Semburat Jingga menebar keseluruh penjuru langit, terlihat memesona sejauh mata memandang.
Tampak seorang gadis remaja yang tengah memandang iba pada adiknya.
"Sudahlah kau tak perlu menangis" ucap Aline lembut menenangkan Grace yang mulai menangis tersedu-sedu.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? apa kau lupa besok hari natal dan kita mempunyai apa pun untuk merayakannya" seru Grace sambil mengelap ingusnya dengan punggung tangannya.
Aline memghembuskan nafas, menyadari kemiskinan yang diwarisi oleh orang tuanya.
"Kita memang tidak memiliki apa-apa, namun berdoalah semoga alam masih berbaik hati pada kita"
"Apa maksudmu?" tanya Grace menatap tidak mengerti pada Aline.
"Aku akan pergi ke hutan mencari pohon natal, semoga saja ada salah satu pohon yang bagus untuk dibawa pulang" papar Aline seraya bangkit dari duduknya.
Grace mengangguk menyetujui ide Aline,
"Kau memang cerdas Aline" puji Grace yang kini sudah tersenyum ceria.
"Tapi...." Grace menggantungkan kalimatnya, mimik wajahnya berubah sendu.
"Tapi apa?"
"Apa mungkin masih ada pohon yang tumbuh di musim kemarau seperti ini?"
Aline mengusap pucuk kepala Grace, meraih dagunya lalu mendongakan kepalanya.
"Berdoa saja agar keajaiban mau menghampiri kita" ucap Aline menyakinkan Grace, meski dirinya sendiri tidak yakin. Rasanya mustahil sekali masih menemukan pohon disaat kemarau panjang tengah melanda hebat. Sudah tiga bulan hujan tidak turun mengguyur desa Aline, membuat tanaman mati meranggas karena layu.
"Semoga saja" Grace terpaksa memperlihatkan senyumnya melihat keyakinan dimata Aline.
Aline mengecup ubun-ubun Grace dengan penuh kasih sayang, Ia bertekad akan membawakan pohon natal untuk Grace.
Grace melambaikan tangannya melepas kepergian Aline.
Perlahan tapi pasti, Aline melangakah pergi menuju hutan dengan golok yang terpegang erat ditanggang kanannya. Dalam hati Ia bersyukur meski hidup tanpa materi yang melimpah namun Tuhan dengan adil memberinya otak yanug cerdas diatas rata-rata sehingga bisa membahagiakan Grace dengan caranya yang sederhana melalai ke kreatifan pikirannya.
Matahari hampir tenggelam saat Aline sampai dihutan. Ia melangkah tanpa ragu memasuki hutan tersebut, menyusuri setiap jengkal hutan belantara mencari pohon natal.
"Masih adakah bahagia untuk keluarga kecilku malam ini Tuhan?" tanya Aline pada dirinya sendiri, tubuhnya bergetar menahan tangis.
Sudah berjam-berjam Ia melangkah namun hasilnya nihil. Lututnya kini terasa pegal seperti hendak lepas.
"Aku hanya ingin pohon natal" ucap Aline lirih disela isak tangisnya.
"Po..hon...na..tal" ulang Aline terbata penuh harap.
"mengapa Dewi Fortuna enggan sekali menghampiri ku?" Aline mendesah kecewa.
"Apa karena aku miskin?" teriak Aline putus asa. Tidah hanya ekonominya yang sulit, ternyata harapannya pun sulit untuk bisa menjadi kenyataan.
Aline melangkah lesu kembali ke arah pintu masuk hutan. Tepat saat diambang pitnu masuk, matahari tenggelam sempurna.
Aline mengerjap-ngerjapkan matanya, dikeremangan malam yang baru tiba Ia melihat pohon natal yang tumbuh rindang.
Aline mengucek matanya berungkali memastikan.
"Waaah, ini benar-benar pohon yang aku cari" Aline berseru senang, lelah nya membuahkan hasil.
"Bagaimana bisa aku tidak melihatnya tadi? sekarang tulangku terasa remuk karena cerobohan ku tidak mengamati sekitar dengan seksama"
Aline memandang ragu hendak menebang pohon itu yang terasa aneh sekali, pohon itu seperti disihir sehingga mendadak muncul. Ada kengerian tersendiri saat melihat dedaunan rimbunnya.
Aline menoleh ke samping kiri kanannya, ia merasa ada yang memperhatikan dirinya. Tetap saat Ia kembali menghadap lurus samar samar Ia melihat dua bola mata dari dahan pohon didepannya.
