Desiran angin menerpa dedaunan yang sesekali menjatuhkan beberapa helai daun kering dari tangkainya. Terombang-ambing mengikuti arah angin. Burung-burung tak henti-hentinya berkicau indah menemani langkahnya. Keadaan yang begitu sunyi dan hening membuat suaranya menggema setiap kali berucap. Langkahnya terhenti beberapa kali mencari jalan yang mudah dilalui.. Sesekali berhenti, duduk melepas lelah di bawah rindangnya pepohonan dengan akar besar yang tumbuh sampai terlihat dari tanah. Matahari sudah berada pada titik tertingginya. Cahaya sang surya menyinari penuh seluruh kehidupan di bawahnya. Namun, teriknya matahari tidak sampai menyentuh tanah yang berlumpur maupun beberapa tumbuhan kecil di sekelilingnya berteduh.
Jiwanya ada disetiap perjalannya. Apapun yang dilihatnya di sana adalah keindahan Tuhan Sang Maha Pencipta dunia. Sempurna adalah kata yang wajib dia ucapkan pada setiap perjalanannya. Hidupnya seperti angin dan air. Ada saatnya dimana dia harus terpontang-panting menjalani kehidupan yang begitu rumit dan ada pula saat dimana dia hanya mengalir sesuai keinginan hatinya seperti air sungai. Akalnya bebas, hanya bebas dan apa adanya. Sesulit apapun rintangan yang ia hadapi sekalipun, tetap saja tekatnya mendorong dirinya untuk melakukan ketidakmungkinan itu.
Meskipun udara semakin dingin menusuk tubuhnya, semangatnya tetap panas membara didalam dirinya. Dari kejauhan sorakan semangat mengema ditelinganya. Dan dari kejauhan itu pula cahaya lampu senter telihat meski samar-samar. Dia mempercepat langkahnya, semakin cepat dan semakin cepat. Berhasil, dia berhasil melewati rintangan yang ada meski butuh waktu cukup lama. Bahagia hingga air matanya mengalir dipipi. Tak larut dalam kegembiraanya dengan cepat ia mengusap air matanya dan mendatangi kawan-kawanya yang telah menunggunya lama. Petualangan hari itu telah terselesaikan dengan baik. Dia dan seluruh rombongan beranjak keluar dari hutan bersama dan pulang ke rumah mereka masing-masing.
“Ini! berikan pada orang yang kamu mau untuk menghadiri acaramu besok” ucap kawannya dengan penuh harap. sambil mengulurkan beberapa lembar undangan ditangan kanannya sedangkan tangan kanannya memegangi sepeda.
“Untukku? Tapi, siapa yang akan aku undang?” Tuturnya bingung dengan tangannya yang menerima udangan itu. Mereka semua akhirnya berpisah jalan, sesuai tempat tinggal masing-masing. Dia, dialah yang terakhir sampai di rumah. Dapat dibilang seperti itu, karena letak rumahnya yang cukup jauh dibandikan kawannya yang lain. Hari telah menyembunyikan sinar matahari dan berganti cahaya bulan dan ribuan bintang di langit.
Berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Dengan lemas tangannya membuka pintu. Beberapa langkah menuju kamar tidurnya dan meletakkan ransel besarnya. Diapun membatingkan tubuhnya ke atas kasur yang empuk, merentangkan kedua tangan dan memejamkan mata sembari memikirkan siapa orang yang akan dia undang ke acara penghargaannya besok pagi.
Kringgg...kringgg...kringgg..., suara ponselnya berdering. Dengan cepat ia meraih ponselnya yang ada di atas meja kecil yang terletak di dekat tempat tidurnya. Dilihatnya nama Andien pada layar ponselnya.
“Andien... ada apa ini?” dalam hati bertanya-tanya karena tidak seperti biasanya sahabatnya yang bernama Andien ini meneleponnya.
“Halo Andien, kenapa ka.....” belum sampai menyelesaikan kalimatnya, dari sebrang sudah angkat bicara.
