Masih teringat jelas dalam ingatan ku, satu kejadian di malam Natal yang hingga kini masih membekas seakan tak pernah hilang.
Flashback
" Dira apakah malam ini kamu bisa menemani ku ??"
" Memang kemana ke dua orang tua mu Des "
" Entahlah sudah dua hari ini aku tidak melihat nya "
" Apaa !! " Dira terkejut mendengar perkataan Destri
" Iya, Orang tua ku tak memberi kabar kemana mereka pergi sungguh aneh dan tak biasa bagi ku "
" Kasihan sekali kau Des padahal malam ini adalah malam Natal di mana sebagian orang yang satu keyakinan dengan mu merayakan nya "
" Sudahlah tidak penting buat ku, toh setiap Tahun nya kami sekeluarga tak pernah merayakan malam Natal dengan mewah, papa hanya membeli satu pohon Natal yang sudah dilengkapi dengan pernak-pernik nya sedangkan Mama hanya membuat kue dan beberapa menu untuk kami menghidangkan nya "
" Des enggak usah bersedih ya, kan masih ada aku sahabat mu, Aku siap menemani mu "
Destri tersenyum dengan manis dihadapan Dira, Namun di sisi lain tersimpan niat jahat untuk mencelakakan sahabat nya itu.
Disore hari menjelang malam Dira membantu Destri menyiapkan perlengkapan untuk malam Natal nanti. walau berbeda Keyakinan dengan nya Dira sebagai sahabat menghormati apa yang di Yakini oleh Destri, padahal mereka baru saja mengenal selama 6 bulan tapi persahabatan mereka tak pernah di isi dengan sebuah pertengkaran.
Tapi sayang Dira salah memilih teman, dia tidak tahu jika Destri memiliki kepribadian ganda di satu sisi dia mampu menunjukkan hal-hal baik namun disisi lain dia seperti Spikopat yang tak memiliki hati nurani.
Hari sudah menjelang malam, mereka telah siap menghidangkan makanan yang tersedia di Meja.
" Dir silahkan kamu makan duluan ya, aku ingin mengambil makanan di Kulkas sebagai pencuci mulut malam ini "
" Baiklah Des "
Na'as sekali bagi Dira ketika hendak melahap makanan tiba-tiba lampu rumah mati total, Dira tidak bisa berkutik hanya diam saja di tempat. Dira berusaha mengambil Ponsel di dalam saku celana nya, lalu menyalakan senter melalui ponsel dan berteriak memanggil nama Destri.
" Des...Destri kamu di mana?? "
" Iya aku di sini dan segera kembali "
Dengan membawa Sepiring puding Destri kembali menemui Dira dengan berpura-pura berjalan, sambil memegang dinding rumah nya sebagai petunjuk jalan. Dira tidak curiga jika lampu mati di rumah sahabat nya adalah awal dari rencana Destri untuk menghabisi nyawa nya.
" Dir bolehkah aku meminta tolong pada mu?? "
" Iya boleh, tolong ambilkan Lilin di Meja belajar ku "
" Di Kamar mu Des "
" Iya, di kamar ku "
" Baiklah "
Tanpa curiga Dira menurut saja, dia bangun dari duduk nya dan berjalan menuju kamar Destri menggunakan senter yang menyala dari posel nya tersebut.
Baru separuh Jalan dari belakang Destri menghantam tepat di belakang kepala Dira dengan sebatang bambu yang sengaja telah dia siapkan, hingga Dira jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.
Setengah Jam kemudian Dira mencoba membuka mata nya perlahan sambil merasakan sakit di kepala yang begitu luar biasa. dia terkejut ketika sadar tangan dan kaki nya telah terikat bahkan mulut nya pun tertutup oleh lakban.
Dia menangis, meronta agar ada yang mau melepas ikatan nya, tapi sayang tidak ada satu pun yang mendengarkan, kebetulan sekali tetangga kanan dan kiri sebelah rumah Destri telah pergi, kebanyakan dari mereka menghabiskan masa libur di kampung halaman nya.
Malam kian mencekam terasa sepi bagai di Area makam saja, Tiba-tiba terdengar suara Orang melangkah mendekati ruang penyekapan Dira, Orang itu lalu membuka pintu kamar dan menutup nya kembali.
Dira terkejut dan shok melihat Destri berada di hadapan nya dengan tertawa lalu menangis.
" Akhir nya kau masuk perangkap ku Dira "
" apa maksud perkataan mu Des "
" Bodoh nya diri mu tidak sadar jika kamu telah mengantarkan nyawa mu sendiri "
Dira semakin meronta dan masih dalam keadaan menangis seolah ingin berbicara pada Destri mengapa dia tega melakukan ini, tapi sayang mulut nya tertutup oleh lakban
" Kamu tahu Dira aku benci pada mu, karena orang tua mu begitu menyayangi mu, Aku iri setiap kali main ke rumah mu melihat adegan-adegan kasih sayang mereka pada mu, hingga aku muak dan ingin menghabisi kalian "
Dira berusaha ingin membebaskan diri nya tapi ikatan itu sangat kuat hingga tak mampu membuat nya terbebas. kini yang dia bisa lakukan hanya pasrah pada Tuhan jika harus mati di tangan sahabat nya itu.