Aline tersentak kaget, kemudian melangkah maju mendekat maju, Ia harus membawa pohon natal itu pulang. Aline tidak ingin mengecewakan Grace. Taanpa berpikir panjang lagi Aline mengayunkan goloknya mulai menebang pohon itu. Hanya dalam beberapa kali tebasan pohon itu alhirnya tumbang.
"Beraninya kau menghancurkan rumah ku" suara seseorang dengan tegas berdengung di kegelapan malam.
Bulu kuduk Aline berdiri, Aline segera memanggul pohon itu, membawa pulang mengabaikan suara yang entah berasal dari mana.
Aline mengambil langkah seribu, keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ketakutan menerpa dirinya saat sekelibat sosok dengan rambut panjang terurai melayang dikejauhan sana.
Angan Aline menjadi tak karuan, bayangan sosok menyeramkan itu terpatri jelas dipelupuk matanya.
"Itu pasti cuma halusinasi ku" ucap Aline memberikan keberanian pada dirinya sendiri.
Sesampainya dirumah Aline disambut bahagia oleh Grace, senyuman tak pernah lepas dari bibirnya.
Mereka berdua lantas meletakan pohon itu diruang tamu.
Meski tanpa hiasan apa pun, mereka berdua tetap. bersyukur. Pukul delapan malam, keduanya memutuskan beranjak tidur ditemani bulan purnama yang bulat sempurna.
Tepat pukul 00.00
Cahaya bulan purnama perlahan memudar, bintang gemintang entah raib kemana. Awan mendung bergelayut manja pada langit. Kesiur angin berhembus menyeruak masuk dalam bilik kamar Aline. Hawa dingin menusuk tulang sumsum Aline, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya.
Aline mengerutkan keningnya saat mendengar pintu rumahnya diketuk dari luar. Ia bergegas bangkit.
Kraat
Tersengar suara deritan halus pintu yang terbuka.
"Santa Claus?" pekik Aline girang saat melihat seseorang dengan pakaian serba merah berdiri tegak didepannya.
Seseorang itu memangangguk, lantas memberikan kotak kecil berwarna putih pada Aline.
"Terima kasih" Aline dengan senang hati menerima kotak itu.
Seseorang itu lagi-lagi menagngguk lalu melenggang pergi. Aline tak menghiraukan kepergiannya, Ia terlalu gembira dengan hadiah natalnya.
Aline segera kembali menutup pintu rumahnya tak sabar membuka kotak itu.
"Bola? untuk apa santa claus memberikan ku benda ini?" Aline mengerutkan dahinya, berpikir maksud tersekubung dari bola tersebut.
Perlahan bola itu mengembang disertai cahaya api. Hawa panas menguar memenuhi ruang tamu Aline.
"Arggg..panas" Aline menjerit kepanasan saat bola api itu menghantam tubuhnya. Ia berguling kesana kemari memadamkan api yang terus berkobar ditubuhnya.
"Kebakaran....kebakaran...." Suara teriakan panik warga disertai kentongan bercampur aduk mendaji satu dalam pekatnya malam.
Aline tak mampu lagi menahan perih luka bakar ditubuhnya, perlahan matanya mulai terpejam seiring hembusan nafasnya yang pendek-pendek.
Saat matanya terpejam sempurna Aline merasa seperti terbawa pusaran gelombang yang berputar cepat di udara.
Brukkk
Aline terpelanting jauh di atas tanah. Tubuhnya lemas tak berdaya. Di sela matanya yang terbuka separuh, aline melihat sebuah istana megah.
Aline terus mengawati istana itu, matanya seolah mampu menembus setiap pembatas bangunan istana. Ia dengan jelas dapat melihat sekumpulan makhluk dengan wajah mengerikan beraktifitas layaknya manusia. Senda gurau terus mengalir dari bibir mereka.
Namun tiba-tiba istana itu bergetar, getarannya semakin terasa sehingga meluluh lantakan bangunan istahana.
Aline termangu, melihat benda keras yang menghantam pondasi bangunan itu. Sebuah benda logam yang diayunkan dengan sengaja seseorang.
Tanpa terasa Mata Aline berkaca kaca saat siapa yang tega menghancurkan istana mewah itu. Dia adalah dirinya sendiri! Isntana diatas pucuk pohon natal itu hancur sejalan dengan pohon yang ia tebang roboh diatas tanah.
Aline terisak dalam diam, tidak ada lagi suara tawa yang terdengar kecuali tangisan pilu dari mahluk menyeramkan itu. Aline merasa menyesal, karena ambisinya tidak hanya menghancurkan dirinya sendiri namun juga makhluk-makhluk lain.