“Halo Sobat, aku harus ketemu kamu besok pagi-pagi sekali. Ingat jangan lupa besok pagi di rumahku.” Tuutt...tuutt...tuutt... dengan cepat pula Andien mematikan ponsel sehingga perbincangan pada malam itupun berlangsung singkat dan penuh rasa penasaran. Diapun meletakkan kembali ponselnya ke tempatnya semula. Akhirnya dia merentangkan kembali tubuhnya ke atas tempat tidurnya dengan pejaman mata tanpa berfikir lagi. Malam yang semakin larut, suara hewan-hewan malam di sekitar halaman luar rumah terdengar meski samar. Angin malam yang melewati sela-sela jendela kamar menerpa tubuhnya. Dingin, dingin yang dirasanya. Diraihnya selimut tebal yang sebelumnya sudah berada di atas tempat tidurnya. Waktu terus berputar hingga menunjukkan pukul 03.00 pagi. Sekali terdengar ayam berkokok dan lama kelamaan banyak terdengar ayam jantan bersautan menandakan pagi.
Jam weker miliknya terlamat berbunyi, cahaya dengan perlahan memasuki ruangan itu. Matanya perlahan membuka dan terdiam sejenak. Memandang ke langit-langit rumah dan mencoba menyadarkan diri dari tidurnya. Beranjak turun dari tempatnya berbaring, melangkah mendekat ke arah jendela kamarnya. Kedua tangannya membuka daun jendela dengan cepat. Bersamaan dengan terbukanya jendela, kedua matanya secara spontan menutup cepat karena silaunya cahaya yang tepat mengarah padanya. Seakan tersadar bahwa dirinya terlambat bangun. Bergegas cepat mempersiapkan diri mulai dari mandi, ganti baju dan sebagainya. Dia merasa bahwa hari ini adalah hari yang harus dipersiapkan dengan baik. Satu jam setelah mempersiapkan diri, diapun tersadar bahwa dia memiliki janji dengan sahabatnya Andien.
Panik dan terburu-buru dirasanya saat itu. Sudah sampai mengkunci pintu dan menaiki sepedanya yang biasa dia pakai untuk menjelajah, dia melupakan satu hal lagi yaitu undangannya. Rasanya dia sudah tahu siapa yang akan di undangnya ke acara itu. Tanpa basa-basi lagi, dia mengayuh sepedanya dengan cepat. “Cepat....cepat....cepat...”, seolah-olah tidak ada hal lain yang terpikirkan selain secepat mungkin menuju rumah Andien.
BRRUUAKK......
Karena kecepatan sepedanya yang cepat, membuatnya sulit berhenti mendadak sehingga diapun menabrak tong sampah yang berada di depan gerbang rumah Andien. Berantakan semuanya, sampah berserakan kemana-mana. Hanya menghabiskan beberapa menit untuk menempuh tempat yang cukup jauh dari rumahnya itu. Entah seperti apa caranya mengendarai sepedanya itu. Raut lelah sama sekali tak terlihat. Hanya saja kepanikan yang selalu menghiasi wajahnya.
Tokk....tokk....tokk....tokk....
Tangannya dengan keras mengetuk pintu warna putih tanpa jeda sekalipun. Dia benar-benar panik, padahal di samping pintu ada bel rumah. “Ya sebentar, aduh kamu ini berisik tahu. Kamu dari mana aja sih? Ini udah kesiangan. Aku kan bilangnya pagi-pagi.” omelan Andien tak terpungkiri.
“Maaf-maaf, aku sendiri juga kaget bangun tidur udah kelihatan saja mataharinya.” jawabnya tanpa memberi waku untuknya menghela nafas. Tanpa basa-basi, Dia menarik pergelangan tangan Andien dan menuju ke tempat acara secepat mungkin.
“Baiklah, inilah waktu yang kita tunggu-tunggu. Kita menuju puncak acara hari ini, sebagai seorang penjelajah sejati yang selalu sukses dalam perjalanannya yang memuaskan. Mari kita sambut inilah dia.......” pembawa acara telah menjalankan tugasnya. Nampaknya Dia dan Andien berada pada detik-detik kritis. Untung saja dibekali kemampuan berkendara dengan kecepatan tinggi mereka sampai ke tempat tujuan meski mepet dengan waktu puncak acaranya.
