"
"Tidakkah kau lihat badai di luar sana? ibu pasti sedang duduk berlindung di suatu tempat"
"Kau benar, setelah badai ini berhenti ibu pasti pulang kan?" tanya Morgan berharap.
Nicko hanya menggelengkan kepala dengan kesal, Morgan yang masih cemas mencoba berfikir positif dan pergi ke gudang dimana mereka menyimpan kayu bakar. Tangan mungilnya meraih satu demi satu kayu bakar yang lebih besar dari genggaman tangannya.
Aaaaaarrrrhhhhhhhh teriak seseorang mengagetkan Morgan, tanpa pikir panjang ia segera mengambil seribu langkah memburu perapian tempat Nicko berada, alangkah kagetnya ia melihat Nicko yang di angkat tinggi oleh sesosok monster yang mengerikan.
"Mor-gan tolong aku... " lirih Nicko.
Kepala monster itu berputar hingga sepasang mata hitam yang dingin menatap dirinya, kengerian menjalar dari bulu kuduk nya yang berdiri hingga ke seluruh tubuh. Seolah ada sesuatu yang menahan kakinya Morgan tak mampu melangkah bahkan ia tak mampu bicara sepatah kata pun.
Monster itu mengangkat Nicko lebih tinggi lagi dan melemparkannya tepat ke arah Morgan, mereka terhempas hingga jatuh dan menabrak lemari. Suara rintihan Nicko menyadarkan Morgan dengan segera ia bangkit dan membantu Nicko tanpa pikir panjang mereka berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar.
Morgan mengunci pintu dengan cepat dan mendorong kursi hingga tepat di depan pintu sebagai pengganjal dan mengajak Nicko sembunyi di dalam lemari.
"Apa kau baik-baik saja?" bisik Morgan.
"Yah aku sudah tak apa"
"Nicko, yang tadi itu apa?"
"Aku juga tidak tahu, dia tiba-tiba datang dan mencekik ku"
Morgan hendak bicara lagi tapi sebuah suara derakan menghentikan nya, mata mereka waspada menatap ruang kamar dari celah lemari. Begitu sunyi dan hampa, tapi mereka tahu mereka tidaklah sendiri.
Suara derakan itu semakin jelas terdengar dan tepat menuju kamar dimana mereka sembunyi, baik Morgan maupun Nicko tak ada yang berani bergerak bahkan bernafas. Sebuah bayangan hitam besar nampak dari celah pintu, tepat berdiri di depan pintu kamar namun bayangan itu berjalan berlalu.
Detik kemudian mereka dapat bernafas dengan lega meski kemudian sebuah tangan merayap di bahu, tangan yang besar, kuat dengan kuku yang tajam. Morgan dan Nicko saling menatap dengan keringat dingin dan Aaaaaarrrrrhhhhhhh.
Mereka menghambur keluar dari lemari saat wajah mengerikan ia tepat di depan mata, sesosok tubuh besar dengan rantai di tangan kanan ikut keluar dari lemari. Dengan sigap Nicko mendobrak pintu dengan kursi hingga daun pintu rusak.
Tangannya menggenggam erat Morgan dan mengajaknya kabur, kaki mereka berlari secepat yang mereka bisa menuju dapur. Nicko mengambil pisau besar dan menyuruh Morgan untuk merunduk di balik meja besar.
Saat di rasa cukup aman ia duduk menemani Morgan yang tengah terisak, entah mengapa ia merasa bersalah pada adiknya meski ia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Kuatkan dirimu, kau adalah pria kau tidak boleh cengeng" ucap Nicko pelan.
"Harusnya ini adalah Natal yang indah, hujan salju yang putih, pohon natal indah dengan semua hiasan dan bintang terang di puncaknya juga kado kado dari santa claus di bawahnya" ujar Morgan masih terisak.
Kini Nicko sadar, Morgan tidak pernah merayakan hari Natal dengan bahagia. Selama ini dia selalu sendiri dengan harapan dan do'a nya sendiri, sedangkan dia selalu menggerutu dan membuat onar dimana pun tubuhnya berada, bahkan tahun lalu dia di kurung di kantor polisi semalam karena ketahuan mencuri.
Karena Nicko masih di bawah umur ia hanya di tegur dan di tahan semalam saja, tapi tentu itu adalah hari berat bagi Morgan. Adiknya terlalu polos untuk mengetahui apa yang terjadi pada keluarga kecilnya.
"Dengar bung, aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi jika selamat aku berjanji akan menjadi kakak yang baik untukmu, tidak Morgan. Bahkan saat ini pun aku akan melindungi mu dari monster itu" janji Nicko.
"Bagaimana cara mu melindungi ku? kau bahkan tidak pernah ada untuk ku?" pertanyaan Morgan cukup memukul hati Nicko hingga sakit, dan ia sadar ucapan itu benar adanya.