Destri mulai menghampiri Dira dan membuka paksa lakban yang ada di mulut nya hingga panas dan sakit dia rasakan.
Dira berteriak sambil mencoba menenangkan hati Destri " Cukup Destri jangan kamu lakukan itu, aku tulus menyayangi mu bahkan aku sudah menganggapmu sebagai bagian dari keluarga ku "
" Bohong kamu itu bohong kasih sayang mu tidak tulus sama seperti kedua orang tua ku, yang setiap hari hanya sibuk dengan urusan nya masing-masing , sampai aku terlantar dan merasa di campakkan oleh mereka "
" Kamu salah Destri tidak mungkin orang tua mu seperti itu mungkin mereka sibuk semata-mata untuk masa depan mu nanti "
" Persetan dengan mereka, yang mereka tahu hanya menuntut ku untuk menjadi anak baik di satu sisi mereka tidak sadar jika perlakuan mereka selama ini sudah meyakiti hati dan pikiran ku "
Setelah perdebatan terjadi, Destri membalikkan punggung nya dan berjalan menuju lemari, lalu dia membuka paksa lemari yang berada tepat di depan Dira. Dira terkejut melihat orang tua destri berada di dalam bersimbah darah.
" Oh Tuhan tega sekali kamu lakukan itu Des "
" Diam kamu "
Dira tidak menyangka jika Destri berani melakukan itu kepada orang tua nya sendiri. Entah apa yang sedang merasukinya hingga dia begitu tega membunuh ke dua orang tua nya dengan alasan yang tak bisa terpikir oleh nalar.
" Sungguh kejam kamu Des tak punya hati nurani, Binatang saja masih punya rasa iba, sadarlah Des jiwa mu telah dirasuki iblis "
" Diam kamu jangan berkhotbah pada ku kini tinggal tunggu giliran mu hahahaha "
Destri keluar dari kamar sambil tertawa mungkin dia hendak mengambil sesuatu untuk menghabisi nyawa Dira. Ketika Destri pergi, Dira berusaha melepaskan tali yang mengikat nya namun tetap saja tidak bisa, dira masih berusaha dengan sekuat tenaga menggerakkan kursi yang terikat bersama nya.
Sungguh Tuhan baik pada nya, tanpa sengaja dia melihat ada pecahan kaca dari sebuah bupet penuh darah yang mungkin bekas benturan kepala seseorang , karena terlihat jelas noda darah masih tersisa di sana.
Dengan penuh semangat akhir nya dira berhasil mengambil kaca itu dan berusaha memutuskan tali yang mengikat nya , tak lama tali terputus walau ada beberapa sayatan yang tak sengaja mengenai tangan nya.
Ketika ingin membuka ikatan di kaki nya tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuju kamar. dengan segera Dira berusaha kembali di posisi semula dan berpura-pura jika tangan nya masih terikat.
Destri masuk dengan membawa pisau dapur tanpa aba-aba dia langsung menusuk dada Dira namun dengan tangan kosong Dira berusaha menangkis nya tapi sayang tenaga Destri lebih kuat dan pisau itu justru melukai pergelangan tangan kanan nya.
Mereka pun bertikai dengan hebat hingga membuat Destri terjatuh dan kepala nya membentur pinggir ranjang besi yang sudah tak terpakai lagi.
Destri pun pingsan tak sadarkan diri, dengan secepat mungkin Dira melepas ikatan kaki nya, dan mengikat ke dua tangan Destri beserta kaki nya dengan kuat, lalu segera mencari ponsel untuk menelepon keluarga nya, setelah tersambung oleh mama nya dira menjelaskan kronologi kejadian dan meminta keluarga nya agar segera datang membawa Polisi.
Selang beberapa menit orang tua Dira datang dan memeluk Dira, mereka berusaha menenangkan Dira yang terlihat masih dalam keadaan shok. tak lama polisi pun datang lalu menciduk Destri dengan bukti-bukti yang ada.
Bukannya malah takut Destri justru tertawa seperti orang gila.
Malam itu adalah malam terakhir bagi Dira melihat sahabat nya, dan mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengan nya, karena Destri dijatuhi hukuman seumur hidup.
Sungguh na'as di malam Natal yang membuat sebagian orang bahagia merayakan nya justru menjadi malam kelam dan malam terakhir pertemuan mereka.
Tamat
Buat Para Pembaca jangan lupa like dan koment ya, terima kasih nice to meet you all.
Penyair Duka