“Inilah dia sang penjelajah sejati, .....Nita......” pembawa acara telah menyebutkan namanya dengan lantang. Itulah dia Nita, nama yang sederhana namun memiliki makna besar bagi dunia alam. Namanya telah disebutkan bertanda bahwa waktunya unjuk diri telah diberikan. Dengan nafas yang masih terengah-engah Nita melangkahkan kakinya dengan penuh kebanggaan dan perlahan menaiki tiga anak tangga kecil yang ada di samping panggung besar, namun tidak begitu mewah.
Tegang, deg-degan, dan rasa banggapun bercampur aduk dalam hatinya. Tiba tepat di tengah panggung memandang seluruh tamu. Matanya dengan para tamu beradu satu sama lain. Tepuk tangan bersamaan memenuhi ruangan itu. Rasa tegangnya seakan menipis seiring semangat kawan-kawanya termasuk sahabatnya Andien. Nita mengucapkan rangkaian kata terima kasih kepada semua kawan-kawannya. Namun, hal yang tidak terduga terjadi. Seorang laki-laki dengan postur tinggi, berdiri sambil bersandar tepat di pintu masuk. Laki-laki yang dari penampakannya terlihat seusia Nita dan Andien itu mengenakan topi hitam yang menutupi sebagian wajahnya. Ditambah pula pria tersebut menggunakan jaket abu-abu. Terkesan membuat orang penasaran dan bertanya-tanya siapa orang itu. Kedua telapak tangan yang dimasukkan ke dalam katong jaket membuatnya terkesan sombong.
“Wah..apa sehebat itu kamu sekarang, Nita?” desis laki-laki itu.
“Aku rasa, kau belum bisa dibilang hebat kalau belum menjelajahi hutan yang aku pilihkan untukmu. Setahuku tidak ada yang berani melakukannya.” tambah sang lelaki dengan santainya. Semua mata tertuju pada lelaki bertopi tersebut.
“Aku menantangmu untuk pergi ke sana dan aku ingin mengetahui seberapa hebat dirimu dibandingkan aku.” lelaki itu menantang Nita yang masih berdiri di atas panggung sederhana. Para tamu berganti memandangi Nita sembari menunggu jawaban.
“Apa menurutmu aku akan menolaknya? Tentu saja aku akan menerima dengan senang hati. Ini akan menjadi pengalaman baru untukku.” ujar Nita tanpa rasa takut dan tatapannya terus mengarah pada lelaki itu. Andien yang berada tidak jauh dari laki-laki itu, tersenyum kecil.
“Menantang anak tomboy benama Nita adalah kesalahan besar. Dasar bodoh, kau tetap sama saja.” desahnya dalam hati, seakan hanya untuk didengar olehnya sendiri.
Acara puncak yang gagal. Namun, menambah tantangan untuk seorang Nita. “ Siapa dia? Rasanya aku pernah mendengar suaranya.” tanya Nita kepada Andien sahabatnya yang menuju kearahnya. “Ya memang sih, kamu kenal kok siapa dia.” jelas Andien. Andien anak yang ceria selalu mengetahui sesuatu lebih cepat dari pada Nita.
“Kenapa kamu menerima begitu saja? Kita belum tahu kemana dia akan membawamu kan?” desah Andien yang sebenarnya sudah tahu apa yang akan dikatakan Nita padanya.
“Tentu saja pengalaman. Caranya memberi tantangan itu, aku rasa akan ada hal yang menarik terjadi.” Jawab Nita. Andien hanya bisa melihat kawannya yang senang hingga lupa untuk membicarakan hal yang seharusnya dia katakan sejak pagi-pagi tadi.
Pria bertopi telah menentukan kemana perjalanan mereka nanti. Pria itu telah siap menunggu di suatu tempat yang telah mereka tentukan. Dan tak lama setelahnya Nita yang ditemani Andien datang menghampiri pria itu. “Sudah siap? Sepertinya kau memang sudah siap segalanya ya?” memandang bawaan Nita yang dikemas dalam ranselnya.
“Seperti yang kamu lihat.” Nita pun menjawab.
“Aku rasa kamu tidak akan membutuhkannya di sana. Di sana lebih kejam dari yang pernah kau hadapi sebelumnya.” Tegas Pria dengan memincingkan mata.