"Aku tahu, karena itu saat ini saat kita hanya berdua dan saat kita benar-benar dalam masalah aku tidak akan meninggalkan mu, aku bukanlah kakak yang pantas kau banggakan tapi aku adalah kakak yang harus melindungimu, percayalah sebrengsek apa pun aku tapi aku tidak akan meninggalkanku saat nyawamu dalam bahaya" ujar Nicko bersungguh-sungguh.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kita harus mencari bantuan"
"Kemana? listrik mati dan kita tidak bisa memanggil polisi, lagi pula di luar masih badai"
"Kita coba cari bantuan ke tetangga" jawab Nicko.
Dengan satu anggukan Morgan mulai mengikuti langkah Nicko secara perlahan, melalui pintu belakang mereka berlari menerjang badai masuk ke halaman rumah tetangga mereka dan alangkah kagetnya mereka saat menemukan rumah tetangga mereka hancur berantakan.
Saling bertanya-tanya, Morgan dan Nicko mengendap-ngendap masuk kedalam rumah itu yang di dalam nya sangat berantakan, tanpa mereka sadari sepasang mata tengah menatap dengan jelas mengikuti gerak gerik mereka hingga satu rantai panjang terulur dan mengikat sebelah kaki Nicko lalu menariknya dengan cepat.
"Aaaarrrrrhhhhh Morgan" teriak Nicko memanggil.
Morgan segera mengulurkan tangan hendak menolong tapi sesuatu yang menarik Nicko itu sangat cepat hingga Nicko hilang dari pandangannya, entah kemana rantai itu menarik Nicko karena Morgan yakin ia mengikuti arah yang benar tapi ujung langkahnya adalah dinding.
Kini ia hanya sendiri, di tempat yang menyeramkan. Air mata jatuh mengalir di pipinya Morgan mulai terisak, kaki nya yang pendek menekuk tunduk dengan penuh kesedihan dan ketakutan.
"Santa.... mengapa ini harus terjadi, kenapa natal ku seperti ini? aku hanya ingin berkumpul bersama keluarga ku" ujar Morgan di tengah isakan tangisnya.
Sebuah suara derakan jelas terdengar di telinganya, dalam kesedihan yang mendalam ia mampu waspada dan menatap sesosok monster berdiri tepat di hadapannya, tak ada lagi rasa takut, Morgan telah pasrah.
Monster itu mengeluarkan suara erangan yang mengerikan tapi Morgan tetap diam di tempat, ia bisa melihat wajah monster itu yang menyerupai kambing dengan tanduk di kepalanya namun dengan badan besar dan tegap, jemarinya yang kuat berkuku tajam menggenggam rantai panjang.
"Siapa kau?" tanya Morgan pelan yang telah berhenti menangis.
"KRAMPUS" jawabnya.
Sedetik kemudian rantai itu terulur membelenggu Morgan, menariknya dan hilang bagai asap.
* * *
"Morgan Morgan" panggil seseorang.
Matanya masih terasa berat namun karena panggilan itu Morgan berusaha untuk bangun, butuh waktu beberapa menit agar ia bisa bangun dan melihat dengan jelas.
"Bangun tukang tidur, ini adalah Natal" ucap Nicko yang masih mengenakan piama tidur.
Di tariknya tangan Morgan dan mereka berjalan keluar kamar menuju perapian dimana pohon natal berdiri tegak dengan ornamen yang cantik.
"Halo anak-anak, selamat hari natal" ujar Mina riang menyambut kedua puteranya.
"Ibu... " panggil Morgan pelan.
"Kalian siap?" tanya Mina.
"Ya ya aku siap" jawab Nicko antusias.
"Siap untuk apa?" tanya Morgan kebingungan.
Mina dan Nicko menatap Morgan yang kebingungan dengan heran.
"Tentu saja siap untuk ini" ucap Mina.
Ia bergeser ke samping hingga mereka bisa melihat tumpukan kado yang banyak, Nicko segera berlari dan mengambil kado paling besar tapi tidak dengan Morgan.
Ia menatap ke sekeliling, mencoba mencerna apa yang tengah terjadi padanya, mencari sesuatu yang hilang. Hingga matanya tertuju pada boneka salju di luar rumahnya, dari jendela ia bisa melihat sesosok yang sejak tadi ia cari.
Sosok itu berdiri tepat di balik boneka salju yang besar, meski jarak mereka jauh tapi Morgan dapat mendengar sosok itu bicara.
"Keajaiban hanya untuk mereka yang percaya, dan anak-anak nakal harus membayar harga demi kado yang mereka inginkan"
"Krampus, dia mengawasi" ujar Morgan.