“Dan akupun semakin tertantang, jika apa yang kamu katakan itu benar.” jawab Nita dengan santainya. Andien hanya memendam rasa curiganya pada pria yang telah ia ketahui siapa dia sebelum memberitahu Nita. Andien hanya ingin memastikan bahwa pria tersebut memang orang yang dia perkirakan.
Perjalanan yang cukup jauh itu di tempuh dalam beberapa jam. Mereka bertiga menuruni mobil sewaan yang telah dipesan pria tersebut. Mereka melanjutkan perjalanan menuju hutan yang dituju dengan sepeda gunung mereka masing-masing. Menakjubkan melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Jalan sempit dan cukup memerlukan kehati-hatian setiap belokkannya. Itualah saatnya Nita menjadi jati dirinya di alam bebas. Udara, suara, dan tantangan yang jauh berbeda dari suasana perkotaan.
Dari kejauhan terlihat sebuah gubuk yang mirip dengan pondok kecil. Nita dan Andien yang berada tepat di belakang si pria. Mereka berdua mengikutinya yang mengarah ke pondok kecil itu. Berhenti tepat di samping pondok sang pria turun dari sepedanya dan berbalik arah menghampiri Nita.
“Letakkan sepedamu dan sepeda kawanmu itu di sini. Kita akan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Tentu saja perjalanan ini akan lebih menarik jika kita berjalan bukan?” pria itu tersenyum sombong.
“Dengan senang hati” Nita menanggapi.
“Andien, ayo kita letakkan sepedanya di sana!” tambah Nita pada Andien.
“Oke, kamu duluan Nit, aku mengikutimu dari belakang.” Jawab Andien dengan senyuman tipis. Setelah keduanya meletakkan sepeda, Nita berjalan paling depan setelah si pria mempersilahkan. Andien yang berjalan paling belakang melihat ekspresi si pria. Dia semakin yakin bahwa si pria memang seperti dugaannya. Mereka bertiga terus berjalan namun, Andien tiba-tiba memegang pundak si pria. Spontan saja si pria pun berhenti dan memandang kearah orang yang memegang pundaknya.
“Ada apa ini? Kau tiba di sini dan mencari masalah begitu saja.” Ucap Andien pelan.
“Apa maksudmu?” Jawabnya seakan tak tahu apa yang dibicarakan.
“Apa yang kamu rencanakan kepada Nita? Jangan pernah kamu meremehkannya semudah itu.” Tambah Andien.
“Apa kamu sudah mengenaliku Andien? Otakmu tak berubah sejak dulu. Kamu pintar tapi, aku tak tak kan kalah darimu bahkan Nita sekalipun.” Menyombangkan diri lagi.
“Terserah apa katamu dan aku juga tidak akan memberi tahu Nita siapa dirimu. Tapi, aku rasa yang jadi pahlawan nanti bukan kamu. Ingat kata-kata ku itu, Ridwan!” melangkah menjauh mendahului si pria dengan menyebutkan namanya.
“Kamu masih pintar Andien, kamu tahu siapa aku. Tapi, aku rasa Nita tak sepintar kamu” batinya dalam hati, seakan tak ingin di dengar orang lain. Nita yang berjalan paling depan seakan tak menghiraukan teman-temannya yang berada jauh di belakangnya.
Pejalannan yang lama itu cukup mengecewakan Nita, tak ada hal menarik sepanjang jalan. Namun, raut wajah menyesal itu berubah mendadak. Langkahnya terhenti dan kemudian memasang telinga.
“Apa kamu mendengarnya Andien?” tanyanya pada sahabatnya.
“Aku rasa juga mendengar sesuatu yang mendekat ke arah kita.” Saut Andien.
“Ini dia letak menarinya. Apa kalian siap kawan?” Sambung Ridwan si pria.
“Apa yang sebernanya kamu.....” belum selesai Nita dan Andien berkata bersamaan saat itu, suara seperti orang yang sedang berlari bahkan kedengarannya bukan hanya satu tapi, banyak orang yang sedang berlari semakin dekat dan terdengar jelas. Dari balik semak dan pepohonan yang rindang tampak orang berkulit hitam tak berbaju, hanya bercelana yang terbuat dari dedaunan kelapa kering. Dari penampakannya sudah pasti mereka orang-orang pedalaman yang jauh dari kata modern.
Orang pedalaman itu berhenti sejenak dan mengeluarkan suara-suara yang tak mereka mengerti. Beberapa saat kemudian, orang pedalaman yang membawa bambu yang runcing pada ujungnya itu tiba-tiba menyerang ketiganya. Ayuan bambu runcing yang pertama mengenai ransel yang Andien pakai. Pada helaan napas ketiga, Ridwan melarikan diri. Dia lari dengan cepat seakan ini memang sudah direncanakan. Nita menatap Andien yang saat itu disampingnya.
“Kita juga harus lari menghindari mereka An.” Bisik Nita.
“Oke Nit, satu...dua...tiga..” pada hitungan ketiga keduanya lari dengan arah yang sama seperti Ridwan yang lebih dulu pergi.
“Andien kamu tolong pria itu, biar aku hadapi sendiri orang-orang ini.” Perintanya pada Andien.
“Tapi, apa kamu nggak salah? Dia meninggalkan kita berdua dan lari sendiri” terang Andien yang terengah-engah.
“Aku rasa itu karena rasa takut. Spontan saja kan? Kita pasti juga lari dari orang pedalaman itu.” Mencoba menjelaskan seakan-akan tak ada rasa lelah saat itu. Mereka berdua berlari terpisah, Andien mengikuti Ridwan dan Nita berlari menghindar dengan arah yang berbeda. Namun, keduanya tetap dikejar Beberapa orang pedalamnan yang mereka temui tadi.
Hari mulai menyembunyikan sinar sang surya. Burung-burung yang tengah bertengger tiba-tiba berterbangan ketika Nita melewati jalan tersebut dengan terburu-buru.
“Bagaimana keadaan mereka ya? Semoga kalian baik-baik saja. Ya Tuhan bantu mereka melewati orang-orang itu. kamu harus bertahan Andien.” Katanya dalam hati.
Cepat dan sangat cepat langkah orang pedalaman itu. Mereka seakan terlatih dengan kondisi di dalam hutan. Semakin sedikit cahaya yang menyinari jalanya melangkah. Penglihatan malamnya memang terlatih sejak lama, tak heran kalau Nita dengan mudahnya melewati semak-semak dan pepohonan yang tumbuh di sana-sini. Meski belum pernah dia menginjakkan jejak kakinya di sana. Dia tidak akan pernah menyerah menghadapi masalahnya saat itu. Hampir 2 jam Nita terus berlari tanpa henti. Mencoba menghindari orang yang mengejarnya, sesekali dia berhenti dan bersembunyi di balik pohon besar. Gelapnya malam menjadi keuntungan tersendiri untuknya.
“Sial, kemana dia lari? Cepat sekali larinya.” Dengan berlari kecil mencoba mengamati sekitar dan mencari orang yang sejak awal melarikan diri itu.
“Oh, di situ kamu rupanya. Capek ya lari terus?” menghampiri bayangan tipis yang ia lihat sedang bersembunyi di balik semak-semak.
“Andien, apa yang kamu lakukan? Bagaimana kamu bisa sampai ke sini? Lalu, bagaimana dengan Nita? Apa dia tidak selamat karena orang-orang tadi?” Serbuan pertanyaan di leparkan Ridwan kepada Andien.
“Sepertinya ini memang perbuatanmu kan Ridwan?” Andien balik bertanya.
“Kita harus cepat mencari bantuan dan menyelamatkan Nita dari kemarahan orang-orang tadi, sebelum semuanya terlambat.” Tambanya pada Ridwan.
“Aku rasa memang sudah terlambat. Coba kamu berbalik! ” mencoba menyadarkan Andien dengan kondisi mereka saat itu.
Terlihat jelas di bawah sinar bulan kalau orang pedalaman itu semakin dekat dengan tempat di mana Keduanya berada. Andien menarik tangan Ridwan dan berlari kembali. Mereka tak punya senjata untuk melawan kawanan itu. Hanya lari dan lari yang terpikirkan oleh mereka. Jatuh bangun karena tersandung ranting pohon yang tergeletak di tanah. Tak membuat mereka berhenti sedikitpun. Cahaya yang minim karena lebatnya pohon menutupi sinar bulan sehingga samar terlihat. Udara semakin dingin menusuk, angin bertiup semakin kencang. Bulan semakin menghilang tertutup awan tebal. Rasanya hujan siap mengguyur.
Kini kegelapan dihiasi kilauan petir, tetes hujan telah tumpah begitu saja. Medan yang harus dilalui Nita semakin sulit dengan licinnya tanah.
“Sial, kenapa keadaan semakin memburuk seperti ini?” geram Nita kesal.
Keadaan semakin memburuk ketika orang pedalaman itu melesatkan tombak runcing ke arah Nita. Satu, dua sampai tiga lesatan tombak nyaris mengenai tubuh sang gadis. Meski sulit dihindari, Nita tak ragu berhenti sesaat untuk menghindari lesatan tombak itu.
Disisi lain Ridwan yang berlari bersama dengan Andien, juga mendapat kondisi yang sama bahkan lebih mengenaskan. Orang pedalaman yang mengejar mereka lebih banyak dari pada orang yang mengejar Nita. Ditambah lagi dengan hujan lebat yang mengguyur hutan tersebut. Seringkali mereka terpeleset dan saling bahu membahu. Mereka pun juga dihujani tombak. Lesatan tombak pertama, menyerempet lengan kiri Andien. Lukanya cukup lebar hingga cucuran darah mengalir deras dari lengannya.
“Auchh...mereka mengenaiku” desah Andien kesakitan.
“Apa kamu tidak apa-apa?” tanya Ridwan.
“Apa kau gila? Darah sudah mengalir begitu banyak, kau masih bilang tidak apa-apa.” Jawabnya dengan sangat kesal.
“Ini tidak akan terjadi jika bukan karena kamu.” Tambah Andien sambil meringis kesakitan. Andien mencoba menghentikan pendarahannya dengan seutas kain sapu tangannya. Mereka tetap berlari sampai ketika,
“Berhenti Ridwan, hentikan langkahmu!” Andien mencoba menghentikan Ridwan dengan menarik pundaknya.
“Kini aku rasa kau yang sudah gila. Di belakang kita ada yang mengancam hidup kita, lalu kenapa harus berhenti.” Serunya. Ridwan menghentikan laju cepatnya ketika ia tersadar bahwa didepan mata terdapat jurang yang cukup dalam.
Kini mereka dalam keadaan tersujut. Hanya bisa melihat dua hal yang tidak mereka inginkan, yaitu turun jurang atau menunggu ditangkap orang pedalaman. Tinggal beberapa langkah saja, jarak antara mereka dengan orang yang mengejar. Tombak yang siap terlempar kearah keduanya dan jurang yang siap menelan tubuh mereka. Andien mencoba melawan, menghajar orang-orang itu dibantu oleh Ridwan namun, mereka terlalu lemah karena lelah.
“Aku tak sanggup lagi Ridwan” seru Andien kelelahan sambil memegangi lengannya yang terkena tombak.
“Aku juga begitu tapi, aku punya ide untuk menahan” Jelas Ridwan dengan senyum kecut. Andien bertanya-tanya dalam hatinya, mengenai apa yang direncanakan. Tanpa disangka Ridwan mendorong Andien hingga terjauh tepat dihadapan orang pedalaman tersebut. Dalam waktu yang bersamaan Ridwan terpeleset karena hujan belum berhenti. Dan tidak diragukan lagi, diapun jatuh kedalam jurang. Namun, nasibnya cukup baik saat itu, karena tangannya menangkap akar pohon sehingga menahannya jatuh. Andien tak sanggup berdiri dan lari lagi, betitu juga Ridwan yang tak sanggup memanjat keatas. Pada akhirnya mereka tertangkap oleh orang-orang pedalaman itu. Keduanya tak sanggup lagi membuka mata.
Nita yang masih dikejar-kejar juga mulai kelelahan berlari sepanjang malam. Namun, nasib yang lain dialami Nita. Secara tiba-tiba orang pedalaman yang mengejarnya berhenti dan membuat suara-suara yang aneh. Ketika Nita berbalik dia melihat kawanan itu pergi dan tak mengiraukan Nita.
“Ada apa ini? Apa mereka menyerah? Oh ya, bagaimana keadaan Andien dan pria itu ya?” kembali teringat dengan keduan temannya itu.
“Sebaiknya aku beristirahat sebentar dan memakan sesuatu untuk menambah kekuatan.” Sambil duduk dan meluruskan kedua kakinya. Pohon yang tepat di belakangnya menjadi sandaran istirahat.
Orang pedalaman yang membawa Andien dan Ridwan melintasi jalan di mana Nita sedang duduk namun, sebelum melewatinya Nita lebih dulu mengetahui akan ada yang datang. Nita bersebunyi dan mengintip dari balik pohon. Dalam kegelapan dengan keterbatasan cahaya, dia melihat diantara orang-orang itu dua orang yang dia kenal berada diatas pundak orang pedalaman tersebut.
“Bukankah itu (sesaat termenung dan memejamkan mata), astaga itu memang Andien dan si pria.” Terkejut luar biasa melihat kedua temannya telah tertangkap. Pada saat itu pula, Andien bangun dari tidurnya dan terkejut melihat dirinya di atas bahu orang berkulit gelap yang tadi mengejarnya. Dia juga melihat dari kejauhan sahabatnya, Nita. Meski samar terlihat namun, dia yakin bahwa itu memang benar Nita. Orang pedalaman yang membawa Andien dan Ridwan telah berjalan jauh dari tempat dimana Nita bersembunyi. Nita beranjak dari tempatnya dan melihat keadaan di sana. Nita berpikir cepat dan mengambil keputusan.
“Tunggu aku An, aku akan mencoba untuk menolongu.” Melangkah megikuti jejak kemana orang itu pergi. Perjalannan yang cukup melelahkan. Samapi di tengah jalan, dia memutuskan untuk bermalam di tempat yang menurutnya aman untuknya beristirahat.
Hujan yang mengguyur semalaman, telah berhenti. Kegelapan telah berganti cahaya yang terang. Udara pagi menyambut Nita pagi itu. Tanpa basa-basi dia melanjutkan perjalanan untuk mencari kedua kawannya itu.
“Sial, aku kehilangan jejak mereka. Bagaimana ini, bagaimana kalau aku gagal menyelamatkan mereka?” penuh rasa kecewa sambil menundukkan kepala. Saat menunduk dia melihat di bawah ada benda yang bersinar menyilaukan mata. Didapatinya sebuah bulatan brwarna perak yang berukuran kecil.
“Ini kan, rasanya aku pernah melihat benda ini. Tapi, dimana aku pernah melihatnya?” mencoba memejamkan mata dan mengingat-ingat.
“Aku tahu sekarang. Ini gelang milik Andien. Dia punya banyak gelang seperti ini. Bahkan yang dia pakai ada lima gelang seperti ini.” Tersadarkan sesuatu.
“Kamu memang tak kehilangan akal Andien, aku suka gayamu. Semoga aku bisa menemukanmu” katanya dalam hati.
Sepanjang perjalanan dia terus memandang ke bawah sambil mencari letak butiran perak dari gelang milik Andien itu. Dia memungutinya satu persatu dalam genggamannya. Dalam waktu yang cukup lama, didalam tangannya telah terkumpul banyak bulatan kecil itu. Tak terasa sudah cukup jauh perjalanannya. Di tempatnya berdiri terdengar suara yang mirip dengan suara yang dibuat orang pedalaman yang mengejarnya saat itu. Kesan itu langsung membuatnya yakin bahwa orang yang dicari telah dekat. Nita mulai melihat keberadaan orang-orang pedalaman itu dan kedua temannya yang terikat di dekat kayu bekas api unggun yang telah mati. Orang pedalaman begitu banyak di sekitar Andien dan si pria.
Nita mulai memutar otak tentang bagaimana caranya untuk membebaskan kedua kawannya itu. Matanya langsung tertuju pada tombak kawanan itu yang disusun rapi di dekat Andien dan si pria.
“Aku tahu apa yang harus aku lakukan.” Mencoba menyakinkan diri.
Nita mengendap-endap mendekati Andien sepelan mungkin. Nita mengambil dua bilah tombak di tempatnya tersusun rapi. Pada saat itu si pria melihat Nita menggambil tombak tersebut lalu berteriak keras.
“Hei kalian, lihatlah ada yang mencuri tombak kalian. Cepat tanggkap dan bunuh dia.”
“Hei, apa yang kau lakukan? Dia mau menolong kita. Dasar bodoh.” Ucap kesal Andien yang juga mengetahui kedatangan Nita. Dengan sigap nita menangkis tebasan Tombak yang diarahkan padanya. Satu, dua bahkan tiga orang tumbang dikalahkannya dengan mudah. Nita memutar tombaknya di sekitar tubunya sehingga orang yang mendekat akan langsung tertebas. Hanya dalam hitungan detik, Nita mengalahkan puluhan orang pedalaman dengan gampangnya.
“Nita, untung kau datang cepat. Kalau kamu tidak ada mungkin aku sudah mati di sini bersama orang gila dan egois ini.” Menunjuk tepat ke arah pria yang mencoba melepaskan ikatannya itu.
“Akan aku beritahu kamu Nit, dia itu Ridwan orang yang sejak dulu membuat masalah denganmu.” Tambah Andien pada Nita
“Aku sudah tahu siapa dia” jelasnya tenang.
“Dari mana kamu tahu Nit?”
“Aku tahu saat dia berteriak tadi, suaranya sangat ku kenal saat dia berteriak. Selama ini aku belum pernah mendengarnya berteriak kan? Baru kali ini dia berteriak.”
“Wah, hebat..hebat kalian memang hebat. Kini aku akui kalau kalian berdua memang hebat terutama kamu Nita.” Ucap Ridwan sambil bertepuk tangan.
“Nit, kita laporkan saja dia ke polisi ” Andien memberi saran.
“Itu tak perlu An, biarkan saja dia. Toh sekarang kita selamat kan? Lebih baik kita cepat keluar dari sini”
Andien dan Nita kembali ke pondok, mengambil barang dan sepeda mereka yang di tinggalnya di sana. Keduanya meninggalkan Ridwan sendiri di tempat orang pedalaman tadi. Entah bagaiman keadaanya. Tapi, yang pasti Nita dan Andien keluar dari hutan itu dengan selamat dan kembali ke rumah. Dalam perjalanan dengan tetap mengendarai sepeda mereka masing-masing rasa senang dan rasa khawatir bercmpur jadi satu. Pengalaman Nita bertambah satu. Meski bukan hal yang mudah untuk dilalui.
“Nita bagaimana jika suatu saat, Ridwan kembali membuat onar kepadamu? Dia sudah mencoba mencelakaiku dan mencelakaimu.” Jelas Andien.
“Itu urusan nanti. Mungkin suatu saat yang akan datang akan ada hal menarik lainnya kan?” seakan tak ada rasa takutnya sama sekali.
“Aku yakin dia seperti itu karena dia merasa kalah denganku. Ada yang bilang, Jangan melihat orang dari penampilannya saja atau jangan melihat orang dari sikap yang kita ditahui saja. Kita belum tahu bagaimana dia sebenarnya.” Jelas Nita panjang lebar.
“Ya, kamu benar Nit, semoga kamu benar.” Jawab Andien.
“Tenang saja, semua akan baik-baik saja” tambah Nita dengan senyum kecil.
Pada akhirnya, keduanya berhasil keluar dengan selamat dari hutan itu. Perjalanan yang melelahkan dan tak akan pernah terlupakan bagi keduanya. Keduanya kembali ke rumah masing- masing melepas lelah dan membersihkan diri. Disisi lain Ridwan senang membuat Nita masuk dalam permainannya. Namun, dia juga merasa kecewa karena dia masih kalah dengan kehebatan Nita juga Andien saat itu. Petualangan mereka akan terus terjadi entah kapan saat itu tiba. Semunya mungkin terjadi suatu saat nanti. Bersama petualang sejati Nita, perjalanan panjang akan terlewati. Di manapun, kapanpun, dalam keadaan seperti apapun.
..........TAMAT..........